ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
55. Rahasia Besar Ibu


__ADS_3

"Nasya, tunggu dulu!" panggilku, setelah perempuan itu jalan beberapa langkah meninggalkan kami yang kebingungan dengan pernyataan akhirnya.


"Ya Di, ada apa?" tanyanya, dengan senyum yang sama, senyum yang tenang namun membuat orang yang melihat tidak nyaman. Seperti ada sesuatu hal yang disembunyikan olehnya. Sesuatu hal yang entah apa, tapi bisa membuatku merasa ngeri.


"Jangan pergi dulu. Jelaskan padaku, kenapa kamu memanggil ibuku dengan sebutan ibuku sayang? Juga untuk apa kamu datang ke sini? Apa sebelumnya kamu kenal ibuku?" tanyaku.


"Kenapa Di? Kamu mau tahu?" tanya Nasya, sambil melihat ke arah ibu. "Bagaimana Bu, kita beri tahu Diandra sekarang? Mumpung semuanya hadir di sini." ungkap Nasya, yang juga melirik pada Ben.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" kini giliran Ben yang bertanya. "Sepertinya ada rahasia yang kamu simpan."


"Udah, cukup. Nasya, sebaiknya kamu pergi. Jangan ganggu keluarga kami." pinta ibu, dengan suata pelan namun penuh penekanan.


"Bu, kenapa?" aku ikut bertanya. Menyesal, sejak tadi aku tak memperhatikan sikap ibu, tetapi tampak betul bahwa ibu begitu khawatir. Entah apa penyebabnya.


"Di, sudah. Ayo kita masuk saja. Abaikan saja dia." kata ibu, sembari menarik pelan tanganku agar mau ikut masuk ke dalam.


Tapi semuanya sudah menyisakan tanda tanya besar. Aku tak ingin melewatkan rahasia apapun lagi. Aku ingin tahu, ada hubungan apa antara ibu dan Nasyaal. Apa ini jawaban atas kemarahannya beberapa waktu lalu. Jika ya, aku harus tahu alasan lengkapnya.


"Ben, sudah. Ajak Diandra masuk. Ibu takut terjadi apa-apa dengan kandungannya." pinta ibu pada Ben.


"Iya Bu. Di, ayo kita masuk." Ben yang semula juga ingin tahu, langsung menurut pada ibu sebab ia tak ingin trrjadi sesuatu padaku dan calon bayi kami. Ben meyakini, pasti ada hal yang tidak beres dan jika diungkap maka akan membuatku terguncang, makanya ia tak mau ambil resiko demi kesehatanku dan calon bayi kami. "Ayolah Di. Caca, Cici ... Ikut masuk juga." panggil Ben.

__ADS_1


"Nggak Ben, semuanya harus jelas sekarang juga. Aku nggak mau diliputi rasa penasaran. Jadi Nasya, ceritakan apa yang mau kamu ceritakan!" pintaku.


"Baiklah kalau itu mau kamu Di." Nasya tersenyum.


"Di, tolong dengarkan ibu, ayo kita masuk saja." panggil ibu.


"Maafin aku Bu, tapi kali ini aku nggak mau mendengarkan ibu, aku mau tahu semuanya." kataku.


"Tuh kan Bu, Diandra lebih memilih mendengar kata-kataku, kakaknya." ungkap Nasya, sambil tertawa kecil. Sementara ibu menutup telinganya, lalu berlalu ke dalam.


"Kakak, apa maksudmu?" tanyaku.


"Apa? Nggak, ini semua nggak mungkin." aku menggelengkan kepala, tidak percaya dengan apa yang dikatakan Nasya barusan.


"Kalau kamu nggak percaya, tanya sama ibu kamu sendiri. Atau, apa pernah ibu kamu mempertemukan kamu denhan ayahmu? Nggak, kan? Sebab ia itu perempuan murahan yang tidak punya harga diri, mana bisa dia memberitahu anaknya tentang siapa ayah biologis anaknya tersebut." kata Nasya.


"Astagfirullah," aku nyaris ambruk karena merasa kedua kakiku lemas mendengarkan semua ibu, tapi Ben dengan sigap menangkap tubuhku hingga tak jadi jatuh.


"Untuk membalaskan rasa sakit yang dibuat ibumu pada ibuku, makanya aku datang ke kehidupan kamu. Sudah lama aku mencari kamu, Di. Sudah lama aku ingin menghancurkan kamu dan ibumu, hingga akhirnya Tuhan mempertemukan kita.


