ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
30. Pergi Dari Hidup Ben


__ADS_3

[Inikah cara kamu menghukummu? Kamu bilang akan selalu ada untukku, kenapa sekarang semua jadi sulit. Kenapa kamu tak lagi ada di sisiku?] pesan yang aku kirimkan pada Ben.


Ahhhh, aku menutup wajah dengan kedua tangan. Berjalan mondar-mandir membayangkan apa reaksi Ben membacanya.


Sefrustasi inilah aku karena perceraian kami?


Sebuah pesan balasan masuk ke hp. Aku tak berani membuka, hanya terduduk lemas. Takut Ben akan marah sebab akulah yang menggugat.


[?] balasan dari Ben.


Ughhhh, aku mendengus kesal. Kenapa dia jadi lelaki dingin sekarang? Mana Ben yang dahulu selalu bersikap hangat padaku. Ia mengirim pesan seperti itu pasti karena tidak enak pada Nasya. Apakah kamu sebucin itu sekarang pada Nasya, Ben?


[Ben, aku mau bicara!" kukirimkan pesan selanjutnya. Tidak mengapa harus menahan malu, semua masalah ini karena ulahku, sekarang aku harus menyelesaikannya, demi diriku sendiri dan anak-anak.


Sudah kuputuskan, aku akan mengatakan pada Ben bahwa aku tengah mengandung anak kami. Tentu saja dengan harapan besar ia mau rujuk denganku.


[Aku tidak mau.] balasan dari Ben, membuatku semakin lemas.


[Terakhir kali. Please.]


[Katakan saja pada ibu, nanti ibu yang akan menyampaikan padaku.]


[Nggak, aku mau bicara langsung!]


[Kamu belum juga berubah, Di? Masih saja keras kepala. Kita bicara di rumah ibu.]


[Nggak. Aku cuma mau bilang jika kita bertemu berdua. Terserah kamu mau bilang aku keras kepala.]


[Kalau begitu tidak.]


[Kenapa?]


[Aku sedang belajar bagaimana menaati Tuhan, Di. Ada banyak kejadian tidak mengenakkan yang kita alami, bisa saja karena kita yang tidak taat pada Allah. Aku nggak mau gagal lagi.]


[Demi Tuhan, sekali saja Ben!]


[Tidak!]


[Nanti, aku tunggu di depan kontrakan. Kalau kamu nggak mau, baiklah, aku akan menjauh selamanya dari hidup kamu, Ben. Aku akan pergi.]

__ADS_1


Tak ada balasan dari Ben. Bodohnya, aku malah keluar, menanti kedatangan Ben meski ia tak memberikan balasan.


Dua jam setelah itu, barulah kulihat motor Ben datang. Ada Caca dan Cici diboncengan. Aku menanti ia menghampiri, tetapi itu semua tak terjadi. Begitu Caca dan Cici turun, Ben langsung tancap gas. Ia bahkan tak mau melihat ke arahku, sehingga membuat aku yakin bahwa memang benar-benar tak ada lagi aku di hadapannya.


Tuhan ....


Bulir bening itu turun dengan sangat deras, lalu aku buru-buru masuk ke dalam. Caca dan Cici yang baru datang langsung mengejar ku ke dalam.


"Mama kenapa? Mama nangis, ya?" tanya Caca. "Mama masih marah sama papa?"


"Nggak, papa yang marah sama mama!" kataku dengan nada kesal.


"Papa nggak marah kok sama mama. Nih buktinya." Caca mengeluarkan sekotak roti kukus kesukaanku.


"Ca ... kita akan pindah."


"Kemana?"


"Kemana saja. Caca dan Cici mau, kan? Kita pergi jauh dari papa."


"Nggak mau."


"Please nak, tolong mama. Janji, mama akan selalu menyayangi kalian. Kita mulai lagi hidup ibu dari awal, berempat!"


"Dalam perut maka ada calon adik kalian."


Caca dan Cici saling pandang. Wajah mereka yang kebingungan berubah berseri-seri ketika kukatakan bahwa aku sedang mengandung calon adik mereka.


"Wah, kita mau punya adek." ungkap Caca.


"Iya, adik bayi!" seru Cici.


Mereka berdua begitu excited, mengusap perutku sambil berbicara dengan calon adik bayi. Harusnya pemandangan ini membuatku senang karena calon kakak-kakak baru ini bisa menerima kehadiran calon adik bayi mereka. Tetapi ketika ingat bagaimana sikap Ben yang tak peduli membuta hatiku menjadi miris.


