
Aku tak bisa berkata-kata. Hanya diam mematung saat melihat Ben berdiri di hadapanku. Mana aku tahu kalau ia akan datang sepagi ini. Seperti biasanya, jika melihatku kesusahan, Ben dengan sigap akan membantu.
Sama seperti pagi ini, saat ia datang ketika aku baru pulang belanja untuk kebutuhan warung. Ia dengan sigap langsung mengambil kardus dan tas kresek yang cukup berat.
"Sudah kubilang, jangan bawa berat-berat seperti ini. Nanti tangan kamu sakit lagi. Apalagi sekarang sedang hamil." katanya, sambil membawa belanjaan ke depan rumah.
"Iya, maaf." kataku.
"Tumben maaf, biasanya ngomel."
"Mau ngomel sudah nggak mungkin. Toh kamu nggak akan bisa bantuin aku kapanpun juga, kan?"
"Di!"
"Ben!"
Kami diam sesaat. Larut dalam suasana haru. Ingin sekali rasanya lari dalam pelukannya, menangis di sana sembari merasakan belaian lembut di kepala, seperti yang biasa dilakukan Ben jika aku kelelahan atau mood berubah jadi buruk.
"Kan sudah kukatakan, jangan coba-coba cari masalah. Kamu keras kepala. Kamu sendiri yang membuat masalah!" katanya, dengan suara bergetar. "Kalau kamu mau bersabar sebentar lagi Di, mungkin semua nggak akan seperti ini. Kamu nggak harus bekerja keras seperti ini!"
"Iya, maaf." jawabku.
"Aku sungguh kesal melihat kamu, Di. Kenapa tidak mau memberiku sedikit lagi kesempatan. Apa kamu tahu Di, aku benar-benar berusaha untuk kamu dan anak-anak. Aku nggak macam-macam di luar, apalagi malas-malasan. Aku sungguh-sungguh ingin membahagiakan kalian!"
"Iya, maaf."
"Jangan lagi minta maaf. Itu bukan sifat kamu. Diandra yang aku tahu itu keras kepalanya dan nggak pernah mau mendengarkan nasihat orang lain. Maunya berbuat semaunya. Apalagi padaku, kamu paling nggak nurut!"
"Itu Diandra yang dulu, Ben. Diandra yang sekarang berbeda. Diandra yang kamu lihat sekarang sudah berubah, Ben. Bukan lagi Diandra yang emosional, kekanak-kanakan, egois, ingin menang sendiri, suka menuntut, tidak bertanggung jawab dan segala keburukannya yang lain akan dibuangnya.
Diandra yang sekarang, akan berubah menjadi lebih baik. Kalau kamu mau, bantu doakan dia Ben. Maafkan juga dia dengan semua kebodohannya saat bersama kamu. Maafkan Ben!" kataku, dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Di,"
"Aku nggak apa-apa kok Ben. Aku baik-baik saja. Aku hanya butuh waktu berproses. Semoga saja kedepannya aku bisa lebih baik. Aku nggak mau gagal lagi setelah gagal jadi seorang anak dan kstri. Aku nggak mau juga gagal jadi seorang ibu. Bantu doakan aku ya, Ben." kataku, sembari berusaha menyunggingkan senyum agar Ben tahu bahwa aku benar-benar baik-baik saja.
Semua yang terjadi sekarang adalah buah dari perbuatanku sebelumnya. Aku harus menerimanya.
"Aku yang harusnya minta maaf Di, tidak bisa membimbing kamu." kata Ben, masih dengan suara yang amat berat.
"Nggak Ben, kamu sudah berbuat banyak untukku dan anak-anak. Sekarang biar aku melangkah sendiri. Aku sendiri yang harus merubah diriku supaya Allah Ridha. Toh, kalau nggak ada keinginan, mana bisa. Iya kan, Ben? Yang ada malah kayak kemarin-kemarin. Kamu capek nasihatin, eh sama aku masuk telinga kanan keluar telinga kiri." lagi-lagi aku tertawa kecil, meski tawa itu terdengar garing.
"Di ...." Ben menatapku dengan tatapan yang sulit kuelakkan.
