ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
20. Berpisah Dengan Anak-anak


__ADS_3

Lelaki itu kini ada di hadapanku. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat Caca yang semula berada di sisiku langsung menghambur pada ayahnya, ia langsung bergelayut manja sembari bercerita tentang kondisi saudara kembarnya.


Ben tak bicara sepatah katapun padaku. Ia menggenggam erat tangan Cici yang masih terpejam. Meskipun sambil mencuri pandang, aku bisa menangkap aura kesedihan yang terpancar jelas dari wajahnya yang tampan.


Apa? Tampan? Astagfirullah, buru-buru aku geleng-geleng kepala. Saat kondisi seperti ini, kenapa malah itu yang aku pikirkan. Apalagi ditambah kami sudah bercerai. Bagaimana mungkin aku bisa membayangkan dirinya.


Diandra, ada apa denganmu. Bukankah kamu yang menggugat Ben. Bagaimana kalau ia merasakan segala keresahan yang aku rasakan.


Aku tahu, Ben itu teramat peka. Ia bahkan bisa membaca pikiranku. Ia sering melakukannya saat kami masih menikah. Ben tahu betul bagaimana suasana hatiku.


Sudah dua jam Ben duduk mematung sembari memegang tangan Cici. Ia masih diam. Hanya sesekali berbincang untuk meladeni Caca yang terkadang mencari perhatian ayahnya. Sementara denganku, ia tak bicara sepatah katapun. Bahkan terlihat seperti mengabaikan keberadaanku.


"Dari mana kamu tahu kami ada di sini?" aku memberanikan diri bertanya padanya, sembari mencoba untuk mencairkan suasana. Meskipun kami sudah bercerai, tak ada salahnya tetap berkomunikasi dengan baik, kan? Toh kami punya dua anak hasil pernikahan yang harus tetap kamu besarkan bersama.


Ben masih diam, meski entah sudah beberapa detik berlalu. Sehingga membuatku jadi salah tingkah. Ia benar-benar tidak menganggap keberadaanku. Apakah ia marah sebab aku menggugatnya dan menolak untuk berbicara saat proses gugatan berlangsung. Makanya sekarang Ben mau membalasnya.


Baru hendak mengulang kembali pertanyaan, tiba-tiba ibu datang dengan begitu paniknya. Ia langsung menghampiri Cici.


"Kenapa Cici bisa jadi seperti ini?" tanya ibu, sembari menatapku tajam. "kamu itu benar-benar ya Di," ibu geleng-geleng kepala.


Sebelum ibu lanjut bicara, yang aku yakin sekali hanya akan menyalahkan dan menyudutkan ku, seorang perawat puskesmas datang memberikan hasil lab yang menyatakan bahwa Cici memakan makanan yang ada bakterinya.


Seperti keterangan Caca, saudara kembarnya memakan roti tawar yang sebelumnya sudah bekas gigitan cicak. Itulah yang membuta Cici diare sampai ia dehidrasi karena kehabisan cairan dalam tubuhnya.


Beruntung Cici cepat mendapatkan penanganan, sehingga hari itu juga ia bisa langsung pulang. Tetapi kami harus kembali berdebat panjang lebar sebab ibu ingin membawa anak-anak ke rumahnya.


"Tapi Caca dan Cici anakku!" kataku dengan tegas, menolak jika harus dipisahkan dari anak-anak sebab aku sangat yakin, ibu tak akan mengijinkan aku ikut bersama mereka, lagipula aku juga tidak mau tinggal di rumah ibu sebab aku yakin akan jadi bulan-bulanan kemarahan ibu setiap harinya.

__ADS_1


"Kamu lupa apa yang ibu katakan, kalau kamu gagal merawat anak-anak maka ibu akan membawa mereka." kata ibu.


"Gagal dimana? Wajar kalau ada yang sakit. Lagian ibu mana yang mau anaknya sakit?" aku balik bertanya, sembari mencoba membela diri.


"Kamu masih membela diri, Di. Lihat itu baik-baik, anak kamu sampai dehidrasi gara-gara salah makan. Kamu kira ibu nggak tahu, Caca sudah cerita kalau Cici makan roti bekas dimakan cicak. Selain itu kamu nggak ngurus anak-anak dengan baik, kamu bangun kesiangan, mereka kamu bikin bolos sekolah. Apa itu masih kurang, Diandra?"


