
Aku, ditemani ibu dan sikembar Caca dan Cici hari ini ke bidan langganan untuk melihat perkembangan calon bayi ketigaku. Bu bidan bilang, perkembangannya benar-benar pesat, meningkat dari terakhir aku ke sini. Beratnya juga sudah mencapai target. Kemungkinan bayinya akan lahir dalam tiga bulan ke depan sesuai dengan HPL. Semua karena sekarang ada ibu yang mengurusku. Kebutuhan maka ku memang sangat diperhatikan oleh ibu, sesuai dengan permintaan Ben.
Dari USG juga sudah terlihat jelas bahwa calon bayi ketiga ini adalah laki-laki. Sama seperti dugaanku sejak awal.
"Ma, papa beneran nggak datang?" tanya Caca lagi, meski pertanyaan itu sudah diajukannya beberapa kali sebelum kami berangkat.
"Enggak Ca, kan sudah mama bilang tadi. Kamu juga sudah telepon papa, kan?" Kataku, usai membayar biaya check up dan vitamin.
"Yah, padahal katanya Papa mau lihat adik bayi, eh malah nggak datang." Caca tampak kecewa.
Hari ini memang akhir pekan, biasanya Ben akan datang berkunjung sekedar bermain bersama anak-anak dari pagi sampai sore, tetapi kemarin Ben sudah mengirimkan pesan tak bisa datang pekan ini sebab ia sedang ada pekerjaan penting yang tidak bisa ditinggalkan. Entah pekerjaan apa, tapi kalau sudah sampai lembur, aku yakin ini memang sangat penting sebab Ben biasanya tak suka menghabiskan hari libur dengan pekerjaan. Ia memang sangat bertanggung jawab, tapi tetap menomorsatukan keluarganya.
"Pokoknya kamu dan anak-anak doakan aku ya, supaya bisa mewujudkan mimpi kita." begitu kata Ben saat aku meneleponnya tadi sehah Caca terus merengek minta kepastian apakan ayahnya benar-benar tidak bisa datang.
Entah mimpi yang mana yang ingin diwujudkan oleh Ben. Aku sendiri tidak bisa menerka, sebab kini waktu kebersamaan kami tidak selama dahulu saat masih bersama.
Selesai dari tempat bidan, aku mengajak ibu dan anak-anak jalan-jalan ke mall sembari membeli perlengkapan bayi, mumpung keuangan mulai membaik dan juga ada titipan dana dari Ben yang bisa dipergunakan. Kemungkinan nanti belum tentu bisa sering keluar sebab sudah banyak tanggung jawab yang harus aku selesaikan. Salah satunya mempersiapkan launching buku kedua.
__ADS_1
Langkah kakiku terhenti, tepat di depan meja sales yang menjuak rumah. Tanganku langsung mengambil brosur yang memang dibagikan gratis pada orang-orang yang lalu-lalang.
"Tipe lima puluh empat, harganya sudah delapan ratus juta." gumamku, sambil menggigit bibir, membayangkan entah kapan uang sebanyak itu bisa terkumpul. Sementara muncul pikiran lain, jika aku dan Ben kembali menikah, itu berarti aku harus kembali ke rumah lama yang kamu tempati. Rasanya pasti sangat tidak nyaman jika bertemu tetangga lama yang sering jilid padaku. Untuk menghindar rasanya juga tidak mungkin mengingat rumahnya persis di sebelah rumah kami.
Ia juga pasti sudah mendengar kabar perpisahan antara aku dan Ben. Kalau kami balikan, aku juga sangat yakin akan jadi bahan tertawaan Bu Fenti. Aku diam saja ia nyinyirin, apalagi dengan banyak masalah yang kubuat beberapa waktu lalu.
"Di," ibu menepuk pelan pundakku.
"Hah, eh, ya Bu." kataku, gelagapan.
"Apa itu?" tanya ibu.
"Hm, iya. Bagus juga ini. Tapi kalau kamu sudah menikah sama Ben, mau tetap tinggal di Depok, Di? Terus kerjaan Ben bagaomana? Rumah Ben yang lama juga bagaimana?"
