
"Mbak Hana pasti kerepotan punya tetangga seperti putri saya." kata ibu, membuka pembicaraan setelah ibu menghidangkan teh dan makanan kecil ke hadapan kami. Sementara anak-anak sibuk nonton TV di ruang tengah. "Semoga saja mbak Hana sabar. Saya minta maaf jika Diandra banyak salah." tambah ibu lagi.
Ibu, kenapa harus bicara seperti itu? Apakah aku benar-benar sebuah beban di matamu?
"Ahh nggak kok Bu. Diandra sama sekali tidak merepotkan. Diandra adalah tetangga yang baik. Saya justru banyak belajar dari Diandra. Ia adalah perempuan yang hebat. Pekerja keras dan mampu mengurus anak-anaknya, padahal sekarang juga sedang hamil. Kalau saya diposisi Diandra belum tentu mampu." kata mbak Hana, sehingga aku bisa sedikit berbesar hati sebab ia membelaku.
"Hm, masa mbak? Saya ini ibunya Diandra, sejak kecil saya yang mengasuhnya, tahu betul watak Diandra seperti apa." ungkap ibu lagi.
"Mungkin itu dulu Bu. Tapi Sekarang Diandra sudah berbeda." kata mbak Hana lagi.
Ibu masih ngomel, tidak terima dengan pernyataan mbak Hana yang menurutnya tidak sesuai dengan kenyataan yang ibu ketahui. Sementara aku hanya jadi penonton sekaligus orang yang dibicarakan.
Ibu, sebegitu burukkah aku?
Pelan, aku berangsur-angsur mendekati ibu, ketika jarak kami begitu dekat, aku duduk di bawah, berlutut, memegang kaki ibu.
"Ibu, maafkan aku." pintaku, dengan bersungguh-sungguh.
Mbak Hana yang mengatakan padaku bahwa jika aku benar-benar ingin berubah maka aku harus merelakan semua hal buruk yang pernah terjadi padaku di masa lalu. Memaafkan kesalahan orang lain dan merubah kesalahan yang pernah dilakukan.
"Di," ibu tampak ragu-ragu.
__ADS_1
"Aku tahu, banyak kesalahan dan kekuranganku sebelum-sebelumnya. Tapi mulai sekarang aku sudah janji pada Allah, bertekat akan merubahnya. Aku ingin jadi ibu yang baik untuk anak-anakku. Ibu mau kan memaafkan segala kesalahan dan kekuranganku? Ibu juga mau kan mendoakan aku agar benar-benar bisa berubah." pintaku, dengan mata berkaca-kaca. "Sebentar lagi aku akan punya anak ketiga, Bu. Semoga saja segala hal buruk yang membuat ibu kecewa bisa kutebus. Ibu, tolong ridhai aku supaya jalan hidupku ke depannya lebih baik lagi."
"Kamu itu ya Di," ibu geleng-geleng kepala.
Aku tahu, mungkin ibu belum bisa secepat itu percaya bahwa aku benar-benar akan berubah mengingat kesalahan yang kubuat di masa lalu. Tetapi aku bersungguh-sungguh, aku ingin berdamai dengan masa lalu, menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku.
"Lalu bagaimana dengan hak anak-anak kamu atas ayahnya? Juga hak Ben atas anak-anaknya? Ibu itu tetap belum bisa menerima apa yang sudah kau putuskan, Di. Kamu terlalu gegabah. Kamu kira gampang merawat dua anak, apalagi sekarang sedang hamil juga.
Ya Allah ... Nggak paham lagi, ibu Di. Benar-benar nggak paham! Rasanya itu kamu benar-benar tidak bisa dikendalikan. Kamu keras kepala. Hidup itu suka-suka kamu saja!" Ibu masih mengeluhkan tentang keadaanku di masa lalu.
"Bu, itu kan Di di masa lalu. Sekarang kan Di sudah mengatakan ingin berubah. Ia akan mencoba memperbaiki semua kesalahannya di masa lalu. Tidak ada salahnya kita beri Di kesempatan kedua. Kita harus berusaha berprasangka baik, sembari mendoakan. Jika nanti ada kesalahan lagi, kita bisa saling menasihati." kata mbak Hana, mencoba menengahi antara aku dan ibu yang terus menghakimi.