Aku tak bisa menjawab. Semua yang dikatakan ibu memang benar. Tetapi aku melakukan semuanya bukan tanpa alasan. Andai aku bisa, rasanya juga tidak ingin menelantarkan apalagi menomor duakan anak-anak. Aku ingin selalu ada untuk mereka.


"Sekarang nggak pakai protes apalagi debat. Anak-anak ikut ibu. Kalau kalian berdua mau melihat mereka, silakan datang ke rumah ibu. Kamu Di, nggak boleh mengambil mereka sampai kamu bisa memberikan kehidupan yang baik untuk anak-anak. Mengerti!" kata ibu.


Berat sekali rasanya, tapi aku tak bisa melakukan apapun selain diam mematung melihat ibu dan Ben pergi berboncengan naik motor membawa Caca dan Cici.


"Ya Tuhan, aku ingin anak-anakku kembali!" aku berteriak dalam hati.


Kali ini memang aku yang salah. Aku sudah menyebabkan Cici sampai diare dan dehidrasi. Andai saja aku bisa mencari nafkah tanpa harus mengurangi jam mengurus anak-anak, pasti akan kulakukan.


***


Sebenarnya sejak tadi entah sudah berapa kali panggilan tidak terjawab masuk dari nomor ibu. Aku tahu itu Caca dan Cici, tetapi sengaja tidak kuangkat sebab aku takut semakin sedih. Sekarang saja benar-benar rindu pada kedua anak kembar ku tersebut.


Ini pertama kalinya kami berpisah. Rasanya benar-benar berat. Entah sedang apa mereka sekarang. Tetapi aku sangat yakin bahwa ibu bisa merawat mereka dengan sangat baik.


"Aku akan bekerja keras, lalu mengambil kembali Caca dan Cici!" kataku, sambil mengingatkan tekad.


***


Entah sudah berapa perusahaan yang aku masuki, tetapi tak ada yang mau memberikan kesempatan bekerja sebab aku tak membawa ijazah. Kini langkahku benar-benar gontai, memikirkan pekerjaan apa yang bisa kulakukan. Aku ingin segera mengambil anak-anak. Aku tak ingin lebih lama lagi berpisah dengan mereka.

__ADS_1


Mungkin karena terlalu lapar, akhirnya kaki ini melangkah menuju sebuah cafe. Rencananya aku ingin membeli minuman, tetapi sebuah kertas berisi pengumuman lowongan pekerjaan membuat langkahku terhenti.


"Lowongan sebagai kasir." aku begitu yakin bahwa ini cocok untukku.


Langsung saja aku masuk ke dalam. Mencari informasi lewat salah seorang pegawai yang sedang santai sebab cafe sedang kosong tanpa pengunjung.


Pegawai tersebut segera masuk, menyampaikan niatku pada atasannya, tak lama ia keluar dan menyuruhku untuk masuk.


"Diandra, kan?" tanya seorang perempuan berjilbab lebar padaku. Ia adalah pemilik cafe ini.


"Iya. Siapa ya?" tanyaku, sambil berusaha mengingat orang tersebut. "Astagfirullah, ini Anis, kan?" tanyaku. Aku ingat, ia adalah teman Ben. Juga satu KKN denganku. Anis adalah satu-satunya teman yang selalu membuatku nyaman, mungkin karena ia paham agama.


"Apa kabar Di?" Anis langsung menarik tanganku, ia memelukku sejenak.


"Alhamdulillah, kamu apa kabar?"


"Baik. Kamu ngapain di sini?"


"Hmm, itu, aku kau melamar pekerjaan Nis."


"Astagfirullah, janganlah Di, gajinya kecil."


"Nggak apa-apa lah Nis, untuk sementara saja. Aku benar-benar butuh pekerjaan."


"Kamu dan Ben baik-baik saja, kan? Semua sehat kan?"


"Sehat semua. Tapi aku dan Ben baru bercerai." aku menceritakan secara singkat apa yang terjadi antara aku dan Ben pada Anis. Aku memang percaya padanya, sebab Anis itu salah satu teman Ben yang juga aktif di masjid kampus.

__ADS_1


"Astagfirullah, aku turut prihatin ya Di."


Aku beruntung, Anis tak keberatan memberikan pekerjaan padaku. Ia bahkan menawarkan bantuan jika aku ada masalah. Rasanya hati ini benar-benar lega sebab sebentar lagi aku bisa bersama dengan Caca dan Cici.


__ADS_2