ApakahKau Bahagia?

ApakahKau Bahagia?
Sensitif


__ADS_3

Entah kenapa perasaan Titi sangatlah sensitif, seharusnya dia senang karena sikap Rasyid sangatlah hangat sekarang, tidak seperti dulu diawal pernikahan mereka, setiap memandangnya dimata Rasyid penuh dengan cinta,kasih sayang, dan penuh damba, bisa dibilang sekarang Rasyid itu bucin tingkat S2 atau malah tingkat S3 wkwkwk (emang anak kuliahan) setiap hari perhatiannya penuh untuk istri dan anaknya tidak lagi terpecah belah seperti dulu, dulu Rasyid harus membagi kasih sayangnya untuk anak dari mantan istrinya yang dia kira anak kandungnya, sekarang full hanya untuk Titi istrinya dan Putra anaknya, harusnya Titi bersyukur!


Setelah keluar dari rumahnya Titi mengemudikan motornya ke arah pasar, yang ada di pikirannya adalah mungkin kalau makan es buah dan rujak bebek yang pedas maka hatinya akan jadi sedikit lega, tidak lagi kesal sama suaminya


Titi seakan tidak perduli kalau suaminya akan mencarinya, dia tidak tau kalau suaminya kalang kabut mencarinya


Rasyid meneleponnya terus menerus tapi satu panggilan pun tidak diangkat oleh istrinya, kemana dia?


Titi sengaja membuat mode senyap pada handphonenya, dia sedang ingin sendiri, entah kenapa dia sebal mengingat wajah suaminya, Titi menikmati rujak dan es buah pesanannya kemudian tiba tiba ada seseorang yang menghampirinya


''Boleh aku duduk disini''


Titi mengangkat wajahnya dan melihat siapa yang mengajaknya bicara, Titi mengernyitkan keningnya tapi tetap mencoba menguasai diri


''Silahkan..''jawab Titi pendek dan datar, moodnya yang beberapa saat yang lalu sudah membaik sekarang seperti tercemar kembali oleh kedatangan makhluk yang duduk didepannya


''Kamu sendiri? kok ngga sama suami kamu?''


''Kenapa memangnya?''sahut Titi sarkas


''Nggak kenapa napa sih, aku kan cuma nanya? heran aja biasanya kalian kemana mana bersama, ini kok kamu di sini sendiri"


Titi enggan menjawab, dia malah melanjutkan makan makanannya dengan sedikit di paksakan karena moodnya untuk makan jadi hilang, tapi Titi tidak mau membuang buang makanan

__ADS_1


''Ehmm.. benar ternyata kata orang orang ya, kamu sekarang jadi sombong, mentang mentang sudah jadi orang lumayan kaya, nyadar dong yang kamu nikmati sekarang kan hasil kerja keras mas Rasyid, bukan hasil kerja kerasmu, kamu tinggal ongkang ongkang kaki aja nikmatin semuanya''


Titi mengangkat wajahnya, ingin rasanya menyumpal mulut orang yang di depannya dengan sandal swalow, tapi Titi masih bisa menahan diri dan dia jawab aja perkataan orang di depannya dengan wajah datar


''Emang kenapa? itu bukan urusan kamu! atau kamu menyesal ya sudah meninggalkan Mas Rasyid demi entah apa? makanya jadi wanita itu jangan serakah dan jangan MURAHAN'' Titi menekankan kata murahan diakhir kalimatnya, wajah wanita itu langsung merah padam, dia mengetatkan rahangnya tapi kemudian dia kembali tenang


''Kamu jangan sombong wanita jelek, kalau aku mau.. pasti mas Rasyid akan kembali kepadaku, dia dulu cinta mati sama aku, asal kamu tau''


''Haha.. cinta mati? percaya diri sekali kamu! dan lagipula itu kan dulu,dulu mata dan matahati mas Rasyid BUTA, sekarang dia tidak akan perduli denganmu lagi, Bahkan A Hendra juga, jangan kamu kira aku tidak tau kalau kamu sudah di campakkan oleh A Hendra''


Wajah mantan istri Rasyid memerah dia benar benar merasa kalah telak karena ucapan Titi, ya wanita itu adalah Dena, entah dengan maksud apa dia duduk di meja yang sama padahal masih ada tempat lain yang kosong dan berbicara pada Titi


''Tidak masalah tau nggak kamu, aku kan cantik, aku bisa dengan mudah mendapatkan laki laki lain yang lebih segalanya dari Hendra atau Rasyid sekalipun''ucap Dena percaya diri sekali


''Woah.. aku jadi ingin bertepuk tangan, mendengar kehebatanmu mamanya Robi, ohh ya apa kabar dengan Robi, walau bagaimanapun dia sebenarnya anak yang manis dan baik, ahh aku jadi merindukan anak itu''


''Malang??? kenapa bisa malang? karena kelakuan ibunya kah?


