
Azan Subuh berkumandang. Lengkaplah sudah keterjagaanku semalaman ini. Sebenarnya mata sudah sangat mengantuk, tetapi rasanya tak mungkin tidur sebab sebentar lagi Caca dan Cici harus segera bangun untuk mempersiapkan diri mereka sebelum berangkat ke sekolah. Ditambah aku juga harus bekerja.
Sedang mempersiapkan sarapan untuk anak-anak, rasanya kepalaku berdenyut-denyut, sementara badan terasa linglung. Mungkin ini efek tidak tidur. Badan rasanya langsung protes.
"Mama," panggil Caca. Ia melempar senyum ke arahku, lalu sebentar memelukku, anak ini memang selalu bisa membuat hati ibunya meleleh. "Mama ngantuk ya?" tanya Caca lagi, ia duduk di hadapanku, sambil mengeringkan rambutnya.
"Sedikit." jawabku, sambil memaksakan senyum.
"Jangan-jangan semalam mama nggak tidur?" tebaknya. "Mama ngantuk berat tu!"
"Sedikit, tapi nanti masih bisa diatasi dengan kopi, kok!"
"Duh mama kan ada magh, jangan ngopi dong. Papa kan selalu melarang mama minum kopi. Mama lupa, ya? Karena nggak ada Papa di sini, Caca yang akan mengingatkan mama. Memang mama mikirin apa, sih?"
Aku tak memberikan jawaban, hanya melempar senyum, lalu segera ke kamar mandi untuk memeriksa Cici, sebelum Caca kembali melontarkan pertanyaan lagi.
"Ci, mandinya jangan lama-lama!" panggilku.
Caca dan Cici itu, meskipun mereka anak kembar, tetapi sifat dan kebiasaannya sangatlah berbeda.
Caca cenderung aktif, ceriwis dan peka terhadap sekitarnya. Untuk segala urusan ia lebih cepat tanggap. Sementara Cici sebaliknya. Ia berkepribadian calm, suka menyimpan sesuatu dalam hati, agak lamban mengerjakan apapun, termasuk urusan mandi, butuh diingatkan beberapa kali agar ia bergegas.
Sikap mereka yang bertolak belakang itu kadang membuat Caca uring-uringan. Ia yang serba ingin cepat selalu terkendala oleh Cici yang agak lambat. Belum lagi Caca yang selalu ingin segala hal dibicarakan secara terbuka, sementara Cici lebih senang menyimpan semuanya sendiri. Jadilah Caca akan menceramahi Cici setiap harinya, tapi yang namanya Cici tak juga kunjung berubah meski punya alarm kembarannya sendiri.
"Ci, buruan dong!" aku terpaksa menggedor pintu sebab matahari mulai bersinar.
Akhirnya usahaku membuahkan hasil juga, Cici keluar setelah digedor beberapa kali. Tapi seolah semua baik-baik saja, ia malah berlalu menuju kamar.
Tentu saja aku tak membiarkan Cici sendiri, aku terus membuntuti hingga ia selesai dengan seragamnya, lalu bergabung untuk sarapan dengan Caca. Setelah itu biasanya Caca yang akan menggantikan tugasku menjadi pengingat saudara kembarnya.
__ADS_1
Setelah anak-anak selesai sarapan, aku langsung mengantar mereka ke sekolah. Lalu kembali ke cafe. Ini akhir bulan, aku harus menyelesaikan beberapa laporan keuangan cafe yang harus dilaporkan pada Anis sesegera mungkin.
Hanya beberapa meter dari pintu cafe, aku melihat Anis dan mbak Rini sedang berdiri di sana. Bahkan Anis melambaikan tangannya padaku sambil tersenyum. Tetapi, lama-lama semuanya kabur, lalu aku terhempas ke tanah.
***
Kepalaku benar-benar pusing, perut begitu mual. Ada sesuatu dalam perut yang rasanya ingin keluar. Aku ingin muntah. Tetapi badanku lemas.
"Mbak Di sudah bangun?" tanya mbak Rini, ia langsung menghampiri.
Kepala ini masih berdenyut, saat kedua mataku terbuka. Selain mbak Rini, ada Anis juga, berdiri tak jauh dari tempat tidurku. Hanya saja raut wajahnya agak berbeda dari sebelumnya.
"Mbak Di hati-hati bangkitnya!" pinta mbak Rini.
