
Rasyid pov
Aku harus menyelesaikan masalah Dena yang kalau di Biarkan akan berlarut larut, dia itu tipe wanita ngeyel dan mau menang sendiri saja.
setelah pagi aku pergi dengan mengatakan pada istri kecilku bahwa aku akan pergi sebentar,tapi kenyataannya aku harus mengantar kan Dena ke rumahnya yang bisa memakan waktu satu jam perjalanan, sebenarnya aku merasa was was keingetan pasti istriku yang sedang mengandung itu kepikiran terus, menunggu ku pulang dan bahkan mungkin aja bisa marah, tapi ini juga demi dia dan anak kami ,aku harus mengantarkan mereka.
pada awalnya Dena terus saja menolak untuk pulang ke rumah nya,dia bilang dia rela jadi istri kedua ku, ini sungguh sangat konyol, dulu dia meninggalkan ku tanpa rasa berdosa dan sekarang minta rujuk walau jadi istri kedua? dia sepertinya sudah gila.
Tentu saja aku tidak mau, pertama karena aku tidak akan bisa adil kepada dua istri, dan lagi pula aku sudah tidak mencintai Dena,hatiku cuma terisi oleh wanita imut berambut tebal nan hitam legam dia sangat manis dan menggemaskan walau dia agak sedikit pesek,yaitu seorang Titi Rashawi
Aku mungkin bisa memaafkan kelakuan jahat Dena tapi untuk kembali memperistri dia itu hal yang tidak mungkin aku lakukan. kalau mau di katakan jelas jelasan aku tuh benci padanya karena sakit hati itu, tapi ada Robi di antara kami, jadi mau tidak mau aku tetap harus berhubungan dengan mereka,Robi adalah anakku tanggung jawabku.
sebenarnya kadang aku berpikir mungkin Robi itu bukan anakku karena dia lahir 7 bulan setelah pernikahan, dan pas malam pengantin aku dan mantan istriku dulu aku menemukan kalau istriku sudah tidak peraw*n karena tidak ada bercak darah setelah kami melakukan itu untuk pertama kali nya, saat aku tanyakan pada nya dia bilang dia pernah jatuh dari sepeda dulu waktu sekolah SMA, dan aku percaya.
Robi tidak mirip dengan ku dia cenderung mirip Dena 90% dan 10% persen nya mirip aku di sifat.
Tapi aku percaya bahwa Robi adalah anakku walau seringkali aku terbesit rasa janggal karena aku merasa Robi mirip dengan seseorang yang aku lupa siapa dia, dan perah melihatnya dimana.
kami sampai di rumah orang tua Dena pada jam 3 sore hari, aku berbicara pada ayahnya Dena semua apa yang terjadi tidak ada yang aku tutupi,aku juga bilang ke mereka kalau Robi mau dia sangat boleh ikut tinggal denganku dan istri ku, karena kulihat Robi juga bisa dekat dengan Titi, tapi Dena tidak mengizinkan,dia bilang dia tidak rela anaknya di asuh oleh wanita miskin jelek seperti Titi.
__ADS_1
Apa boleh buat aku tidak bisa memaksa untuk membawa Robi bersama ku untuk ku asuh. setelah itu aku bergegas untuk pulang,aku sudah merindukan istriku, aku rasanya sudah ingin memeluk dan mencium pipi tembem nya,aku berjalan dengan tergesa, berjalan satu jam perjalanan itu sangat melelahkan,aku berpikir untuk membeli sepeda motor nantinya setelah uang yang ku tabung cukup.
kalau ada motor kan mau ke mana mana bisa cepat sampai, yaa... walaupun aku jadi harus beli bensin terus, itulah hidup selalu ada harga yang harus di bayar agar semua lebih mudah,tidak ada yang gratis.
Sampai dirumah kok rumah dalam keadaan sepi dan bahkan pintu tidak terkunci,aku masuk mencari istriku di setiap ruangan,aku memanggil-manggilnya tapi tidak ada jawaban,kemana dia? apa mungkin dia lagi ke warung untuk membeli sesuatu atau pergi ke kemana?