"Entahlah, terserah kamu saja Di. Yang jelas ibu akan terus menuntut sampai kamu juga memberikan hak atas waktu yang terbuang sia-sia antara Ben dan anak-anaknya!" kata ibu, sambil berlalu ke dalam meninggalkan kami berdua.
"Sabar Di, ini ujian pertama untuk kamu. Harus kuat dan tetap istiqamah dalam kebaikan. Sudah, apa yang dikatakan ibu, kalau nggak bagus ya dilewati saja. Nggak usah dibantah. Mungkin kekecewaan ibu terlalu dalam. Beri juga ibu kesempatan untuk bisa menerima semuanya. Semoga ibu bisa Nerima nantinya.
Kadang, orang harus melewati segala hal yang tidak enak dan menyakitkan dulu baru ia bisa menjadi lebih baik.
Jangan berkecil hati meski dulu kita bukan seseorang yang baik. Yang terpenting kita menyadari dan mentaubati semua kesalahan kita. Allah itu Maha pengampun, Maha penerima taubat. Semangat ya Di." mbak Hana menepuk pelan pundakku, lalu ia membantuku bangkit.
Tidak peduli saat ini ibu masih menyimpan kekecewaan yang besar padaku. Atau masih ragu apakah aku sungguh-sungguh ingin berubah, yang terpenting aku harus terus melangkah menjadi manusia yang lebih baik lagi.
__ADS_1
***
Mobil mbak Hana melaju kembali menuju Depok, meninggalkan rumah ibu. Tiba-tiba saja, Caca dan Cici yang duduk di bangku belakang memelukku yang duduk di bangku depan sebelah mbak Hana yang sedang nyetir.
"Caca sayang mama." kata Caca.
"Cici juga." sambung Cici.
"Hei, ada apa ini?" tanyaku, dengan kening berkerut melihat sikap manis kedua putriku.
"Caca senang melihat mama nggak marah-marah lagi sama nenek meskipun nenek marah sama mama. Itu tandanya mama sudah jadi anak yang berbakti. Bukan anak durhaka lagi seperti yang sering dikatakan nenek pada kami." ungkap Caca, sembari melepas pelukannya.
"Astagfirullah." rasanya semua campur aduk. Senang karena anak-anak melihat sisi positif dari ibunya dan mereka menunjukkan kebanggaan atas sikapku tadi yang diam-diam mereka saksikan. Tapi ada perasaan sedih sebab ternyata ibu selalu mengatakan pada anak-anak bahwa aku adalah anak durhaka. "Maafin mama ya, selama ini ngaish contoh yang nggak baik untuk Caca dan Cici." aku spontan minta maaf pada anak-anak agar mereka tahu bahwa aku menyesali semua contoh buruk yang aku berikan pada mereka.
"Enggak apa-apa, ma. Caca tahu mama kemarin-kemarin marah-marah karena lelah. Seperti yang papa katakan. Makanya kami harus jadi anak baik dan tidak menyusahkan mama agar mama tidak pusing mikirin kami. Iya kan Ma?" sambung Caca.
"Iya." aku menganggukkan kepala. Ya Allah, betapa bodohnya aku selama ini sudah menyia-nyiakan suami sebaik Ben.
Hidup itu sebenarnya semuanya sudah yang terbaik di berikan Allah. Aku punya banyak kekurangan, tapi Allah jodohkan aku dengan lelaki yang baik dan bisa menerima kekuranganku. Hanya saja aku yang terlalu menuruti ego sehingga kebaikannya yang begitu banyak terhapuskan oleh sedikit kekurangannya.
"Caca dan Cici bantu mama ya. Nanti kalau mama melakukan kesalahan, kalian ingatin mama. Semoga saja mama benar-benar jadi anak yang berbakti. Nggak bikin nenek marah-marah lagi." pintaku pada mereka berdua.
__ADS_1
"Iya ma, Caca doain semoga nenek bisa sayang sama mama seperti nenek sayang sama Caca dan Cici." ungkap Caca.