ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
13. Nasihat Yang Diabaikan


__ADS_3

Entah sudah berapa jauh aku melangkah. Namun sosok kedua anak kembar ku tak kunjung terlihat. Bahkan aku sudah mulai membayangkan yang bukan-bukan. Caca dan Cici dibawa kabur oleh penjahat, lalu kedua anak itu diikat, mulutnya diplester, ada yang main tangan karena Caca dan Cici tidak bisa diam.


Tapi kenapa mereka harus diculik? Aku dan Ben bukanlah orang kaya. Kami hanya orang sederhana yang sebentar lagi akan bercerai gara-gara masalah ekonomi yang tidak kunjung menemukan jalan keluarnya.


Atau jangan-jangan mereka adalah penculik sindikat perdagangan anak untuk diambil organ tubuhnya?


Tidak! Aku menjerit sekuat tenaga sehingga menimbulkan perhatian orang-orang yang lalu-lalang di sekitarku. Bahkan ada yang sampai menghampiri.


"Mbak kenapa?" tanya dua orang perempuan yang kebetulan juga sedang berjalan kaki.


"Anak saya, diculik oleh sindikat perdagangan anak!" kataku.


"Astagfirullah, kapan mbak? Sudah lapor polisi?" tanyanya lagi.


"Polisi? Oh iya, polisi. Bagaimana aku bisa sampai tidak kepikiran?" ucapku, sambil berlalu menuju kantor polisi terdekat, meninggalkan dua orang yang tadi bertanya.


Langkahku begitu cepat, bahkan kadang sampai berlari. Hingga sampai di depan kantor polisi, nafasku sudah ngos-ngosan.


"Pak tolong pak!" pintaku, dengan ekspresi wajah yang sudah tidak dapat ku gambarkan lagi sebab begitu panik. Pikiranku benar-benar kacau.


"Ada yang bisa dibantu Bu?" tanya salah seorang polisi berseragam.


"Anak saya diculik." kataku.


"Bagaimana kronologinya, Bu?"


"Tadi, dikontrakan, saya sedang tidur, begitu bangun anak-anak sudah tidak ada di dalam rumah."


"Sudah dicari ke tetangga kiri dan kanan?"


"Saya baru pindah. Anak-anak nggak kenal tetangga manapun."


"Mungkin pergi bersama saudaranya atau temannya?"

__ADS_1


"Enggak pak!"


"Tapi bisa ...."


"Dih, bapak ini banyak tanya ya. Sudah saya katakan, di sana tidak ada kerabat ataupun siapapun. Pokoknya sekarang tolong Carikan anak saya!"


"Namanya siapa bu? Sekalian isi informasi ini dulu ya." pinta bapak tersebut sambil menyerahkan sejumlah kertas yang harus aku isi.


"Sudah, sekarang tolong Carikan anak saya!" pintaku lagi, sambil menyerahkan kertas yang sudah kuisi selengkap mungkin dengan hati berdebar, memikirkan bagaimana nasib Caca dan Cici saat ini.


"Tim kami akan bergerak setelah dua kali dua puluh empat jam. Mohon ibu bersabar dulu. Silakan tunggu di rumah. Kalau ada apa-apa hubungi kami kembali."


"Maksudnya saya harus pulang sekarang?"


"Iya Bu."


"Lalu anak saya bagaimana? Bapak itu bagaimana sih, saya itu seorang ibu. Saat ini anak saya tidak tahu dimana keberadaannya, tapi bukannya membantu cari, bapak malah nyuruh saya nunggu di rumah.


"Bu, prosedurnya seperti itu."


Perdebatan antara kami tidak bisa dielakkan. Aku tetap memaksa agar mereka segera bertindak sekarang, tapi apakah dayaku yang hanya seorang ibu rumah tangga, tidak bisa melakukan apapun selain akhirnya dengan berat hati pasrah.


Ya, aku terpaksa melangkah pulang dengan lunglai meski tidak ada hasil dari melaporkan kehilangan Caca dan Cici ke kantor polisi.