Nggak, aku nggak boleh patah semangat. Aku sudah membuat semuanya jadi berantakan. Selanjutnya aku harus berusaha agar semua kembali menjadi baik, demi ketiga anak-anakku.


"Diandra ... Kembalilah bersemangat seperti dulu. Mulailah hidup kamu yang baru bersama anak-anak. Lupakan Ben dan segala kisah yang tidak mengenakkan. Kamu harus bisa, melangkah untuk kebaikan anak-anak!" aku sudah bertekad untuk pindah sesuai dengan apa yang ditawarkan oleh Anis. Aku akan memulai hidup baru dengan anak-anak saja.


***

__ADS_1


Anis memberikan sebuah amplop untukku. Ia juga sudah menyediakan mobil yang akan mengantar kami menuju Depok. Aku memang sudah menyetujui kepindahan ini, meski sebenarnya tak tahu pasti akan tinggal dimana, tapi hanya bisa mempercayai semua pada Anis. Satu syarat yang aku minta agar tidak terlalu jauh dari Jakarta sebab khawatir akan repot mengurus administrasi.


"Hati-hati ya Di, semoga hidup kamu ke depannya lebih baik. Kamu tenang saja, lokasi tempat tinggal kamu sangat strategis, jadi kamu bisa mulai usaha di sana. Selain itu aku juga sudah bayarkan sewa selama dua tahun. Jadi hiduplah dengan nyaman. Nanti kalau tidak sibuk aku akan datang membesuk." kata Anis, melepas kepergianku dan anak-anak.


Sebelum naik ke atas mobil, aku juga pamitan pada karyawan lainnya yang sudah seperti saudara sendiri. Mereka memberikan kenang-kenangan baju daster untukku dan mainan untuk Caca dan Cici.


Kami bertiga sudah berada di dalam mobil. Lalu supir mulai menjalankannya, melaju membelah kota Jakarta menuju kota Depok.


Sekilas aku menatap ada guratan kesedihan di wajah Caca dan Cici. Mereka tak bicara sepatah katapun, hanya menatap lurus ke depan.


"Kok diam saja? Biasanya paling suka kalau diajak jalan-jalan. Apalagi naik mobil." kataku pada Caca dan Cici.


"Ma, kita beneran nggak boleh pamit sama papa?" tanya Caca.


"Nggak usah ya nak, nanti papa malah nggak ingizinin kalian ikut mama."


"Tapi ma ...."


"Caca enggak mau kan pisah sama mama?"


Tak ada jawaban dari Caca, ia kembali menatap ke depan. Sementara Cici memilih mengunci mulutnya.


***


Dua jam perjalanan, kami sampai di lokasi yang dipilihkan oleh Anis. Sebuah rumah sederhana di ujung perumahan. Rumah yang cukup strategis untuk menjadi lokasi jualan. Setelah mengeluarkan barang-barang yang tidak seberapa, supir tadi meninggalkan kami bertiga.


"Bismillah ... ayo kita mulai hidup baru di sini!" kataku pada anak-anak dengan penuh semangat. Berharap mereka pun kembali semangat dan ceria lagi. "Lihat, halamannya luas juga. Nanti mama akan jualan di sini. Kalian bantuin mama ya."


Kami bertiga masuk ke dalam, merapikan rumah ala kadarnya. Lalu mulai menyusun agenda. Pertama aku akan mulai mempersiapkan jualanku. Rencananya akan membuka warung sembako kecil, mendaftarkan Caca dan Cici sekolah di TK yang persis berada di depan rumah kami.


"Nanti Caca dan Cici sekolah di situ ya." kataku, sambil menunjuk TK lewat jendela.


"Benar papa nggak akan dikasih tau kita ada di mana? Mama nggak kasihan kalau papa nyariin kita?" pertanyaan Caca mulai membuatku gelisah.


"Ca, biarkan papa melanjutkan hidupnya tanpa kita. Selama ini mama sudah terlalu sering membuat masalah dalam hidupnya papa. Sekarang biar papa bahagia dengan Tante Nasya."


"Kenapa Tante Nasya?"


"Karena sekarang papa sayangnya sama Tante Nasya, bukan mama lagi."

__ADS_1


"Nggak, itu nggak benar. Mama bohong!" Caca yang biasanya tenang kini terlihat marah, ia bahkan meneriakiku, lalu berlari ke dalam kamar sambil menangis.


Ya Tuhan, maafin mama Ca. Mama lupa bahwa hati kamu terlalu lembut. Kalian masih sangat muda. Hal seperti ini pasti sangat menyakitkan untuk kalian. Maafkan mama ....


__ADS_2