ApakahKau Bahagia?

ApakahKau Bahagia?
Dia memang begitu


__ADS_3

'' Isss kok papa kamu begitu sih! coba nanti mama Titi yang bicara sama papamu.. sudah kamu nggak usah khawatir, kalau kamu mau tinggal disini sama mama, sama ayahmu, sama adik adikmu, kami malah senang.. Tapiiii.. kita harus bicara dulu sama papamu.. kita kan nggak bisa ambil keputusan sendiri''ujar Titi, dia tidak habis pikir kok bisa yacHendra kayak gitu, terakhir kali Hendra mampir waktu itu sikapnya masih biasa aja


*A*tau mereka saja yang tidak menyadari kalau sikap Hendra sebenarnya cuek pada Robi, mungkin mereka berpikir karena Robi sudah besar makanya Hendra seperti itu, padahal Hendra itu cenderung tidak perduli sama anak kandungnya sendiri itu, cuma ya kalau didepan orang lain dia akan melunak sikapnya, untuk menunjukan pada orang lain bahwa dia papa yang baik *pencitraan kaya artis aja


''Dia memang begitu ma, sejak dulu memang begitu, apalagi pas masa masa awal aku ikut papa, seakan aku ini benalu, aku kalau ingin makan suruh beli sendiri, aku makan sendirian juga, kadang aku masak mie instan biar hemat, kadang aku masak nasi sendiri terus aku buat nasi goreng''Robi bercerita sambil terus meneteskan air mata


''aku sering banget ditinggal dirumah sendirian, kalau malam malam hujan petir aku takut banget ma, kadang mati lampu juga, terus ada suara suara ribut ngga tau apa, aku sembunyi aja di kolong tempat tidur hiks hiks, aku sering banget malam malam aku kelaparan tapi aku tahan sampe pagi hiks.. papa itu kalau pulang dan ada dirumah hiks.. dia banyakan tidurnya daripada bangunnya, kalau sudah bangun pasti pergi lagi walau lagi nggak nrevel hiks, kalau aku nanya papa mau kemana dia pasti jawabnya papa pergi sebentar kamu dirumah aja, tapi pasti pulangnya besoknya lagi, dan aku herannya bajunya pasti udah ganti, bukan baju yang dipakai papa kemarinnya"mendengar cerita Robi Titi merasa perlu segera menelpon Hendra, semakin banyak yang Titi dengar dari Robi semakin dia tidak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Eumm sayang.. anak sulung mama.. sini mama peluk.. cup cup cup sudah ya sudah.. nanti mama hajar papamu itu, tega banget dia sama kamu, sekarang kamu ke kamar kamu dulu ya.. istiraha! oke! ayo mama antar"Titi beranjak lalu menuntun Robi dan mengantarkan ke kamarnya


Rasyid yang hanya terdiam sembari mengepalkan tangannya merasa geram akan perbuatan Hendra, kalau seandainya dia tau dari awal bahwa Robi diperlakukan seperti itu dia pasti akan membawa Robi untuk tinggal bersama mereka saja di desa


♡♥♡♥


"Hallo Assalamualaikum" Titi mengucap salam saat teleponnya sudah terdambung


"wa'alaikum sallam,ini siapa ya"


EHHH


kok suara wanita ya tapi ini benar kok nomornya A Hendra


"Maaf benar ini nomor hp nya A Hendra?"


"Iya benar ini nomernya mas Hendra! kamu siapa" sahut suara perempuan diseberang sana dengan nada suara yang sangat ketus

__ADS_1


"KALAU INI NO HP NYA A HENDRA KENAPA KAMU YANG ANGKAT HAH.. DAN HARUSNYA SAYA YANG TANYA SIAPA KAMU? DASAR TIDAK SOPAN!!!" Titi jadi emosi mendengar suara ketus tidak punya sopan santun dari lawan bicaranya


"BERIKAN HP NYA SAMA A HENDRA, SAYA PERLU BICARA SAMA DIA.....!!! BUKAN SAMA OPERATOR NGGAK PUNYA ETIKA MACAM ANDA!!!"


