ApakahKau Bahagia?

ApakahKau Bahagia?
kejujuran itu penting


__ADS_3

Malam hari setelah makan malam mereka semua berkumpul di ruang keluarga sambil menonton televisi, acara komedi menjadi pilihan mereka bersama, aku melirik suamiku yang sedang memangku anak kami, wajahnya terlihat sumringah semenjak dari kejadian aku mengantar kopi padanya siang tadi, seakan hal itu sesuatu yang sangat membahagiakan baginya, entahlah...


aku masih saja kepikiran dengan ucapan maaf nya padaku, kenapa dia minta maaf? untuk kesalahan apa? Pyuuhh berbelit belit banget, rasanya bibirku gatal ingin menggigit bibirnya ehhh kok bibir...


iya menggigit bibirnya yang tidak mau jujur,ngomong aja kok susah sih !


ahh mending aku tidur aja sih, badanku rasanya pegal semua, hari ini banyak banget kejadian yang mengagetkan, aku juga berpikir apakah perlu untuk menceritakan kejadian di pasar karang gendot tadi kepada suamiku, tapi apa reaksinya ya kalau tau kekonyolanku, ahhh kepalaku jadi sakit nih.. tidur aja ahh..


Aku beranjak berdiri sembari berkata ''aku ke kamar dulu ahh ngantuk, capek, de kaka tidur duluan ya, Putra sayang mau ikut mama bobo sekarang apa nanti?'' aku mendekati anakku dan bertanya padanya, tapi dia malah bersembunyi di dada ayahnya dan meracau lucu, dia bilang ''mong mong''yang artinya emong *ga mau


''Ya sudah mama bobo duluan ya''aku melihat pada suamiku dan dia tersenyum kemudian mengangguk,kemudian aku ngeloyor pergi ke kamar yang biasa aku tempati dulu semasa ibu masih hidup,iya karena kita malam itu masih nginap di rumah ibuku, rumah ini sekarang terlihat lebih bersih dan terawat dari dulu, sekarang Desi sudah tau cara mengurus rumah karena pernah bekerja sebagai Art di kota besar.


aku merebahkan diri di kasur yang terbuat dari isian kapuk, kasur yang masih sangat empuk karena kasur ini baru yang di buat ibu menjelang hari pernikahan ku dulu, karena aku langsung tinggal di rumah mertua setelah menikah maka kasur itu belum lama terpakai, aku langsung menutup mataku meski kupingku masih mendengar sayup sayup suara dari televisi yang masih menyala


Tidak berapa lama aku merasa ada gerakan di kasur sebelahku, saat aku membuka mata ternyata Putra sudah tertidur dan sedang di tempatkan di sebelahku, karena kasur disini tidak sebesar yang di rumah kami maka hanya aku dan putra yang tidur di ranjang dan mas Rasyid akan tidur di kasur lain yang akan di gelar di bawah nantinya.


Setelah menidurkan putra nya suamiku kemudian mendekat ke arahku dia mengecup keningku dan aku pun terlonjak kaget, ehhh kok..


aku membuka mataku dan kulihat dia tersenyum dengan sangat manis kemudian berbisik,''Tadi makasih ya udah nganter kopi buat mas'' aku mengangguk, dia beranjak menggelar kasur yang akan dia buat tempat tidur di samping bawah tempat tidur ku,kemudian dia duduk disana dan menatapku dalam, aku melihat kerinduan di matanya tapi seperti ragu akan sesuatu


kemudian dia berbisik agar tidak mengganggu tidur putra kami'' sini mah ayah mau ngomong sesuatu''mataku membulat kaget dan penuh tanya, ada apa sih? setelah sekian lama.


Tapi tak ayal aku mendekat padanya kemudian,''ada apa Mas?'' aku duduk bersimpuh di hadapannya, dia menarik tanganku lalu memasukanku ke dalam pelukannya, aku meronta tapi kemudian dia berbisik''Biarkan seperti ini sebentar de, mas kangen banget sama kamu''suamiku selalu merubah panggilan nya jika sedang berdua denganku,panggilan de, adalah panggilan sayangnya terhadapku semenjak awal pernikahan kami.


Aku terdiam di pelukan nya, aku juga merasa merindukan pelukan hangat ini, aku nikmati saja sebentar,tapi tiba tiba aku ingat kata maaf nya yang entah untuk apa itu, kemudian aku melepaskan pelukan nya dengan paksa,aku menatap matanya dengan rasa kesal dan dia kemudian berucap


''Kamu kenapa sih de? Mas kira kamu sudah maafin mas''

__ADS_1


''Ini yang aku bingung mas! maafin kamu untuk hal apa sih? kamu bener bener selingkuh ya mas? ''


''Enggak ih kok selingkuh sih, mas itu bukan orang yang seperti itu de... kamu harus tayang mas ini orangnya setia banget''sahutnya tegas sembari menatap mataku dalam.


''Lantas maaf untuk apa mas?'' hardikku aku bahkan tidak sadar menaikan suaraku satu oktaf, lalu aku kaget sendiri dan segera melihat ke arah putra ku takut dia terganggu karena suaraku,tapi sukurnya tidak.


