ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
72. Setelah Tiga Bulan


__ADS_3

Hari ini akan jadi hari bersejarah di hidupku, dimana aku dan Ben akan kembali menikah untuk kedua kalinya.


Sejak pagi kami sudah bersiap-siap, makanan yang dipesan ke catering pun sudah disajikan. Bahkan rumah kontrakan dihias meski secara sederhana.


Aku mengenakan abaya putih dan kerudung dengan warna senada, begitu juga dengan Caca dan Cici. Sementara Ben memakai jas hitam dan kemeja putih. Rizky juga memakai warna senada dengan papanya.


Ben sudah duduk berhadapan dengan wali hakim untuk menikahkan aku. Dengan tegas ia mengucapkan ijab dan kabul.


"Bagaimana para saksi?" tanya pak penghulu.


"Sah!"


"Sah!" jawab mas Hendri dan pak ustadz yang berperan sebagai dua orang saksi.


"Tidak sah!" tiba-tiba seorang lelaki paruh baya masuk ke dalam rumah. Persis seperti di sinetron-sinetron, datang untuk mengacaukan acara ijab kabul.


Aku sampai menyipitkan mata untuk mengenali orang yang baru datang tersebut, ternyata pak Tomo. Ini bukan mimpi, sebab saat aku mencubit lengan kanan rasanya sakit. Tapi untuk apa ia datang ke sini? Bukankah selama ini kami tak pernah saling kenal.


Sikap ibu juga langsung tegang, mungkin karena ketakutan. Ia bahka langsung memeluk erat Caca dan Cici yang duduk di hadapannya, sementara Rizky di pangkuan mbak Hana.


"Maaf, bapak ini siapa?" Tanya pak penghulu dan wali hakim secara serentak. Suasana mulai riuh.

__ADS_1


"Saya ayah kandung Diandra, yang menjadi pengantin wanitanya. Saya tidak terima jika ada yang menikahkan Putri saya tanpa ijin. Diandra, bukankah kamu sudah pernah gagal dalam pernikahan pertama, tapi kenapa masih mau menikah lagi dengan lelaki ini. Harusnya kamu minta izin pada ayah kandungmu dulu supaya mendapatkan berkah."


Hah, berkah? Tawa itu sudah tidak dapat kubendung lagi. Sehingga semua yang hadir melihat ke arahku. Ibu sampai memegang tanganku, mungkin ia takut reaksiku bisa memancing emosi pak Tomo, tapi aku tak perduli, siapa dia harus selalu dikhawatirkan oleh orang lain.


Pak Tomo itu adalah tamu tak diundang, kalau memang ia menghargaiku, sebagai putrinya, tidak begini sikapnya. Datang tiba-tiba tanpa salam lalu protes seenaknya saja.


"Ngomongin apa, sih?" jawabku, asal-asalan.


"Di, ini papa!" kata pak Tomo.


"Apa benar bapak ini adalah ayah dari pengantin perempuan?" Tanya pak penghulu lagi. Mungkin ia takut sudah menikahkan seseorang sementara ada walinya.


"Iya pak, saya adalah ayah kandung Diandra. Kalau bapak tidak percaya, silakan cek DNA, saya berani!" ungkap pak Tomo dengan tegas.


"Lho, kalau ada ayahnya kenapa minta dinikahkan oleh wali hakim?" Pak wali hakim langsung panik.


"Hanya ayah biologis, pak." kataku. Tidak perlu kuceritakan panjang lebar tentang perlakuannya pada ibu sebab aku tak mau orang-orang memandang rendah perempuan yang sudah melahirkan aku. Sebab terkadang orang-orang di negeri ini agak sedikit aneh, yang jadi korban kadang di posisikan sebagai pelaku, sebaliknya, pelaku yang jelas-jelas bersalah malah mendapatkan puja dan sanjung. Menyebalkan sekali, bukan?


Ben segera bertindak, ia membawa pak Tomo keluar rumah, ditemani mas Hendri, entah apa yang dibicarakan mereka. Tapi aku yakin ini adalah cara agar tak terjadi keributan di acara sakral ini.


