ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
35. Tawaran Mbak Hana


__ADS_3

"Saya menyesal ...." kataku. "Saya menyesalkan perceraian ini."


"Mbak Di, kalau boleh saya mengajukan diri, apakah mbak Di mengizinkan jika saya dan suami mencoba jadi penengah antara mbak dan mantan suami? Barangkali dengan kita mencoba berbicara dari hati ke hati, maka akan ditemukan solusi untuk permasalahan rumah tangga mbak. Mungkin saja kesempatan untuk rujuk itu masih terbuka, mengingat di antara kalian sudah ada anak-anak, ditambah mbak saat ini sedang hamil." usul mbak Hana padaku.


"Tapi ...." aku menggigit bibir kuat-kuat. Sejujurnya aku memang ingin bisa kembali pada Ben, tapi aku juga tahu diri, mana pantas berharap lebih setelah semua masalah rumit yang aku timbulkan. Bahkan, aku saja kesal dengan ulahku sendiri.


"Mbak, dalam pernikahan, yang namanya melakukan kesalahan itu pasti semua pernah melakukan. Tidak ada pernikahan yang sempurna. Termasuk pernikahan saya juga. Itulah kenapa kita disuruh untuk melakukan komunikasi."


"Semua nggak sesederhana yang mbak Hana bayangkan. Ben sudah pernah bilang, saat saya sudah melayangkan gugatan. Ia mengingatkan agar saya berpikir ulang. Tidak mengedepankan ego. Tapi saya nggak mendengarnya, saya tetap melanjutkan gugatan hingga perceraian antara kami terjadi. Sekarang, saya menyesal. Sudah tidak ada lagi harapan sebab Ben akan menikah dengan perempuan tadi."


"Hm," mbak Hana menghembuskan nafasnya. Ia tampak berpikir. Mungkin mencarikan solusi untuk masalah kami. "Mbak, kalau saya boleh tahu, hal spesifik apa yang membuat mbak kekeh pengen bercerai kala itu?"


"Mungkin karena saya lelah dan jenuh saja dengan kondisi perekonomian kami kala itu sehingga membuat saya memandang Ben penuh dengan kekurangan. Padahal ia sudah berusaha melakukan yang terbaik. Saya hanya belum bisa menerima ketika ia memilih bertahan di pekerjaan lama.


Ditambah kala itu saya punya mimpi besar. Ingin menjadi seorang penulis. Tapi saya merasa sulit mewujudkannya sebab berbenturan dengan tanggung jawab saya sebagai ibu rumah tangga.


Beberapa bulan terakhir ini saya akui memang emosi saya benar-benar susah dikendalikan. Saya sendiri juga menyesalkan semuanya." kataku, sambil menundukkan kepala.


"Mbak, kalau saya menilai, mungkin mbak Di jadi begitu sensitif karena pengaruh kehamilan mbak Di."


"Entah."


"Itulah mengapa saya begitu ingin membantu menjadi jembatan untuk mbak Di dan mantan suami. Barangkali hubungan kalian bisa diperbaiki."


Entah aku berlebihan atau tidak, tetapi setelah mendengar tawaran mbak Hana, aku merasa mendapatkan secercah harapan. Semoga saja memang benar, hubungan antara aku dan Ben masih bisa diperbaiki.


***


Akhir pekan telah tiba. Sesuai janji Ben, ia datang ke rumah kontrakan baru kami. Tentu saja yang paling girang adalah Caca dan Cici. Sementara mbak Hana dan suaminya juga sudah hadir di rumah sebelum Ben datang sebab mereka ingin membantu memediasi aku dan Ben.


Usai melepas rindu dengan anak-anak, Ben mulai berbincang dengan mas Hendri, suami mbak Hana. Meski baru bertemu dua kali, mereka sudah bisa berbincang dengan akrab, bahkan aku mendengar mereka tertawa bersama. Sementara aku hanya bisa mengintip dari balik tirai pembatas ruang tamu dan ruang tengah.


Sejak Ben datang aku memang tak mau keluar untuk menemuinya sebab aku sendiri masih ragu apakah ia akan mau berbincang denganku, ditambah sejak awal datang Ben juga tidak mempertanyakan keberadaan ku.

__ADS_1


"Ayo keluar mbak Di," ajak mbak Hana, usai mengantarkan minuman.


Aku menggeleng. Rasanya belum yakin bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk berbincang dengannya. Tapi karena mbak Hana meyakinkan bahwa kita nggak akan pernah tahu mana yang terbaik sebelum mencoba, maka akhirnya akupun keluar menemui Ben.


