ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
28. Nasya Datang


__ADS_3

Tak lama mbak Rini masuk. Ia tersenyum, lalu duduk di sebelah tempat tidurku. "Pasti berat ya mbak Di." ungkapnya. "Mbak Yani tidak, saya juga merasa sangat berat hidup tanpa suami saya. Setelah ia meninggal, rasanya dunia saya sudah berakhir juga, tapi saya tak bisa mengakhiri karena ada anak yang bergantung pada saya. Akhirnya saya bangkit, berusaha semaksimal mungkin untuk anak. Bekerja keras meski kami terpisah oleh jarak. Mbak Di harusnya bersyukur. Anak-anak ada di sisi mbak Di."


"Iya mbak." kataku, sambil memaksakan senyum yang sebenarnya kelu.


"Memang kenapa bercerai, mbak? Suami main fisik atau selingkuh?"


"Nggak dua-duanya, mbak. Aku saja yang egois." Aku menceritakan secara singkat apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Ben.


"Saran saya mbak, kalau bisa diperbaiki, ya perbaiki saja. Demi anak-anak. Kalau saya dengar cerita mbak Di, sepertinya suami mbak Di sangat sayang sama mbak Di."


"Tapi entah kalau sekarang, mbak."


"Mbak Di punya perekat yaitu anak-anak. Mereka bisa menjadi pemersatu untuk orang tuanya. Apalagi sekarang mau ada tambahan sikecil. Mending rujuk, mbak."


Andai, semuanya semudah itu, mungkin akupun ingin kembali ke pelukan Ben. Aku benar-benar tak ingin berpisah dengannya. Ternyata aku tak sanggup, semua terasa berat, aku begitu gamang. Tetapi apakah Ben mau menerima kembali, sebab ia sudah mewanti-wanti sejak awal agar aku tak maju ke pengadilan.


***


Terlalu banyak yang aku pikirkan, sehingga tidak menyadari ada tamu. Ia berdiri di depan meja kasir, sementara aku sibuk menghitung uang masuk selama sepekan ini.


"Maaf mbak, tadi makan apa saja?" tanyaku, lalu mengangkat wajah. Tampaklah Nasya di hadapanku.


Ia, untuk apa di sini? Kenapa juga aku sampai tidak tahu bahwa ia ada di hadapanku. Perempuan berwajah oriental itu tersenyum padaku. Sebuah senyum yang ku rasa terlalu kaku.


"Hai Di, apa kabar?" tanyanya. " Aku nggak mau makan, kok."


"Lalu?" aku bersikap ketus sebab tak terlalu suka dengannya. Saat Ben masih berstatus sebagai suamiku, gadis ini acap menempel bak perangko pada Ben. Meskipun Ben tak pernah tergoda, tapi kan tetap saja, adabnya tidak bagus, dan membuat risih saja.


"Aku ingin bicara sebentar." pintanya. Tapi tiba-tiba ia berbisik ke arahku. "Apa kamu bekerja dengan Anis?" rupanya ia menyadari keberadaan Anis tak jauh dari tempat kami berdiri.


"Kamu kenal Anis?"


"Hehehe, pasti."

__ADS_1


"Ini cafenya."


"Oh begitu."


"Tapi maaf Nas, aku nggak bisa ngobrol sama kamu." kataku. Bahkan untuk selamanya, aku tak ingin bicara dengan kamu. Untuk apa? Aku juga tak suka gadis ini mendekatkan diri padaku. Masih kuingat betul bagaimana tingkahnya saat kami bertemu terakhir kali di kantor Ben. Ia dengan sombong, tidak mau bicara denganku, bahkan menganggap ku tidak ada. "Ini masih jam kerja!" kataku dengan tegas.


"Oh, oke. Aku mengerti. Aku hanya ingin minta izin sama kamu. Maksudnya, mau mengatakan kalau nanti pulang sekolah, aku ingin mengajak Caca dan Cici. Boleh?"


Apa-apaan ini. Kenapa ia minta izin mau membawa kedua anakku. Dia pikir dia siapa, sehingga mau ber akrab-akrab dengan kedua putriku.


"Apa?"


"Di, aku mau ngajak Caca dan Cici jalan. Ben juga ikut. Kami berempat."


"Oh. Kenapa Ben nggak bilang sendiri padaku. Dia kan bisa mengirimkan pesan."


