ApakahKau Bahagia?

ApakahKau Bahagia?
Jodoh yang bukan pilihan


__ADS_3

RASYID POV


Gadis kecil itu kenapa harus dia?


hati ku yang terluka atas pengkhianatan istri ku terlalu rapat tertutup, orang baru tidak akan mudah memasuki nya, apalagi dia gadis kecil yang walaupun sangat manis tapi apakah ibu tidak salah memilih kan dia untukku, lihatlah dia, dia masih anak anak.


dari ibu ku aku tau umurnya masih 14 tahun, dan bahkan ibuku berpesan untuk jangan menyentuhnya dulu sebelum dia benar benar cukup umur atau mendapat siklus pertanda dia sudah akil baligh.


aku geli sendiri memikirkan aku punya istri tapi malah seperti punya anak asuh, aku harus mengurus nya tapi dia anak anak yang belum boleh aku sentuh, sungguh sangat konyol.


saat dia datang ke rumahku bersama ibunya, dia terus saja menundukan kepala, dia hanya sesekali mengangkat kepala nya saat menjawab pertanyaan dari ibu ku, dia menjawab dengan maplu malu lalu kemudian menundukan wajahnya lagi, hahh... ya ampun ini sungguh konyol.


Tapi ibuku terus saja meyakinkan ku agar aku mau membuka hati ku untuk gadis kecil itu dan melupakan Dena mantan istri ku yang laknat itu. tapi entahlah aku tidak yakin bisa mencintai gadis kecil itu sebagai istri, dia mungil dengan hidung pesek walau dia sangat manis.


Hari yang ditetapkan pun tiba, aku duduk disamping dia gadis kecil itu yang akan menjadi istriku dan baru saja ku tau namanya Titi Rashawi, dia tampak cantik mengenakan kebaya brukat warna putih dan kerudung dan rok berwarna emas.


aku sempat terpana dia sungguh tampak cantik hari ini, ada desiran aneh di hatiku, tapi aku tetap bisa bersikap biasa saja, aku ucapkan ijab kabul dengan lancar walau sebenarnya hatiku sangatlah gugup, walau ini pernikahan ku yang kedua tapi rasanya sangat menegangkan, dan dia sekarang sudah aku bayar tunai sampai SAH.


Tidak ada pesta besar layaknya pesta pernikahan, yang ada hanya acara syukuran kecil setelahnya, kami hanya berkumpul dan makan bersama dengan keluarga.

__ADS_1


pesta usai, sebagian tamu sudah pulang dan sebagian lagi ada yang menginap, aku mengajak istri kecilku ke kamar pengantin di sertai sorakan dan saudara saudar ku yang menginap, mereka bilang aku sudah tidak sabar, mereka tidak tau ibu ku sudah mewanti wanti tentang kau yang belum boleh menyentuh nya, tidak lupa ibu memberi kan isyarat mata mengingatkanku tentang hal itu lagi.


ini sungguh absurb, tapi seperti nya ini tidak akan terlalu sulit untuk menahan diri karena ya.. dia itu masih terlihat seperti anak anak, tidak menggairahkan. aset kembarnya saja masih kecil dan belum terlalu terlihat,


pyuhh...


Dan benar saja, walau pun kami tidur satu kamar dengan berbagi tempat tidur ternyata aman aman saja, perkutut ku tidak terbangun, dia tidur di sangkarnya dengan anteng.


untung saja.


Hari demi hari kami lalui bersama dia sangat manis dan penurut, kami selalu bersama kemanapun pergi, bahkan ketika aku pergi ke ladang untuk bekerja pun dia melilih ikut walau harus berpeluh peluh dan berpanasan, dia dia seperti mantan istriku yang takut kulitnya menjadi hitam karena terbakar matahari.


Dan ketika suatu hari dia berteriak sambil memanggil manggil aku dari arah kamar mandi, aku sudah panik ku kira dia jatuh dan terluka tapi ternyata dia berdarah dan dia sudah mendapatkan tamu bulanan nya, rasanya aku ingin berjingkrak jingkrak karena senang tapi aku tetap bersikap biasa saja, aku memberi tau nya tentang hal itu dan hal hal yang harus di lakukan untuk menjalani prosesnya.


aku duduk di tempat tidur sambil berpikir, sebentar lagi setelah tamu itu pergi aku akan mendapatkan hak ku sebagai suami, hati ku sangat gembira sampai aku selalu ingin tersenyum.


(lagi puasa Mp nya skip dulu)


setelah mendapatkan hak ku sebagai suami, entah kenapa sekarang giliran aku yang selalu ingin dekat dengannya, aku bahkan melarang dia untuk menginap di rumah ibu Irma ibunya, aku tidak nyaman dan tidak mau tidur tanpa guling kesayangan ku.

__ADS_1


semakin hari dia tampak semakin cantik di mataku.


sampai suatu hari musibah itu datang, ibu Irma ibunya meninggal, dan aku melihat dia selalu saja menangis diam diam.


aku selalu menghampiri dan memeluk nya, mengelus rambutnya agar dia bisa berhenti untuk menangis, aku ingat saat aku mengajak dia ke acara khitanan anak ku Robi, dia disana di rendahkan oleh mantan istriku dan bahkan Robi tidak mau menyalaminya, dia terlihat sedih dan malu, tapi dia tidak menangis, dia sangat kuat, dia sangat tegar, tapi dia sekarang terlihat sangat rapuh seperti kehilangan semangat hidupnya, seperti kehilangan separuh nyawanya.


aku tau ibunya sangatlah berarti baginya, tapi apa dia tidak bisa melihat dan merasakan ada nya diriku, aku berjanji akan selalu ada untuknya.


''De apa kamu tidak capek nangis melulu? Mas tau kamu sedih karena ditinggalkan ibu, tapi kan masih ada mas disin, dan mas akan selalu ada di samping mu, selalu,''ucapku lirih sambil ku elus rambutnya yg hitam legam lurus dan lebat.


''iya mas makasih ya, aku juga tidak tau kenapa tapi kok hatiku rasanya sedih terus mas, kaya yang air mata ku itu jatuh terus dengan sendirinya, sebenarnya aku sudah ikhlas dengan kepergian ibu, tapi entah kenapa aku selalu menangis''sahutnya sambil mengelap airmata yang masih saja terus berjatuhan.


''apa kamu mau mengunjungi makam ibu mu, ayo besok mas antar'' bujukku


''benarkah mas, mas mau menemani aku ke makam ibu?''


''ya benar lah, apa sih yang enggak buat istriku sayang'' bujukku lagi.


''ih si mas mah gitu, aku jadi malu'' sahutnya lagi sambil tersenyum lalu memalingkan wajah nya yang bersemu merah, dia sangat menggemaskan, boleh kali ya dia ku ajak olahraga biar sedihnya hilang hehe... '' pikirku.

__ADS_1


ku tarik wajahny agar dia menatapku, ku tatap wajahnya dengan lekat dan ku sentuhkan bibirku ke bibirnya, lalu ku ***** perlahan dan ketika dia memberikan balasan respond lalu kulanjutkan dengan olahraga untuk melupakan kesedihan.


__ADS_2