ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
52. Bertemu Ben


__ADS_3

Rasanya sudah tak bisa lagi membendung semua tanya di dalam benak ini. Selesai dengan urusan menanda tangani novel-novel yang dibeli Nasya, aku segera ke kantor Ben. Tentunya setelah menghubunginya. Sengaja kuminta waktunya untuk berbicara sebentar karena menurutku ini permasalahan penting yang harus dibicarakan sekarang juga.


Tak sampai lima menit menunggu di cafe biasa dekat kantor Ben, aku sudah bisa melihat Ben berjalan tergesa dari pintu kantornya menuju ke arahku. Ia sempat melempar senyum tipis, sedangkan aku memilih menunduk sebab khawatir terbujuk rayu setan dengan sesuatu yang tidak lagi halal untukku.


"Assalamualaikum," sapa Ben, sembari menarik kursi di hadapanku. "Ada hal penting apa, Di. Sampai terburu-buru seperti ini mengajak bicara. Bagaimana tanda tangan novelnya, lancar? Oh ya, aku pesankan minuman untuk kamu, ya." Ben memesankan dua gelas minuman. Satu gelas milk shake coklat untukku, sedangkan ia sendiri memesan kopi pahit. Menu yang sama jika kami ke sini.


"Alhamdulillah sudah selesai semua, Ben. Tapi ada hal lain yang ingin aku bicarakan. Ku harap tidak menggangu waktu kerja kamu." kataku, sejujurnya aku tak ingin mengganggu Bek, tapi karena ini mengganggu pikiranku, makanya kuputuskan untuk bertemu segera, agar semuanya jelas. Tidak nyaman sekali jika ada rahasia tak terpecahkan.


"Ada apa, Di? Ada yang nggak beres? Kok wajah kamu seperti orang bingung."


"Ini tentang Nasya." kataku, langsung untuk menghemat waktu.


"Nasya? Teman kantorku? Kenapa dia?"


"Kamu tahu, siapa yang memesan novelku itu? Nasya, Ben. Dia yang memesan novelku."


"Oh ya, aku malah kurang tahu kalau ia suka baca novel. Nasya tidak cerita apa-apa padaku. Padahal bisa saja kan ia memesan lewat aku agar aku punya alasan untuk menemui kamu." Ben malah mencandai ku, menciptakan semu merah di pipi ibu, padahal kondisi sedang genting menurutku.


"Dia bukan pembaca biasa. Aku yakin ada maksudnya yang lain."


Ben mengerutkan keningnya, ia menatapku dengan penuh tanya. "Apa, Di?"


"Nasya memesan seratus eksampler novelku yang aku yakin tujuannya bukan karena ia mengagumi tulisanku. Tapi ada hal lain. Mungkin ia sengaja memesan novel itu agar bisa bertemu langsung denganku, berdua saja. Sebab ada hal yang disampaikannya."


"Apa, Di? Kenapa Nasya jadi mendadak misterius?"


"Ben, apa benar kamu dulu mencintai Nasya?"

__ADS_1


"Apa itu penting untuk kamu, Di?"


"Ya, penting. Untuk menjawab semua tanda tanya di benakku."


"Hm, itu hanya masa lalu."


"Meski hanya masa lalu, aku butuh tahu, Ben. Tolong jujur padaku. Aku janji nggak akan merubah apapun antara kita. Ini semua akan jadi jawaban untuk pertanyaan di benakku."


"Baiklah. Ya, aku dulu menyukai Nasya. Tapi itu dulu, Di!" Tegas Ben.


"Apa? Jadi benar ...." Meski dulu, tetap saja ada perasaan kecewa sebab ku pikir, akulah perempuan pertama dan satu-satunya yang dicintai Ben.


"Kamu janji nggak akan berubah, Di. Lagipula itu dulu, sebelum aku memutuskan menikah dengan kamu. Setelah kita menikah, tak ada lagi perempuan lain meskipun Nasya satu kampus bahkan bekerja di tempat yang sama denganku. Kami benar-benar tidak ada apa-apa. Bisa kupastikan ia tak istimewa sama sekali sebab sudah ada kamu dan anak-anak."


"Jadi yang dikatakannya benar."


"Kalau kamu lah yang dulu mencintainya dan mengajak Nasya menikah."


