ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
57. Rahasia Besar Ibu (3)


__ADS_3

"Luka sebesar itu, kenapa ibu tak pernah bicara?" tanyaku, setelah aku yakin ibu tenang. Usai mengungkap rahasia besar yang selama ini disimpannya rapat-rapat. "Harusnya ibu lapor polisi atau ungkapkan semuanya pada orang-orang agar semua tahu siapa ayahnya Nasya yang sebenarnya. Hanya laki-laki pengecut yang tega memperdayai perempuan muda atas nama masa depan!"


"Tidak semudah itu, Di. Ada banyak yang ibu pertimbangkan. Salah satunya tentang kamu, juga tekanan-tekanan yang ibu dapatkan.


Kamu tahu, Di. Usai kejadian pilu itu, ibu begitu merasa hancur, hina dan begitu kotor akibat perbuatan kotor dokter Tomo. Rasanya dunia ibu sudah kelam, Di. Tak ada lagi masa depan cerah seperti yang ibu impikan selama ini. Semua sudah selesai.


Sempat ibu melapor ke pengawas rumah sakit, untuk mendapatkan keadilan, tapi yang ibu dapatkan hanya pandangan sinis dan juga prasangka buruk mereka yang menganggap ibu mengarang semuanya, bahkan mereka curiga, jika itu terjadi, ibulah yang menggoda dokter Tomo sebab ia adalah dokter ternama saat itu. Sudah punya keluarga bahagia, rasanya tidak mungkin melakukan hal senista itu dengan perempuan biasa seperti ibu.


Ditambah juga ancaman, jika ibu terus speak up, maka ibu akan kehilangan pekerjaan, bahkan tidak mungkin jika ibu yang diseret ke penjara karena pencemaran nama baik dokter Tomo dan juga rumah sakit tempat ibu bekerja.


Tak ada pilihan lain selain memukulnya sendiri, sembari terus menjaga diri agar kejadian itu tak terulang untuk kedua kalinya sebab dokter Tomo terus mencari cara agar bisa mengulang perbuatan bejatnya pada ibu kembali.

__ADS_1


Beberapa pekan setelah kejadian itu, ibu merasa seperti disambar petir ketika menyadari kalau ada yang hadir di rahim ibu, yaitu kamu, Di. Di usia yang masih sangat muda dan sendiri, rasanya tak tahu harus melakukan apa.


Sempat berpikir untuk mengakhiri hidup, tapi berulang kali ibu melakukannya, selalu saja gagal. Tuhan masih menjaga kita, Di. Akhirnya ibu berusaha menguatkan diri sendiri, untuk bertahan dan melahirkan kamu. Apapun yang terjadi, ibu sudah bertekad akan melahirkan dan membesarkan kamu.


Tetapi menjalaninya tentu tidak mudah, Di. Lama-kelamaan perut ibu makin membesar seiring dengan usia kandungan yang terus bertambah. Orang-orang akhirnya tahu bahwa ibu sedang hamil, termasuk dokter Tomo yang terus mencari cara untuk mengkonfirmasi bahwa itu anaknya atau bukan. Ibu sudah berusaha mengelak, meski ia mengatakan akan bertanggung jawab. Tapi tanggung jawab yang seperti apa? Semnetara ia sudah punya istri dan anak. Ibu cukup tahu diri, Di. Apalagi ibu kembali menyadari kalau dokter Tomo sebenarnya tidak benar-benar ingin bertanggung jawab, ia hanya berusaha menjebak ibu agar ibu mau menggugurkan kandungan supaya jejaknya bisa dihapus.


Selain itu ibu juga mendapatkan perlakuan buruk dari laki-laki di sekeliling ibu yang memandang rendah dan mencoba untuk kembali melecehkan ibu. Juga pandangan negatif teman-teman perempuan yang mengira bahwa ibu perempuan murahan yang bisa saja menggoda suami atau kekasih mereka.


Padahal ibu tidak seperti itu, Di. Tapi siapa yang mau percaya pada seorang perempuan yang hidup sebatang kara, bahkan tidak tahu siapa orang tua kandungnya sebenarnya.


