
Anis terus saja melontarkan makian-makian padaku, ia benar-benar mengeluarkan semua rasa sakit hatinya sebab penolakan yang aku lakukan. Sikapnya ini sangat kontras dengan Anis yang aku kenal. Sementara itu Caca dan Cici menangis di samping pintu, mungkin mereka takut dan bingung sebab terbangun dari tidurnya karena ribut-ribut.
Aku sendiri tak tahu harus melakukan apa selain diam menunduk sambil meneteskan air mata, mencerna kata demi kata yang diucapkan oleh Anis.
Ternyata aku seburuk itu.
Istri yang tak pantas untuk Ben sebab aku adalah beban yang tak pernah memberikan kebahagiaan untuknya.
Aku hanya bisa menuntut banyak hal tanpa mau menerima sedikitpun kekurangannya. Sungguh miris sekali sikapku selama ini.
Astagfirullah. Aku merasa benar-benar kecewa pada diri sendiri. Anis benar, bagaimana aku bisa berharap lagi pada Ben sreelah banyak masalah yang aku berikan di hidupnya.
Mungkin karena kondisi hatiku sedang tidak baik-baik saja, akhirnya berdampak pada perutku yang tiba-tiba kram, ditambah sakit melilit yang tak pernah kurasakan sebelumnya.
"Ya Allah ..." aku meringis, sembari memegangi perut, saking sakitnya, aku sampai tersungkur ke lantai.
"Mama ...." Caca dan Cici berlari menghampiri. Mereka memegangi tangan dan menempel di bagian punggung.
"Udah deh Di, nggak usah pura-pura. Kamu kan yang bilang kalau Ben menyukai perempuan yang apa adanya, lalu kenapa sekarang kamu berpura-pura seperti itu? Kamu kira aku akan iba padamu, lalu membiarian semuanya berjalan sesuai apa yang kamu mau? Nggak Di, aku nggak akan pernah lagi memberikan Ben pada kamu. Sudah cukup Ben dengan kamu selama hampir tujuh tahun. Aku berjuang sendiri dalam doa untuk Ben, sekarang setelah ia lepas, biarkan aku mendapatkannya. Aku tak akan melepasnya lagi untuk kamu atau pun Nasya!" bentaknya, hingga membuat Cici menjerit karena kaget. Sementara Caca langsung menunjukkan sikap marah, bahkan ia ingin menyerang Anis, untung saja aku menghalangi dengan memegang tangannya.
"Mbak Di ... Caca, Cici. Kenapa?" mbak Hana dan suaminya menyusul ke rumah kami.
"Tante Hana, itu Tante Anis jahat, marah-marah sama mama!" Caca langsung berdiri, menghampiri mbak Hana, menceritakan apa yang terjadi. "Di, kamu kenapa?" mbak Hana menghampiriku, ia memegang tanganku yang masih meringis menahan sakit di perut. Sakitnya semakin melilit, keringat pun mengalir di keningku.
"Sakit, mbak." kataku, tak kuat untuk tidak meneteskan air mata.
__ADS_1
"Tenang mbak Di, ini perutnya kenapa? Kita ke rumah sakit saja ya." Mbak Hana memberi instruksi pada suaminya agar segera mengambil mobil ke rumah mereka.
Bukannya iba melihatku, Anis masih juga marah-marah, ia bahkan tega meminta kembali semua bantuan yang telah diberikannya padaku.
"Mbak, bicaranya nanti saja. Mbak Di sedang sakit. Bisa nggak untuk sabar dulu sampai kondisi membaik?" tanya mbak Hana dengan nada tegas.
"Selama ini saya sudah sabar, mbak!" kata Anis tak kalah tegas.
"Astagfirullah, mbak ini muslimah berhijab, tapi seperti orang yang nggak punya hati saja. Lihat sendiri bagaimana kondisinya mbak Di, kalau tidak cepat-cepat di bawa ke rumah sakit bisa membahayakan bayinya." kata mbak Hana menjelaskan.
"Astagfirullah, kalian itu memfitnah saya saja ya. Siapa yang nggak punya hati? Tanya sama Diandra, siapa yang menolongnya selama ini? Saya!" kata Anis dengan sombongnya.
"Terserah kamulah mbak, kamu terlalu sombong, saya malas berurusan dengan orang sombong. Sekarang saya harus bawa mbak Di ke rumah sakit, kalau kamu ngalangin saya bisa lapor polisi sebab mbak sudah melakukan perbuatan tidak menyenangkan. Apa mbak mau? Kalau nggak sekarang juga pergi. Nanti kami hubungi, kita bicarakan kalau kondisi mbak Di sudah membaik!" kata mbak Hana, sambil memapahku menuju mobil setelah mas Hendri memarkir mobilnya tepat di depan rumahku. "Mas, tolong sekalian kunci warung dan rumahnya!" pinta mbak Hana, sembari menaikan aku, Caca dan Cici ke mobil.
