
Titi mengeluarkan handphone nya sambil sesekali mengusap keringat yang mengucur deras di dahinya, mendial nomer suaminya
Tut tut tut
nada sambung terdengar merdu tapi Rasa nya seperti terompet rusak di telinga Titi yang sudah mulai di jalari emosi, entah kenapa dengan mendengar bahwa si elur keket Dena ada di tempat yang sama dengan mereka timbul negatif thinking nya
teringat bahwa ibu dari Robi yang selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan kalau berada di dekat suaminya
''Hallo mah, mama di mana? ayah cariin dari tadi?'' suara Rasyid terdengar di seberang sana dan ehh.. ada suara si uler lagi nawarin minuman (''mas mau minumnya apa mas?''suara Dena, aku hafal betul suara dia
''Ayah dimana? mama mau pulang sekarang juga,mana kunci motornya? kalau mas lagi sibuk aku mau pulang sendiri saja!"seru Titi
''Eh jangan dong mah, kita pulang bareng aja!''suara Rasyid terdengar panik dan bingung
''Ya sudah cepetan ayo.. SEKARANG!'' Dan terdengar suara dari seberang sana lagi "(mas ini minumnya aku pesenin sesuai kesukaan kamu'') dan Rasyid menjawab ''iya sebentar mama nya Putra lagi telpon ini'' suara percakapan mereka yang tersengar jelas olehku malah membuat Titi semakin emosi, apa yang di bilang oleh Rasyid bahwa Titi adalah ibunya Putra memang benar tapi terdengar seperti mengatai dirinya orang lain.
Hendra menatap nya sembari masih berdiri diam di dekat Titi, kemudian Titi memalingkah wajahnya yang gusar agar tak terlihat oleh Hendra tapi sialnya Hendra bisa melihat dengan jelas, Titi menutup sambungan teleponnya menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya, dia sudah tidak sabar, kadang kalau di pikir Titi juga heran karena dia selalu tidak bisa mengontrol emosinya kalau berhubungan sama Dena kenapa? apa karena dia merasa insecure, dan dia selalu merasa takut kalau suaminya berpaling darinya dan kembali ke masa lalunya *masih masalah yang sama
Ini sudah 5 menit dan Rasyid belum sampai di tempatnya, Titi akhirnya memutuskan untuk pulang sendiri saja, dia menoleh ke kanan dan kiri mencari kang ojeg, dia tidak sadar kalau Hendra masih di sana sampai Hendra menepuk bahunya pelan, dan membuat Titi jadi terperanjat kaget
''Astagfirullah haladzim... A Hendra masih di sini? kok ngga nyariin si uler.. ehh aaf nyariin Dena, katanya tadi Aa bilang Aa sama dia ke pasarnya?''
''Dia lagi sibuk sendiri,aku telpon aja nggak di angkat'' Hendra menjawab dengan nada suara yang juga kesal
''Loh kok?" Titi ingin bertanya tapi dia mengurungkan niatnya
''Kamu cari apa tengak tengok? Suami mu kayaknya masih sedang minum sesuatu'' jawaban Hendra membuat Titi menggertkaan giginya
''Aku nyari kang ojeg A''sambar Titi cepat
''Ga usah nyari kang ojeg, ayo aku antar pulang''Titi tercengang tapi melihat peluang disini, dia ingin tau reaksi suaminya kalau dia dekat dengan orang lain
__ADS_1
''Ayo A antar aku, aku udah capek banget ini''sambar Titi langsung yang mana membuat Hendra tercengang sepersekian detik.
Dan dengan hati yang dongkol Titi pun pupang bahkan mempersilahkan Hendra mampir walau hanya di minta untuk duduk di teras dan di temani salah satu pekerja laki laki yang biasa bertugas membawa hasil panen ke pasar dengan mobil pick up
mobil pick up yang mereka gunakan adalah mobil sewa punya tetangga, mereka berencana untuk membeli nya setahun yang akan datang, menunggu uang nya cukup untuk bayar cash.
Titi menyajikan minuman dan beberapa kue yang di beli Titi tadi di pasar, lalu dia masuk ke rumah, mengganti baju yang basah oleh keringat dan mengurus keperluan Putra.
Terdengar bunyi suara motor Rasyid berhenti di depan Rumah tapi Titi tidak perduli, dia malasss sekali untuk melihat wajah suaminya.
Setelah meminta tolong pada pekerja untuk menyimpan pupuk dan Benih baru yang di beli di pasar tadi, Rasyid melihat ada Hendra disana, mereka bersitatap tapi tidak ada yang mau kalah, dan terjadilah perang tatapan mata, tiba tiba seorang pekerja yang biasa di panggil mang yakub menginterupsi perang mata tersebut dia menanyakan benih mana yang akan mereka tanam nanti sore dan yang mana untuk besok.
