ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
15. Ben Minta Penjelasan


__ADS_3

Akhirnya surat pemanggilan itu sampai juga pada Ben sehingga ia memaksaku untuk bicara sebagai reaksi atas gugatan cerai yang aku layangkan.


"Di, apa arti semua ini?" tanyanya, masih dengan nada yang lembut. Tetapi tetap tidak bisa merubah pendirianku untuk berpisah darinya. Aku benar-benar sudah lelah dibayang-bayangi oleh Ben.


"Seperti yang aku katakan, aku ingin bercerai." jawabku dengan nada datar meski sebenarnya hati ini bergejolak juga.


"Bercerai? Apa tidak bisa dibicarakan baik-baik. Katakan, Di, apa lagi yang salah menurut kamu? Aku akan berusaha untuk mengubahnya agar rumah tangga kita tidak retak, apalagi sampai hancur dengan perceraian."


"Nggak perlu, Ben. Aku juga sudah tidak mau berdamai dengan kamu. Aku sudah lelah hidup susah, jadi bahan bulian tetangga dan bulan-bulanan ibu hanya gara-gara kamu. Hidupku benar-benar nggak bahagia, Ben!"


"Astagfirullah, maafkan aku Di jika kamu nggak bahagia selama ini. Tapi tolong beri kesempatan lagi. Aku janji, akan berusaha mengubah semuanya seperti yang kamu mau. Aku bukannya santai, Di. Aku juga berusaha dan sebentar lagi usaha itu akan membuahkan hasilnya. InsyaAllah. Jadi tolong bersabar dan beri aku kesempatan sekali lagi. Bisa kan, Di?"


"Nggak Ben, nggak akan pernah. Waktu yang telah berlalu rasanya sudah cukup. Kamu sudah membuktikan kalau sebenarnya kamu nggak mampu jadi imam yang baik untukku. Kamu nggak bisa memberikan hidup yang layak untukku. Kamu benar-benar membuat aku menderita.


Selama ini aku sudah sabar menunggu. Tapi sekarang biarkan aku bebas garis aku bisa bahagia dengan jalan yang aku pilih sendiri!"


"Tapi bagaimana dengan anak-anak, Di? Caca dan Cici? Apa kamu tega mereka kehilangan sosok orang tuanya?"


"Bertahan dengan alasan anak bukanlah suatu pilihan yang baik. Untuk apa kita bersama kalau ternyata saling menyakiti. Apa kamu nggak menyadari itu, Ben. Kamu adalah kesalahan terbesar di hidupku. Kamu adalah sumber kesedihanku dan aku mau lepas dari kamu! Lagipula kalian egois sekali, hanya memikirkan perasaan kamu dan anak-anak. Lalu bagaimana dengan aku? Apa aku ini benar-benar tidak berharga? Aku juga punya perasaan, Ben. Kenapa kamu nggak peka sedikitpun?"

__ADS_1


"Di," Ben menatapku dengan mata nanar.


Ahhhh, entah kenapa, tak ada lagi getaran itu terasa. Aku benar-benar kesal melihatnya. Tetap saja, yang ada di hatiku saat ini adalah bagaimana caranya agar bisa segera bebas darinya dan mulai hidup hanya bertiga saja dengan anak-anakku


"Kamu tenang saja, setelah kita bercerai, aku tak akan merepotkan kamu dengan banyak tuntutan sebab yang aku inginkan adalah lepas dari status sebagai istri seorang Ben Wibowo. Itu saja!"


"Benarkah sudah tak ada lagi kesempatan?"


"Tidak Ben. Aku nggak main-main dengan keputusanku!"


Ben tak berkata apa-apa lagi. Ia berbalik arah. Melangkah lunglai meninggalkanku sendiri di depan kontrakan dengan dada masih berdebar setelah berdebat panjang dengannya.


***


Entah kenapa, aku menyayangkan. Andai Ben bicara dengan ibu sejak dulu agar tidak keras padaku hanya karena bertentangan dengan Ben, mungkin aku bisa menahan diri untuk tidak mengajukan gugatan.


Atau jangan-jangan dia juga senang selalu dianak emaskan oleh ibu?


"Di, ibu adalah ibu kandung kamu. Ibu yang melahirkan dan membesarkan kamu sendirian, Di. Ya, sendirian. Kamu lihat kan bagaimana perjuangan ibu untuk memberikan kehidupan yang layak untuk kamu.

