
Seperti dugaanku, sejak kemarin, setelah Ben pergi dari rumah kami, Caca dan Cici masih terus merengek agar diantar ketemu dengan neneknya. Meskipun kadang cara berpikir Caca dan Cici dewasa, tetapi tetap saja mereka adalah anak-anak dan mewarisi sedikit sikap keras kepalaku, sehingga kalau ada keinginan yang benar-benar mereka inginkan, pasti akan merengek seperti ini.
"Ma, ayo dong kita ke tempat nenek." pinta Caca, sambil merengek menarik lengan gamisku.
"Kan sudah mama bilang, Ca. Akhir pekan ya. Sekarang kan Caca masih harus sekolah, mama juga mau jualan." kataku.
"Yah mama, ayo dong mama. Sekarang aja sih, Caca sudah kangen banget sama nenek." Caca masih belum menyerah membujuk.
"Iya ma, Cici juga kangen nenek." sambung Cici, sambil memeluk lengan kiriku.
"Duh, sabar dulu ya nak. Mama belum bisa antar sekarang." aku masih mencoba mengajak anak-anak rembukan agar mereka mau bersabar menanti hingga akhir pekan sebab rasanya membawa anak-anak perjalanan dari Depok ke Jakarta akan sangat repot karena nyambung-nyambung bis.
Sebenarnya bisa naik taksi atau kendaraan online yang bisa langsung antar sampai depan rumah ibu, tapi dalam kondisi saat ini aku harus bijak dalam mengelola keuangan sebab waktu lahiran semakin dekat, biayanya juga pasti tidak sedikit. Apalagi nanti setelah lahiran, kemungkinan tidak bisa langsung berjualan karena ada bayi yang harus aku urus.
"Yah mama," Caca masih komplen, sementara Cici sudah mereda.
"Ada apa ini, kok pagi-pagi sudah ramai?" tiba-tiba mbak Hana sudah ada di depan rumah kami.
"Tante Hana!" seru anak-anak sambil menghampiri mbak Hana, mereka langsung memeluk mbak Hana.
"Ini Tante, kita kangen nenek, tapi mama nggak izinkan ketemuan." Caca ngadu.
"Oalah, masih pengen ke tempat nenek?" Tanya mbak Hana, yang dijawab dengan anggukan serentak oleh Caca dan Cici. "Begini saja, kalau mama ngizinin, Tante yang anterin. Tapi nggak boleh maksa mama Di, harus dibujukin ya." kata mbak Hana.
"Yeayyy, siap Tante Hana." Caca langsung memberikan hormat, lalu beralih padaku, diikuti oleh Cici. "Mama ... boleh ya." pintanya. "Rindunya Caca sama nenek itu udah mendalam banget. Mama nggak kasihan kalau nanti Caca lemah karena kerinduan sama nenek."
"Ihhh, kamu bisa aja Ca." aku geleng-geleng kepala. "Kalian kan harus sekokah." kataku.
__ADS_1
"Sekali ini saja ma. Caca janji akan belajar sungguh-sungguh. Ya Ma!" pintanya lagi.
"Hmm, bagaimana ya? Ya sudah. Tapi setelah ini nggak boleh memaksakan kehendak. Harus nurut sama mama ya." aku mengajukan persyaratan pada mereka dan anak-anak menyetujuinya.
Kami sepakat berangkat pagi ini. Setelah ganti baju, kami berangkat dengan mobil mbak Hana yang disetirnya sendiri. Sepanjang perjalanan, Caca dan Cici terus saja mengoceh, mengomentari jalanan dan apa saja yang mereka lihat.
"Kok resah, Di?" tanya mbak Hana. Sepertinya ia memperhatikan sikapku yang memang menunjukkan ketidak nyamanan sejak berangkat.
"Takut saja mbak." jawabku, dengan suara pelan.
"Takut kenapa?"
"Takut ibu nggak mau menerima atau malah lebih ekstrimnya ngusir kami saya pindah nggak ngomong sama ibu. Seperti sebelumnya saja ibu marah besar sampai mengatakan hal-hal buruk tentang saya. Sebenarnya saya nggak masalah kalau ibunkarah, hanya saja rasanya sedih jika ibu bicara hal buruk tentang saja di hadapan anak-anak."
