ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
84. Jualan


__ADS_3

"Semua baik-baik saja!" kataku, pada tim hore yang sudah menanti di balik pintu, sambil menunjukkan ibu jari.


"Kalau baik-baik saja, kenapa Hana sampai berteriak? Hendri juga? Kamu yakin, Di? Lalu tadi apa kata Hana? Wajahnya tidak apa-apa kan? Tidak ada bekas luka atau apapun? Ibu benar-benar khawatir, Di. Takut kejadian kemarin terulang lagi. Juga Ingat kejadian saat kalian bertengkar dulu." ibu malah curhat tentang rumah tangga kami dahulu. "Tiap kamu marah, Trang treng Trang treng!" ibu menambahkan dengan penuh semangat.


"Bu, cerita lama tidak usah dibahas lagi. Itukan masa lalu, sekarang sudah tidak begitu." Kataku. Tidak nyaman juga kalau keburukan kita dimasa lalu terus dibahas, apalagi ada anak-anak. Aku ingin menghilangkan semua kenangan buruk diingatan anak-anak, berganti dengan hal-hal baik.


"Maaf Di, ibu nggak bermaksud memojokkan kamu, ibu hanya khawatir saja." Kata ibu apa adanya.


Begitulah seorang ibu, kadang ceplas-ceplos.


"Iya, aku tahu ibu sangat khawatir. Buktinya, belum juga masuk rumah sudah diberondong dengan banyak pertanyaan. Bagaimana kalau mbak Hana atau mas Hendri dengar? Ibu nggak apa-apa? Ntar kita dikira tetangga julid berjilid-jilid lagi." ucapku.


"Ishhh, kamu itu. Makanya masuk Di." ibu menarik tanganku ke dalam. Lalu menutup pintu rapat-rapat. "Jadi bagaimana kondisi Hana? Apa yang dikatakannya?"


"Mbah Hana nggak apa-apa, Bu. Kali ini berita baik. Mbak Hana hamil. Ia akan punya bayi." aku menceritakan ulang apa yang diceritakan mbak Hana tadi.


"Be ... benarkah Di? Ya Allah, Alhamdulillah. Ibu senang sekaki, Di. Doa kita dijawab sama Allah. Lihat Di, saking senangnya tangan ibu sampai gemetaran!" ibu menunjukkan tangannya yang gemetar.


"Tante Hana mau punya adik bayi, ma?" tanya Caca.


"InsyaAllah nak. Kita doakan Tante Hana dan adik bayinya sehat-sehat ya." kataku.


"Yeyeyeye, tante Hana mau punya bayi!" sorak Caca dan Cici. "Nanti akan ada dua adik bayi yang kita jaga. Rizky dan adik bayi Tante Hana!" Tambahnya.


Berita kehamilan mbak Hana nggak hanya jadi berita gembira untuk keluarga mereka, taoi juga untuk keluargaku. Kami benar-benar bersyukur. Mbak Hana pantas berbahagia sebab ia adalah orang baik.


***

__ADS_1


"Kamu masih memikirkan apa, Di? Sejak tadi seperti punya beban pikiran. Diam tak banyak bicara. Kenapa? Ceritakan padaku, supaya bebanmu terbagi." kata Ben, sambil duduk di sebelahku.


Aku mencoba tersenyum, meski terasa berat. Bagaimana tidak berat, ini salah satu masalah yang bekun kami ketahui jalan keluarnya.


Tentang novel-novel yang terlanjur dicetak oleh mbak Hana. Jumlahnya ada dua tiga ribu eksemplar. Kini sudah tertumpuk rapi menyita sebagian besar ruangan kamar ini.


Tadi barusan kucek, yang memesannya baru seratusan. Aku rasa jumlahnya tak akan bertambah lagi, kalaupun naik paling satu hingga sepuluh.


"Ini adalah salah satu sumber pertengkaran di rumah tangga mbak Hana dan mas Hendri. Aku ingin menyelesaikan masalah ini. Setidaknya kita kembalikan modalnya." ungkapku sambil menunjuk tumpukan novel tersebut. Kami memperkirakan mbak Hana mengeluarkan dana sekitar empat puluhan juta untuk cetak novel sebanyak dua ribu eksemplar tersebut.


"Baiklah, kalau begitu kita selesaikan semuanya. Kamu punya ide?"