__ADS_1


Tetapi, meskipun ibu berusaha semaksimal mungkin, tetap saja ada kurangnya. Ibu bisa berikan keuangan yang memadai, kamu bisa makan dan sekolah hingga bangku perguruan tinggi. Tetapi untuk perhatian dan kasih sayang, kamu kekurangan. Iya, kan Di? Kamu sendiri juga dulu suka komplen sama ibu. Kamu nggak lupa kan, Di. Bagaimana tiap malam kamu merengek ke ibu, agar setiap akhir pekan bisa kita habiskan bersama. Kamu nggak nuntut harus jalan-jalan ke mana, cukup hanya berdua di rumah, sekedar ngobrol atau nonton televisi. Dan itu terus menerus kamu minta mulai dari masih di sekolah dasar hingga bangku SMA, tapi akhirnya kamu tak lagi meminta ketika sudah duduk di bangku kuliah. Tapi ibu tak bisa memberikannya. Tujuh hari ibu hanya diisi dengan bekerja dan bekerja sebab begitulah kurangnya ibu sebagai seorang single mam.


Nggak mudah, Di, melakukannya sendiri. Harus benar-benar kerja keras, tapi tetap saja ada yang kurang.


Sekarang, setelah melewati masa-masa sulit itu, kamu ingin memberikannya juga pada Caca dan Cici. Kamu ingin berpisah dengan Ben, lalu bagaimana dengan anak-anak kamu, Di?


Dulu kita bisa bertahan karena ibu bekerja. Lalu bagaimana dengan kamu, Di? Kamu hanyalah ibu rumah tangga biasa tanpa punya pekerjaan. Okelah, Caca dan Cici akan terus dinafkahi oleh Ben, tapi bagaimana dengan diri kamu sendiri, Di? Dengan apa kamu akan melanjutkan hidup?"


"Apa maksud ibu?" aku mengerutkan kening, terpaksa kupotong kata-kata ibu barusan untuk mendengar penjelasan lebih lanjut. Selama ini aku sudah tersakiti dengan sikap ibu yang pilih kasih, dan sekarang, secara tidak langsung ibu ingin merendahkan aku, mengatakan bahwa tanpa Ben aku tak akan bisa apa-apa. "Ibu mau bilang apa? Kalau hidup aku bergantung pada Ben? Tanpa dia aku nggak akan bisa apa-apa? Begitu kan, Bu? Iya Bu? Tolong jawab, Bu!"


"Di,"


"Bu, aku ini anak ibu. Masa ibu tega bicara seperti itu sama aku? Apa ibu tahu, kata-kata ibu yang selalu menyudutkan aku, pilih kasih antara aku dan Ben itulah yang jadi pemicu perceraian ini. Aku bisa kok hidup tanpa Ben, sekarang aku memang belum punya pekerjaan, tapi lihat sebentar lagi, aku akan buktikan bahwa hidupku akan lebih layak lagi meski nggak ada Ben! Aku akan buktikan pada ibu dan seluruh dunia bahwa seorang Diandra itu juga bisa!"


"Ya Allah, Di. Kamu salah paham. Maksud ibu bicara seperti itu baik. Ibu hanya nggak mau kamu dan Ben berpisah. Ayolah Di, pikirkan nasib anak-anak kamu. Apa kamu tega, Di, melihat mereka menjadi seperti Diandra kecil yang selalu kesepian karena ibunya sibuk bekerja mencari nafkah untuk kehidupan yang lebih baik?"


""Anak-anakku nggak akan bernasib sama seperti aku. Mereka akan punya kehidupan yang lebih baik nantinya. Aku juga akan tetap ada untuk mereka. Ibu lihat saja nanti. Makanya jangan buru-buru meremehkan orang dulu, apalagi itu adalah anak kandung ibu sendiri. Sakit, Bu rasanya!".


"Ibu minta maaf jika selama ini banyak melakukan kesalahan. Jika kamu tersinggung dengan kata-kata ibu. Tapi percayalah Di, ibu melakukan semuanya karena ibu sangat sayang sama kamu, Di. Sungguh! Ibu hanya ingin membantu kamu jadi istri yang baik untuk Ben."

__ADS_1


"Lalu apa ibu sudah bersikap yang sama pada Ben agar ia bisa jadi suami yang baik untuk aku? Bu, kalau pernikahan gagal, yang salah bukan hanya satu pihak, tapi bisa jadi kedua-duanya salah. Jangan berat sebelah. Jangan menghukum aku terus. Mengadili aku sampai aku benar-benar nggak bisa berkata-kata apapun.


Meskipun bagi ibu aku nggak bisa apa-apa, nggak ada gunanya, bahkan tak berharga sama sekali, tapi aku juga punya perasaan, Bu. Tolong hargai aku juga. Jangan terus-menerus menghukum aku. Menyalahkan aku, padahal ibu nggak tahu apa yang terjadi. Bukan ibu yang jalani, tapi aku dan Ben. Jadi aku tahu bagaimana tabiat Ben ketimbang ibu yang hanya melihat dari luar saja."


__ADS_2