"Di, kamu harus belajar bersabar menghadapi sikap ibu. Mungkin saja ibu begitu karena ada hal yang kurang baik yang kita lakukan.
Kalau masalah anak-anak, meskipun mereka mendengar orang-orang menyebut ibunya buruk, tapi kalau kamu bisa ngaish contoh yang baik untuk anak-anak, InsyaAllah penilaian mereka terhadap ibunya nggak akan berubah. Mereka bisa merasakan siapa yang menyayangi mereka atau tidak sebab anak-anak itu peka."
"Berubah lah karena Allah, Di. Jangan karena Ben ataupun ibu kamu. Supaya apa yang kamu lakukan tidak sia-sia." kata mbak Hana.
***
Mobil mbak Hana berhenti di depan rumah ibu. Caca dan Cici langsung turun. Sementara aku masih duduk memperhatikan tingkah mereka yang tak sabar masuk ke rumah neneknya.
Caca dan Cici memang snagat dekat dengan ibu. Apalagi ibu agak memanjakan dua cucu kembarnya tersebut.
Dari dalam mobil, aku bisa mendengar suara Caca dan Cici yang heboh. Mereka pasti sudah bertemu dengan ibu.
__ADS_1
"Yuk turun," ajak mbak Hana.
"Yuk mbak." aku berusaha menyunggingkan senyum meski terlihat kaku.
Berdua kami beriringan berjalan ke arah rumah ibu. Di dwpna pintu, aku masuk terlebih dahulu, smenetara mbak Hana masih membuka sepatunya.
"Bu," panggilku pada ibu yang dikelilingi oleh Caca dan Cici. "Maafin aku." pintaku. Sambil mendekat ke arah ibu, lalu hendak menyalam tangannya, tapi tidak jadi sebab ibu menepis tanganku.
"Kamu itu ... sampai kapan mau bikin masalah terus!" kata ibu, dengan suara bergetar, menahan amarah.
"Maafin aku, Bu. InsyaAllah aku akan berusaha berubah."
"Berubah? Ibu sudah nggak percaya kamu bisa berubah, Di. Kamu dari dulu memang selalu membuat masalah. Hanya membuat ibu malu. Pergi diam-diam. Untung saja Ben nggak marah atau melaporkan kamu ke polisi karena membawa anak-anak tanpa pemberitahuan!"
"Iya, maafin aku Bu."
"Maaf .. Maaf. Tapi nggak berubah-ubah. Kamu itu sudah dewasa Di, tapi cara berpikirnya masih kayak anak-anak saja. Sesuka kamu saja. Sekarang malah membawa Caca dan Cici ke sini. Memang mereka nggak sekolah?"
"Sehari ini libur dulu, Bu."
"Ya Allah ... Kenapa sih, sudah jadi orang tua kamu tetap tidak dewasa juga. Nggak bisa mikir mana yang terbaik untuk anak-anaknya. Sudah seperti itu maunya sendiri pula. Kamu kira tanpa Ben kamu bisa berhasil mendidik anak-anak?"
Sakit ya Allah. Tapi sekuat tenaga aku mencoba untuk menahan diri agar tidak menjawab apa yang dikatakan ibu.
"Sabar diri ... sabar. Kamu nggak boleh menjawab perkataan ibu, itu sama saja kamu ngelawan ibu. Biarlah ibu memberikan penilaian. Mungkin ibu kecewa padamu. Ibu hanya ingin melihat yang terbaik untuk kamu dan anak-anak mu. Sabar, tenang, nggak perlu balas mengeluarkan racun yang sama seperti ibu." kataku, pada diri sendiri.
"Assalamualaikum." tiba-tiba mbak Hana masuk. "Apa kabar Bu, saya Hana. Tetangganya Diandra." kata mbak Hana, sambil mencium tangan ibu.
__ADS_1
Melihat kehadiran mbak Hana, amarah ibu mulai mereda, lalu mempersilahkan mbak Hana untuk duduk. Sebentar ibu meninggalkan kami menuju dapur. Aku menebak ibu membuatkan minuman.
"Sabar Di," bisik mbak Hana. Aku hanya mengangguk, berusaha tersenyum meski sebenarnya perasaanku sedang sedih dengan penolakan yang dilakukan ibu.