ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
89. Hibah 11 Triliun


__ADS_3

Akhirnya aku menyepakati apa yang diminta oleh pak Tomo dan Melani, istri barunya. Datang dan tinggal di rumah mereka agar ia tak melakukan kejahatannya padaku dan keluarga.


Pagi ini, mereka sumringah sekali, mendapati kedatangan aku, Ben dan anak-anak. Sementara ibu sudah merelakan sesuai dengan kesepakatan yang sudah kami rancang. Ya, meski belum tahu tujuan utama pak Tomo, tapi kami juga sudah merancang rencana.


"Masuklah Di, papa sudah atur semuanya. Sebentar lagi pengacaranya akan datang." kata pak Tomo.


"Pengacara? Untuk apa?" tanyaku, sambil mendorong koper berisi perlengkapan aku, Ben dan anak-anak masuk ke dalam. sementara Ben menggendong Rizky, sedangkan Caca dan Cici mengekor di belakangku.


"Nanti kamu akan tahu semuanya. Tapi ingat, kamu hanya melakukan apapun sesuai dengan instruksi yang papa berikan. Cukup terima dan tanda tangani. Setelah itu biar semua diproses oleh pengacara tersebut. Jika semua lancar, paling lama tiga pekanan kalian bebas dari sini. Paham, kan?"


"Hm, aku paham." kataku, ogah-ogahan.


Benar saja, lima belas menit menunggu, datanglah enam orang memakai jas hitam. Satu pengacara senior, tiga orang pengacara bawahannya, dua orang notaris. Aku sempat mengintip keluar, ada satu mobil patroli juga yang ikut berjaga. Seperti ada bahaya saja.


"Ini putri saya Diandra. Sesuai dengan yang saya janjikan, ia sudah ada di sini dan mulai sekarang akan tinggal di sini bersama kami." kata pak Tomo kepada bapak-bapak yang baru datang tadi.


"Baiklah mbak Diandra. Kami hadir di sini untuk menyampaikan amanah dari almarhumah Bu Maya yang ditulisnya lima tahun lalu sebelum beliau dirawat di rumah sakit jiwa bahwa beliau menghibahkan semua hartanya, berupa rumah, perusahaan, rumah sakit, kendaraan, tanah, uang deposit, tabungan dan benda-benda berharga seperti perhiasan dengan total sebelas triliun rupiah kepada mbak Diandra. Ini surat pernyataan dari Bu Maya langsung, silakan diperiksa." Pengacara senior itu menyerahkan surat tulisan tangan Tante Maya padaku.


Sebelas triliun. Tante Maya memberikannya padaku. Tapi kenapa? Uang sebanyak itu tidaklah kecil, kenapa ia malah mempercayakan padaku yang bukan siapa-siapanya?


"Tolong jelaskan pada saya pelan-pelan, kenapa harus saya? Kami hanya bertemu sekali dan itu juga tidak sengaja!" tanyaku pada pengacara tersebut.


"Di, nanti papa yang akan ceritakan. Sekarang kamu terima dulu hibah dari Maya, urusan lainnya mudahlan." kata pak Tomo.


"Tidak. Saya harus tahu semuanya!" kataku dengan tegas, sehingga membuat raut wajah pak Tomo dan Melani berubah.


"Jadi begini mbak Diandra, Bu Maya memilih anda untuk menerima hibah darinya. Pertimbangannya ada dalam tulisan beliau di amplop ini, silakan." ia memberikannya padaku. "Tidak ada yang boleh membacanya kecuali atas izin mbak Diandra." katanya lagi saat pak Tomo hendak mengambilnya. "Kami baru bisa memproses sebab Bu Maya keburu sakit dan butuh waktu untuk menemukan mbak Diandra. Informasi tentang mbak baru kami dapatkan sebulan terakhir dari pan Tomo."

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan pak Tomo dan Nasya?" tanyaku lagi.


"Mbak Nasya dan pak Tomo mendapatkan warisan dari Bu Maya yaitu harta yang belum dihibahkan. Ialah satu perumahan tipe empat lima di perumahan Bunga Cengkeh. Hanya itu." kata pak pengacara lagi.


Aku mengernyitkan dahi. Mencoba menelaah ini semua secara cepat. Jika pak Tomo dan Nasya hanya mendapatkan satu rumah tipe empat lima saja, berarti sebenarnya sekarang ini keadaan ekonomi mereka standar, tak jauh beda dengan perekonomianku. Apakah itu alasannya sehingga ia memaksaku pura-pura tinggal di sini agar dananya segera cair?


