
Palu telah diketuk, majlis hakim sudah mengabulkan gugatan ku, kini, aku dan Ben sudah resmi bercerai. Ibu yang ikut hadir di persidangan terakhir kami langsung menumpahkan air matanya, wajahnya yang terakhir bertemu tampak begitu lesu membujukku agar mengurungkan niat berpisah, kini kembali terlihat berapi-api. Aku menyadari, ibu begitu marah besar.
"Menyesal nanti kamu, Di. Percayalah sama ibu!" kata ibu secara spontan saat kami hanya berjarak beberapa meter. "Kamu nggak akan menemukan suami sebaik nak Ben!"
"Terus saja ibu puji dia!" aku bicara tak kalah sengit. Kesal sekali, sebab ibu ternyata tidak berubah. Masih berpikiran sama bahwa tak akan pernah ada kebahagiaan yang bisa kuraih jika tidak bersama Ben. Ahhhh, cara berpikir yang terlalu dangkal. "Apa ibu benar-benar nggak bisa menghargai aku? Bukannya Ibu yang mengatakan sebelumnya bahwa ibu menyesal sudah nyinyir padaku selama ini, tapi kenapa sekarang diulang lagi?"
Apa ibu tahu bagaimana Ben sesungguhnya? Ia memang lelaki yang baik dan sopan. Urusan sikap, aku tak meragukannya sehingga ia bisa mencuri hati ibu, bahkan ibu menganggapnya seperti anak kandung sendiri.
Tetapi tanggung jawab, bagiku ia kurang. Sudah hampir tujuh tahun tapi urusan tempat tinggal saja belum juga beres. Masih saja di rumah tipe tiga puluh enam. Sementara teman-teman seangkatan kami sudah punya rumah yang lebih dari itu. Tunggangan pun, kami ketinggalan jauh, Ben masih merasa cukup meski hanya punya motor butut keluaran tahun sembilan puluhan ke atas. Sementara teman-teman kami sudah punya mobil mewah, minimal sekelas Honda jazz.
Lalu apakah semua itu tak pernah diperhatikan ibu? Bukankah ibu juga sudah merasakan bagaimana lelahnya hidup dalam kekurangan. Aku tak ingin terus-menerus berada dalam lingkaran hidup yang seperti itu.
Saat ini aku sudah kepala tiga, kalau masih tetap bertahan dengan kehidupan seperti sekarang, lalu kapan akan merasakan hidup berkecukupan?
"Kamu tahu Di, ibu melakukan ini semua untuk kebaikan kalian. Ibu tidak punya maksud buruk. Tapi kamu tetap saja keras kepala. Ibu sangat yakin kamu akan menyesal!"
"Astagfirullah, apa ibu nggak bisa bicara baik padaku?"
"Kamu benar-benar egois, Di. Nggak pernah memikirkan anak-anak kamu. Sekarang, setelah kalian bercerai, apa lagi yang bisa kamu lakukan? Ibu benar-benar kecewakan sama kamu!" kata ibu lagi.
"Ibu kira aku nggak bisa hidup tanpa Ben? Ibu salah besar. Aku akan buktikan kalau aku bisa. Lihat saja nanti Bu!"
__ADS_1
"Baik. Buktikan, Di. Tapi kalau dalam sebulan ini tidak ada kemajuan, kamu tahu sendiri, ibu akan ambil Caca dan Cici, silakan hidup sendiri seperti apa yang kamu mau!" ibu lekas pergi meninggalkan aku. Sementara Ben sudah jalan terlebih dahulu. Ia benar-benar diam, tak mengatakan apapun. Entah apa yang ada dipikirannya? Apakah ia juga puas seperti aku sebab akhirnya kami berpisah.
Ya, aku dan Ben sudah resmi berpisah. Aku tersenyum memandang lurus ke depan, jauh, seperti menatap masa depanku yang kini tidak lagi berada dalam bayang-bayang Ben.
Tetapi entah kenapa, senyum itu tiba-tiba hilang. Aku merasa ada beban yang begitu berat baru saja diletakkan di atas kedua pundakku. Saking beratnya, sampai-sampai aku tertunduk, tak berani lagi menatap lantang dunia.
Kenapa ini? Beban apa ini?
