ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
91. Mencari Nasya


__ADS_3

"Kamu benar-benar kurang ajar Diabdra. Kamu sengaja menjebak saya. Iya, kan!" pak Tomo benar-benar terpancing. Emosinya langsung tersulut. Aku meminta Ben membawa anak-anak agak jauh agar mereka tak perlu menonton pertunjukan penuh emosi ini. Aku tak ingin mereka mendengar makian ataupun hal-hal buruk. Sudah cukup selama ini banyak keburukan yang mereka lihat dari ibunya. Untuk selanjutnya, harapanku, kebaikan yang mereka lihat dariku.


"Bukan begitu maksud saya, pak. Saya hanya ...." Aku sengaja menjeda, mencoba melakukan pancingan berikutnya.


"Hanya apa? Saya tidak menyangka kalau kamu ternyata hanya perempuan tamak. Tega sekali kamu melakukan semuanya ini!" makian pak Tomo masih belum selesai. "Kamu saya panggil ke sini bukan untuk menusuk saya dari belakang. Sungguh zhalim kamu!"


"Lalu bagaimana dengan sikap anda yang jahat pada ibu dan Tante Maya. Juga Nasya yang entah bagaimana nasibnya sekarang. Benar-benar keterlaluan!" aku hanya bisa membatin dalam hati. Berusaha bersikap sebaik mungkin sampai tahu pengacara dan notaris ini ada di pihak siapa. Mereka adalah orang asing. Untuk perkara uang, adalah hal yang sangat sensitif. Banyak orang berubah jadi tamak karenanya. Tetapi itu bukanlah aku. Meski aku sangatlah membutuhkan butuh uang, bahkan gara-gara uang sampai menggugat Ben, tapi prinsip hidupku, tidak akan memakan harta yang bukan milikku. Aku lebih suka berusaha sendiri, menikmati hasil keringat.


"Pak Tomo, tolong hormati keputusan mbak Diandra. Rumah ini bukan lagi milik keluarga bapak, tapi sudah dihibahkan pada mbak Diandra." kata pengacara senior.


"Hibah? Anak ini tak akan tahu kalau bukan saya yang memberi tahu!" pak Tomo menekankan perkataannya. "Lagipula saya adalah ayahnya, tapi ia tega melakukan semua ini pada saya. Dasar anak durhaka. Baru melihat uang segini saja sudah hijau matanya. Sungguh tidak tahu malu. Berani sekali ia mengusir saya. Kalaupun kamu mendapatkan hibah dari Maya, semua yang tercantum dalam daftar kekayaannya itu tak sepenuhnya milik Maya. Saya juga ikut berkontribusi untuk menambah pundi-pundi uangnya.


kalian saksinya. Saya selama ini bekerja sebagai kepala rumah sakit milik Maya. Sedangkan Melani menghandle perusahaan Maya. Tapi kami tidak mendapatkan apa-apa!"


Sebelas triliun bukan uang yang sedikit. Wajar jika mata langsung hijau. Tujuh turunan juga rasanya nggak akan habis. Lagipula dosa apa yang dibicarakan olehnya. Bukankah ia jauh lebih berdosa sebab sudah membuatku hadir ke dunia ini dengan cara yang tidak baik?


Ingin sekali kujawab semua kata-katanya dengan yang lebih menyakitkan, agar ia sadar, sezhalim apapun aku padanya itu adalah akibat perbuatannya sendiri, tapi tetap kucoba tahan diri. Masih ada beberapa hal yang belum terang saat ini.

__ADS_1


"Pak Tomo, sebelumnya bolehkah saya tahu dimana Nasya berada?" pertanyaan itu kuucapkan juga sebab tak ada satu idepun yang muncul. Aku tak tahu bagaiaman cara mengetahui keberadaan Nasya, padahal aku yakin saat ini Nasya sedang tidak baik-baik saja.


"Untuk apa kamu mempertanyakan putri saya?" Pak Tomo balik bertanya.


"Lho, apa salahnya saya bertanya keberadaan saudara saya?"