Atau jangan jangan dia pergi ke rumah ibu untuk menyusul ku,aduh gimana nih! tapi aku merasa badanku sangat lengket baiknya aku mandi dulu lalu kemudian mencari Titi.
Saat aku mandi aku mendengar bunyi pintu di buka dan di tutup dengan keras, aku sampai karena kaget aku beristighfar di kamar mandi,aku buru buru menyelesaikan mandiku dan kembali ke kamar ku, saat aku sedang memakai baju ku tiba tiba ada seseorang memukulku dengan gagang sapu
Dan dia ternyata adalah istriku yang mengira aku adalah maling, haha.. aku kesal tapi juga ingin tertawa melihat seorang wanita mungil dengan perut besar dengan mata melotot kalap memukulku membabi buta.
Dia sempat berpikir bahwa aku akan meninggalkan nya, sungguh lucu istri kecilku mana mungkin aku meninggalkannya karena aku yang sekarang tidak bisa tidak melihatnya melebihi satu hari, seakan bayangan nya bergelayut manja di bulu mataku, seakan suaranya terngiang-ngiang memanggilku manja dengan raut wajah malu malu, sungguh menggemaskan!
Rasyid pov end.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tidak terasa waktu telah berlalu sekarang kandungan istriku sudah di bulan ke sembilan dan tinggal menunggu kelahirannya yang bisa saja pagi siang atau malam,Rasyid terus saja menjadi suami siaga (siap antar jaga),dan pada hari kamis malam jum'at tiba tiba Rasyid dikejutkan dengan keadaan istrinya, dia yang awalnya pergi ke warung sebentar untuk membeli kebutuhan rumah yang hampir habis dan Titi tidak mau ikut serta dia bilang seperti sedang tidak enak badan,tapi Rasyid terpaksa harus tetap pergi karena stok bahan makanan sudah sangat menipis,dan saat kembali dari warung aku menemukan istriku sedang duduk di sisi tempat tidur memegangi perutnya sembari meringis seperti menahan sakit.
__ADS_1
''kamu kenapa de?''
''perut aku mulas mas,tapi saat aku pergi ke toilet aku tidak bisa BAB cuma selalu pipis sedikit sedikit,''
''jangan jangan kamu mau melahirkan de?"
''mungkin juga si mas''
''ya sudah ayo kita pergi ke rumah bu Bidan sekarang juga''
''ayo mas, jangan lupa bawa perlengkapan yang adek siapkan di tas itu mas''
''iya de ayok'' Rasyid buru buru mengeluarkan sepeda motor yang baru mereka beli satu bulan yang lalu.
walau rumah bu bidan dekat tapi untuk menghemat waktu tetap saja Rasyid menggunakan sepeda motor.
sampai di rumah Bidan Titi langsung di bawa ke tempat periksa dan Bidan mengatakan kalau iya Titi akan segera melahirkan dan pembukaan jalan lahir sudah di pembukaan 4 masih perlu menunggu beberapa jam lagi, Bu Bidan menganjurkan Titi untuk berjalan jalan dulu di sekitar ruangan agar membantu pembukaan lebih cepat,tapi Titi merasa pusing saat kontraksi terjadi,jadi bidan mengatakan berbaring miring ke kiri aja tidak apa apa.
Beberapa saat kemudian Titi merasakan tidak mampu lagi menahan sakit, rasanya semakin sakit saja,Rasyid memanggil Bidan lagi untuk melihat apa sudah saatnya melahirkan apa belum,dan Bu Bidan mengatakan iya.. sudah saatnya untuk melahirkan sekarang jalan keluar bayi sudah pembukaan sempurna yaitu pembukaan sepuluh.
__ADS_1
Bu Bidan meminta Asistennya untuk menyiapkan tempat persalinan segera dan langsung membawa Titi keruangan tersebut dan proses melahirkan pun terjadi dengan penuh drama dan air mata karena Rasyid harus jadi pelampiasan rasa sakit Titi, tangannya Rasyid harus jadi korban remasan saat setiap kontraksi datang, dan sang bayi lahirlah...