"Ada!"


"Apa?"


"Hanya sedikit saja?"


Entah sedikit atau mungkin kamu akan berperan lebih. Yang jelas aku belum bisa melakukannya sendiri. Rencana ini kusimpan sampai besok pagi. Ben akan tahu secara sendiri.


***


Seperti rencanaku, pagi ini aku dan Ben sudah mangkal di depan salah satu kampus swasta yang cukup besar di Depok. Membawa satu kontainer berisi novel. Setelah yakin aman dari penertiban satpam ataupun satpol PP, aku langsung membentang spanduk kecil yang kutulis dengan spidol tadi malam.


"Apa ini maksudnya kita akan berjualan bukumu di sini?" Tanya Ben.


"Yap, betul sekali!" kataku, sambil mengacungkan ibu jari. "Kamu enggak malu, kan?" aku mengerlingkan mata.

__ADS_1


"Di ... kalau begini kan harusnya aku saja yang melakukan. Kamu tidak perlu turun tangan. Apalagi sampai membawa Rizky." Ben menatapku dengan raut sedih.


"Ahhh suamiku, kita berjuang sama-sama. Supaya kelak kalau istrimu ini sudah jadi novelis terkenal, ini akan jadi cerita paling berkesan untuk kita, jadi memori manis tak terlupakan." ungkapku dengan antusias.


Ben tak lagi bicara. Aku tahu ia sedih. Ia mulai berkeliling, menawarkan dari satu pejalan kaki ke pejalan kaki berikutnya. Begitupun aku, tak tinggal diam, meski harus menggendong Rizky, aku tetap menawarkan novelku pada siapapun yang kebetulan lalu lalang di sekitar.


Tiga puluh menit telah berlalu, tak ada satupun novel yang lalu. Semangat yang tadinya membuncah, perlahan mulai pudar. Mungkin kalau dihitung satu sampai sepuluh, hanya tersisa satu saja. Apalagi ditambah Rizky mulai merengek, tidak mau diam. Mungkin ia juga lelah sebab tak bisa bergerak, terus digendonganku. Padahal ia biasanya lebih suka diletakkan begitu saja, sebab Rizky sedang masuk tahap suka tengkurap.


"Psssttt, jangan nangis dulu ya nak. Tunggu sebentar lagi. Kalau novelnya mama sudah laku, baru kita pulang. Rizky bisa main-main lagi sama kak Caca dan kak Cici. Nanti juga bisa asi sepuasnya Rizky." aku menimang Rizky, berharap ia tidur, atau setidaknya tenang dalam gendonga. Tapi bayi yang berusia empat bulanan itu malah semakin rewel. Berusaha memberontak, dengan tendangan dan rengekan yang lama-kelamaan berubah jadi tangis kejar. "Ya Tuhan, Rizky diam dulu sih." pintaku, masih mengayunnya.


"Kita pulang saja Di." ajak Ben.


"Pulang? Bukunya belum ada yang laku kok malah pulang. Sia-sia dong kita ke sini."


"Nggak ada yang namanya sia-sia, Di. Kita sudah berusaha, sudah dicatat sama Allah. Sekarang pulang dulu yuk, Rizky pasti nggak nyaman. Nanti aku yang lanjutin jualannya setelah nganterin kamu dan Rizky."


"Enggak, tanggung Ben. Biar aku tungguin di sini."


"Tapi Rizky nangis, Di."


"Enggak apa-apa, bisa aku kasih minum sebentar supaya dia tidur."


"Kasihan Di. Lagian kamu mau menyusui dimana? Di sini tempatnya nggak nyaman, yang ada Rizky malah semakin nggak nyaman. Sebelum dia benar-benar nangis semakin kejar."


"Enggak apa-apalah Ben. Kita juga harus mikirin mbak Hana. Kasian juga mereka. Sebentar saja kok. Aku janji deh bakalan diamin Rizky."


Mungkin karena suara Rizky yang semakin besar, ditambah hari makin panas. Juga perasaan tang tak karuan, aku yang masih berharap banyak tak mau mendengarkan nasihat Ben, tetap ingin bertahan hingga ada buku yang laku.

__ADS_1


Perdebatan antara kami tak bisa dihindarkan lagi. Ben dan aku terus saja dengan pendapat kami masing-masing.


__ADS_2