"Iya Bu, aku mengerti. Hanya membayangkan saja. Lagian harganya mahal sekali. Delapan ratus juga. Uang dari mana. Penghasilan Ben saja pas-pasan. Fee nulis aku juga nggak seberapa. Yahh, cuma sekedar harapan saja, Bu." kataku, sambil memaksakan senyum meski sebenarnya ada perasaan sedih juga.
Sejujurnya aku memang masih menyimpan harapan punya rumah yang lebih besar lagi dari rumah yang sebelumnya, apalagi kami akan punya tambahan bayi. Tapi kalau ingat penghasilan Ben, lagi-lagi harapan itu harus kembali dipendam.
__ADS_1
Ingat bagaimana hal ini menjadi salah satu penyebab akhirnya aku memutuskan menggugat Ben. Seharusnya kala itu aku bersabar seperti nasihat mbak Hana..hidup itu jangan melihat ke atas terus, mungkin memang pencapaian orang-orang di sekeliling kita membuat silau, apalagi kalau kita sama-sama mulai dari nol. Tetapi jangan lupa untuk bersyukur dan juga melihat yang ada di bawah.
Ahh, kini aku menyadari bagaimana egoisnya diri ini. Memang untuk ukuran penghasilan Ben kurang dibandingkan teman-temannya. Tapi aku lupa satu hal, bagaimana teman-teman bercerita tentang sibuknya suami mereka, sampia nggak ada waktu untuk sekedar berbincang dengan istri dan anak-anaknya. Tak jarang teman-teman juga memndang itu oadaku, bila Ben datang menjemput, lalu anak-anak akrab dan bermanja-manja dengannya.
"Di ... Di, bagaimana kamu bisa melupakan banyak kebahagiaan yang akhirnya kamu tukarkan dengan kesedihan hanya karena nafsu saja." kataku pada diri sendiri sambil tersenyum kecut.
"Di," kembali ibu membuyarkan lamunanku. "Kalau kamu mau beli rumah baru, minta Ben jual rumahnya saja, nanti kamu beli rumah ini, tambahnya kamu jual rumah ibu saja. Bagaimana?"
"Hah? Ibu bicara apa? Ya janganlah. Aku nggak mau menjual rumah ibu. Lagian itu kan hasil kerja kerasnya ibu. Janganlah Bu." kataku, sambil menggelengkan kepala kuat-kuat.
"Di, dengarkan ibu. Selama ini ibu memahami penyebab perselisihan antara kalian salah satunya adalah soal ekonomi. Ibu yakin sekali kalau perekonomian kalian membaik, keinginan kamu ounya rumah baru terwujud maka rumah tangga kalian akan baik-baik saja. Nah, satu-satunya yang bisa ibu lakukan adalah dengan membantu membelikan rumah seperti yang kamu inginkan.
Rumah yang ibu beli itu nanti juga akan diwariskan kepada kamu, satu-satunya anak ibu. Cepat atau lambat juga akan kamu jual juga, kan. Karena ibu yakin kamu nggak akan mau tinggal di sana. Jadi, nggak ada salahnya jika dijual sekarang.
Kalau soal ibu, nggak usah dipikirkan. Kan ibu bisa tinggal sama kalian, atau nanti ibu bisa ngontrak, toh ibu masih dapat uang pensiunan yang cukup untuk biaya hidup ibu sendiri. Bagaimana Di?"
"Ya Allah Bu, enggak usahlah. Aku akan sabar mengumpulkan dana sendiri. Lagipula ibu tenang saja, aku sedang belajar hijrah. Aku nggak akan ikutin hawa nafsu lagi. Aku akan berusaha menerima Ben apa adanya."
__ADS_1
"Ya Di, kamu harus belajar. Demi anak-anak kamu juga, ya." kata ibu, sembari menepuk pelan punggungku.
Sementara itu, tak jauh dari kami, Caca dan Cici tampak senang bermain di wahana mainan anak yang disediakan pihak mall.