ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
58. Bertemu Ibunya Nasya


__ADS_3

Namanya Maya Lestari. Ibunya Nasya yang kini dirawat di salah satu rumah sakit jiwa yang ada di bilangan Jakarta Barat. Begitulah informasi yang aku dapatkan dari Ben.


Setelah bicara dengan ibu, aku memang meminta bantuan pada Ben untuk mencari tahu segala hal tentang mereka.


Seperti yang sudah kukatakan pada ibu, aku akan menemuinya untuk meluruskan segala kesalah fahaman yang membuat putrinya meradang padaku dan ibu. Kami juga korban, jika ada yang harus disalahkan dan dimintai pertanggungjawaban, ialah doker Tomo, ayahnya Nasya dan ayah biologis ku.


"Kamu yakin mau ke sana, Di?" tanya Ben. Ia tampak ragu, saat datang di akhir pekan. Wajar Ben begitu sebab dari informasi yang dikumpulkan selama sepekan ini, ada banyak kejanggalan tentang prosedur perawatan ibunya.


"Ya Ben, semuanya harus diluruskan. Aku tak mau Nasya terus membenci bahkan hendak menghukum aku dan ibu. Apa kamu berpikiran sama seperti Nasya jika aku dan ibu juga bersalah, Ben? Hanya karena ibu tak mau menggugurkan aku kala itu?" tanyaku pada Ben.


"Tidak Di, kamu dan ibu tidak salah. Aku juga sepemikiran dengan kamu, hanya saja apa kamu yakin menemui ibunya Nasya adalah jalan keluar terbaik. Sudah tahu kan bagaimana kondisi kejiwaan ibunya Nasya? Apa akan bermanfaat jika kalian bertemu? Aku takut ini hanya akan jadi masalah baru nantinya, apalagi mengingat kondisi kamu yang sedang hamil besar, Di. Sebaiknya kamu pikirkan ulang."


"Tenang saja Ben, aku akan berhati-hati. Lagipula aku tak pergi sendiri, ada mbak Hana juga yang akan menemani."


Ben tetap berat hati. Meski aku dan dia tidak terikat hubungan pernikahan, tapi karena di dalam perutku ada anaknya, makanya kuputuskan untuk mematuhi, Ben. Ia baru mau memberikan izin jika aku mengizinkan Ben ikut serta sebab ia tak mau menyerahkan penjagaan ku pada orang lain. Jadilah pagi ini kami pergi bertiga, sementara anak-anak di rumah bersama ibu.


Aku memutuskan pergi menemui Tante Maya bukan tanpa sebab, kurasa ada hal yang harus diluruskan antara kami. Ia depresi karena kesalahan suaminya sendiri, bukan karena ibu. Jika kami bisa berdamai, aku sangat yakin Nasya tak akan lagi mengejar aku dan ibu. Jika itu sudah terwujud, tinggal menyelesaikan masalah antara aku dan lelaki yang sudah membuatku hadir ke dunia ini.


Memang agak aneh jika dipikirkan, mengajak orang yang sedang tidak waras untuk berembuk, tapi tak ada pilihan lain, barangkali dengan menjelaskan, kejiwaan ibunya pun bisa terbantu. Lagipula, sekarang hanya Tante Maya yang bisa kutemui sebab Nasya sudah membuat benteng yang cukup tinggi, sementara menemui dokter Tomo, rasanya aku belum punya keberanian.

__ADS_1


Mobil mbak Hana yang dikemudikan Ben berhenti di halaman rumah sakit jiwa. Aku menarik nafas, mengumpulkan semua keberanian, lalu berjalan diiringi Ben dan mbak Nasya melewati lobi rumah sakit.


"Kami ingin bertemu ibu Maya Lestari." kata Ben, pada dua penjaga yang duduk di bagian pendaftaran.


"Maaf, bapak dan ibu-ibu ini siapanya ibu Maya?" tanya salah satu petugas tersebut pada Ben.


"Saya putrinya pak Tomo." cetusku. "Saya mau melihat ibu."


"Lalu pak Tomo sudah memberi izin?" Tanyanya.