Rasyid memalingkan pandangan nya pada mang Yakub kemudian menjelaskan apa yang di perlukan, kemudian berjalan kearah teras, mengajak Hendra bersalaman dan berbasa basi mengucapkan terima kasih karena sudah mengantarkan istri dan anaknya pulang, dan jawaban Hendra sungguh menohok hati Rasyid, dia menjawab
''Ya tidak apa apa, saya dengan senang hati mengantar MAMA NYA PUTRA untuk pulang karena merasa kasihan melihat nya.. terengah engah bermandikan keringat, menggendong anak kecil dan membawa belanjaan satu keranjang besar penuh, sedangkan orang yang seharusnya ingat untuk membantu nya malah entah dimana" Hendra menjawab dengan wajah datar dan tatapan tajam kemudian meneruskan omongannya
''Sepertinya anda Mas Rasyid sangat cocok dengan Dena, dia meminta saya mengantarkan nya ke pasar dan karena dia bertemu dengan anda di sana kemudian dia melupakan keberadaan saya, bukankah anda juga sama? melupakan keberadaan anak dan istri anda karena bersama Dena? Saya tidak perlu mendengar jawaban anda,, saya permisi'' Hendra beranjak pergi melewati Rasyid juga dengan sengaja menabrakan bahunya sedikit ke bahu Rasyid, Rasyid termenung diam mencerna semua yang terjadi, dia ingat istrinya menelpon dan mengatakan ingin pulang sekarang, dia tidak tau kalau istrinya sungguh kerepotan tadi, dia hanya menyempatkan minum kopi yang Dena pesankan untuknya dengan terburu buru dan masih panas, lalu segera beranjak keluar, tapi pada saat dia mencari istrinya dia tidak menemukannya
Rasyid bergegas pergi ke dalam rumah dan mencari keberadaan istrinya, dan menemukan putranya yang sedang duduk di depan televisi sambil memakan biscuits kesukaannya,dan Titi ada di sana sedang duduk memeriksa pembukuan
RASYID POV
Aku mendekat dengan ragu padanya, ku tatap wajahnya dari depan dan posisi dia sedang menunduk, aku semakin mendekat, aduhh... auranya kok sangat mencekam PASTI dia kalau di tanya akan diam saja inih, Aduh aku harus bagai mana.. aku diam saja berdiri mematung, dia menengadahkan wajahnya dannnn....
Ehhh dia senyum.. manis sekali..
tapi aku kok malah merinding, seperti dia bukan dia dannn...
ternyata dia sudah mengganti bajunya dengan baju seksi kesukaanku, tatanan rambut yang menggoda, dia mengedipkan matanya padaku, ehh.. dia seperti bukan dia
''De.. kamu lagi ngapain?'' dia tersenyum manis lagi dan menjawab
__ADS_1
''Aku lagi nge cek pembukuan mas,'' jawabnya dengan suara yang terdengar sepertiii desahan.. oh my god!
''Nanti aja lah de emang nya kamu nggak capek?'' saat aku bertanya seperti itu aku melihat kilatan kebencian di matanya tapi hanya sesaat, kemudian menjawab
''Aku capek? aku tuh nggak pernah ngerasa yang namanya capek mas, aku itu selalu siap memenuhi semua tugas ku, kewajibanku tanpa rasa capek, kata capek itu sudah aku hapus dalam kamusku, seperti halnya aku menghapus rasa yang tidak nyaman saat menemukan mu bersama Ul*r itu, SELALU SAJA BEGITU'' kata kata itu kemudian di sertai senyum manis lagi, dan kemudian dia beranjak mendekatiku menaruh tangannya di dadaku dan mengusapnya pelan,
''Mas mau aku buatin kopi? mungkin di tambah sedikit sianida akan lebih enak dari kopi yang kamu minum sama mantan mu itu.. bagaimana? dia menatapku lekat dengan mengangkat satu alisnya
''Mas sudah minum kopi tadi de''dan jawaban salah yang fatal! Titi mendorong tubuh Rasyid dengan kencang, dibelakang nya terdapat kasur yang biasa di gelar untuk menonton televisi, Rasyid jatuh terlentang, Titi kemudian merangkak mendekati nya dan berbisik
''Berani kamu sekali lagi minum kopi buatan orang lain dan menolak kopi buatanku aku tidak akan segan segan untuk memberimu Racun di makananmu mas, kesabaran ku ada batasannya, kamu selalu mengulang kesalahan yang sama, sekarang aku tidak akan pernah menangis lagi untuk hal seperti ini, aku bukan Titi Rahhawi yang dulu mas, kamu harus TAU'' Titi beranjak dan menghampiri anaknya yang sedang menonton acara kartun di televisi sehingga tidak menyadari adanya drama yang terjadi di sekitarnya, dan mereka berdua masuk ke kamar, ini siang hari dan ini jadwalnya Putra untuk tidur siang.
Rasyid tetap dalam posisi telentang tak beranjak, dia sangat takjub dab kaget dengan perubahan istrinya, dia seperti menemukan sisi lain dari istri kecilnya, dia merasa terlalu meremehkan sikap cemburu istrinya yang selalu meledak saat bersinggungan dengan Dena
Tiba tiba Titi keluar dengan pakainnya yang sangat membuatnya terlihat dua kali lebih cantik, ohh dan dia juga memakai make up! sejak kapan dia belajar make up, dia cantik sekali!
''Kamu mau kemana De? Putra tidur ya?'' aku segera beranjak menghadang nya, karena sepertinya dia mau pergi karena dia membawa tas kesayangannya.
''Minggir mas aku mau ke SALON, mas selalu tidak bisa mengabaikan Dena kan? Dena sangat cantik kan? aku juga bisa cantik seperti Dena mas! kamu mau bukti?''
''Mau ke salon ya ngga papa, mas antar ya?'' bujuk Rasyid, dia tidak perlu mengkhawatirkan Putra karena dia nanti akan di jaga oleh mba siti istri dari kang Yakub kalau mereka perlu untuk pergi tanpa membawa Putra
''Tidak perlu mas, aku sudah telpon A Hendra buat antar aku ke salon'' Titi berbohong padahal dia mau pergi sendiri, Rasyid tercengang kemudian dengan cepat menarik tangannya Titi
''Kenapa harus sama Hendra, Mas juga bisa antar kamu''Rasyid sangat kaget, apa apaan istrinya mau pergi sama orang itu lagi
''Karena A Hendra yang menawarkan diri, supaya aku kalau butuh bantuan, bisa minta tolong dia,''Titi bohong lagi
'' Ngga ada ngga ada ngga boleh, sama Mas aja''
''iihhh ngga mau!''
__ADS_1