
TITI POV
Kalau ada yang bertanya padaku "Titi apakah kau bahagia?" Aku pasti akan menjawab dengan yakin kalau aku bahagia
Yah... lihatlah apa yang kurang dari hidupku, kata anak jaman now mah ''Nikmat mana yang kau dustakan''
Memang suamiku pernah menorehkan luka yang di hatiku, bukan hanya sekali bahkan berkali kali, tapi aku pun tidak bisa memungkiri bahwa mungkin saja aku juga pernah melakukan kesalahan
Tidak ada yang sempurna didunia ini karena kesempurnaan hanya milik Allah dzat yang maha segala-galanya
Aku dengan bangga mengatakan kalau aku mempunyai 3 orang anak yang tampan dan cantik, dan mereka anak anak yang sholeh dan sholehah Aaminn
Masa lalu biarlah berlalu, dimasa datang semoga kami semua, aku, suamiku,dan anak anakku mampu untuk menahan godaan godaan yang akan selalu ada
''Ma mama kamu dimana? ini ada tamu mah''seru suamiku seraya berjalan ke arah kamar terdengar dari suara langkah kakinya
''Aku disini mas, di dalam kamar mandi'' serunya dari arah kamar mandi dalam kamar
Ceklek
Suara pintu kamar terbuka dan terdengar derap langkah kaki, aku mempercepat proses mandiku dan segera berpakaian, saat itu aku sudah sekalian membawa bajuku kedalam kamar mandi, selesai berpakaian kemudian keluar dengan rambut yang masih basah dan di balut dengan handuk
''Siapa tamunya mas?'' saat aki keluar dari kamar mandi suamiku sudah berada di dalam sedang duduk di tepian tempat tidur menungguku, dia tersenyum dan menjawab
''Hendra itu de, katanya dia tau kamu sakit dari Robi''ucap suamiku tapi dengan raut wajah yang tidak bisa ku artikan
''Ohh ya sudah aku mau nyisir rambut dulu, kalau kamu mau keluar duluan ya sana ngga papa''ucapku, kupikir kasian A Hendra nungguin lama sendirian
''Enggak papa.. aku keluar bareng kamu aja"ucap suamiku, dengan mata yang terus memandangku dalam, senyum terlukis dibibirnya, tapi sesaat kemudian aku melihat tatapan seolah dia sedang gusar karena suatu hal
''kamu kenapa mas? kok kayak ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku, bukannya kamu sudah janji ya... mau lebih terbuka sama aku''ucapku menyelidiki apa yang sebenarnya membuat suamiku tampak gusar
''Eumm enggak apa apa sih, cuma tadi Hendra itu kok kayak yang khawatir nya sama kamu berlebihan, kaya yang khawatir sama istrinya sendiri, tadi aja dia maksa mau nerobos masuk kamar, kalau aku nggak cegah''ucapnya dengan nada penuh kecemburuan
__ADS_1
Aku heran mendengarnya, tapi juga merasa lucu akan sikap cemburu nya, dia memang pencemburu dari dulu, siapa sih orangnya yang mencintai pasangannya yang tidak akan cemburu saat pasangan mereka di perhatikan oleh orang lain, atau memperhatikan oranglain?
Pada dasarnya aku juga begitu!
''Ya udah sih mas, yang penting kan sikap akunya bukan sikap dianya, kamu nggak usah baper deh... kita ini sudah tua lah, malu sama anak anak kalau mereka tau
Suamiku hanya mencebikan bibirnya tanpa berkata lebih lanjut, aku lalu mengajaknya keluar setelah pakaian ku rapi
''A Hedra apa kabar?'' saat keluar dari kamar,aku sudah disuguhi penampakan wajahnya yang terlihat benar benar khawatir padaku, dia langsung berdiri dan menghampiri ku, aku juga merasa sikapnya agak berlebihan
''Kamu kenapa Ti? sakit apa? kok ngga bilang bilang kalau kamu sakit? kalau aku nggak telepon Robi padtiwaku ngga akan tau kalau kamu sakit''wow.. dia langsung memberondongku dengan pertanyaannya
Aku sampai bengong mendengar rentetan pertanyaan Hendra, dan aku juga mendengar Mas Rasyid mendengus
''Aku sudah nggak apa apa, kamu tidak usah khawatir, kan ada suamiku yang selalu menjagaku, sudah duduk dulu ayok'' aku berusaha menenangkannya dia bahkan mengangkat tangannya seperti hendak mengelus kepalaku, dan aku melihat dengan ekor mataku kalau mas Rasyid sudah mengetatkan giginya, aku segera menghindar dari agar sentuhan Hendra tidak bisa menggapai ku
Aku berjalan ke arah ruang keluarga, karena Hendra itu sudah kuanggap sebagai keluarga,ya.. karena dia ayah kandung daei Robi, aku tidak boleh tidak menghormatinya karena sikapku akan dilihat oleh anak anakku dan mungkin ditiru oleh mereka
''Ayo A silahkan duduk dulu, mas sini mas duduk dulu''Aku mengajak dua pria itu duduk, agar tidak canggung aku langsung duduk di sofa single dan membiarkan mereka duduk berbeda tempat dariku
''Kopi aja Ti, kalau ada hehe'' ucap Hendra, sebenarnya aku tau A Hendra suka sekali dengan kopi buatanku tapi aku tanya aja, biar ngga dianggap hapal banget kesukaan Hendra oleh mas Rasyid, bisa bisa suamiku itu manyun.
