ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
73. Permintaan Lelaki Itu


__ADS_3

"Bu, sudahlah. Tidak perlu berdebat." akhirnya aku buka suara, setelah suasana memanas akibat perdebatan ibu dan pak Tomo yang sama-sama tidak mau mengalah. Entah dapat kekuatan dari mana, tapi ibu yang biasanya selalu melarang aku berurusan dengan lelaki yang menjadi perantara kehadiranku ke dunia ini sebab ibu selalu merasa bahwa lelaki itu tak baik dijadikan musuh sebab ia begitu jahat.


Wajah ibu langsung berubah kecewa karena laranganky, smenetara pak Tomo sebaliknya. Ia tersenyum, mungkin merasa menang sebab ia mengira bahwa aku mendukungnya.


"Di," ibu menggelengkan kepalanya.


"Terimakasih nak, papa benar-benar bahagia akhirnya kamu menerima kehadiran papa. Ada banyak hal yang ingin papa sampaikan, bisakah kita bicara nak?" tanya pak Tomo dengan begitu lembutnya. Tapi apa yang dikatakannya tak kutanggapi, aku bahkan bersikap seolah-olah ia tak ada.


"Bu, tak perlu buang-buang waktu berdebat. Ibu kan tahu bahwa aku sangat percaya pada ibu. Apapun yang orang lain katakan, bahkan sekalipun ia membawa bukti sebanyak-banyaknya, tak akan bisa mengubah sikapku pada ibu. Tak ada manusia yang lebih tulus dari ibu, lalu apa alasannya aku harus mebagbaijan ibu? Iya, kan?" kataku dengan bijaksana sehingga membuat ibu tersenyum lega, sementara pak Tomo, aku tak pernah perduli dengan perasaannya. Bagaimanapun juga aku hanyalah manusia biasa. Aku bukan malaikat yang bisa dengan ikhlas menerima kembali orang yang sudah mencampakkan bahkan berusaha melukaiku sewaktu aku masih dalam kandungan.


Tidak, aku tak sebaik itu. Di sini, di hatiku, ada perasaan kecewa, bahkan marah, dengan kelakuan lelaki tak bertanggung jawab ini. Ditambah perbuatan jahatnya pada Tante Maya. Siapa yang bisa percaya ia datang ke sini karena benar-benar merindukan aku, atau berharap bisa menebus kesalahannya di masa lalu.


Memang benar, ada orang yang bertaubat atas kesalahannya di masa lalu, kemudian ia memutuskan untuk berubah. Akupun dulu juga begitu. Jahat oada Ben dan anak-anak, selalu bermusuhan dengan ibu karena pandangan kami berbeda, bahkan aku pernah mencuriga mbak Hana. Kemudian kuputuskan untuk berubah, memperbaiki semuanya.


Hanya saja denahn lelaki ibu, rasanya feelungku mengatakan ia tak benar-benar berubah atau menyesali kesalahannya di masa lalu.


Terbukti dengan ia sejak awal berdebat dengan ibu terus menerus mengatakan ibu yang berusaha memisahkan dirinya dariku. Orang yang benar-benar berubah tak akan menceritakan hal buruk tentang orang lain, terus memojokkan, sekalipun apa yang dikatakannya itu benar.


Jadi, aku sudah memutuskan untuk tak memberinya kesempatan apapun, meski ia benar-benar berubah.


"Nak," panggilnya lagi. "Papa tahu, sejak kamu lahir hingga sebesar ini, kamu tak pernah merasakan sosok seorang aya. Maaf kan papa, nak. Papa menyesali semuanya. Papa hanya berharap agar kamu memberikan papa kesempatan." pintanya padaku.

__ADS_1


Secara kompak; ibu, Ben, mbak Hana dan mas Hendri menoleh ke arahku. Mereka mennanti jawaban dariku. Sambil ibu terus menggelengkan kepalanya, sebagai isyarat agar aku menolak.


"Tidak." kataku.


"Apa?" pak Tomo bicara dengan nada keras sehingga membuat kami kaget, bahkan Caca dan Cici dengan refleks memeluk kaki Ben, mungkin mereka takut. "Maksud papa, kenapa nak? Kenapa kamu tidak memberi papa kesempatan? Ada banyak hal yang ingin papa katakan."


"Maaf, tapi hari ini hari bahagia saya dan tidak mau apa yang merusaknya." Kataku lagi.


