
Sejak kemarin, aku tak bicara sepatah katapun. Bahkan meski Ben, anak-anak dan ibu menegur. Aku lebih memilih diam, sibuk dengan pikiranku sendiri. Bagaimana caranya agar uang yang hanya tersisa lima ratus ribu di dompet cukup hingga Ben dapat pekerjaan.
Akibatnya, pagi-pagi sekali, Rizky sudah menangis kejar karena asi habis. Mungkin efek tidak makan dan minum seharian, juga pikiran yang stress.
"Di, makanlah dulu. Lihat, Rizky kehausan sekali." ibu menimang bayi yang baru berusia tiga bulan itu agar berhenti menangis. "Kamu itu sayang anak atau nggak sih?" ibu mulai membentak sebab aku tak kunjung bergerak.
"Ya sayanglah. Kalau nggak mikirin anak, aku nggak akan sepusing ini!" aku balas bicara keras. Dalam kondisi saat ini, kuakui emosiku benar-benar labil. Rasanya tak karuan.
"Astagfirullah Di, kalau sayang anak bukan begitu caranya. Makan dulu supaya ASI-nya ada dan Rizky bisa minum. Sikap kamu yang seperti itu, selain menyiksa diri sendiri juga menyiksa anakmu. Kalau kamu nggak mau ngasih asi, katakan. Supaya ibu bisa membelikan Rizky susu formula. Ibu masih punya pensiunan. Meski sedikit, cukuplah untuk membelikan beberapa kaleng susu untuk Rizky."
"Ibu kenapa sih? Ngasih solusi seperti itu. Apa ibu tahu, kata-kata ibu itu melukai hatiku." Aku menatap ibu tajam. Tapi tiba-tiba menyesal. "Astagfirullah, maafin aku Bu. lagian ibu sih, orang lagi pusing malah diajak berantem."
"Siapa juga yang mau ngajak berantem?" Ibu tak mau kalah. "Di, sikap kamu begini nggak akan mengubah apapun juga. Lihatlah, semua orang ikut pusing karena kamu mogok makan dan bicara. Harusnya hari ini Ben bisa keluar cari pekerjaan, ibu bisa pulanh untuk menjual rumah, anak-anak nggak rewel kalau ibunya nggak diam. Tapi kamu membuat semuanya jadi kacau.
Ibu sudah mengatakan sejak awal, Tomo itu bukan lawan yang mudah untuk dikalahkan. Tapi bukan berarti ia bisa seenaknya menghancurkan hidup kita. Kalau dia bisa menginjak-injak bahkan menghancurkan, kenapa kita tak bisa untuk mengabaikannya?
Kamu harus kuat, Di. Demi anak-anakmu. Apa kamu tega melihat mereka kehilangan arah karena ibunya memilih kalah dalam diam?"
Apa yang dikatakan ibu benar. Aku segera bangkit, berjalan ke dapur. Mengambil sepiring nasi dengan lauk tempe dan sayur bayam. Lalu memakannya secara lahap, persis orang yang kelaparan.
Nggak, aku nggak akan menyerah. Sampai kapanpun juga.
Perlahan air mata itu kembali luruh. Ahhh, aku kesal pada diriku sendiri yang sejak kemarin dengan mudahnya menitikkan air mata. Harusnya aku kuat. Jika Tomo kekeh ingin menggoyahkan pertahanan kami, akupun harus kuat bertahan. Bukankah dalam tubuhku juga mengalir darahnya?
***
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" aku duduk di samping Ben, saat ia sibuk dengan surat lamaran. Tentunya setelah aku berhasil menidurkan Rizky.
"Aku sudah mengirim kurang lebih lima belas surat lamaran pagi ini. Juga menghubungi beberapa rekanan dan clien."
__ADS_1
"Lalu apa jawaban mereka?"
"Sepertinya pak Tomo juga sudah menghubungi mereka sehingga tak ada satupun yang mau memberiku pekerjaan, padahal sebelumnya mereka beberapa kali memberikan tawaran menggiurkan. Bahkan namaku masuk daftar hitam. Entah rekaan apa yang mereka buat.
Tapi kamu jangan panik dulu. Masih banyak perusahaan yang membutuhkan tenaga IT sepertiku, Di. Salah satu dari perusahaan itu insya Allah ada rezeki kita."
"Kalau tidak?"