''Ya maaf karena aku membelikan sepeda untuk Robi tanpa memberitahu kamu, sama belanjaan lainnya itu'' sahutnya, sepertinya dia merasa bersalah sekali tentang hal itu


''Yakin mas kesalahan kamu cuma itu'' aku masih berusaha mengorek kejujurannya.


''Iya emang kamu pikir apa lagi? aku ngga ngapa ngapain kok, yang kamu pikirkan apa sih de?''dia menatapku dengan tatapan sendu seakan frustasi,dan selintas aku seperti melihat air di sudut matanya


''Mas merasa bersalah sama kamu karena Mas membelikan baju untuk Dena juga, tapi itu karena dia yang minta seakan maksa, mas kan malu kalau berdebat di pasar hanya karena baju yang dia minta tidak di bayarkan, kamu kan tahu dia orangnya seperti apa, dia bisa bikin keributan disana''


dan air itu menetes dari sudut matanya


Aku mendekat padanya,aku usap sudut matanya yang berair, matanya merah, dia memelukku lagi dan aku membiarkannya sekarang, tubuhnya berguncang


Eehh


Dia nangis beneran, aduh aku berdosa ini.. sudah membuat suami ku menangis, aku usap usap punggung nya dan berbisik, "sudah mas jangan nangis ah.. malu tuh sama putra''


Srookk.. ehh nangis nya gitu amat


aku senyum geli, udah tua masih bisa nangis, apa dia sedih banget ya karena sikapku?


''sudah mas sudha, aku juga minta maaf kalau aku emosinya berlebihan sama kamu, abisnya kamu mah ngomong aja ngga jelas sih, ada apa apa tuh di omongin sama aku mas, kan aku nya jadi ngga berprasangka buruk sama kamu'' badannya udah ngga bergetar sekarang, dia menarik tubuhnya, aku memberinya tissue untuk melap ingus nya, dan aku menatapnya geli sambil tersenyum, dia manyun

__ADS_1


Greeppp


Ehhh kok


Dia tiba tiba memeluk ku dengan erat, aku membiarkan nya saja,kasian nanti nangis lagi


Dia menarik badannya kemudian memegang kedua pipiku dan menatap mataku dalam, dia mendekatkan wajahnya dan


Cupp


aku membulat kan mataku kaget, ehh main cium aja nih, tanpa aba aba pula, tapi di tidak melepaskan ciuman nya dan malah memperdalam, menggerakan, dan ******* bibirku


Ahh..


aku mendesah karena ciumannya berpindah pada leherku, tapi biasanya dia cuma mencium dan tidak meninggalkan bekas merah seperti yang biasa di bahas di novel novel para penggila se*s, ciuman ciuman itu lalu terus berpindah turun ke bawah sampai ke gunung merapi kembar, tapi karena aku sedang menyusui makanya dia hanya mencium saja tanpa menghisap pusat gunung, karena pusatnya sedang di monopoli anak kami, dia hanya boleh menikmati pinggiran gunung dan sesekali meremas nya dengan gemas sampai aku mengeluarkan suara


EEUHHH...


Dan entah sejak kapan baju ku terlepas semua sehingga tidak ada sehelai benang pun yang menutupi, Mas Rasyid kemudian menghentikan sejenak kegiatan nya, lalu membuka semua pakainnya dan menarik selimut lalu menutup kan pada punggungnya kemudian dia beranjak ke atas ku, tangannya menyentuh sumur ku dan setelah memastikan sumur sudah dia dia memasukan timba nya dengan perlahan


SLUPPP


Ahhh.. aku mendesah nikmat, setelah sekian lama aku merasakan lagi kenikmatan ini, kemudian mas Rasyid menarik ulur timba miliknya dan sesekali memasukan timbanya sampai titik terdalam sampai mataku terbuka lebar dengan mulut menganga, mas Rasyid segera membekap mulutku dengan bibirnya takut suara ku terdengar oleh anak kami dan adikku Desi, ahhh aku sampi lupa untuk menahan eranganku sakit nikmatnya, ini sudah lama kurindukan dan sekarang seperti balasan dari kesabaran ku


selesai dengan ritual kami lalu kami membersihkan diri dan memakai pakaian kami kembali, takutnya anak kami akan melihat keanehan itu, mas Rasyid mendekat lagi ke arahku dan mencium keningku serta mengucapkan terima kasih, lalu kami tidur dengan perasaan lega, lega karena masalah kami selesai dan lega karena hasrat kami terlampiaskan dengan benar.


''selamat tidur istri kecilku, mas mencintaimu''bisikan syahdu dari suamiku seperti mengantarkanku untuk tidur dengan lelap dan nyaman di dekapannya, aku jadi malas pindah ke atas tempat tidur ku lagi dan syukurnya putraku juga tidur dengan lelap seperti memberikan waktu untuk kedua orang tuanya, anak yang baik.

__ADS_1


__ADS_2