
"Kenapa tidak menurut?" kata Ben, setelah kami sampai di rumah. "O, aku tahu, sekarang aku bukan suami kamu lagi, Di. Makanya apa yang aku katakan kamu abaikan begitu saja, iya kan? Tapi ada bayi kita yang juga harus kamu pikirkan. Jangan hanya mengikuti keinginan sendiri, kamu itu adalah seorang ibu, kamu harus memikirkan anak-anakmu juga. Kalau bayinya kenapa-kenapa, apa kamu nggak sedih atau merasa bersalah? Terlalu bahaya kemana-mana tanpa aku temani. pastinya juga kamu sangat lelah, kan?" tambah Ben lagi.
Sepertinya ia benar-benar kesal sebab aku tak mendengarkan perintahnya untuk beristirahat. Memang aku salah, tapi ini demi kebaikan seseorang. Dalam kondisi seperti ini tidak bisa ditunda-tunda. Nasya harus segera tahu semuanya. Meskipun harus melanggar Ben, tapi aku yakin ia paham situasiku saat ini.
"Ya jangan mendoakan seperti itu. Harusnya doakan yang baik-baik saja agar aku dan calon bayi kita baik-baik saja. Begitu kan lebih baik. Lagipula kondisinya lagi darurat, Ben. Aku harus segera menyampaikan pada Nasya agar ia segera bertindak untuk ibunya.
Apa kamu nggak kasihan pada Tante Maya, Ben? Lihatlah, ia sehat-sehat tapi ditempatkan di rumah sakit jiwa oleh keluarganya. Keterlaluan sekali bukan? Sekarang, setelah ia meninggal dunia pun ia masih dizhalimi, dianggap sebagai orang gila padahal ia waras. Dzalim sekali itu namanya." ungkapku lagi.
"Hm, iya juga sih, tapi kan ...."
"Nggak tapi-tapian. Toh sekarang aku baik-baik saja, begitu juga bayi kita. Aku yakin ia akan jadi anak yang kuat, jadi nggak akan menyulitkan ibunya. Sama seperti dua kakaknya. Kamu doakan saja. Oke!"
"Di,"
"Percayalah padaku, Ben. Kan kamu juga yang selalu bilang kalau anak-anak kita itu adalah anak-anak yang kuat dan hebat. Jangan remmehkan kemampuan mereka. Lihatlah bagaimana tabah dan tahan banting ya Caca dan Cici. Nah, calon adik mereka juga InsyaAllah akan seperti itu!"
"Hm. Tapi ingat, lain kali koordinasi dulu sama aku, Di. Kita nggak tahu seberapa berbahaya ayahnya Nasya. Pada istrinya saja ia bisa Setega itu, apalagi dengan kita yang ...."
"Apa? Aku anaknya? Lebih tepatnya anak haramnya. Iya, kan?"
__ADS_1
Ben menatapku, dan aku mencoba tersenyum. Entahlah, sejujurnya agak seram juga mengetahui bahwa ayah kandungku sejahat pak Tomo. Dulu sekali aku membayangkan bahwa ayahku hampir sama dengan teman-teman lainnya. Hanya lelaki biasa yang bekerja sebagai pegawai, tapi ia meninggal di usia muda, makanya gak bisa membersamai aku dan ibu.
Pernah juga aku membayangkan punya ayah yang berselingkuh dengan wanita lain. Lalu ia meninggalkan kami. Tapi melihat ibu yang punya wajah ayu, rasanya tidak mungkin ayahku akan menduakan perempuan secantik ditambah pekerja keras seperti ibu. Makanya aku kembali pada pemikiran awal bahwa ayahku hanya lelaki biasa yang meninggal di usia muda.
"Apa kamu menyesal menikah dengan aku, Ben? Ayahku adalah seorang lelaki berdarah dingin yang tidak punya perasaan. Dalam tubuhku mengalir darahnya."
"Itukan ayahmu, Di."
"Tapi itu aib untukku."
