ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
95. Akhir


__ADS_3

Seperti yang sudah kami rencanakan sebelumnya. Hari ini akad nikah ibu dan ayahnya mbak Hana dilaksanakan. Meski hanya dihadiri keluarga inti, jamaah masjid dan tetangga kiri kanan, namun kesakralannya langsung terasa.


Ibu dan pak Rudi memang menolak mengadakan pesta sebab usia mereka tidak muda lagi, ditambah mereka punya rencana akan segera kembali ke Bandung, kampung halaman mbak Hana, untuk memperkenalkan ibu dengan keluarga besar mbak Hana.


Usai akad, aku dan mbak Hana sibuk meladeni tamu yang meski jumlahnya tidak seberapa tapi sukses membuat kami sibuk luar biasa.


"Mbak Di masih ingat saya?" Tanya seseorang yang pernah menjalin kerjasama denganku.


"Ya, tentu saja." Aku tersenyum. ia juga hadir di acara ini sebab masih terhitung saudara dengan mbak Hana.


"Kata Hana mbak Di masih nulis. Bagaimana kalau diterbitkan di penerbit kami lagi?"


"Kenapa?".


"Ya nggak apa-apa mbak Di. Kami adalah salah satu penerbitan terbaik yang akan memberikan masukan besar untuk mbak Di."


"Oh ya? Tapi maaf saya tidak tertarik lagi "


"Tapi kenapa?"


"Bapak tahu penerbit Group E, ia yang sekarang menangani semua tulisan saya. Mereka ada saat saya berada di titik terendah, tidak meninggalkan saya meski saya bukan pemilik saham sebab mereka menghargai karya saya."


Lelaki itu hanya tersenyum miris, lalu perlahan beranjak meninggalkan aku lagi.


"Dia kira penerbitan cuma punya dia." Aku mendengus kesal.


Lalu kembali sibuk dengan pekerjaan, sampai aku tak menyadari kedatangan Nasya. Ia berdiri tepat di hadapanku. Tersenyum, dengan kondisi sudah lebih segar bugar meski masih kurusan.


"Kapan datangnya? Kamu sudah makan belum? Aku ambilkan makanannya." kataku. Baru hendak beranjak, Nasya langsung menarik tanganku.


"Di, aku nggak lama karena masih banyak yang harus diurus." ujar Nasya.


"O, ya sudah. Kalau begitu salim sama ibu dulu."


"Sudah. Sekarang boleh aku bicara sebentar denganmu? Sebelum aku berangkat ke kantor polisi untuk memenuhi panggilan atas laporan kita pada papa."


"Mau bicara apa?"


Kami berdua berjalan ke arah warung yang kini sudah kosong sebab aku tak berjualan lagi. Aku dan Nasya duduk berhadapan.


"Ada apa Nas?" tanyaku.


"Di, ini untuk kamu." Nasya menyodorkan sebuah amplop coklat.


Dalam amplop itu ada surat-surat berharga berisi akta rumah yang kini kami tempati, tapi sudah berganti nama jadi atas namaku. Juga rumah sebelah yang dibeli Nasya, juga berubah menjadi atas namaku.

__ADS_1


"Apa ini Nas?" tanyaku.


"Sesuai janjiku. Kita bagi dua harta peninggalan mama."


"Tidak perlu. Aku nolongin kamu nggak berharap apapun."


"Di, please jangan nolak. Ini juga pemberian mama, apa kamu tega menolaknya? Lagipula aku tak mau berhutang budi meski kita adalah saudara sedarah.


Di, aku sudah siapkan semuanya. Selain dua rumah ini, kamu juga dapat di perusahaan milik mama, sedangkan aku rumah sakit karena aku lebih menyukai dunia medis. Ku harap kamu tak menolaknya lagi."


Berat sebenarnya, tapi akhirnya semua kuterima sehingga membuat Nasya bernafas lega.


"Lalu apa rencanamu?"


"Aku akan melanjutkan hidupku,berusaha jadi manusia yang lebih baik lagi. Aku akan mengurus rumah sakit, mendirikan panti sosial, juga mempersiapkan diri seandainya nanti ada lelaki baik yang akan melamarku." Nasya tersenyum. "Oh ya, karena kita sudah jadi saudara, aku mengundang kamu akhir pekan. Bagaimana kalau kita menghabiskan waktu bersama."


"Maksudnya?"


"Aku akan mentraktir kamu, Ben dan anak-anak makan es krim. Siapa tahu kita bisa makin akrab."


"Baiklah!".


Sebelum pamit pulang, aku dan Nasya kembali berpelukan.


Jika kita ingin mendapatkan kebaikan, maka ubahlah hal buruk pada diri kita untuk kebahagiaan kita nantinya.


***


"Lihat Ben!" aku nyaris memekik melihat nominal yang ada di buku tabungan. Hampir satu milliar. Hasil dari penjualan novel yang juga sudah dibuatkan filmnya. "Ben, lihat. Kalau mood aku dan penjualan bagus, maka tiap tahun aku bisa punya pendapatan minimal satu milliar. Nominal sebanyak itu sudah lebih dari cukup untuk biaya hidup kita. Aku sangat yakin kita tak akan kekurangan. Iya, kan Ben?"


Ben tak menjawab, ia hanya tersenyum.


"Kenapa diam?" tanyaku. "Kamu nggak senang? Atau kurang?"


"Bukan Di. Aku senang. Sangat senang sekali. Hanya sedikit minder."


"Minder?"


"Ya. Istriku punya penghasilan sampai satu milliar setahun, sementara aku sebulannya tak sampai sepuluh jutaan."


"Lalu?"


"Aku takut, pada akhirnya akan terjadi perpisahan kedua."


"Astagfirullah Ben, jangan bicara seperti itu. Kalau ini semua membuat aku dan kamu jadi berpisah, lebih baik aku tak mengerjakannya."

__ADS_1


"Bukankah itu cita-cita kamu, Di? Impian terbesar kamu."


"Itu dulu Ben. Sekarang impianku adalah menjadi istrimu dan ibu dari Caca, Cici dan Rizky. Aku ingin tetap seperti ini. Untuk selamanya!"


"Jadi?"


"Aku tak mau menukar kebahagiaan yang sudah aku miliki dengan sedikit harta itu."


"Satu milliar tidak sedikit, Di."


"Tidak ada apa-apanya dibandingkan kamu!"


"Di!"


Ben memelukku erat. Ia membisikkan kata cinta di telingaku.


"Di, kalau kamu tetap ingin menulis, aku tak keberatan." ujarnya.


"Tapi nanti ...." aku agak ragu.


"Enggak apa-apa. Aku yakin insya Allah ini tak akan jadi masalah untuk kita."


"Benarkah?"


"Hm."


Kini giliran aku yang memeluk Ben sembari mengucapkan terima kasih.


Pernikahan ini terlalu sempurna untukku dan aku tak ingin ada perpisahan lagi. Apapun itu, aku ingin selalu bersama Ben.


Setiap kisah ada hikmahnya. Andai tak ada perceraian, mungkin aku tak akan merasakan manisnya hidup seperti hari ini.


Kita sempat berpisah, meski sementara, tapi sukses membuat hidupku berantakan. Kini, aku memetik hikmahnya dan berharap pernikahan kita bahagia.


---END---


Dear pembaca, terimakasih sudah mampir ke cerita ini. Semoga ada hikmah yang bisa diambil meski hanya sedikit.


Jangan lupa mampir di cerita author lainnya:


GARA-GARA 3M (Tamat)


GARA-GARA ENGGAK CANTIK (Tamat)


MISTERIUS DOCTORS

__ADS_1


__ADS_2