
Entah sudah berapa lama aku menangis, meringkuk di kamar setelah ditinggalkan oleh mbak Hana. Hatiku benar-benar patah atas sikap Ben tadi. Sakit sekali. Ia seperti tak memberiku kesempatan. Padahal aku sudah berusaha berubah. Aku ingin kembali menjadi istrinya.
Suara ketukan pintu membuat aku tersadar dari lamunanku. Tanpa peduli dengan mata yang sudah memerah, aku keluar, hanya menyambar kerudung instan, lalu berlalu menuju pintu.
"Mama ... Mama ... Mama!" teriak Caca. Begitu pintu dibuka, teriakan Caca berhenti. "Mama? Mama habis nangis?" tanya Caca lagi, sambil mendekat ke arahku. Dengan kedua tangan kecilnya ia memegangi pipiku.
"Di, kamu baik-baik saja?" Ben ikut bertanya, entah aku yang terlalu kegeeran atau bagaimana, aku bisa melihat kecemasan di wajah Ben.
"Nggak. Bagaimana aku bisa baik-baik saja." jawabku dengan nada ketus.
"Kamu kenapa? Perutnya sakit?" Ben masih berusaha mencari tahu. "Kalau sakit, kita ke rumah sakit ya. Kita cek, siapa tahu bayinya kenapa-kenapa. Mau ya, Di." Pinta Ben yang masih terlihat khawatir.
"Nggak, yang sakit itu hatiku!" ungkap ku.
"Kenapa?" Ben kebingungan.
"Kamu masih nanya Ben, setelah kamu ninggalin aku begitu saja kayak orang bodoh. Kamu fikir aku nggak punya hati dan perasaan Ben? Tega kamu, Ben. Aku udah berharap banyak, bahkan bela-belain dandan demi kamu. Malah kamu tuduh dandan untuk orang lain, terus kamu tinggalkan begitu saja. Jahat! Enak ya kalian, bisa jalan-jalan, senang-senang tanpa ngajakin aku. Ingat nggak Ben, dalam perut ini juga ada anak kamu."
"Oh, gara-gara tadi?" Ben tersenyum tipis. Dan itu membuatku makin terpesona.
"Ya." aku pura-pura ketus.
"Ya aku nggak tahu. Tadi ada Haris datang, kukira kalian sudah janjian. Lagipula kamu nggak bilang mau ikut, ya mana aku tahu kalau kamu ingin ikut. Aku kan nggak bisa baca pikiran kamu, Di."
"Kalau kamu nggak tahu harusnya kamu tanya aku dong. Aku itu nggak berharap pada laki-laki lain, Ben."
"Lalu berharap pada siapa?"
"Ya sama kamulah!"
Secara refleks senyum tersungging di bibir Di, tangannya bergerak hendak menjangkau kepalaku, tapi dihentikannya. "Kita belum halal. Kamu itu tetap saja kayak anak kecil, nggak berubah Di."
__ADS_1
"Lalu kapan kamu mau menghalalkan aku lagi?"
"Kamu yakin?"
"Ya. Atau kamu nggak percaya sama aku lagi, Ben? Kamu kan tahu, aku bukan tipikal perempuan yang gampang beralih dari satu lelaki ke lelaki lain. Aku sulit suka sama orang lain."
"Ya aku tahu itu. Tapi aku juga tahu kamu itu masih kekanak-kanakan, agak keras kepala dan ...."
"Egois? Iya, kan? Tapi aku akan berubah, Ben."
"Cieee papa mama." tiba-tiba Caca berceloteh, menciptakan semu merah di pipi kami. Terasa hangat dan indah sekali. "Mama sayang papa ya?" tanya Caca.
"Yap!" jawab Ben dengan keyakinan.
"Caca senang sekali kalau papa dan mama sudah baikan." ungkap Caca.
"Cici juga!" tambah Cici, tak kalah bahagia dengan Caca.
"Papa akan buktikan. InsyaAllah." jawab Ben.
"Terimakasih Ben!" kataku.
Aku dan Ben sama-sama sepakat akan menikah lagi saat bayi kami lahir. Sesuai dengan peraturan yang ada. Selama masa penantian ini, aku dan Ben sama-sama akan terus belajar agar kejadian di masa lalu tidak terulang kembali.