Pantas saja pak Tomo begitu menggebu-gebu ingin aku menerima hibah itu agar ia bisa menguasainya kembali.


Meski belum membaca surat dari Tante Maya, sedikit banyak aku sudah mengerti jalan cerita dari semua ini. Pak Tomo tak ingin kehilangan harta Tante Maya, satu-satunya cara adalah dengan memaksaku mengambil hibah, lalu ia akan membalik namakan kembali atas namanya.


Penjahat!


Aku tersenyum sinis, dia punya rencana, akupun bisa membuat rencana yang tak kalah hebat darinya. Bukankah buah jatuh tak jauh dari pohonnya? Tetapi kuharap sifatnya yang jahat itu tak menurun padaku atau anak keturunanku nantinya. Cukup cara ia menguasai harta orang lain saja. Itupun demi kebaikan semua orang.


"Hm, baiklah. Saya terima hibah dari Tante Maya!" kataku. Tentu saya membuat senyum pak Tomo dan istrinya merekah. Mereka mungkin mengira sudah mendapatkan durian runtuh. Sebelas triliun akan dikuasai kembali olehnya. "Tapi boleh saya tahu, apakah rumah ini juga termasuk hibahnya?"


"Lalu apakah saya mendapatkan pengamanan selama menerima proses hibah ini?" tanyaku lagi.


"Ya, selama sebulan ini kami akan mengawasi penerimaan hibah mbak Diandra sebab kami harus yakin bahwa amanah Bu Maya sudah sampai ke tangan yang tepat."


"Baiklah kalau begitu. Saya siap menerima prosesnya!"


Beberapa lembar surat-surat mulai diberikan padaku untuk ditandatangani. Aku dengan sigap mengerjakan hingga selesai.


"Mulai hari ini apakah saya sudah mendapatkan pengamanan?" tanyaku lagi.


"Tentu saja mbak Diandra. Di luar sudah ada polisi yang akan menjaga mbak Diandra selama satu bulan ke depan. Jika dibutuhkan, mbak Diandra bisa memperpanjang ke kantor polisi." kata pak pengacara kepadaku.

__ADS_1


"Hm, baiklah. Terimakasih pak. Sekarang boleh saya membaca surat dari Tante Maya dulu?"


"Silakan, sembari kami menyelesaikan surat-surat balik namanya."


Aku melirik pada Ben, memberi isyarat agar ia mengikutiku. "Jadi, ruangan mana yang bisa saya pakai untuk membaca ini pak?" kini pertanyaan kuberikan pada pak Tomo.


"Oh, di sebelah bisa." Melani menunjukkan ruang sebelah, ia menggiring kami ke sana bersama pak Tomo.


"Sekarang boleh tinggalkan kami di sini?" tanyaku pada pak Tomo dan istrinya.


"Apa maksudnya?" Pak Tomo menatapku.


"Saya butuh privasi untuk membaca surat Tante Maya."


"Diandra ... jangan ngelunjak kamu!"


"Silakan keluar pak Tomo."


"Kamu jangan macam-macam ya!"


"Pak, diluar masih ada pengacara dan juga polisi yang akan melindungi saya. Jadi jangan ceroboh atau bapak akan di depak dari sini!"


Lelaki itu keluar dari ruangan yang kami pakai. Tentu saja dengan sangat kesal sebab ia merasa aku melakukan sesuatu di luar perintahnya.


Sekarang akulah yang memegang kartu asnya, aku tak mau diatur, tetapi akulah yang akan mengatur sebab akulah penerima hibahnya.


"Di!" Ben menatapku.

__ADS_1


"Kamu dengar tadi kan Ben, aku dapat hibah sebelas triliun. Wow, itu banyak sekali Ben. Bahkan aku nggak pernah melihat uang sebanyak itu sebelumnya. Kira-kira kalau dikumpulkan bisa dapat berapa karung?" aku terkekeh, membayangkan banyaknya uang yang aku terima. Nggak bakalan habis tujuh turunan. Selama ini paling banyak uang yang kudapatkan sepuluh juta, itupun sudah membuatku merasa menjadi orang paling kaya sedunia, tapi sekarang sebelas triliun!


__ADS_2