ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
8. Hadiah Dari Ben


__ADS_3

Ba'da Maghrib, barulah Ben pulang. Begitu mendengar suara motornya, aku bergegas keluar, hendak marah sebab ia pulang terlambat. Tetapi tidak jadi saat netraku menatap kotak yang ada gambar laptopnya.


"Ini beneran laptop, kan?" tanyaku pada Ben.


"Iya. Memangnya mau yang lain?" Ben balik bertanya.


"Ya enggaklah. Aku butuhnya laptop. Tapi darimana kamu dapat uang untuk membelinya?"


"Nasya yang minjemin. Nanti kalau proyekku tembus, baru diganti."


"Oh, si Nasya yang selalu ngebuntutin kamu itu?" aku mulai membuka kotak tersebut, lalu mengeluarkan benda pipih yang akan jadi jalanku sebagai seorang penulis. "Jadi gara-gara ini kamu pulang telat, Ben?"


"Iya. Maaf ya Di. Kamu nggak marah, kan?"


"Enggak kok. Aku justru senang."


Aku dan Ben segera masuk ke dalam rumah. Begitu melihat sosok ayahnya, Caca dan Cici langsung menghambur ke dalam dengan suka cita.


"Papa beliin Mama laptop, ya?" tanya Caca.


"Iya." jawab Ben, usai meletakkan tasnya.


"Ben, kamu yang Nemani anak-anak ya. Aku mau mulai nulis nih. Mumpung idenya masih panas banget. Harus segera dieksekusi sebelum pada kabur." kataku.


"Iya. Tapi jangan begadang. Harus istirahat juga." kata Ben.


Tak lama Ben masuk ke kamar diikuti sikembar. Terdengar suara mereka tertawa-tawa. Setelah itu aku sudah tidak mendengar mereka lagi, fokus dengan laptop baruku.


Pertama-tama aku akan membuta outline tulisanku supaya tidak mengalami macet di tengah jalan. Aku cukup lancar menulis dari awal hingga akhir cerita. Tetapi ada beberapa yang harus aku perbaiki sebab ingin membuta twist ending agar tulisanku menarik.


"Caca usil!" teriak Cici.


"Biarin ... biarin. Wee!" ungkap Caca sambil mencibir ke arah Cici.


Mungkin karena kesal pada Caca, makanya Cici mengejar Caca. Begitu dapat, mereka langsung saling cakar, bergulat layaknya anak laki-laki.


"Caca, Cici ... jangan berisik!" aku berteriak untuk menghentikan pertikaian mereka sebab ide di kepalaku langsung terbang begitu mendengar suara berisik mereka.


"Mama ... Cici nakal!" kini tangis Caca pecah. Menambah berisik rumah.

__ADS_1


Ughhhh. Kesabaranku benar-benar habis. Kedua anak kembar ini kalau sudah bertengkar kadang suka main fisik. Entah itu saling cakar, tarik-tarikan rambut, bahkan sampai bergulat. Padahal mereka anak perempuan.


"Kalian ini bertengkar terus ya!" kataku. "Caca, sudah diam. Jangan nangis terus. Mama pusing denger kamu nangis terus." aku membentak Caca.


"Cici nakal ma." Caca mengadukan saudara kembarnya.


"Ci, kamu apakan Caca?" aku mengintrogasi Cici.


"Cuma ditarik aja rambutnya." ungkap Cici tanpa rasa bersalah.


"Kenapa ditarik? Sekarang coba rambut kamu ditarik, sakit nggak?" dengan sigap aku menarik rambut Cici hingga ia menjerit, lalu menangis. "Sakit, kan? Makanya jangan tarik rambut Caca. Paham!"


"Tapi Caca duluan yang nakal. Dia nyubit Cici sampai merah." Cici memperlihatkan bekas cubitan Caca di lengan kanannya.


"Ihhhhhh, kalian itu ia. Sukanya berkelahi. Selalu saja membuat Mama pusing. Mama benar-benar kesal sama kalian berdua. Mau Mama kiirm ke panti asuhan?" aku mulai mengancam kedua anak kembar itu. Biasanya kalau kukatakan seperti itu maka Caca dan Cici akan takut. Mereka akan berhenti menangis, laku berubah jadi anak manis. Tapi kali ini rupanya tidak mampan, mereka berdua tetap menangis, bahkan semakin keras tangisnya.