''oke aku buatin, kamu mau juga mas?" Aku menawari juga Mas Rasyid, padahal aku sudah duga kalau dia pasti mau, dia tidak akan mau kalah dari Hendra
''Iya dong sayang mas mau! yang seperti biasa sayang buatkan untuk mas setiap hari''ucap Mas Rasyid yang seakan sengaja menunjukkan posisinya
Hendra hanya mencebikan bibirnya dan aku hanya menaikan sebelah alisku, haha dasar mas Rasyid ini..
''Iya mas aku bikinin, tunggu bentar ya!'' aku pun segera beranjak pergi, dan sembari membuat kopi aku terpikirkan bahwa bagaimanakah nanti pas mas Rasyid menjemput anak anak, kan jadinya aku cuma berdua dirumah sama A Hendra, dan terlintas sebuah ide di benakku
Ku raih handphone yang ada di saku baju bagian sampingku, saat ini aku memakai baju gamis rumahan yang sederhana
''Assalamualaikum bi.. bibi bisa tolong kesini sejam lagi nggak?''
__ADS_1
''....''
''Iya bi aku butuh bantuan bibi, kalau mas Rasyid dan anak anak sudah kembali pulang, bibi sudah boleh pulang juga, ngga ada pekerjaan berat kok bi''
''.....''
''Iya makasih bi, saya tunggu ya, wasalam''
''....''
Dan aku pun segera membuat kopi untuk kedua pria besar yang sedang ngobrol, entah apa yang mereka obrolkan, mereka sebenarnya dua orang yang kompak dalam beberapa hal, tapi kalau ada didekatku aku merasa mereka siap berperang
''Ini kopinya sudah jadi.. ayo du minum dulu, selagi masih panas, ditemani biskuit aja ya, aku belum sempet bikin camilan!''
''ngga papa sayang''
''ngga papa Ti''
Dua orang pria itu pun menjawab dalam waktu yang hampir bersamaan
''Sebenarnya kamu sakit apa sih Ti? kata Robi kamu kemarin terlihat sangat mengkhawatirkan''Ucap Hendra dengan menatap Wajahku lekat, aku duduk di sofa single yang tadi dan dia duduk di sofs yang ada di samping sebelah kananku, sedangkan mas Rasyid duduk di sofa lain sebelah kiriku
''Kata Dokter Dani aku cuma kecapaian, dan sekarang aku udah baik baik aja kok, kamu nggak usah khawatir!''
''Syukurlah kalau begitu, ohh iya Ti sekarang aku lagi merintis bisnis baru loh, kamu do'akan ya semoga bisnisku lancar'' aku tersenyum mendengar penuturnya, sebuah hal baik apabila orang mau berkembang dan memulai sesuatu yang baik walaupun itu hal baru
''Kalau boleh tau bisnis apa A? ''Tanyaku penasaran, dia kelihatan yakin dan percaya diri saat mengatakannya padaku tadi
''Sebenarnya aku menguasai bahasa inggris dengan baik, aku juga punya sertifikat yang mengatakan kalau aku bisa mengajar anak anak SD,SMP,dan SMA, jadi ya aku buka tempat les bahasa Inggris, dan alhamdulillah lumayan banyak yang berminat dan mendaftar, sekarang murid less ku sudah ada 50 orang uang yang aku bagi sesuai tingkatan kemampuan dasar mereka''ucapnya dengan bangga membeberkan kemajuan hidupnya
''Alhamdulillah ya A, aku ikut gembira, semoga semuanya lancar, dan kita semua diberikan kesehatan oleh Allah swt Aaminn''
''Aaminn''
__ADS_1
''Aaminn''
♡♥Bersambung♥♡