ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
9. Minggat Ke Rumah Ibu


__ADS_3

Taksi berhenti tepat di depan rumah ibu. Setelah membayar ongkosnya, aku segera menurunkan Caca dan Cici yang masih saja berisik mempertanyakan ayah mereka.


"Mama, ayo jemput papa. Caca mau sama Papa!" Ia mulai berteriak.


"Kalau kamu mau sama papa, kenapa tadi maksa ikut mama?" Aku balik berteriak.


"Tapi sekarang maunya sama papa!" Ia masih merengek.


"Jangan berisik. kamu mau ke tempat papa? Mama kirim naik taksi lagi ya? pergi sendiri. mau?" aku mulai mengancam.


"Enggak mau ma, Caca takut kalau ke tempat papa sendiri. Caca takut diculik."


"Makanya jangan berisik. Jadi anak kecil juga harus punya pendirian. Kalau mau ikut mama ya ikut mama. Jangan sekarang ikut mama, terus tiba-tiba berubah sesuka hati. Itu namanya plin plan. Paham!"


"Iya mama."


"Ayo masuk!" kataku, sambil membuka pintu pagar. Suara kedatangan kami yang berisik membuat ibu langsung keluar.


"Caca, Cici." panggil ibu. "Malam-malam begini ada apa, Di?" setelah bersalaman dengan kedua anakku, mencium mereka, ibu beralih padaku.


"Nenek." Caca dan Cici menghambur dalam pelukan ibu.


"Cucu kesayangan nenek. Kalian sehat kan?"


"Sehat nek," jawab Caca.


"Kami mau tidur di sini." kataku.


"Lalu Ben mana?" Tanya ibu, setelah Caca dan Cici lari masuk ke dalam rumah.


"Di rumah."


"Enggak ngantar?"

__ADS_1


"Enggak. Kami naik taksi."


"Kenapa? Rumah rusak lagi, atau Ben keluar kota? Atau kenapa Di?"


"Enggak Bu. Ben ada di rumah, mungkin sekarang lagi enak-enakan tidur tanpa gangguan kami bertiga."


"Lha, terus kalian bertiga kenapa ke sini? Bagaimana ceritanya?"


"Panjang. Aku mau istirahat dulu."


"Enggak bisa, ceritakan dulu apa yang terjadi!" seperti biasa, ibu tak akan pernah melepaskan aku begitu saja. Selalu akan berusaha mencari tahu apa yang terjadi jika aku datang ke rumah tanpa Ben.


"Aku sama Ben berkelahi."


"Lagi? Diandra, kamu itu sudah dewasa, sudah punya dua anak. Kenapa selalu mengedepankan emosi? Cobalah jangan jadi manusia egois terus. Pikirkan juga nasib anak-anak kamu. Kalau orang tuanya berkelahi terus menerus, mereka akan tumbuh jadi anak broken home. Mau kamu anak-anak seperti itu?"


"Bu, kenapa sih ibu selalu saja menyalahkan aku? Ibu itu ibu aku, tapi selalu saja membela Ben. Apapun masalahnya pasti Ben yang benar sedangkan aku yang salah. Capek tau Bu. Aku nggak seburuk itu. Ken juga bisa saja membuta kesalahan, jadi jangan terus-terusan menganggap dia adalah seorang malaikat. Ibu ngerti, kan?"


"Terus saja ibu salah-salahin aku. Lama-lama stres juga kalau ngobrol sama ibu, maunya mengadili anaknya sendiri. Sudah malam, aku mau istirahat, boleh kan kami numpang di sini agak satu malam?"


Tidak ada jawaban dari ibu, aku segera mengajak Caca dan Cici masuk ke dalam kamarku sewaktu masih tinggal di sini bersama ibu.


***


Kamar ini adalah tempat persembunyian paling nyaman untukku, meskipun sebenarnya aku sangat kesepian berada di sini sendirian.


Bayangkan saja, aku lahir dan besar tanpa seorang ayah sebab ia meninggal saat usiaku masih sangat kecil. Ibu yang berprofesi sebagai seorang perawat begitu sibuk dengan pekerjaannya. Hari-hari ibu hanya untuk bekerja, mencari rezeki halal untuk kebutuhan hidup kami.