"Ya Allah ... dimana Caca dan Cici? Hamba ini ibunya, tolong berikan sedikit saja petunjuk agar hamba tahu dimana keberadaan kedua anak hamba." pintaku dengan suara yang sudah sangat lemah.


Pelan. Bulir bening itu keluar. Ibu mana yang tak akan sedih saat tahu anaknya hilang. Sementara ia tak punya tempat mengadu, juga teman untuk berdiskusi. Benar-benar sendirian.


"Caca, Cici ... maafin mama!" pintaku dengan suara lemah. Membayangkan saat ini kedua anak kembar itu bersama orang asing, diperlakukan tidak baik, ditambah tadi pagi mereka belum sarapan.


Ya Allah ...


Langkah ini rasanya benar-benar berat. Aku tak tahu harus melakukan apa. Tapi untuk sekedar menunggu di rumah rasanya benar-benar tidak masuk akal. Ibu mana yang bisa berdiam diri di rumahnya jika tidak tahu kabar berita tentang anaknya.

__ADS_1


Tetapi aku tak punya pilihan lain selain kembali ke kontrakan yang membuatku kehilangan kedua anakku.


Sampai di sana, dengan perasaan campur aduk, aku menemukan Caca dan Cici tengah asyik menikmati es krim bersama ibu. Ya, ada ibu di sini. Berarti tadi ibu yang membawa mereka. Rasa khawatir dan perasaan bersalah yang tadi sempat merasuki hati tiba-tiba berubah hilang. Aku benar-benar kesal. Sejak tadi bolak-balik mencari mereka ternyata mereka pergi dengan ibu.


"Caca, Cici!" panggilku, sambil berkacak pinggang.


"Mama!" jawab mereka.


"Dari mana saja kalian. Kenapa pergi nggak bilang-bilang mama?" tanyaku.


"Kami tadi beli makan sama nenek, ma. Saat mau berangkat, mama sedang tidur. Kami nggak berani membangunkan mama, takut Mama marah. Makanya langsung pergi saja." kata Caca.


"Terus saat kami pulang, mama nggak ada. Lama lho kami tungguin, sampai bosan. Akhirnya nenek ngajakin kita jajan kue dan es krim!" giliran Cici yang memperlihatkan jajanannya.


"Ibu ini bagaimana sih, kalau mau bawa anak-anak ngomong dulu dong!" kataku dengan nada kesal.


"Mama kok ngomong sama nenek keras-keras gitu? Kan mama yang ngajarin kita nggak boleh ngomong keras sama orang tua, masa sekarang mama yang langgar!" Caca protes.


"Udah, jangan ikut campur. Makan saja es krimnya. Mama mau ngomong sama nenek!" kataku.


"Tadi kamu tidur, makanya ibu ajak anak-anak, lagian cuma pergi sebentar." jawab mama dengan santainya.


Ya Tuhan, kesal sekali mendengar jawaban ibu yang terlalu santai. Padahal tadi, gara-gara ulah ibu, aku sampai kebingungan, nyaris patah harapan.


"Di, ibu mau ngomong serius sama kamu. Kenapa sih kamu egois sekali? Pakai acara minggat, membawa Caca dan Cici segala. Kalau kamu mau pergi, ya pergi sendirian saja. Biarkan anak-anak dengan Ben atau titip ke ibu.


Lihat tempat ini, nggak nyaman sekali untuk anak-anak. Kamu kan yang selalu komplen kalau anak-anak kurang ini dan itu, sekarang lihat, malah kamu yang jerumusin anak-anak ke tempat yang tidak baik.


Mereka nggak nyaman di sini, Di. Sudahlah, jangan egois. Sekarang juga pulang. Bawa anak-anak. Minta maaf sama Ben sebelum terlambat. Dia pasti akan memaafkan kamu!"


Apa yang dikatakan ibu barusan benar-benar nggak adil untukku. Ibu hanya memikirkan Ben dan anak-anak, tapi tidak denganku.


Tapi masa bodo dengan semua itu. Aku tak peduli lagi. Ibu boleh terus-menerus membela Ben, aku sudah tidak peduli lagi. Aku hanya ingin sendirian, bertiga dengan Caca dan Cici!

__ADS_1


__ADS_2