"Di, sebentar saja." ia masih memelas, berusaha untuk meruntuhkan tembok di hatiku. Tapi itu tidak mudah. Sudah kukatakan aku bukan manusia berhati malaikat, sifat manusiawiku masih dominan, aku masih bisa membenci orang lain yang tak baik padaku. "Kalau kamu tak mau, papa akan tetap di sini, sampai kamu mau."


Sikapnya yang memaksakan kehendak membuatku benar-benar kesal. Ingin sekali mengusirnya, tapi aku yakin, ini tak akan mudah sebab ia membawa serta pengawal berbadan besar.


Apa yang sebenarnya terjadi? Aku jaid penasaran, bukan karena tertarik berbincang dengan lelaki ini, tapi karena rasa ingin tahu, rencana apa lagi yang disukainya setelah berhasil menyingkirkan Tante Maya.


"Tidak hari ini sebab sekarang adalah hari bahagia saya dan saya tak akan membiarkan siapapun untuk merusaknya." Kataku.


"Baiklah kalau begitu, besok papa akan datang lagi ke sini." katanya. Segera ia pamit meninggalkan kami.


"Apa-apaan itu semua Di? Kenapa kamu memberinya harapan? Apa kamu tahu arti dari perkataannya tadi? Ia akan datang lagi besok dan itu berarti akan ada lagi adegan seperti ini? Di, jawab ibu, apa kamu benar-benar akan bicara dengannya? Apa begitu Di? Lalu untuk apa ibu berjuang selama ini, menjauhkan kamu dari manusia tak punya hati sepertinya. Ia pasti punya rencana jahat dan bukan tak mungkin akan menghancurkan kita semua!" ibu langsung panik.


"Bu, tenanglah, serahkan semuanya padaku."

__ADS_1


"Bagaimana ibu bisa tenang kalau kamu itu tidak nurut, Di. Lihatlah, ia pasti ingin melakukan sesuatu karena tujuannya, bukan karena memikirkan kamu, Di.


Dengarkan ibu baik-baik, ia memang ayah kandung kau, Di. Tapi tolong jangan gampang tetmakan rayuannya. Sebab ia tak benar-benar menyayangimu. Smeua yang dikatakannya hanya pemanis saja. Lagipula masa kamu tidak bisa menilai sikapnya tadi, penuh dengan kebohongan!" kata ibu.


"Iya, aku tahu. Aku juga tidak bodoh untuk tahu karakternya."


"Tapi kamu terlalu naif, mudah sekali terjebak oleh rayuan orang lain. Apalagi kalau ia mengimingi dengan uang."


"Ihhh, ibu bicara apasih? Aku tak seperti itu!"


"Nyatanya kamu yang seperti itu!" sekarang malah aku dan ibu yang terlibat perdebatan, mungkin karena sudah begitu kesal, akhirnya ibu berlalu ke kamar dengan membawa kekecewaan.


"Di, sepertinya apa yang dikatakan ibu ada benarnya juga. Sebaiknya jaga jarak, jangan mau dibujuk rayu. Memang benar bapak itu aalah ayah kamu, tapi kalau rekam jejaknya tidak baik ditambah ibu tidak Ridha, sebaiknya dihindari saja." mbak Hana mencoba menengahi.


"Ya mbak, tadi juga bicara begitu supaya dia pergi, nggak bermaksud apa-apa. Aku hanya nggak mau ajanacara hari ini jadi buruk gara-gara ia nggak mau pegi. Apalagi tadi Caca dan Cici terlihat ketakutan." Ungkap ku.


"Iya sih, tapi sebaiknya bicaralah pada ibu agar hati ibu tenang. Kalau untuk urusan ketemu besok, jangan bicara berdua, kamu harus bicara dengan ditemani kami, setidaknya ada Ben bersama kamu. Bisa kan Ben?" Mbak Hana menoleh pada Ben.


"InsyaAllah bisa mbak. Aku juga nggak akan biarkan Di sendirian sebab tidak mau ia dalam bahaya." kata Ben.


Mendengarkan nasihat dan dukungan dari Ben, mbak Hana dan mas Hendri, rasanya aku tak perlu mengkhawatirkan lelaki itu lagi. Sekarang hanya perlu meyakinkan ibu bahwa aku akan selalu bersamanya, apapun yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2