ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
68. Telepon Dari Nasya


__ADS_3

Hp berdering. Mata rasanya masih mengantuk. Tetapi terpaksa bangun sebab Caca dan Cici yang tidur di sebelahku memaksakan agar aku mematikan bunyi telepon tersebut yang pastinya mengganggu mereka.


"Ma ... Mama, teleponnya mama berisik. Caca susah tidur." Rengek Caca, sambil mengguncang pelan tanganku.


"Iya, abaikan aja." Jawabku. Tak kuat rasanya menahan kantuk.


"Nggak bisa, berisik mama." Ia masih tak mau diam.


Jadi menyesal, kenapa sebelum tidur tidak mematikan HP atau paling tidak nada dering hanya getaran saja sehingga tak mengganggu seperti ini. Mungkin karena selama ini tak pernah ada yang menghubungi aku tengah malam begini.


Masih belum sempurna terjaga, kuangkat panggilan tersebut. Tak ada jawaban. Baru hendak kumatikan, terdengar suara Isak tangis.


[Siapa ini?] tanyaku.


[Di ... Di ... Di.] klik. Telepon diputus.


Rasanya ingin melonjak dari tempat tidur sebab aku yakin itu adalah Nasya. Tapi kenapa ia menghubungiku sepagi ini. Pukul dua lewat sepuluh menit. Apa ia tidak tidur, atau jangan-jangan sedang ada masalah. Apalagi tadi suaranya seperti orang yang menangis.


Tidak mungkin ia salah pencet sebab tadi terdengar jelas ia memanggil Di. pasti itu Diandra. Segera kutelepon balik nomor Nasya, tapi nomor Hpnya sudah tidak aktif.


"Ya Tuhan, kenapa ia membuatku penasaran saja." Gumamku. "Apa yang terjadi. Nggak mungkin semua baik-baik saja. Kayaknya Nasya bukan tipe orang yang iseng. Lagian, kalau kau ngisengin, pasti ke temannya. Kami kan musuhan. Ughhh, benar-benar membingungkan."


Aku tak tahu lagi harus melakukan apa, makanya mondar-mandir di kamar. Mau menghubungi Ben, ini masih terlalu dini hari. Takut juga mengganggunya, apalagi antara kami baru terjadi salah paham.


Lalu aku harus bagaimana? Seperti apapun aku mencoba berpikir,tetap saja tak bisa menemukan solusi.


Entah karena gugup atau memang sudah waktunya, tetapi perut ibu tiba-tiba kram. Lalu terasa kontraksi. Aku mencoba menenangkan diri, mengingat, bahwa memang sudah masuk bukannya, hanya saja masih beberapa hari lagi sebelum HPL.


"Bagaimana ini, jangan-jangan mau lahiran?" kembali aku jalan mondar-mandir. Mungkin karena sudah terlalu kalut, akhirnya nomor Ben tertekan. Lima menit panggilan tak terjawab, setelah itu Ben melakukan panggilan balik.


[Kenapa Di?] tanya Ben di ujung sana.

__ADS_1


[Sepertinya aku mau lahiran.] kataku. Dua kali melahirkan bayi secara normal, rasanya aku tak akan salah menerjemahkan rasa sakit ini.


[Sudah waktunya?]


[iya, kayaknya bukan hanya kontraksi palsu.]


[Apa? Kalau begitu kamu tenang saja. Aku segera ke sana. Jangan lupa beritahu ibu ya.] pesan Ben.


Fiuff. Rasa sakitnya masih hilang timbul. Ketika reda, aku kembali jalan mondar-mandir. Sembari memikirkan, apa yang terjadi pada Nasya. Semoga saja ia baik-baik saja.


Satu jam berlalu. Pintu ruang tamu diketuk. Itu pasti Ben. Suara motornya familiar di telingaku yang pernah menjadi istrinya selama enam tahun.


"Ben." kataku, sambil membuka pintu.


"Bagaimana? Masih sakit? Kita ke bidan sekarang ya. Kira-kira masih kuat atau perlu aku gendong? Aku pinjamkan mobilnya mbak Hana, ya? Supaya kamu duduknya nyaman." Ben terlihat panik, sehingga membuatku tertawa.