"Kamuuuu" suara diseberang sana menggeram, dan tiba tiba ada suara seseorang di kejauhan yang bertanya


"Telepon dari siapa Rosi?'' itu suara Hendra


''Ngga tau nih sayang, perempuan ngga jelas dia teriak teriak sama aku nih,"suara si perempuan yang disebut Rosi itu, mengadu dengan suara manja, Titi sampai mendelik karena kesal.


"Hallo.. hei Titi ya? ada apa Ti?" Hendra mengambil alih handphone


"Astagfirullah Aaaaaa.. kamu kok bikes deh, kok hp kamu dipegang orang lain sih ahh.. aku kesel ahh.."


"Aku perlu bicara penting sama kamu, tapi MOOD AKU UDAH ANCUR KARENA OPERATOR PEMERIMA TELPON SIALAN KAMU ITU, mending kamu ke desa dulu, biar nyampe kalau aku ingin naplok kamu A, oke giti aja babay, cepet ke desa atau aku sumpahin punya mu nggak bisa berdiri lagi" klek Tut tut tut -suara sambungan diputuskan.


Hendra sudah bisa menebak apa yang dikatakan perempuannya pada Titi dan dia merasa ngeri harus meneriman amukan seorang Titi Rashawi yang bisa saja membuatnya kehilangan anak kandungnya


Hendra segera berkemas untuk pergi ke Desa menemui si macan desa Titi Rashawi dengan perasaan yang ketar ketir karena dia tau pasti semua kelakuannya sudah diketahui oleh Titi dari mulut anak remaja tampan yang merupakan anak kandungnya itu


Hendra tidak memperdulikan si perempuan yang sedang ada di sekitarnya, yang terus saja berusaha untuk mencegah kepergiannya dengan terus menggeliat menggodanya, walaupun si perempuan mengancam akan memblokir nomernya dan tidak akan mau lagi menemuinya tapi Hendra tetap tidak memperdulikannya


"Masss.. jangan pergi ya.. please mas aku lagi pengen nih, yuk kita main dulu, ke desanya besok pagi aja ya.. masss.." si perempuan rupanya belum menyerah juga


"Nggak ya nggak, kamu kan sudah aku bilang jangan berani berani menyentuh handphone ku, kemarin aja Robi kabur gara gara kamu angkat telepon dari dia, ehh sekarang kamu berani ngangkat telepon dari Saudara perempuanku, kamu mau aku mati ya!!!" seru Hendra sembari melotot pada perempuan yang masih saja menggelayut ditangannya

__ADS_1


Dikibaskan tangannya sampai perempuan itu terdorong hingga jatuh terduduk sambil menggeram


"Awas kamu mas.. aku ngga bakal maafin kamu, INI PENGHINAAN"


"AKU TIDAK PERDULI" ucap Hendra lalu kemudian keluar dari rumah perempuan itu, Hendra bahkan membanting pintu saat dia menutupnya


Si perempuan yang tertinggal di dalam rumah terus saja berteriak seperti orang kesetanan dengan membanting semua benda yang ada di sekitarnya sampai rumah nya tidak ubahnya seperti kapal pecah


♡♥♡♥


Keesokan paginya


Tululit tululit tululit


(Suara nada dering phonesell Titi)


"Iya halo A"bisik Titi kala mengangkat panggilan dengan nama Hendra tertera di layar ponselnya


"Halo Ti, aku sudah di dekat rumah kamu nih, aku langsung kesitu atau gimana ini?


kalau aku langsung kesitu takutnya ntar salah lagi, makanya aku telpon dulu" kata Hendra di seberang sana


"JANGAN JANGAN Jangan kesini duluuuu.. kita ketemuan di restoran aja, ntar jam 10. aku telpon lagi nanti ya, udah dulu ini aku lagi ngurusin anak anak dulu" Titi menutup sambungan telepon segera setelahnya


Hendra tertegun, kemudian mendesah pasrah, lalu berlalu untuk mencari tempat singgah sementar memunggu panggilan dari sang macan desa

__ADS_1


♡♥♡♥♡♥


Bersambung


__ADS_2