ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
19. Hari Kedua


__ADS_3

Hari kedua menjadi seorang single mam, rasanya benar-benar luar biasa. Ingin sekali mengibarkan bendera putih, tetapi aku tak yakin akan ada yang peduli. Ibu adalah pilihanku sendiri, baik buruk hasilnya adalah tanggung jawabku.


Selama dua hari itu Caca dan Cici tidak masuk sekolah sebab setiap pagi aku tak sanggup bangun pagi. Aku terlalu lelah sebab setiap malam dihabiskan untuk begadang menyelesaikan tulisan. Aku hanya bisa menulis di malam hari sebab sulit rasanya menulis saat Caca dan Cici bangun.


Malam inipun aku kembali begadang. Masih banyak yang harus rombak, padahal ini hanyalah sebuah tulisan kecil, tetapi sepertinya kemampuanku agak berkurang, mungkin karena sudah lama tidak merangkai kata-kata.


Sementara waktu terus berjalan. Tidak ada sedikitpun tabungan yang bisa diandalkan untuk bulan depan, padahal kami butuh untuk bertahan hidup. Sialnya lagi, sebelum ketuk palu perceraian, aku tidak mengajak Ben bermusyawarah tentang hal ini, aku membebaskan Ben tentang tanggung jawab materi terhadap Caca dan Cici, padahal saat ini aku masih jadi pengangguran.


Lalu bagaimana caranya melanjutkan hidup?


Kepalaku benar-benar pusing memikirkan jalan keluar yang terasa mustahil.


Bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan jika bulan depan tidak bisa memenuhi kebutuhan materi kami, apalagi saat ini kami tinggal di kontrakan yang tiap bulannya harus aku bayarkan. Kalaupun harus mencari pinjaman, pada siapa? Semua orang yang kukenal dan mengenalku juga tahu kalau masalah finansial, aku bergantung pada Ben.


Akibat mentok dengan tulisan yang terasa blank, akhirnya aku membuka situs lowongan pekerjaan, mencoba mencari beberapa pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan ku. Tetapi lagi-lagi aku tersadar, semua ijazah tertinggal di rumah Ben. Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan kembali surat-suratku jika Ben tak mau bicara padaku.


Ya Tuhan ... kenapa semuanya jadi kacau?


Aku benar-benar merasa sangat gegabah. Begitu cepat berpikir untuk bercerai. Mengajukan gugatan tanpa persiapan matang. Lalu sekarang aku harus bagaimana, padahal tidak ada satu orangpun yang bisa kuajak diskusi.


Ben, kenapa sekarang aku malah memikirkan lelaki yang ku anggap tidak berguna itu? Padahal selama ini, setiap ada dia, apapun masalah yang ku hadapi, maka semua ku limpahkan pada Ben untuk dicarikan jalan keluarnya. Tapi sekarang rasanya benar-benar buntu.


Malam semakin larut, mungkin karena terlalu pusing, aku tak sadar akhirnya terlelap juga dengan begitu banyak beban di pikiran.


***


"Ma, mama ... Mama." suara Caca dan Cici mengguncang lenganku. Guncangan yang awalnya lembur berubah jadi begitu keras, bahkan panggilan-panggilan mereka memekakkan telinga.


"Apa?" tanyaku, masih dengan mata tertutup sebab aku masih begitu ngantuk.


"Sudah pagi, Caca mau berangkat sekolah." pinta Caca.


"Nggak dulu. Sekarang libur saja dulu Ca,"

__ADS_1


"Libur lagi? Jangan dong ma, Caca kangen Bu guru dan teman-teman." pinta Caca.


"Lagian kalau libur terus nanti nggak bisa pintar lho, ma. Soalnya nggak belajar-belajar." sambung Cici.


"Duh, anak TK ribet amat. Nanti mama yang ngajarin kalian. Sekarang pada sarapan dulu, ada roti di atas lemari." kataku, sambil menunjuk lemari yang memang disediakan oleh pemilik kontrakan.


"Roti lagi? Ma, masak sarapan makan roti lagi sih." Caca dan Cici masih ngomel-ngomel, tapi semakin lama tak terdengar sebab aku sudah kembali terlelap.


***


Pukul sebelas siang? Aku buru-buru bangkit, tak kudapati Caca dan Cici di ruang depan sekaligus kamar tidur kami. Tetapi tak lama terdengar suara mereka dari kamar sebelah yang kujadikan sebagai dapur sekaligus tempat barang-barangku.