"Jangan pesimis sayang."
"Ben,"
"Hm?"
"Aku takut."
"Bagaimana kalau pak Tomo mau menghabisi kita?"
"Untuk alasan apa? Ini negara hukum, dia tidak bisa berbuat seenaknya..ada hukum yang akan melindungi kita. Yang pakibg penting, ada Allah yang akan menjaga kita, Di."
"Ben!" aku memeluk erat lelaki yang jadi ayah anak-anakku. Andai tak ada Ben, mungkin sekarang aku sudah kacau. Tapi Ben selalu mengingatkan aku, terutama hari ini bahwa kita tak akan diuji melebihi kemampuan.
"Assalamualaikum!" seru seseorang dari pintu. Ternyata mbak Hana. "Di, maaf ya pagi-pagi mengganggu."
"Tidak apa-apa, mbak." Aku dan Ben segera membuat jarak. Malu sebab terlihat berpelukan oleh mbak Hana meski kami adalah suami istri dan sudah punya tiga anak.
"Begini Di, aku punya ide. Bagaimana kalau novel-novel kamu kita terbitkan secara indie." saran mbak Hana.
"Maksudnya mandiri, mbak?" tanyaku.
__ADS_1
"Ya. Kita terbitkan sendiri dan pasarkan sendiri." ucap mbak Hana.
Aku diam. Sekilas menatap Ben. Bukannya apa-apa, sekarang perekonomian kami pas-pasan. Hanya tersisa lima ratus ribu untuk menanggung biaya hidup enam orang. Entah berapa lama bisa tahannya. Sedang menerbitkan buku bukan perkara mudah. Biaya cetak buku secara mandiri bisa jutaan rupiah.
"Nggak dulu deh mbak." kataku.
"Kenapa Di? Karya-karya kamu itu bagus. Mengandung nilai dakwah dan juga ekonomi. Kayaknya bakal laku dipasaran. Sayang sekali kalau harus terkubur begitu saja. Bagaianan?" Kejar mbak Hana lagi. Ia memang menjadi salah satu penggemar pertama karya-karyaku.
"Tapi ... untuk saat ini kami belum punya biaya mbak." kataku jujur.
"Kalau soal itu nggak usah pusing. Kita buat kerjasama. Antara aku dan kamu. Aku yang sediakan dana, kamu naskahnya. Untuk naskah ini kita kan hanya tinggal cetak saja karena sudah melewati proses editing, jadi nggak terlalu sulit lah. Aku punya sedikit pengalaman untuk urusan ini.
Nanti kita cetak seribu sampai dua ribu. Untuk sementara waktu aku dan Ben yang bertugas memasarkan via dumay. Toh kamu juga sudah punya satu karya terdahulu. Jadi sedikit banyak orang-orang sudah kenal nama kamu. Bagaimana?" tawar mbak Hana lagi.
"Bagaimana Ben?" Aku meminta restu dari Ben.
"Kalau kamu yakin, silakan Di." Kata Ben.
"Baiklah. Bismillah, aku mau mbak!" kataku, agak sedikit memekik.
Rasanya semangat yang semula hilang tiba-tiba muncul lagi. Aku benar-benar bahagia. Semua rasa lelah hilang. Aku akan buktikan bahwa aku bisa. InsyaAllah.
Sekarang juga kami mulai bekerja. Ben mulai membuat beberapa akun media sosial atas namaku. Ia mulai membuat postingan dari potongan-potongan kalimat yang ada di novelku. Hanya dalam beberapa jam, pengikutnya sudah sampai ribuan. Alhamdulillah.
Sementara itu, aku dan mbak Hana fokus mempersiapkan sampul dan memilih percetakan yang bagus. Tak terlalu sulit karena kami tinggal di daerah perkotaan yang menyediakan banyak pilihan percetakan. Mulai dari yang harganya miring sampai selangit
"Alhamdulillah. Untuk hari ini cukup segini dulu, Di. Besok akan aku masukkan naskahnya ke percetakan. Oh ya, satu lagi, kamu fokus nulis novel berikutnya saja karena InsyaAllah kerjasama kita akan berlanjut." Kata mbak Hana sambil mengerlingkan matanya.
Setelah itu mbak Hana sibuk bercengkrama dengan Caca dan Cici. Kemudian barulah kembali ke rumahnya.
__ADS_1