"Maaf Di, Ben sudah tidak ingin bicara dengan kamu lagi."


"Oh begitu. Tapi ...."


"Hah?"


Rasanya dunia ini berubah jadi gelap saat Nasya mengatakan ia akan fitting. Apa itu tandanya Ben akan menikah dengan Nasya. Berarti Ben sudah benar-benar melupakan aku? Secepat itukah?


"Boleh kan, Di?"


"Ya."


"Baiklah, nanti kalau sudah selesai akan aku antarkan mereka sampai ke sini." Nasya pamit, ia melambaikan tangannya padaku sambil memamerkan senyum yang paling manis.


Sementara aku, rasanya sudah kehilangan harapan. Aku benar-benar lelah. Tidak tahu harus melakukan apa lagi. Rasanya ini benar-benar hukuman yang berat karena sudah melakukan tindakan gegabah tanpa mau mendengarkan nasihat siapapun.


"Di, itu tadi si Nasya kan?" Anis mendekat.

__ADS_1


"Iya Nis." jawabku, dengan kepala yang sudah berat memikirkan banyak hal.


"Mau apa dia ke sini?"


"Mau minta izin membawa anak-anak jalan. Dia dan Ben akan menikah." kataku.


"Apa?"


"Maaf Nis, aku izin ke mushalla dulu, kepalaku sakit. Titip meja kasir ya." Kataku.


Rasanya sudah tidak peduli dengan pekerjaan ini. Ada sesuatu yang terasa sesak di dada. Harus segera aku tumpahkan. Tapi tidak di sini sebab aku tak ingin semua orang tahu bahwa aku begitu menyesal dengan apa yang sudah aku lakukan.


Langkah itu terhenti di mushalla, bersamaan dengan air mata yang mengajak sungai. Rasanya memang sudah tidak bisa terbendung lagi. Aku benar-benar kecewa dengan diriku sendiri.


Ben, apakah aku benar-benar sudah tidak punya harapan lagi untuk kembali pada kamu? Apakah benar, sudah tidak ada jejakku lagi di hatimu? Ben, bukankah kamu yang bilang bahwa bagaimana pun kondisiku, kamu akan selalu mencintaiku?


Aku memang bodoh, Ben. Aku melakukan kesalahan yang paling tidak kamu sukai. Tapi bukankah aku sudah menyesali semuanya. Aku benar-benar takut, Ben. Bagaimana jika tak bisa lagi mencintai dan melihat kamu.


Kini, memori bersama Ben mulai terputar di benaknya. Ben yang begitu sabar. Ben yang selalu berusaha melakukan yang terbaik untukku.


Ben yang bahkan rela tidak tidur jika aku sakit. Ben yang selalu siaga mengurus anak-anak kala aku kelelahan dengan tugas domestik. Tapi terkadang justru akulah yang berpura-pura lelah,siapa Ben menggantikan aku.


Ben, tolong jangan menikah dengannya. Aku mohon, Ben. Beri kesempatan padaku. Setidaknya demi anak-anak. Demi Caca, Cici dan calon bayi ketiga kita!


Kini, setelah masalah yang begitu runyam, lalu siapa yang bisa menolongku?


Ibu? Satu-satunya keluarga sekaligus orang yang paling dekat dengan Ben, jika aku mintai nasihat atau bantuan untuk menyatukan kembali dengan Ben, yang ada malah nanti ibu kembali nyinyir padaku sehingga aku akan terlihat semakin buruk di mata ibu


Lalu siapa lagi?


Perlahan aku terduduk di lantai mushalla yang dilapisi karpet berwarna coklat tua. Bersamaan dengan ingatanku akan Tuhan. Dulu, saat aku masih menjadi istrinya Ben, ia selalu bilang padaku, apapun masalah yang aku hadapi, libatkan Tuhan di dalamnya. Berserah pada-Nya, minta petunjuk dari-Nya.


Nasihat itu, dulu selalu aku abaikan.

__ADS_1


Sejujurnya, urusan ibadah aku memang asal-asalan. Hanya melaksanakan kewajiban jika Ben mengawasi, atau jika Caca dan Cici mulai protes karena ibunya selalu absen salat berjamaah dengan dua anak kembar tersebut.


Itupun ibadah yang aku lakukan benar-benar ala kadarnya. Dari pada ditanya apalagi disuruh-suruh.


__ADS_2