Rasa sakitnya semakin menjadi-jadi, aku tak bisa berbuat apa-apa selain duduk di atas mobil, sementara dari jendela sempat kulihat Anis berkacak pinggang melihat ke arahku.
Rasa sakit di perut semakin menjadi-jadi sehingga membuat pikiranku makin kacau. Keputuskan untuk memejamkan mata, tak lagi mengabaikan suara-suara apapun, termasuk suara si kembar. Aku sangat yakin, mbak Hana akan menjaga mereka dengan baik.
Sampia di rumah sakit swasta khusus ibu dan anak, mbak Hana langsung membukakan pintu, memanggil perawat sambil berteriak. Lalu mereka memapahku ke tempat tidur yang didorong menuju IGD.
Rasa sakit masih terasa, tapi perlahan mereda setelah dokter memberikan satu kali suntikan untuk meredakan nyeri. Sementara di pergelangan tanganku ada jarum infus yang tertancap. Kata dokter, aku nyaris kehilangan bayi dalam kandungan.
"Mbak Hana," Kataku, saat membuka mata, setelah rasa sakitnya mulai reda. "Caca dan Cici mana?"
"Ada mbak. Mereka lagi jajan bakso di kantin. Mbak Hana jangan khawatir. InsyaAllah anak-anak aman kok." Mbak Hana tersenyum ke arahku.
__ADS_1
"Maaf mbak, saya merepotkan lagi."
"Nggak apa-apa. Itulah gunanya tetangga. Susah seperti saudara sendiri."
"Iya. Maaf ya mbak Hana." aku tak bisa untuk tidak kembali meminta maaf sebab sudah merepotkan mbak Hana dan suaminya. "Saya cuma bisa merepotkan saja." kataku.
"Mbak Di ngomong apa? Nggak boleh berpikiran begitu. Mbak Di harus semangat. Biarkan orang mau bilang apa, yang penting mbak Di baik di mata Allah. Ingat lho, ada anak-anak yang masih sangat membutuhkan mbak Di."
"Tapi ..."
"Sudah, masalah yang tadi jangan dipikirkan dulu. Nanti kalau kondisi mbak Di sudah membaik, baru kita bicarakan baik-baik. Kami akan bantu menemani mbak Di. Kita selesaikan sama-sama."
Mendengar penuturan mbak Hana, membuatku gerimis. Bagaimana tidak, setelah usiaku kepala tiga, barulah menemukan orang yang benar-benar tulus dan memperlakukan aku layaknya seorang manusia yang berharga.
Mbak Hana nggak pernah mengatakan hal buruk padaku, bahkan meski aku selalu merepotkan dan pernah berprasangka buruk padanya.
"Pelan-pelan, kita selesaikan satu-persatu masalah dalam hidup mbak Di. Kita tata lagi semuanya agar jadi lebih baik." Kata mbak Hana, sambil tersenyum. Sebuah senyuman yang membuatku begitu tenang.
"Terimakasih mbak Hana." kataku, sambil menyeka sisa air mata.
Dua hari aku dirawat di rumah sakit. Selama itulah aku dirawat oleh mbak Hana dan suaminya. Mereka menjagaku dan anak-anak dengan sangat baik. Bahkan mbak Hana nggak keberatan menemaniku tidur di rumah sakit. Ia benar-benar seperti malaikat yang datang di saat tepat. Sebenarnya mbak Hana sudah menanyakan apakah aku ingin menghubungi Ben atau ibu, tapi aku menolak karena tak ingin menambah beban Ben ataupun ini.
"Mbak Hana, bantu saya ya. Tolong, tetap bimbing saya. Saya mau jadi orang baik." pintaku, sesaat sebelum kami pulang ke rumah.
"InsyaAllah mbak Di, aku akan bantu mbak Di agar jadi lebih baik. Kita sama-sama berdoa smwoga kehidupan mbak Di setwlah ini semakin jadi baik ya." kata mbak Hana, sembari menepuk pelan pundakku.
__ADS_1
Rasanya sekarang semua beban berat di pundakku hilang sebab ada mbak Hana dan suaminya yang akan membimbing dan menemaniku. Aku sudah bertekad, akan memulai semuanya. Aku benar-benar ingin jadi orang baik.