"Sudah Ben. Oh ya, kamu datang pasti ingin ketemu anak-anak, kan? Mereka ada di rumah mbak Hana. Sebentar aku panggilkan. Kalau mereka tahu papanya datang pasti senang sekali. Anak-anak kan lengket sekali sama kamu, Ben."
"Juga ingin bertemu kamu, Di."
Langkahku terhenti, ingin sekali kembali berbalik agar bisa menatap sepasang mata teduh milik Ben, tapi aku menahan diri sekuat mungkin.
"Aku panggilkan Caca dan Cici dulu," kataku, sambil melangkah.
"Di ... Diandra." panggil Ben lagi.
Aku belum pantas untuk kembali padamu, Ben. Aku nggak mau membuat kamu stress dengan sikapku. Kalau kamu bersedia, tolong bersabar sebentar saja sampai aku bisa merubah sikapku. Aku janji Ben, nggak akan lama. Aku akan berusaha berubah jadi lebih baik lagi.
Langkahku baru berhenti di depan rumah mbak Hana. Caca dan Cici yang sedang bermain langsung menyambut gembira.
"Mama sudah selesai belanjanya?" tanya Caca.
"Iya. Itu ada papa." kataku, disambut teriakan kesenangan Caca dan Cici. Mereka berdua langsung pulang ke rumah. "Mbak Hana, kalau lagi nggak sibuk, boleh saya minta tolong ditemani? Saya dan Ben kan sudah bukan suami istri lagi, takut timbul fitnah." kataku pada mbak Hana.
"Iya Di, aku temani." berdua, aku dan mbak Hana berjalan beriringan menuju rumah.
__ADS_1
Sampai di rumah, Ben sedang asyik bercerita dengan Caca dan Cici. Entah apa yang mereka bahas,aku tak terlalu memperhatikan sebab takut terbawa suasana.
Setelah membuatkan minuman, aku kembali ke warung bersama mbak Hana. Kami menggunakan kesempatan itu untuk belajar. Mbak Hana yang jadi gurunya, sembari melayani pembeli yang datang.
Menjelang Zuhur, barulah Ben pamit pulang. Sebelum pergi ia memberikan sebuah amplop padaku. "Ini untuk kalian." kata Ben. "Oh ya Di, ibu ingin sekali bertemu dengan kamu dan anak-anak. Apa kamu mengizinkan ibu datang ke sini?"
"Tentu saja Ben. Caca dan Cici pasti juga senang ketemu neneknya." jawabku. "Iya kan?" aku beralih pada Caca dan Cici.
"Iya!" seru anak-anak.
"Kapan nenek ke sini, pa?" tanya Caca.
"Akhir pekan, InsyaAllah." jawab Ben.
"Kok lama sih pa. Masih tujuh hari lagi." Caca menekuk wajahnya. "Sekarang aja sih pa, ketemu neneknya. Kan masih siang."
"Iya pa, sekarang aja." sambung Cici.
"Ca, sabar. Papa masih punya urusan lain. Nanti kita ketemu nenek, InsyaAllah." kataku.
"Papa pergi ya." Ben melambaikan tangannya pada anak-anak.
Perpisahan ini selalu menyisakan kesedihan. Tampak betul dari sepasang mata Caca dan Cici kesedihan saat melepas kepergian ayahnya. Dari dulu mereka memang sangat dekat sekali.
"Ma, kapan kita boleh pulang ke rumah papa?" tanya Caca, sembari masih menatap ke arah ayahnya pergi, meski sudah tak terlihat oleh netra.
Aku tak bisa menjawab, meski sebenarnya sangat berharap tak ada lagi perpisahan setiap pertemuan di akhir pekan.
"Lagi-lagi Caca dan Cici yang harus jadi korban." kataku, dengan suara pelan, setelah kedua anak itu masuk ke rumah.
"Sabar Di, semoga Allah berikan jalan kebaikan untuk kalian." kata mbak Hana, sambil menepuk pelan pundakku.
__ADS_1
Ya, kuharap pun begitu. Ada kebaikan yang jadi akhir semua ini. Hikmah yang bisa membuat kami lebih dewasa'. Jadi manusia yang lebih baik lagi. Apapun itu, sekarang aku hanya bisa menjalankan saja, sembari menikmati prosesnya.