Ya Tuhan ... aku benar-benar geram. Semakin kesal saat ke kamar dan melihat Ben tengah tertidur pulas di atas kasur Caca dan Cici.


Ayah seperti apa sih Ben itu. Aku sudah menitipkan anak-anak padanya dan ia menyanggupi, tetapi malah seperti ini sikapnya. Tidur tanpa rasa berdosa sedikitpun.


"Ben!" dengan suara menggelegar, entah naik berapa oktaf, aku membangunkan lelaki yang sudah hampir tujuh tahun ini menjadi suamiku.


"Hah, eh ... ya. Kenapa Di?" ia begitu kaget. Langsung berdiri dari tidurnya sehingga membuatnya keliyengan karena pusing akibat langsung bangkit.


"Hah, aku jaga Caca dan Cici kok."


"Jaga apanya. Kamu tidur."


"Tadi aku jagain kok Di."


"Mana buktinya? Kamu itu tidur. Caca dan Cici ada di sana. Mereka nangis!"


"Ya Allah ... maaf Di. Aku tadi ketiduran. Aku ...."


"Ketiduran atau sengaja tidur?"


"Maaf Di."


"Maaf maaf. Kamu itu niat bantuin aku nggak sih? Kamu kan tahu Ben, jadi penulis adalah impianku. Selama ini aku sudah berbakti padamu. Aku sudah bekerja ngurus kamu dan anak-anak. Enggak bekerja di luar rumah. Tapi ini balasan kamu. Jahat kamu, Ben!"

__ADS_1


"Maaf Di."


"Enggak, aku nggak mau maafin kamu. Kamu jahat Ben. Aku benci sama kamu. Gara-gara kamu aku enggak bisa jadi penulis. Aku benci sama kamu Ben. Dulu kamu yang bilang mau ngedukung aku supaya bisa mewujudkan impianku. Mana buktinya, Ben?"


"Maaf Di."


"Maaf ... maaf ... maaf. Begitu saja terus."


"Aku tadi benar-benar ngantuk, Di. Tapi aku berusaha kok enggak ketiduran. Tapi tetap saja ketiduran. Mungkin karena kelelahan, Di. Di kantor lagi ada proyek besar."


"Halah, alasan kamu saja. Lagipula memangnya cuma kamu yang capek. Aku enggak Ben? Aku juga capek Ben. Setiap hari ngerjain pekerja rumah yang nggak ada habis-habisnya. Jagain Caca dan Cici yang aktifnya minta ampun. Tapi aku enggak ngeluh tuh. Kalau diberi tanggung jawab selalu aku kerjakan sebaik mungkin."


"Iya Di. Maaf ya."


"Aku enggak mau maafin kamu."


"Terus aku harus ngapain, Di? Kamu ngetik lagi aja. Aku benar-benar akan jagain Caca dan Cici sampai mereka tidur. Ya."


"Enggak. Aku enggak mau. Aku mau pergi saja."


"Kamu mau kemana, Di?"


"Panggilkan taksi."


"Tapi ini sudah malam, Di. Kamu mau kemana?"


"Ke tempat ibu. Ayo cepat panggilkan taksi!"


"Kalau begitu aku antar saja ya Di. Aku takut terjadi sesuatu pada kalian."


"Enggak, aku nggak mau!"


"Di, maaf banget. Aku benar-benar menyesal, Di. Maaf ya."


"Ben, cepat panggilkan atau aku akan marah sekali!'


Ben terpaksa menurut sebab ia tahu betul bagaimana karakterku. Kalau sudah meminta sesuatu karena marah, maka harus dituruti, kalau tidak aku bisa marah besar, bahkan melakukan sesuatu hal yang akan membuatnya menyesal.


Begitu taksi datang, aku segera masuk ke dalam. Awalnya aku mau pergi sendiri, tapi Caca dan Cici membuta drama yang tidak kalah heboh. Mereka memaksa ikut sehingga tidak ada pilihan lain selain mengajak mereka.

__ADS_1


Di dalam taksi, aku menggerutu. Malam ini Ben keenakan. Tidur sendiri di rumah tanpa gangguan anak-anak. Sementara aku harus membawa beban dua orang anak kembar yang selalu punya cara membuta ku pusing dengan tingkah polah mereka.


Ya Tuhan, kalau begini kapan aku jadi penulis!


__ADS_2