
♡Selamat membaca♥
Mereka duduk berdua di sebuah cafe pada akhirnya, dengan dua cangkir kopi yang sudah hampir dingin karena dua orang itu hanya diam mematung di posisi mereka bahkan sejak setengah jam lalu
Hanya ******* nafas berat yang sering kali mereka keluarkan,berharap beban berat yang menghimpit hatinya bisa sedikit berkurang,dan Titi sudah hampir tidak tahan dengan keadaan ini,canggung dan malu, kenapa malu? malu karena perbuatan suaminya!
Sedangkan bagi Hendra, perasaan marah lah yang mendominasi, merasa miliknya disentuh laki laki lain *padahal sih wanita itu bukan milik Hendra, bahkan status mereka saja tidak jelas.
''Apa sekarang A Hendra baru percaya dengan apa yang sudah aku katakan saat dirumah tadi pagi?, segitu percaya nya kamu sama dia? atau mata hati kamu yang sudah buta? dilihat dari segi mana pun wanita itu adalah wanita murahan, berbanding terbalik dengan barang barang bagus yang dia pakai ditubuhnya saat bepergian''ucap Titi sarkas dan sinis
Hanya ******* nafas berat dan gerak tubuh gusar yang dilakukan Hendra sebagai jawaban
''Lalu apa yang akan A Hendra lakukan setelah ini?''tanya Titi menambahkan
''Aku akan meminta penjelasan pada Cici, apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa?''jawab Hendra
''Jadi kamu pikir Cici masih pantas diberikan kesempatan apabila dia bisa meyakinkan kamu bahwa semua yang terjadi bukan salah dia?''tanya Titi heran
''Ya bisa jadi seperti itu, kami bersama bukan hanya sebulan dua bulan Ti, sudah lebih dari setahun, dan dia tidak pernah menunjukan gelagat mencurigakan selama ini''bela Hendra dengan yakin
''Kamu yakin A?, bisa jadi juga kan, kamu nya yang terlalu percaya pada dia, sehingga kamu mengabaikan hal hal kecil yang ada,yang sebenarnya bisa menjadi petunjuk tentang kelakuan dia dibelakang kamu''
''Entahlah Ti, aku pikir dia wanita baik baik, dia juga kan sibuk kerja, bahkan malam aja sering banget dia lembur,sampai susah kalau diajak ketemuan, tapi kalau aku telepon dia, dia selalu bilang kangen''ucap Hendra sembari mengingat ingat moment kebersaamnya dengan Cici
''Ya sudah, aku ngga mau terus terusan membahas tentang wanita itu, males banget, dan kamu ngga usah pake kekerasan sama mas Rasyid, bukannya aku membela dia, atau melindungi dia, tapi aku ngga mau anak anak curiga, dan sedih dengan keadaan ayahnya''ucap Titi menegaskan.
Hendra menganggukan kepalanya, kemudian mereka beranjak dari duduknya untuk kembali dari cafe tempat mereka berbincang tadi
Tadi saat Hendra datang dengan kemarahan yang terlihat jelas diwajahnya
__ADS_1
Titi segera membawa Hendra pergi keluar karena takut membuat keributan di ruang rawat Puskesmas itu,Titi meminta Robi menjaga ayah angkatnya sebentar dengan dalih ada sesuatu yang harus mereka urus
☆★☆★☆★
Diruang rawat tempat Rasyid terbaring hanya ada dua orang disana. satu orang yang berstatus pasien dan satu orang yang berstatus sebagai istri si pasien
Rasyid sedang duduk bersandar di ranjang rawatnya sembari terus saja matanya mengawasi istrinya, dan Titi sedang sibuk dengan buku buku pembukuan pentingnya tanpa menghiraukan suaminya.
Tadi sekembalinya dia dari cafe bersama Hendra kemudian Titi meminta ibu Ami, Risya beserta suaminya, Hendra, Robi,untuk pulang kerumah agar bisa istirahat, dan membantu menjaga Putra dan Putri dirumah dan mereka pun setuju
''De.. kapan mas boleh pulang sih? mas sudah kangen sama kamar kita, disini ngga nyaman, ngga betah lah''rajuk Rasyid yang cuma dilirik oleh Titi dengan malas
''De.. sayangku.. kok diem aja sih, mas kan bosan ih, bawa mas jalan jalan keluar yuk''
Titi mengeratkan giginya kesal dengan tingkah suaminya yang seperti anak kecil, menjadi manja, cerewet, dan banyak maunya
''Massss, mas bisa diem ngga sebentar,aku lagi nge check pembukuan nih,bentar lagi selesai, sabar dulu ya''Titi menjawab dengan suara yang ditekankan, walau dihatinya ingin sekali Titi menggetok kepala Rasyid pake centong nasi
''Ee ee mau kemana kamu mas?''seru Titi saat melihat Rasyid yang disuruh diam malah beranjak turun dari ranjang pasiennya
''Mau pipis de, atau kamu mau, aku pipis disini?''