Untungnya pak penghulu dan wali hakim mengerti. Ia tak membahas lagi, menyelesaikan apa yang harusnya mereka selesaikan, lalu berlalu meninggalkan rumah kami, begitu juga dengan perangkat RT dan tetangga kiri kanan.

__ADS_1


"Untuk apa ia ke sini, Di? Dari mana ia tahu alamat kita? Apa jangan-jangan ia bermaksud jahat pada kita? ya Allah Di, lihatkan, nggak dicari gara-gara saja ia yang datang, apalagi kalau kamu sempat nyenggol dia." ibu terlihat panik, sebenarnya semua orang kaget. Sudah tiga bulan ini kami berhenti mengurus hal-hal yang berhubungan dengan ayah kandungku dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Terakhir berbincang dengan Nasya juga saat aku mau melahirkan Rizky, itupun ia yang menelepon duluan tanpa mengatakan apapun.


"Entahlah, aku juga nggak tahu, Bu. Ibu nggak perlu takut, kita hadapi sama-sama." aku berjalan ke depan, menghampiri mereka yang sedang berdebat. Ada tiga orang yang menemani pak Tomo, dua pengawalnya dan satu orang pengacara. "Untuk apa bapak ke sini?" tanyaku, pada lelaki yang pada akhirnya berani mengatakan bahwa ia adalah ayahku.


"Di ... Diandra. Kamu sudah tahu kalau saya adalah papa kamu, kan? Tapi kenapa kamu tak pernah bicara atau menemui saya?" tanya pak Tomo.


"Untuk apa saya menemui anda?" aku balik bertanya.


"Diandra, kamu itu anak saya. Dalam tubuh kamu mengalir darah saya. Antara kita ada hubungan yang tak bisa terpisahkan oleh siapapun, meski orang yang berusaha memisahkan kita adalah ibu kamu sendiri." ungkap pak Tomo.


"Apa maksud bapak bicara seperti itu?" ibu yang semula berdiri di belakangku langsung maju.


"Hm, semua orang juga tahu kalau kamu berusaha menghindari aku, kan Yun, kamu sengaja menghilang bersama anak kita." kata pak Tomo lagi.


"Astagfirullah, bapak mau memfitnah saya? Wajar kalau saya kabur setelah teror yang bapak berikan pada saya. Bukannya bapak juga menginginkan bayi yang saya kandung kala itu mati. Bapak tak suka jika saya melahirkannya, kan? Makanya bapak menyuruh orang-orang untuk mencelakakan saya, bahkan memkasa saya minum obat penggugur kandungan. Jahatbsekaki bapak, setelah melakukan semua kejahatan itu sekarang malah membolak-balikkan faktanya. Apa maksudmu?" ibu naik pitam, ia tak bisa lagi diam, mungkin amarah ibu sudah menumpuk, setelah semua ketidak Adilan yang didapatkan olehnya.


"Jangan mengada-ada kamu Yun, saya bisa berikan banyak bukti!" kata pak Tomo lagi.


Entah rencana jahat apa yang sebenarnya dirancang oleh pak Tomo, aku benar-benar penasaran. Teganya ia kembali memfitnah ibu, bahkan memutar balikkan fakta. Sampai kapanpun aku tak akan pernah percaya padanya meski ia memberikanjutaan bukti sebab aku tahu ia bisa saja melakukan apapun.


Pak Tomo ini sangat jahat, demi memenuhi segala keinginannya, ia sanggup melakukan segalanya. Lalu kemana Nasya pergi? Dimana ia sekarang? Dari mana pak Tomo tahu rumah kami? Ada banyak tanya yang muncul di pikiranku, sementara perdebatan antara ibu dan pak Tomo terus berlanjut. Mereka saling menuduh, siapa yang mencoba membawa pergi aku.

__ADS_1


"Meski saya tidak punya bukti apapun, tapi saya tidak pernah berbohong. Selama ini saya berjuang sendiri untuk melindungi putri saya dari kejahatan anda. Terserah anda mau bilang apa, yang jelas saya tidak sejahat anda. Lagipula kenapa tiba-tiba anda datang? Apa yang ingin anda lakukan pada kami?" Ibu yang biasanya tak tertarik berurusan dengan pak Tomo, kini berubah murka sebab ia tak ingin anak keturunannya diganggu lagi.


__ADS_2