Rasanya selalu saja sakit saat melihat kamu, Di. Luka-luka, pelecehan, hingga pandanagn buruk orang-orang terus terngiang di telinga ibu. Sakit, Di. Itulah alasannya ibu selalu berusaha menghindari kamu dengan menghabiskan waktu mencari uang sebanyka mungkin sebab ibu sendiri belum bisa memaafkan semua kejadian buruk yang ibu alami.

__ADS_1


Salahkah ibu , Di? Salahkah jika ibu membuat kamu hadir di dunia ini? Bukan mau ibu, Di. Jika boleh meminta, ibupun ingin punya anak setelah menikah agar bisa mencurahkan kasih sayang penuh pada anak-anak ibu, tapi takdir berkata lain, Di. Semua sudah disuratkan bahwa kita harus menjalani kehidupan yang amat berat ini." kata ibu, sambil meneteskan air mata.


Aku sendiri pun tak bisa menahan bulir bening itu, yang jatuh tanpa permisi. Bisa kurasakan bagaimana beratnya hari yang dilalui oleh ibu, sebab harus melahirkan anak tanpa seorang suami. Kini aku juga bisa memahami, kenapa ibu selalu tak pernah punya waktu untukku. Wajar, sebab ibu punya kenangan buruk. Tidak mudah untuk keluar dari semua itu.


"Lalu bagaimana dengan dokter Tomo sekarang, Bu?" tanyaku, ragu-ragu. Meski sebenarnya aku tak ingin tahu tentangnya, lelaki jahat yang sudah menghancurkan hidup ibu. Yang dalam tubuhku juga mengalir darahnya.


"Setelah kamu lahir, dokter Tomo masih berusaha menemui ibu, bahkan ia beberapa kali berusaha untuk menghabisi kamu, Di. Tetapi lagi-lagi Tuhan melindungi kita, kamu selamat Di. Hingga akhirnya suatu hari ibu bertemu dengan istrinya secara tidak sengaja, lebih tepatnya ia yang mencari tahu tentang ibu, tapi sepertinya ia ragu-ragu menemui ibu. Mungkin ia pun belum siap dengan semua kenyataan ini. Kami tak banyak bicara, tapi bisa ibu lihat bagaimana tertekannya ia dengan kenyataan kalau suaminya punya anak dari perempuan lain. Ibu tak tega padanya, Di. Makanya ibu mengalah, pergi untuk selamanya dari kehidupan mereka. Ibu memutuskan pindah kerja, ke tempat yang tidak diketahui oleh dokter Tomo ataupun istrinya. Ibu kira semua akan kembali jadi baik, tapi ternyata tidak, Di. Ibu juga baru tahu dari Nasya tentang kondisi ibunya. Ibu sangat yakin, ibunya Nasya adalah orang baik, ibu merasa bersalah, Di." ungkap ibu.


"Ini semua bukan salah ibu, tapi kesalahan ayahnya Nasya. Harusnya ia tak melakukan semuanya. Ia harus mendapatkan balasan atas kejahatannya." kataku, dengan sangat geram. Bagaimana bisa seorang penjahat yang sudah menghancurkan masa depan seorang perempuan muda dan juga ingin menghabisi anaknya sendiri bisa tetap bebas hingga saat ini. "Ibu tenang saja, aku akan membereskan semuanya. Aku juga akan menyeret sendiri dokter Tomo ke penjara!"


"Jangan Di, kamu enggak tahu siapa dia, dokter Tomo punya harta dan jabatan yang akan selalu melindunginya. Sementara kita? Nggak punya apa-apa, Di. Kita hanya masyarakat biasa. Hanya bisa bersabar menghadapi semuanya."

__ADS_1


"Ibu jangan lupa, kita punya Tuhan!" kataku. "Dia yang akan menolong ibu, menolong kita.".ibu memelukku haru.


Tidak ada yang perlu kita takuti selagi masih ada Allah di dalan hati. Orang-orang yang dzalim harus mendapatkan balasan atas perbuatannya. Kalaupun tidak di dunia, setidaknya di pengadilan akhirat.


__ADS_2