Aku tak punya banyak teman, hingga akhirnya ibu meminta atau lebih tepatnya lagi memaksaku untuk mau menikah dengan salah satu pasiennya yang beberapa kali pernah main ke rumah kami.


Anak itu adalah Ben. Aku tak terlalu mengenalnya, tetapi demi menyenangkan ibu, aku menerima perjodohan itu. Hasilnya seperti ini, pernikahan yang kacau menurutku sebab Ben ku anggap tidak cakap sebagai kepala keluarga.


Ia yang seorang programmer harusnya bisa bergaji lebih besar. Tetapi karena mengikuti idealisme akhirnya hidup kami harus pas-pasan, bahkan kadang kurang.

__ADS_1


Aku yang sudah terbiasa hidup susah sejak kecil, selalu berharap setelah menikah bisa hidup mewah, tetapi tidak terwujud sebab Ben tidak mampu mewujudkan impian ku tersebut.


Jalan satu-satunya mencapai hidup seperti yang aku inginkan adalah dengan menjadi penulis. Aku punya bakat sebab beberapa kali pernah memenangkan perlombaan, tetapi akhirnya harus gantung pena sebab tidak punya waktu sejak kelahirannya Caca dan Cici.


Punya bayi kembar kala itu bukan hal mudah bagiku. Sungguh sangat melelahkan, aku hanya bisa bekerja yang penting-penting saja. Selebihnya hanya jadi impian.


Sekarang, saat Caca dan Cici sudah berusia lima tahun, aku ingin mewujudkan kembali cita-citaku tersebut. Ku harap semuanya bisa terwujud. Apapun halangan dan rintangan yang akan menghalangi, akan ku hadapi.


"Ma," Caca membuyarkan lamunanku.


"Apa?" kataku, sambil menatapnya.


"Papa enggak apa-apa tidur di rumah sendiri? Kan kasihan Ma, papa pasti kesepian. Mama itu kenapa sih suka banget marahin papa? Kan papa enggak pernah marah sama mama." ungkap Caca, mengemukakan pendapatnya.


"Terus saja belain papa kamu." jawabku, malas-malasan. "Sudah, jangan ngomong terus, seorang waktunya tidur. Kalau kalian berisik terus, mama pergi lagi, tapi enggak mau ngajak kalian. Mau?"


"Enggak ma."


"Kalau begitu tidur sana!"


Malam semakin larut, aku masih terjaga sambil menghadap laptop, sementara Caca dan Cici sudah terpejam sejak tadi.


Aku sudah bertekad, apapun yang terjadi, bulan ini akan jadi seorang penulis. Apapun yang terjadi. Aku harus wujudkan mimpi ku, tidak akan kubiarkan siapapun menghalanginya, termasuk kedua anak-anak.


Entah mengapa, rasanya pernikahan dengan Ken hanyalah kesia-siaan saja. Aku dan dia tidak cocok sebab semuan hal yang dilakukannya salah di mataku. Ben bukan lelaki yang cocok untukku. Aku ingin lelaki pekerja keras yang bertanggung jawab.


Sebenarnya Ken sangat bertanggung jawab, tetapi hasil dari usahanya tidak bisa memenuhi apa yang aku inginkan. Kalau harus aku juga yang harus berjuang untuk mendapatkan kebahagiaank, lalu untuk apa hidup bersama?


Selama bersama Ben, akupun tak akan pernah benar di mata ibu. Ia akan selalu menganggap bahwa akulah yang bersalah. Terus menerus diperlakukan seperti itu sebenarnya sangat tidak nyaman. Aku ingin merdeka dari pernikahan ini.


Sebuah keputusan sudah kuambil. Besok semuanya akan kudapatkan. Aku tak ingin lagi terbelenggu oleh ikatan pernikahan yang terus menyiksaku. Tidak akan ada lagi Ben yang menyebalkan, ibu yang terus menerus menyalahkanku, juga tetangga julid yang suka mengubah sesuka hatinya hanya gara-gara aku tak lebih kaya darinya.


"Tunggu saja nanti. Kalian akan tahu kalau aku bukan Diandra yang lemah. Aku akan memberikan kejutan untuk kalian semua sehingga kalian akan menyesal sudah pernah membuatku berada di posisi seperti ini!" tekadju sudah bulat, aku ingin bebas.

__ADS_1


__ADS_2