"Aku, kenapa bisa ada di rumah sakit?" tanyaku, kini dengan posisi duduk, menyender pada bantal, setelah dibantu oleh mbak Rini.
"Tadi mbak Di pingsan." jawab mbak Rini.
"Di, kenapa kamu nggak bilang soal kehamilan kamu?" Anis buka suara.
"Hamil?" aku mencoba mengulang pertanyaan Anis. Apa maksudnya dengan hamil, siapa yang hamil?
"Kenapa kamu nggak cerita kalau kamu saat ini sedang hamil?" ulang Anis.
"Astagfirullah, maksud kamu, aku yang hamil?" aku mengulang pertanyaan yang membuat kepalaku makin berat.
"Iyalah, siapa lagi Di. Di sini cuma ada kita bertiga, sementara aku dan mbak Rini saat ini belum bersuami." ungkap Anis.
"Aku juga sudah tidak punya suami, Nis." aku menegaskan statusku padanya.
__ADS_1
"Oh ya, maksud aku, sebelumnya kan kamu sudah punya suami. Nah, kenapa kamu nggak bilang sama aku kalau kamu sedang hamil?" tanya Anis.
"Bagaimana kamu bisa menyimpulkan aku hamil?" aku masih kebingungan.
"Duh, sebentar dulu. Jangan-jangan mbak Di sebelumnya nggak tahu kalau saat ini sedang hamil?" mbak Rini mencoba menguraikan benang kusut antara aku dan Anis. "Benar kan begitu?"
"Aku memang nggak hamil, kok." kataku.
"Apa? Jadi sebelumnya kamu nggak tahu kalau ternyata kamu hamil?" Anis tampak panik.
"Jadi begini mbak Di, tadi kan mbak Di pingsan, terus saya sama mbak Anis membawa mbak Di ke puskesmas, terus kata dokternya mbak Di nggak apa-apa, hanya kelelahan, efek dari kehamilannya mbak Di." jelas mbak Rini.
"Astagfirullah, hamil? Jadi aku hamil? Benar begitu, mbak? Ya Tuhan, bagaimana ini. Kata dokter berapa bulan, mbak?" entah bagaimana perasaanku sekarang, yang jelas, semuanya campur aduk, aku benar-benar kebingungan.
"Dua belas pekan, mbak. Memangnya mbak Di nggak tahu sebelumnya?" tanya mbak Rini lagi.
"Nggak, aku benar-benar nggak tahu. Aku nggak memperhatikan tamu bulanan. Sebelumnya, saat hamil Caca dan Cici juga aku santai mbak. Kata orang hamil kebo. Malah baru sadar kalau sedang hamil setelah mau masuk trimester kedua." ceritaku.
"Oalah. Kalau begitu selamat ya mbak. Sikembar bakalan punya adik." ucap mbak Rini.
Tetapi bukannya senang, aku malah kebingungan. Seharusnya aku sangat senang sekali sebab sebentar lagi akan punya keturunan lagi. Anak yang sudah lama kami idamkan sebab kedua kakaknya sudah cukup siap untuk punya adik lagi. Tapi kenapa batu tahu setelah aku dan Ben ketok palu?
Lalu sekarang bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus memberitahu Ben tentang kehamilan ini, mengingat perceraian kami yang sudah terlanjur terjadi.
Ya Tuhan ... betapa bodohnya aku. Setelah membuat Caca dan Cici kehilangan ayahnya, lalu sekarang akupun tengah mempersiapkan agar anak ketiga ku pun begitu. Malangnya, ia tak bisa merasakan sosok ayah saat masih di dalam kandungan.
Jahatnya aku. Entah bagaimana caranya nanti menebus kesalahanku pada anak-anak. Gara-gara terlalu egois, hanya memikirkan diri sendiri seperti yang dikatakan ibu.
Aku sudah tak tahu harus mengekspresikan diri seperti apa, sehingga hanya bisa menangis. Sementara melihat sikapku seperti itu, mbak Rini tampak panik, ia memelukku, mencoba menenangkan, tapi tetap saja aku tak bisa menghentikan tangisku.
__ADS_1
Kini aku benar-benar berada di puncak penyesalan. Aku begitu takut menghadapi ini sendiri. Membesarkan tiga anak tanpa ada ayahnya. Ya Allah, mampukah aku? Andai aku dan Ben belum bercerai.