''Iisss.. bisa sendiri nggak?''bentak Titi kesal
''Enggak ihh... susah ini de, tiang infusnya''ucap Rasyid yang sebenarnya dia sudah merasa baik baik saja, tapi selalu mencari kesempatan agar bisa berdekatan dengan istri kecilnya
Titi beranjak meninggalkan pekerjaannya untuk membantu Rasyid pass urine
...Rasyid menggunakan kesempatan untuk bisa bermanja pada istrinya, dia tidak mau kembali ke ranjang pasien nya setelah dari toilet, dia meminta untuk duduk di samping Titi yang sedang mengerjakan pekerjaannya di lantai yang digelari karpet sejenis kasur lantai kecil yang Titi bawa dari rumah, karena tidak ada fasilitas semacam itu di Puskesmas...
__ADS_1
Rasyid bahkan berbaring di pangkuan Titi dan meminta Titi mengelus kepalanya dengan alasan biar sakit dikepalanya cepat sembuh, padahal sebenarnya sakit dikepalanya memang sudah sembuh, modus!
Titi mau tidak mau hanya menuruti keinginan suaminya, dia sangat berharap Rasyid cepat sembuh agar bisa dibawa pulang, tiba tiba pintu terbuka, saat itu adalah waktunya untuk pengecekan oleh dokter
"Loh kok ini pasiennya ada di bawah"celetuk sang dokter heran
"Ah iya maaf Dok, tadi suami saya merasa bosan terbaring terus diranjang itu dia bilang, Ayo mas bangun, biar diperiksa dokter dulu" Titi membantu Rasyid kembali ke ranjang pasiennya
"Ohh ya dok, gimana sekarang kondisi suami saya, dia bilang sudah ingin pulang, apa dia sudah sehat dok?"tanya Titi kepada Dokter Rijal, nama yang tertulis di baju dinasnya
"Hemm, tekanan darahnya sudah normal, detak jantung juga sudah stabil, bagaimana pak Rasyid apa yang anda keluhkhan saat ini?"ucap dokter Rijal
"Sudah enakan dokter, sudah tidak ada yang terasa sakit"ucap Rasyid yang membuat alis Titi mengkerut karena heran, tadi pria yang menjadi suaminya itu mengeluh ingin dielus kepalanya karena masih sakit, ternyata itu cuma modus Titi merasa kesal sekali, padahal Titi sedang mengerjakan pembukuan penting, bisa bisanya Rasyid malah modus karena ingin bermanja ria padanya
"Ya sudah kalau begitu, besok pagi sudah boleh pulang, jangan lupa selesaikan administrasi nya dulu ya"ucap Dokter Rijal sambil terkekeh
"Baik dok terima kasih,saya tidak akan lupa itu hehe...Titi menimpali candaan dokter muda yang tampan itu" ohh ya dok, ini infusnya di copot saja sekalian, sudah sehat kan ngga perlu lagi infus, biar ngga ribet kalau mau ke toilet"tambah Titi
"iya nanti saya suruh perawat untuk mencopotnya, saya permisi dulu, mau mengecek pasien yang lain"
"Baik dok silahkan, dan terima kasih"jawab Titi
Setelah sang Dokter keluar dari ruangan itu, Titi yang berdiri didekat ranjang pasien tempat Rasyid berbaring, mengangkat tangannya ke arah paha Rasyid dan mencubitnya dengan keras
"Aduh duh, sakit de! "seru Rasyid karena dia kaget dan sakit dicubit istrinya
"Bodo amat" **ucap Titi
♡♥Bersambung**
__ADS_1
jangan lupa tekan like nya ya guys, gratis kok..
apalagi kalau mau komentar dan memberikan kritik dan sarannya, aku bakal terima kasih banget