''Jaga mulut kamu Titi, benar benar sombong kamu sekarang!''


''Sombong? ahh kamu bikin aku jadi ingin tertawa, sudahlah tolong jangan ganggu aku, pergi cari tempat duduk lain atau aku yang pergi saja dari sini, dan kamu yang bayar makananku yang tidak sempat aku habiskan ini,karena mood makanku jadi rusak karena mu ''


''Iiiss'' Dena mendesis layaknya seekor ular dan dia beranjak pergi dari sana, berpindah ke meja lain, dia berbicara pada pelayan, mungkin memberi tahu bahwa dia berpindah tempat, Titi tidak perduli, Titi melanjutkan makannya

__ADS_1


Rasyid yang mencari Titi akhirnya bisa menemukan istrinya dari motornya yang sedang di parkir, dia langsung masuk ke tempat makan dan mencari istrinya, saat melihatnya Rasyid terpaku karena Titi sedang berbicara dengan Dena, tapi sepertinya pembicaraan mereka tidak menyenangkan kalau dilihat dari raut wajah keduanya, tidak lama Dena berpindah meja dan tempat duduk, Rasyid bergegas menghampiri istrinya


Rasyid sangat mengkhawatirkan istrinya tersebut dan dia merasa lega karena istrinya baik baik saja dan sedang makan sesuatu


''Sayang kamu disini? kalau mau ke sini kan mas bisa antar''Rasyid langsung duduk di sebelah istrinya dengan sangat dekat, tangannya terulur untuk mengelus rambut istrinya'' kamu lagi makan rujak?


Titi sebenarnya kaget karena suaminya menyusulnya, sebenarnya dia sedang ingin me time sendiri, tapi karena dia tau kalau ada Dena disana maka dia akan sedikit berakting, Titi tersenyum manis pada suaminya


''Iya mas ini rujak hehe... mas mau?'' jawab Titi sembari menyendok rujaknya dan mengarahkan ke mulut suaminya, Rasyid yang senang karena sikap istrinya kembali hangat, menerima suapan dari istrinya sembari mengelus rambut istrinya penuh rasa sayang


''Ihh kok pedes banget sih sayang, uhhuuk uhhuk'' Rasyid terbatuk batuk karena tersedak, oh my rujaknya pedes banget, Titi segera meraih gelas air minum dan memberikan pada suaminya


''Ini mas minum, ini nggak pedes kok mas, enak banget seger ini'' sahut Titi sembari memberi suaminya minum dari tangannya sendiri


Rasyid tercengang mendengar kata kata istrinya kalau rujak yang sepedas itu dia bilang tidak pedas dan malah segar


''Sayang nanti habis ini kita ke rumahnya bu bidan ya'' kata Rasyid yang membuat Titi gantian tercengang


''Ngapain mas?''


Rasyid berpikir kalau istrinya itu benar benar sedang hamil, tapi dia tidak mau mengatakan hal itu pada istrinya dulu, jadi dia beralasan


''Perut mas tiba tiba nggak enak ini''Titi tercengang dan segera beranjak, ''ayo mas kita ke tempat nya pak mantri cepat, nanti kamu diare lagi'' seru Titi panik, melihat interaksi antara mantan suaminya dan istri barunya membuat Dena berdecak kesal dan rasanya dia ingin mengamuk saja kalau saja dia tidak takut suruh ganti rugi barang rusak nantinya

__ADS_1


''Ahh ke tempat bu bidan aja mah, biar dekat sekalian pulang lah ayo, toh obatnya sama aja''alasan lain Rasyid, karena ingin memeriksa kehamilan maka Rasyid akan membawa Titi ke bidan bukan ke mantri


''Ya sudah ayo...ayo.. mas bangun dulu'' Titi berusaha memapah Rasyid, Rasyid hanya bisa tersenyum mendapat perhatian istrinya kembali, sepertinya mode marahnya akan segera hilang berganti mode perhatian asyeekkk...


__ADS_2