Terimakasih Ben, berkat kamu aku jadi tahu siaap Diandra. Perempuan yang lahir dari sebuah hubungan terlarang. Pantas saja sikap kamu begitu buruk, nggak ada akhlak, sebab kamu itu haram, Di. Haram!" pekik Nasya, sehingga membuat tetangga sebelah keluar rumah karena khawatir terjadi sesuatu padaku.

__ADS_1


"Di,'" mbak Hana dan suaminya yang baru keluar dari rumah langsung menghampiri aku, mbak Hana membantu Ben menyanggah tubuhku agar tidak jatuh.


"Sekarang kamu tahu kan kenapa aku amat membenci kamu dan berniat menghancurkan rumah tangga kamu, Di? Bukan karena aku mencintai Ben, tapi karena kamu sendiri, Di." tambah Nasya.


"Cukup Nasya, kalau kamu ada masalah dengan ibu, selesaikan baik-baik dengan ibu. Jangan menyerang Diandra seperti ini. Dia nggak tahu apa-apa. Aku jamin itu. Diandra juga cuma korban, sama seperti kamu. Dia nggak pernah minta terlahir jadi anak siapa. Jadi berhenti menyalahkan Diandra apalagi berniat balas dendam padanya. Kamu salah sasaran sekali." kata Ben.


"Nggak Ben, kalau nggak ada perempuan ini, ibuku nggak akan sesetress ini. Kamu nggak tahu bagaimana kondisi ibuku sekarang. Ia gila, Ben. Sekarang dirawat di rumah sakit jiwa Grogol. Paham kalian!" kata Nasya.


"Tetap saja Sya, ini semua nggak ada kaitannya dengan Diandra, kalau kamu mau menghukum, jangan hukum Diandra yang nggak bersalah. Lagipula kita manusia nggak berhak membalas, Sya. Serahkan semuanya pada Tuhan. Yang curang pasti akan mendapatkan balasannya." tukas Ben.


"Enak sekali kalian, mau lagi begitu saja. Aku nggak akan mendengarkan kamu, Ben. Aku akan tetap lakukan apa yang akan kulakukan. Jadi, bersiaplah Di!" tukas Nasya, lalu pergi meninggalkan kami.


Sementara aku masih terduduk lemas setelah mendengar pengakuan tadi.


"Ya Allah mbak, aku ini anak haram." kataku, dengan dada berdebar-debar menahan sesak. "Aku anak haram, mbak. Anak haram. Pantasan selama ini ibu nggak pernah bisa menunjukkan siapa ayahku, ternyata aku hanya anak haram." celotehku, dengan mata berkaca-kaca, namun sudah kutekadkan tidak akan menagis. Aku tidak ingin meratapi kekuranganku ini.


"Di, nggak ada yang namanya anak haram, kalaupun ada anak yang lahir di luar nikah atau karena hubungan terlarang, yang haram itu bukan bayinya, tapi perbuatan ayah dan ibunua. Namanya anak, mereka semua lahir dalam keadaan suci, bersih. Nggak ada dosa. Jadi jangan menyesalinya. Semua itu adalah takdir Allah, kita nggak bisa berbuat apa-apa selain menerima dengan ikhlas." kata mbak Hana. "Lagian kamu belum tahu semuanya, apakah benar yang dikatakan mbak itu atau jangan-jangan ada informasi yang salah." ungkap mbak Hana lagi.


"Nggak mungkin salah, mbak. Ibu saja sampai pergi, pasti yang dikatakannya itu benat. Aku hanya anak haram, mbak. Selama ini aku memang nggak pernah tahu siapa ayahku, mbak. Ibu selalu menutupinya." aku menangis tersedu-sedu. "Ben, apa kamu malu dengan kondisi ku sekarang? Aku hanya anak haram, Ben. Nggak pantas jadi ibu untuk anak-anak kamu." kataku.


"Di, jangan bicara sembarangan. Bagiku kamu tetap ibu terbaik untuk anak-anakku. Aku nggak pernah peduli dengan kondisi ayah dan ibumu. Lagipula aku tahu ibu, beliau sangat baik dan sayang sama kamu, Di. Nggak mungkin ibu seperti itu, aku yakin sekali." kata Ben, memberiku semangat agar tidak terpuruk.

__ADS_1


__ADS_2