Bismillah ... Aku melangkah keluar diiringi mbak Hana. Persis seperti seorang pengantin yang baru menjalankan ijab kabul, bahkan rasa deg-degan juga sama.


"Ben," sapaku.


Ia mengangkat wajahnya sebentar, menoleh padaku, lalu tanpa menjawab, perhatiannya kembali pada mas Hendri.


Ya Allah ...


Mas Hendri memulai percakapan, tetapi Ben seperti memberi batasan, seolah menunjukkan sikap tidak suka. Sepertinya ia bisa membaca maksud dan tujuan mas Hendri, ingin mendamaikan kami berdua.


"Boleh saya bicara berdua dengan Diandra?" akhirnya Ben bicara.


Dengan sigap mbak Hana dan mas Hendri keluar rumah, menyusul Caca dan Cici yang sedang asyik bermain dengan mainan batu yang dibawakan oleh Ben.


Pertanyaan yang sukses membuat senyumku sirna. Kenapa yang ditanya hanya bayinya saja? Hatiku yang sempat berbunga-bunga langsung layu mendengarkannya.


"Baik. Kemarin sudah USG, bayinya baik-baik saja meski beratnya pas-pasan." jawabku.


"Hm."


Ya Allah Ben, katakan sesuatu yang bisa membuatku tenang! Apakah kamu lupa, pengalaman saat aku hamil Caca dan Cici. Segala sesuatu yang bisa membuatku bahagia maka akan menaikkan hormonku. Berpengaruh juga ke bayi kita.


"Ben," aku memaksakan diri untuk bicara. "Apa kamu membenciku?"


Ben mengangkat wajahnya lagi. Melihatku sekilas, lalu membuang wajah.


"Ben, tolong jawab!" pintaku. Meski dengan nada pelan namun penuh penekanan.


"Demi Allah Di, aku sangat ingin membenci kamu!" katanya dengan suara bergetar. "Kamu sudah membuatku terpisah dari anak-anak Di, kamu membuatku kehilangan orang yang aku cintai, juga calon bayiku." pungkasnya.

__ADS_1


"Maaf," kataku.


"Semua sudah terjadi. Persis seperti apa yang kamu inginkan. Lalu apa sekarang kamu puas Di? Sekarang kamu bebas, bisa melakukan apapun yang kamu mau. Bisa mewujudkan mimpi kamu juga, kan?"


"Nggak Ben, enggak. Aku menyesal! Bahkan jika sekarang disuruh memilih, aku rela kehilangan semua mimpiku asal bisa menebus kesalahanku."


"Lalu kenapa kamu menggugatku."


"Karena kebodohanku. Tetapi sekarang aku sudah mendapatkan hukumannya."


"Kamu nggak hanya menghukum diri sendiri, tapi juga menghukum aku. Juga anak-anak yang jelas-jelas nggak bersalah, Di."


"Ya Allah ... astagfirullah."


"Kamu lihat mereka, Di. Caca dan Cici. Itu anak-anak kita. Apa salahnya mereka padamu, Di? Harusnya kamu adil. Kalau aku yang salah, aku yang kamu anggap tidak becus, hukum aku. Jangan anak-anak!" kata Ben.


"Maaf Ben!" air mata itu tumpah dengan derasnya, aku tak tahu lagi harus mengatakan apa selain hanya bisa minta maaf. "Hukumlah aku Ben, maki aku, katakan apapun yang kamu katakan. Tapi tolong maafkan aku."


"Bukan aku yang harus memaafkan kamu. Kamulah yang harus menebusnya sendiri. Sekarang kamu bebas, Di. Tak ada aturan pernikahan yang akan mengikat kamu. Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan!"


Ben berdiri dari duduknya, aku bisa melihat ia berpamitan pada Caca dan Cici sebelum akhirnya meninggalkan aku sendirian yang menangis tersedu-sedu atas penolakan yang dilakukan Ben.


"Mbak Di," mbak Hana memelukku.


"Persis seperti yang saya katakan, dia menolak saya." kataku.


"Belum tentu, mbak. Mas Ben hanya butuh waktu saja. Ia peduli pada mbak Di dan anak-anak."


"Enggak, dia hanya peduli pada anak-anak saja."


"Nggak mbak Di, buktinya dia juga minta tolong kami untuk menjaga mbak Di. Percayalah, dia pasti akan kembali."


Aku menggeleng kepala berkali-kali. Sudah tak ada harapan. Itulah yang aku lihat sekarang. Aku dan Ben, tak akan pernah bersatu lagi.

__ADS_1


__ADS_2