"Kenapa tanya-tanya, mau saya hubungi ayah saya sekarang?" Kataku, agak sedikit menggertak meski sebenarnya jika ia minta aku menghubungi pak Tomo, sudah bisa dipastikan aku tak akan bisa melakukannya sebab jangankan punya nomornya, pernah bicara saja belum pernah.


Entah harus bersyukur atau bagaimana, tapi setidaknya aku tak harus melewati kesulitan ketika menemui ibunya Nasya. Menurut informasi yang dikumpulkan Ben, tidak semua orang bisa bertemu dengan Tante Maya, mungkin keluarga yang melarang entah karena alasan apa, tapi setidaknya kami mendapat kemudahan hanya karena wajahku begitu mirip dengan dokter Tomo. Begitu menurut pengakuan ibu.


Kami bertiga, didahului seorang penjaga melewati lorong-lorong rumah sakit. Bertemu beberapa pasien yang mondar-mandir diawasi beberapa penjaga di bagian dalam ruang rawat.


Cukup jauh kami berjalan sebab ternyata ruang rawat ibunya Nasya berada paling belakang. Sebuah ruangan yang lebih tepatnya disebut ruang isolasi.


"Tumben tumbennya pak Tomo nggak ngasih tahu kalau hari ini putrinya mau berkunjung, padahal biasanya mbak Nasya saja tidak diizinkan ke sini. Tapi ngomong-ngomong mbak ini anaknya yang mana? Saya kira anaknya Bu Maya cuma mbak Nasya saja." kata penjaga tersebut.

__ADS_1


"Saya anak tirinya ibu Maya." kataku, mencoba menjawab hati-hati sebab kurasa ada banyak kejanggalan di sini.


"Anak tiri? Maksudnya?" perawat itu diam, ia menghentikan tindakannya membuka pintu kamar yang kuduga tempat ibunya Nasya di rawat.


"Panjang ceritanya, mbak. Besok tanya papa saja." kataku. Sambil memaksakan senyum, berusaha sesantai mungkin agar ia tak menyadari sesuatu hal tidak beres disini.


Kurasa ini adalah sebuah kebetulan, atau lebih tepatnya keberuntungan aku sebab bisa bertemu ibunya Nasya. Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres di sini. Instingku mengatakan bahwa apa yang terjadi hari ini bukanlah sebuah kebetulan saja.


"Silakan, mbak. Kalau sudah selesai langsung tekan ini saja ya, akan saya jemput kembali." katanya, sambil menunjukkan tombol yang ada di dekat pintu masuk. Ia mempersilahkan kami masuk pada ruangan yang cukup gelap tersebut hingga butuh lampu yang dinyalakan agar bisa melihat seluruh isi ruangannya. Lalu petugas tersebut meninggalkan kami bertiga.


Mataku tertuju pada perempuan yang terbaring di atas tempat tidur di pojok ruangan yang cukup besar lengkap dengan kamar mandi di dalamnya. Ia memejamkan mata, sementara kedua tangannya terikat ketepi tempat tidur.


Terikat? Aku tak percaya dengan penglihatanku ini, tapi begitulah kenyataannya. Untuk apa Tante Maya diikat, padahal ruangan ini terkunci. Hanya ada satu jendela kecil kira-kira berukuran tiga puluh kali empat puluh centimeter.


Apakah ia berbahaya? Aku jadi bergidik, seberapa parah sakit kejiwaannya hingga harus diperlakukan seperti ini.


"Tante," panggilku, sambil berjalan pelan menuju ranjangnya, sementara Ben siaga mengikuti langkahku.


Semakin dekat, aku melangkah. Kini hanya tinggal beberapa meter. Bisa kulihat, seorang perempuan yang mungkin usianya sepantaran ibu, tapi gurat wajahnya menunjukkan jauh lebih tua dari ibu. Sebab badannya yang kurus kering, pipi tirus dan rambut berantakan.

__ADS_1


Aku masih melangkah, kini benar-benar berada di hadapannya. Ketika kedua tanganku hendak menyentuhnya, sepasang mata itu tiba-tiba terbuka, tampak melotot, seperti seseorang yang sedang marah, sehingga membuatku langsung mundur beberapa langkah.


__ADS_2