"Kalian lagi apa?" tanyaku pada Caca dan Cici yang sedang asyik duduk di pojokan.


"Baca buku, mama sudah bangun?" tanya Caca.


"Sudah dong. Mau makan siang apa?" tanyaku lagi. "Bagaimana kalau mie rebus? Mama sudah beli kemarin di warung."


Lagi-lagi Caca dan Cici protes, tapi kuabaikan sebab aku terpaksa melakukannya sebab harus menghemat perekonomian kami. Hanya tersisa dua ratus ribu di ATM sementara sekarang masih tanggal lima belas.


"Ma, ayo buruan!" panggilan Caca membuyarkan lamunanku.


"Iya, mama nggak jadi mandi, cuma sikat gigi saja." kataku, sambil memandang air di kamar mandi yang hanya tersisa satu ember. Kenapa aku selalu lupa mengisi air, padahal air hanya hidup satu kali dalam sehari.


Tiga mangkok mie instan dengan asap masih mengepul telah tersaji di hadapan kami. Bertiga kami menghabiskannya. Sebenarnya anak-anak tidak terlalu suka mie instan sebab Ben sekali melarang mereka memakannya. Mungkin karena Ben pernah menjalani operasi usus buntu, makanya ia begitu waspada agar tak terulang lagi pada anak-anak.


"Ma, bosen nih di rumah aja," tiba-tiba Caca berceloteh.


"Terus mau kemana?" tanyaku, sambil menghabiskan suapan terakhir.


"Jalan-jalan." ajaknya.


"Jangan. Mama lagi nggak punya uang." jawabku.

__ADS_1


"Yah mama," Caca berubah cemberut.


"Duh, sakit perut, sakit perut." tiba-tiba Cici mengerang, sambil memegangi perutnya.


"Kenapa?" aku jadi panik sebab Cici memucat, dari dahinya keluar keringat dingin. "Ci, kamu kenapa?" tanyaku lagi.


Tidak ada jawaban dari Cici, ia hanya meringis menahan sakit, sementara wajahnya semakin pucat. Aku benar-benar khawatir, tapi tak tahu harus melakukan apa. Selama ini Cici tidak pernah sakit, tapi kenapa sekarang begini.


"Ma, bawa Cici berobat." kata Caca.


"Oh iya," aku segera memakai kerudung, lalu menggendong Cici, tidak lupa kubawa tas kecil berisi dompet dan Hp.


Baru beberapa langkah, tiba-tiba Cici berteriak minta ke toilet, aku kembali membawanya masuk ke dalam. Cici diare, ia beberapa kali harus keluar masuk kamar mandi. Untung saja aku ingat obat diare, buru-buru kubeli di warung terdekat, sementara anak-anak tinggal di kontrakan berdua.


"Minum obat ya," kataku, sambil menyodorkan obat diare, lalu membalur seluruh badannya dengan minyak kayu putih. "Ci, jangan sakit dong sayang, mama nggak punya uang." kataku dalam hati sambil mengusap pelan kepalanya hingga Cici terlelap.


Hanya sepuluh menit Cici memejamkan matanya, ia kembali bolak-balik kamar mandi sehingga air milik kami benar-benar habis. Sementara intensitas ke kamar mandi Cici semakin sering. Melihat tubuhnya yang begitu lemas, aku tak punya pilihan lain selain melarikan ke puskesmas yang tidak terlalu jauh dari kontrakan kami.


"Sepertinya anak ibu salah makan," kata dokter jaga yang memeriksa Cici.


"Salah makan apa ya dok?" pertanyaan itu keluar begitu saja, sehingga membuat dokter tersebut melirik padaku.


"Mungkin karena Cici makan roti yang mama kasih tadi." bisik Caca, setelah dokternya ke depan, sementara Cici masih harus di infus agar tidak kekurangan cairan.


"Kok bisa, kan rotinya masih baru." kataku.


"Tapi rotinya separuh di gigit cicak."


"Astagfirullah, kenapa di makan?"


"Kita lapar."


"Kan bisa minta ke mama lagi."

__ADS_1


"Tapi kan mama tidur."


Ya Allah, aku terduduk lemas sambil memandang wajah Cici yang tertidur pulas dengan selang infus di tangannya. Maafkan mama, Ci. Mama sudah melakukan kesalahan besar pada kamu.


__ADS_2