Ribuan tanda tanya muncul di benak. Tetapi tetap saja tak mampu kutemukan jawabannya. Bukan, sebenarnya bukan tak mampu, tapi ego dengan cepatnya menepis, sebab aku tak ingin mengakui bahwa kini hatiku benar-benar getir, juga dihinggapi rasa takut.
Kini aku adalah seorang janda. Ya, aku kembali menjadi single, bedanya ada dua orang anak yang jadi tanggung jawabku.
Ahhhh, bagaimana mungkin aku bisa melupakan bahwa harusnya Ben juga ikut bertanggung jawab untuk Caca dan Cici.
Diandra, apakah langkah yang kamu ambil ini sudah benar? Benarkah ini adalah pilihan kamu sendiri yang kamu putuskan tanpa mengikuti emosi? Benarkah ini yang kamu inginkan? Atau hanya sebagai cara agar Ben menuruti semua keinginanmu?
Diandra, setelah kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan, yaitu kebebasan sebagai mantan istri Ben, lalu kenapa sekarang kamu merasa begitu berat seperti memikul beban yang begitu berat? Kemana rasa percaya diri yang selama sebulan terakhir selalu kamu rasakan setiap memikirkan perceraian dengan Ben? Kenapa sekarang nyali kamu ciut?
Tidak, apakah aku menyesal? Oh bagaimana ini?
Aku menutup wajah dengan kedua tangan. Perlahan, air mata tumpah dengan begitu keras. Sesak sekali dada ini membayangkan apa yang sudah terjadi barusan bahwa kini aku adalah seorang janda? Apakah ini pertanda bahwa aku menyesal?
__ADS_1
Nggak, aku nggak boleh begini. Buru-buru kuhapus sisa air mata dengan kasar, sementara orang-orang yang lalu lalang di hadapanku mencuri-curi pandang, tentunya dengan tanda tanya sebab terlihat dari tatapan mereka.
Kalau aku menyesal, memperlihatkan kelemahan ku maka ibu akan merasa benar. Ibu dan Ben akan besar kepala sebab mereka berhasil membuatku menyesali semuanya seperti apa yang mereka katakan ibu.
Aku nggak boleh lemah. Toh inilah pilihanku, aku sudah memikirkan semuanya matang-matang. Apa yang aku khawatirkan hanya perasaan sesaat saja. Aku pasti bisa buktikan bahwa semua bisa dilewati dengan baik-baik saja. Ya, aku dan kedua anakku akan baik-baik saja.
Diandra, kamu harus bangkit!
Kata-kata penyemangat kembali kulontarkan untuk diri sendiri sambil bangkit. Sebentar lagi anak-anak akan pulang, aku harus segera menjemput mereka, setelah itu aku akan mengajak mereka makan di salah satu tempat makan favorit kami untuk merayakan kebebasanku.
Yah, aku bahagia. Aku sangat bahagia dengan keputusan yang sudah ditetapkan oleh majlis hakim!
***
Rupanya Ben sudah bergerak cepat. Ia lebih dulu menjemput Caca dan Cici. Kata wali kelas anak-anak, Ben menjemput di awal, ia juga menitipkan pesan padaku bahwa nanti akan mengantar Caca dan Cici padaku.
"Bu Diandra, sebelumnya saya mohon maaf, bukan bermaksud ikut campur urusan ibu, tapi boleh saya tahu, apa ada masalah pada anak-anak, sebab beberapa hari terakhir ini saya perhatikan anak-anak tidak seceria dulu. Mereka juga jadi sensitif, bahkan Caca sampai beberapa kali bertengkar dengan teman sekelas. Sesuatu hal yang tak pernah terjadi sebelumnya." kata Bu Desi.
"Oh, begitu ya bu." aku berpikir cepat, apakah akan bercerita atau diam saja.
"Iya Bu Di, padahal dulu Caca dan Cici adalah anak-anak yang periang. Mereka juga sangat akrab dengan teman-teman sekelasnya. Tapi sekarang sikap mereka berubah sekali. Saya khawatir berdampak pada masalah pendidikan mereka."
__ADS_1
"Sebenarnya saya dan papanya baru saja bercerai Bu." Entahlah, aku seperti tak punya pilihan lain selain menceritakan semuanya agar Bu Desi tahu penyebab perubahan sikap Caca dan Cici. "Tapi nanti saya akan coba bicara dengan anak-anak." kataku sebelum pamit pulang.