"Kejahatan seorang anak tidak bisa menurun pada anaknya jika ia tak mau itu. Lagipula kamu tak melakukan kesalahan apapun. Kamu juga pasti nggak menginginkan punya ayah seperti itu, tapi balik lagi, semua adalah takdir Allah Di. Mau tidak mau kamu harus terima dengan sabar."
"Iya Ben. Aku juga tidak mau seperti pak Tomo."
"Aku akan buat pak Tomo masuk dalam penjara!" ujarku.
"Apa?" Ben agak kaget.
"Ya Ben, aku akan membuat ia masuk ke dalam penjara."
__ADS_1
"Tolong jangan berpikiran aneh, Di." pinta Ben dengan penuh harap.
"Nggak aneh, kok. Aku harus membantu ibu dan Tante Maya mendapatkan keadilan. Pak Tomo harus menerima balasan untuk kejahatannya sebab ia sudah menghancurkan masa depan ibu, bahkan berniat menghabisi ibu. Begitu juga dengan Tante Maya dan mungkin masih banyak korban-korbannya di luaran sana." kataku dengan penuh semangat membara.
"Kamu tahu kan siapa itu pak Tomo? Ia bukan orang sembarangan, Di. Ia memiliki banyak kekayaan dan kekuasaan. Kamu nggak akan bisa melawannya. Akan sangat sulit, Di. Lebih baik jangan coba-coba cari masalah, yang ada nanti justru kamu sendiri yang akan kena batunya. Nggak akan ada yang oercaya dengan apa yang kamu katakan. Untuk meyakinkan Nasya saja kita sulit, apalagi memberitahu pada publik siapa pak Tomo.
Lagipula, Di, aku tak yakin ibu akan menyetujui ide kamu itu. Terlalu bahaya. Sudahlah, lupakan saja. Kita mulai hidup yang baru yang lebih baik."
"Nggak bisa, aku akan tetap melangkah, Ben. Aku akan adukan pak Tomo ke kantor polisi."
"Astagfirullah!" Ben geleng-geleng kepala. Wajahnya langsung berubah, tampak khawatir. Wajar saja, yang akan menjadi kawanku adalah salah satu orang kaya di ibu kota. Ia punya relasi dengan orang-orang besar. "Sudahlah Di, aku mohon!" pinta Ben lagi, tapi aku memutuskan untuk abaik dan tetap akan maju.
***
Seperti yang dikatakan oleh Ben, ibu pun tidak setuju dengan segala rencana ku. Bahkan ibu mewanti-wanti hingga mengancam, kalau sampai aku berani bicara pada umum maka ia akan meninggalkan aku, membawa serta anak-anak.
"Jangan keras kepala lagi, Di. Ibu baru saja akan merasakan hidup tenang setelah kamu memutuskan untuk berubah dan nggak akan ceroboh lagi, masa sekarang kamu mau membuat masalah lagi? Kamu mau membuat ibu jantungan? Jangan main-main, Di. Ikuti apa kata Ben!" kata ibu, sembil menghadang langkahku saat aku hendak pamit ke kantor polisi pagi ini.
"Ini demi ibu. Aku akan tunjukkan pada semua orang bahwa ibu bukan perempuan murahan atau penggoda suami orang seperti yang dikatakan orang-orang di luaran sana. Ibu adalah wanita terhormat, wanita baik-baik yang rela menanggung beban hidup demi membesarkan anaknya." kataku.
__ADS_1
"Apapun tujuan kamu, sekalipun untuk ibu, ibu ucapkan terima kasih banyak Di. Tapi ibu minta kamu mengurungkan niat, ibu sudah rela dan ikhlas dengan segala yang Allah tetapkan pada hidup ibu. Jadi jangan khawatirkan ibu. Lebih baik kita melanjutkan kehidupan kita lagi saja.
Ingat Di, kamu sebentar lagi punya bayi. Fokus saja dengan kelahuran nanti. Seelah itu persiapkan diri kamu untuk menikah kembali dengan Ben. Itu saja sudah membuat ibu bahagia sekali. Ibu tidak ingin yang lainnya!" kata Ibu.