"Ya, itu benar. Tapi aku tekankan sekali lagi bahwa kejadian itu jauh sebelum kita bertemu. Setelah aku memutuskan menikah dengan kamu, aku sama sekali tidak memikirkan Nasya lagi. Aku benar-benar fokus ke kamu dan keluarga kita. Nasya sudah tidak istimewa sama sekali. Aku bisa membuktikannya kalau kamu tak percaya."


Bagaimana mungkin aku tidak mempercayai Ben mengingat sikap baiknya selama ini. Ben yang baik dan selalu perhatian padaku dan anak-anak.


"Nasya punya tujuan lain, Ben. Ia sengaja mendekati kamu untuk menyerang ku. Bahkan ia rela terus menempel sama kamu supaya bisa menyakitiku."


"Memang kalian ada masalah apa sampai Nasya seperti itu?"


"Aku juga tidak tahu. Rasanya tidak pernah menyerang Nasya sama sekali. Berinteraksi saja baru beberapa kali, bagaimana mungkin ia bisa semarah itu padaku, bahkan kata-kata terakhirnya sangat menyakitkan dan membuatku benar-benar kebingungan. Seolah-olah ia punya dendam di masa lalu yang tak bisa dimaafkan olehnya."

__ADS_1


"Coba kamu ingat-ingat, Di. Barangkali pernah menyinggung Nasya. Tapi setahuku ia bukan tipikal pendendam."


"Nggak pernah, Ben. Aku saja kenal dia karena menikah dengan kamu. Tahu sendiri kan. Itu juga tak ada interaksi berarti. Kecuali ia marah karena kita menikah. Tapi kenapa? kan dia yang menolak kamu, Ben."


"Apa aku harus bicara dengannya agar kamu nggak perlu bingung. Siapa tahu ini hanya candaannya saja."


"Aku yakin ini bukan candaan, Ben. Aku bisa merasakan dari tatapan dan cara bicaranya bahwa ia begitu membenciku.


Sekarang jangan dulu, biarkan ia bersikap seolah kamu tak tahu apa-apa. Aku tak ingin ia melakukan hal nekat atau apapun yang bisa menyakiti kamu dan anak-anak."


"Di, kamu jangan terlalu memikirkan aku, pikirkan diri kamu sendiri juga. Ingat, kamu sedang hamil calon bayi kita. Aku tak mau kamu kenapa-kenapa."


"Ya Ben, aku memang benar-benar bingung. Tapi tak tahu apa jawabannya. Ia seperti menyimpan teka-teki yang membingungkan."


"Bagaimana kalau kamu pindah ke rumah ibu saja, supaya kalau ada apa-apa aku bisa langsung menemui kamu."


"Jangan. Aku di kontrakan saja. Lagu pula ibu sudah tinggal bersama kami. Ada mbak Hana dan suaminya juga yang bisa dimintai tolong. Kamu tenang saja, Ben." aku memaksakan senyum meski sebenarnya masih bertanya-tanya. "Sudah siang, aku harus segera pulang, Ben." aku berdiri, menyandang tas kecil.


"Di, hati-hati ya. Kalau ada apa-apa kabari langsung."


"Ya." aku pamit, meninggalkan Ben.


Kalau Ben tak tahu apa-apa, lalu siapa yang bisa memberitahuku tentang semua ini. Rahasia apa yang dipegang oleh Nasya. Lalu kenapa ia begitu membenciku.


Tin. Tin. Tin. Suara klakson bis membuyarkan lamunanku. Segera aku naik sebelum bis tersebut kembali melaju. Sepanjang perjalanan dari Jakarta Selatan menuju Depok, aku terus menebak apa yang sebenarnya terjadi.


[Di, jangan terlalu dipikirkan. Jangan sampai mengganggu kesehatan kamu. Kalau kamu masih penasaran, aku akan bicara pada Nasya, menanyakan maksudnya menemui kamu.] pesan dari Ben.

__ADS_1


[Nggak usah Ben, aku baik-baik saja. Mungkin ia iseng saja. Nasya kan memang seperti itu, selalu dingin dan sok galak kalau ngomong sama aku.] kataku, sambil mengirim emoticon tertawa, meski sebenarnya aku juga sangat resah.


__ADS_2