***
Satu-persatu pembeli yang berdatangan telah selesai kulayani. Kini warung kembali sepi. Hanya tinggal aku sendiri yang kembali fokus dengan tulisan di laptop. Tanpa sadar seseorang telah berdiri tak jauh dariku.
"Ibu?" aku menghampiri ibu. "Dengan siapa ibu kemari?" Tanyaku lagi.
"Di ... Diandra!" kata ibu dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Iya Bu."
"Apa kamu benar baik-baik saja? Kamu lihat kan, ini semua akibat ulah kamu. Ibu sudah payah mencarikan jodoh terbaik untuk kamu, setelah dapat malah kamu sia-siakan. Sekarang kamu harus menjalani hidup susah hanya karena ego kamu, Di.
Kalau kamu nggak bercerai dengan Ben, kamu nggak perlu jualan dan ngurus anak sendirian. Apalagi sedang hamil seperti ini. Ibu benar-benar sedih dengan kondisi kamu sekarang, Di. Tapi kamu itu keras kepalanya minta ampun, nggak pernah mau mendengarkan nasihat orang lain. Sekarang terasa kan susahnya bagaimana? Itulah mengapa ibu nyinyir sama kamu, Di. Supaya kamu nggak harus mengalami nasib yang sama seperti ibu. Paham nggak, Di!"
"Iya iya, Bu. Di paham." kataku, sambil menangis.
"Ben sudah cerita sama ibu bahwa kalian akan menikah lagi. Ibu senang mendengarnya Di, tapi tolong jangan bertingkah lagi. Kasihan anak-anak kamu, Di. Kamu sendiri juga capek, kan? Nggak ada yang lebih enak ketimbang punya suami yang baik dan Ben adalah lelaki yang baik.
Ia sampai minta didoakan supaya bisa memenuhi semua kebutuhan materi kamu, Di. Ia takut terulang kejadian yang lama. Kamu mengerti kan Di sekarang bagaimana Ben begitu serius sama kamu. Paham kan, Di? Dia itu sayang sekali sama kamu dan anak-anak. Susah kamu nemukan lelaki menggantinya, Di. Jangan main-main ya!" pinta ibu dengan berlinang air mata.
Nasihat-nasihat dari ibu menancap kuat di hatiku. Benar yang dikatakan ibu, Ben adalah lelaki terbaik untukku.
"Ayo kita perbaiki hubungan kita." kata ibu.
"Iya Bu." jawabku.
"Kamu mau makan apa? Hari ini ibu yang masakin, ibu sudah beli bahan-bahannya sebelum ke sini tadi. Ibu lihat kamu kurusan sekali. Pasti kamu terlalu lelah, kamu terlalu bekerja keras. Makanya, jadi orang harus nurut, Di ... Di!" meski aku dan ibu sudah saling bermaafan, tetap saja bawelnya ibu tak berubah. Hanya saja sekarang aku menanggapi dengan penuh ketenangan. Aku yakin ibu begitu karena rasa sayangnya padaku dan anak-anak.
"Ibu mau nginap?" tanyaku, sebab selain membawa satu kantong belanjaan, ibu juga membawa serta satu koper cukup besar.
"Iya."
"Kenapa ibu nggak ngomong dulu sama aku kalau mau nginap?"
"Memang kamu pikir ibu butuh izin dari kamu? Tentu saja tidak Diandra. Ibu akan datang, pergi, tinggal lebih lama sesuka ibu. Kan ada cucu kesayangan ibu di sini."
"Duh, ibu ibu." aku pura-pura ngambek, sementara ibu bersikap cuek.
Ibu terus masuk menuju dapur, semnetara aku kembali ke warung untuk menyelesaikan pekerjaanku. Sesekali terdengar teriakan ibu, entah itu mengeluhkan dapurnya berantakan, atau perabotan yang belum sempat aku cuci.
__ADS_1
Tetapi teriakan itu kini tak lagi menyakiti hatiku. Teriakan itu bak nyanyian kasih sayang seorang ibu. Kini aku menyadari, setiap orang punya cara yang berbeda dalam menyayangi.