
Masih terlalu pagi untuk bertamu menurutku, tapi pak Tomo sudah berdiri di depan rumah kami. Membuatku makin penasaran, apa sebenarnya yang ia inginkan dariku? Pukul enam pagi, bahkan rumah masih berantakan, sisa pesta sederhana semalam dengan jelyarga mbak Hana.
Masih terlalu pagi untuk bertamu menurutku, tapi pak Tomo sudah berdiri di depan rumah kami. Membuatku makin penasaran, apa sebenarnya yang ia inginkan dariku? Pukul enam pagi, bahkan rumah masih berantakan, sisa pesta sederhana semalam dengan jelyarga mbak Hana.
"Kamu saja yang menemuinya. Katakan kalau aku belum bisa bicara sekarang. Aku ini ibu rumah tangga yang punya dua balita dan seorang bayi. Jam segini adalah waktu untuk mengabdi mengurus mereka." tambahku.
"Baiklah. Lalu kalau ditanya jam, kamu bisanya kapan?" Ben balik bertanya.
"Entah. Yang jelas tidak sekarang!"
Ben segera berlalu, ia tahu, aku sedang sibuk, mengurusi Rizky yang menangis minta asi, sementara Caca dan Cici harus bersiap sekolah. Tidak mungkin untuk meladeni orang lain, bahkan ia saja terabaikan olehku. Kami memang sepakat lebih mendahulukan kepentingan anak-anak.
Sepuluh menit kemudian Ben masuk. Ia sudah berhasil menyuruh pak Tomo pergi. Pantas saja ibu tidak lagi mengintip di dekat jendela.
"Ia berharap nanti sore bisa bertemu. Sekedar berbincang sebentar saja." kata Ben.
"Lalu kamu iyakan?" aku menghentikan proses penggantian popok Rizky, menanti jawaban yang bisa mengubah moodku.
"Tidak, aku tak menjanjikan apapun." jawban Ben membutaku tersenyum. "Tapi aku yakin ia akan kembali datang ke sini nanti sore."
"Benarkah?"
"Itu tebakanku, entah jadi ya bagaimana nanti."
"Lalu sebaiknya bagaimana? Tak mungkin kita mengundur waktu terus. Aku kasihan melihat ibu yang langsung parno kalau laki-laki itu datang. Kenangan buruk yang diciptakannya pasti menjadi trauma tersendiri bagi ibu."
"Ya bisa jadi."
"Lalu bagaimana?"
"Hm, apa sebaiknya memenuhi permintaannya saja untuk bicara?"
"Kapan?"
"Terserah,kapanpun kamu mau."
__ADS_1
"Nanti sore jika ia datang?".
"Ya silahkan, jika kamu siap."
"Ben, jangan tinggalkan aku ya "
"Apa kamu takut?"
"Hmm, sedikit."
"Lho, kemarin katanya tidak takut."
"Aghhh, entahlah." aku menggelengkan kepala, sementara Ben tertawa kecil.
"InsyaAllah aku akan menemanimu." Ben mengusap pelan kepalaku, sehingga membuat nyaman.
***
Kini, aku dan lelaki itu sudah duduk berdua. Saling berhadap-hadapan. Tak ada siapapun di sini selain kami, sesuai dengan permintaannya. Sementara Ben dan ibu menunggu di dalam, sedangkan pengawalnya menunggu di luar. Semua saling mengawasi pihaknya masing-masing. Melebarkan telinga, berusaha mendengar apa yang sedang kami perbincangkan.
"Oh tolong, anda tidak perlu terlalu formal apalagi pura-pura seperti itu. Saya tidak suka." kataku, sambil menahan jengkel. Bagiku ia hanya orang asing yang jejaknya tak terlalu baik, malah terkesan seperti seorang penjahat, dan menyebalkannya ia adalah ayah kandungku. "Katakan saja langsung, jangan buang-buang waktu sebab seperti yang kita sepakati di awal bahwa waktu kita tak lama, kalau bayi saya sudah menangis maka pembicaraan berakhir!".
"Baiklah, apa yang papa katakan sebenarnya bukan basa-basi. Tapi papa benar-benar berharap kita bisa berbincang panjang lebar agar kebekuan antara kita menjadi cair. Di, ayo tinggallah bersama papa."
"Apa? Ini tidak beneran kan?"