"Kamu lucu sekali. Masih sama seperti dulu saat aku akan melahirkan Caca dan Cici. Ini anak ketiga kita Ben, jangan panik. Tenang saja. Aku saja tidak panik. Semua akan baik-baik saja." kataku, sambil memamerkan senyum.


"Masih tidur."


"Hah? Masih tidur? Kamu belum memberitahu ibu? Ya Tuhan, kenapa kamu jadi sesantai ini." Ben kembali panik. "Di, kalau sudah ada tanda-tanda jangan dibawa santai, aku tak mau kamu dan bayi kita kenapa-kenapa."


"Tenang saja."


Kutinggalkan ia di depan pintu sendiri, seperti kata Ben, kubangunkan ibu, lalu pamitan menuju tempat bidan bersama Ben, naik motornya.


"Hati-hati ya Di, segera kabari ibu kalau bayinya sudah lahir. kalau ada apa-apa juga kabari ibu. begitu anak-anak bangun, ibu akan segera ke sana." kata ibu.


"Sudah, ibu tenang saja. Tunggu di rumah saja. Nanti kalau sudah baikan, kami langsung pulang." jawabku, lalu pamit bersaka Ben yang masih diam membeku karena panik. Biasanya ada beberapa calon ayah yang mengalami sindrom seperti Ben, lebih panik ketimbang yang mau lahiran.


Sepanjang perjalanan Ben terus saja bertanya apa aku sudah akan melahirkan sekarang, apakah aku baik-baik saja duduk di boncengan. Lagi-lagi sikap Ben itu mengundang tawaku.

__ADS_1


"Ben, tenanglah seperti sikap kamu biasanya. Jangan panik. Aku akan baik-baik saja." pintaku.


"Bagaimana aku bisa tenang jika kamu nggak bicara sepatah katapun."


"Apa yang harus aku katakan, Ben?"


"Bagaimana kondisi kamu? Pasti sakit ya?"


"Enggak."


Perjalanan yang amat singkat ini mengingatkan kami pada kenangan menjelang enam tahun lalu, saat aku akan melahirkan Caca dan Cici. Untuk pertama kalinya berurusan dengan bidan. Sebenarnya saat periksa, dokter yang menangani Caca dan Cici menyarankan agar aku menjalani Cesar sebab bayi kembar dan cukup besar, perkiraan tiga koma sembilan kilogram. Tapi aku menolak sebab ingin menikmati momen menjadi seorang ibu, juga pembuktian pada ibu kala itu bahwa aku juga bisa jadi ibu yang baik.


Ya, sejak awal menikah ibu selalu saja menunjukkan sikap tidak percaya bahwa aku bisa jadi ibu yang baik untuk anak-anakku kelak. Bahkan ibu pernah meminta izin akan merawat anao-anakku.


Tetapi ketika itu aku harus berjuang, bahkan berhadapan dengan maut karena ternyata melahirkan bayi dengan ukuran besar tidakkah mudah. Apalagi ini lahiran anak pertama dan kedua dalam waktu hanya selisih beberapa menit. Aku sampai kehabisan tenaga dan kehilangan banyak darah. Akibatnya sampai tak sadar selama dua puluh enam jam.


Ben benar-benar ketakutan waktu itu. Pantas saja sekarang ia begitu resah, meski bayi ketiga kami ini tidak kembar dan terakhir periksa beratnya masih normal. Tak terlalu kecil, tidak terlalu besar.


"Ben," kataku.


"Ya. Kenapa Di? Sakit? Apa aku terlalu kencang bawa motornya? Atau kamu nggak nyaman?" tanyanya lagi. Tentu saja membuatku tertawa, bagaimana tidak, motornya jalan pelan sekali, sampai-sampai aku mengantuk.


"Nggak. Aku baik-baik saja, Ben. Hanya mau bilang terimakasih."


"Untuk apa, Di?"


"Sebab kamu sudah berusaha membahagiakan aku dan anak-anak. Kamu juga sudah berjuang untuk kami. Terimakasih Di."


"Ya Allah Di, aku juga senang." kata Ben.


"Juga ... I love you. Cepat halalil aku ya Ben."

__ADS_1


"Siap Di!" ingin sekali merangkul pinggangnya Ben, berpegangan erat agar udara dini hari tak terasa, tapi aku tahu diri, kami belum menikah lagi.


__ADS_2