"Hahaha, dasar perempuan tidak tahu malu. Setelah menguasai seluruh harta istri saya lalu kamu berani mempertanyakan dimana putri saya? Ingat Diandra, Nasya itu berbeda dengan kamu, ia lahir dari pernikahan yang sah, sementara kamu? Pantas saja tidak tahu malu!"


"Pak Tomo, saya minta bapak menjaga sikap bapak sebab yang memutuskan untuk memberikan hartanya adalah Bu Maya sendiri tanpa intervensi dari siapapun." kata pengacara senior.


"Pak Aji tidak perlu ikut campur, lagipula bagaimana saya bisa yakin itu adalah permintaan Maya? Selama ini kamu baik-baik saja, kenapa tiba-tiba begini? Jangan-jangan Anda terlibat dengan rekayasa ini?" tuduh pak Tomo pada pengacara senior.


Aku kini bisa yakin bahwa pengacara ada di pihakku. Ia sepertinya tahu bagaimana kejahatan-kejahatan pak Tomo.


"Jadi tolong jawab, dimana Nasya sekarang? Anda tidak memasukkannya dalam rumah sakit jiwa juga, kan?" tanya kan pengacara.


Pak Tomo diam. Ia memilih bungkam, saat hendak meninggalkan rumah ibu, kembali pengacara menahan langkah pak Tomo.

__ADS_1


"Tolong dijawab dimana Nasya? Anda sadar tidak, perbuatan anda sudah sangat keterlaluan. Jadi tolong bekerja sama agar semuanya menjadi mudah." pinta pak pengacara.


"Nasya di luar negeri. Ia kuliah di Amerika. Kalau kalian ingin ketemu, cari saja ke sana." Jawab pak Tomo sembarangan sambil tertawa mengejek.


"Nggak mungkin, pasti kamu menyembunyikan Nasya. Sekarang ayo jawab!" aku ikut geram. "Lagipula kalau memang Nasya ada di luar negeri, minta ia untuk menelepon sekarang!"


"Siapa kamu bisa memerintahkan saya?" pak Tomo menatapku kesal.


Kami kembali terlibat adu mulut. Aku tetap memaksa agar ia menghubungi Nasya, sementara pak Tomo tetap memilih tutup mulut. Ahhh, perdebatan dengannya benar-benar menyita emosi.


"Baiklah, kalau anda tidak mau memberitahu, akan saya laporkan ke polisi!" ancamku.


Tawanya kembali menggelar, ia mengejekku. Bahwa aku tak bisa memaksakan kehendak, sebab aku tak punya kewenangan mengetahui dimana putrinya berada.


"Menurut saya tidak ada salahnya bapak memberi tahu mbak Diandra dimana mbak Nasya berada? Rasa-rasanya mbak Diandra punya kewenangan untuk mengetahui sebab ia menjadi penerima hibah dari harta ibunya mbak Nasya. Barangkali ada hal-hal yang harus dibahas." kata pengacara senior.


Lelaki tua itu kembali tertawa. Kini ia menertawakan pengacara senior yang mendukungku. "Kalian itu bukan siapa-siapa. Jadi tidak perlu tahu tentang keberadaan putri saya. Toh kalian sudah merampok seluruh harta yang seharusnya jadi warisan untuk Nasya.

__ADS_1


Kamu Diandra, jangan senang dulu. Saya tak akan keluar dari rumah ini dan seluruh harta Maya tidak akan menjadi milik kamu karena saya akan menggugatnya ke pengadilan. Maya itu sakit jiwa, ia tak bisa memberikan sembarang wasiat pada orang asing seperti kalian berdua. Bisa saja kan, anda dan Diandra melakukan persekongkolan untuk menguasai harta Maya!" tuduh pak Tomo pada pengacara.


"Saya ini pengacara pak, sudah disumpah dan anda tahu sendiri saya bekerja dengan keluarga ibu Maya jauh sebelum ia lahir. Saya sudah berteman dekat dengan ayahnya. Untuk apa saya melakukan kecurangan ini. Saya ingin tahu keberadaan Nasya sebab saya khawatir, jangan-jangan benar kata mbak Daindra, mbak Nasya tidak sedang baik-baik saja." kata pak pengacara.


__ADS_2