"Iya, papa sungguh-sungguh Di. Terlalu banyak waktu yang kita lewati tanpa kebersamaan, papa ingin menebus semuanya. Benar-benar membuat memori indah tentang papa dan kamu. Papa tahu Di, ini tak mudah sebab di memori kamu pasti hanya ada keburukan tentang papa. Wajar, ibumu tak akan adil menceritakan hal-hal tentang papa sebab kenangan di masa lalu kami, makanya papa ...."
"Stop!" terpaksa kupotong pembicaraannya sebab tak suka mendengarkannya menjelekkan ibu. Memang benar cerita ibu tentangnya bukanlah cerita kebaiakan, tapi begitulah kenyataannya. Justru tidak baik jika ibu mengarang cerita kebaikan seseorang padahal ia adalah seorang yang jahat. "Saya tidak suka jika Anda terus-menerus menjelekkan ibu saya. Tidak ada orang lain yang lebih tahu tentang dirinya selain saya!"
"Baiklah, papap minta maaf. Papa tidak akan pernah menjelekkan ibumu lagi."
"Ya, begitu lebih bagus."
"Tapi ... kamu bersedia kan tinggal dengan papa?"
__ADS_1
"Tidak."
"Di, papa mohon."
"Saya tidak mau, lagipula saya punya rumah sendiri, kenapa juga harus tinggal bersama anda?"
"Ini hanya rumah kontrakan."
"Bagaimana anda bisa tahu?"
"Bahkan papa tahu kalau suami kamu hanya pegawai biasa dari perusahaan berskala kecil. Pantas saja perekonomian kalian buruk sebab ia tak bisa memberikan yang terbaik untuk keluarga kecil kamu.
Di, gara-gara itu kalian berpisah, kan? perekonomian memang menjadi salah satu perceraian hingga akhirnya kamu pun harus ikut-ikutan bekerja.
oh tidak, papa tidak bisa membayangkan bagaimana lelahnya kalian jika papa tak menolong. Karena itu tolong terima bantuan papa ya Di."
"Kehidupan kami tak semenyedihkan itu juga. Memang kami mengalami kekurangan keuangan, tapi Ben sangat bijaksana, ia adalah lelaki terbaik yang tak pernah meninggalkan saya dan anak-anak. Ia selalu mendampingi, bahkan meskipun saya sudah menggugatnya diam-diam. Ben benar-benar lelaki berhati malaikatku
Jadi tolong jangan terlalu cepat membuat kesimpulan sebab kami baik-baik saja, apalagi Ben selalu bada untuk saya!"
"Tetap saja Di ...."
"Tidak ada. Anda tidak berhak menilai bagaimana pernikahan orang lain. kalian tidak tahu hitam dan putihnya, jadi jangan sok tahu."
Aku menatap tak percaya apa saja yang dijabarkan pak Tomo. Ia tahu semuanya, bahkan tentang penyebab perceraian kami dahulu. Aku sungguh-sungguh ngeri melihat laki-laki inj, khawatir ia merencanakan sesuatu hal buruk pada kami. Jadi menyesal mengapa pernah berdoa agar bisa membalas lelah.
"Baiklah, kita hentikan perseteruan kita. sekarang papa ingin kamu tinggal di rumah papa. semoga kamu dan keluarga kecilmu bahagia.".
pak Tomo masih memaksakan kehendaknya. Tapi tetap kubantah.
"Kalau bapak memaksa agar saya mau tinggal dengan bapak untuk memperbaiki hubungan kita, mohon maaf tapi saya tidak tertarik. Alangkah baiknya jika kita sudahi saja pertemuan ini, jadikan hari ini yang terakhir agar hati kita sama-sama tenang." kataku, membantah perkataannya. "Bapak tenang saja, jika bapak setuju maka saya akan sangat berterima kasih sekaki." Aku menautkan kedua tangan di depan dada, berharap ia mengerti.
Tapi namanya pak Tomo, ia tetap keras kepala, memaksa agar aku mau menuruti keinginannya.
Kenapa ia begitu bersemangat agar aku bisa tinggal di rumahnya? Apakah jangan-jangan ada rencana jahat yang dirancang olehnya? Tapi apa? aku kembali mengerutkan keninh.
__ADS_1
"Jujur saja, sebenarnya apa yang anda inginkan dari saya?" Aku menatap penuh tanda tanya, sementara ia tersenyum saja.