ApakahKau Bahagia?

ApakahKau Bahagia?
To The Next Level 2


__ADS_3

FLASHBACK STILL ON


Dua hari kemudian Rasyid dan Titi bersiap pergi ke rumah Dena untuk menghadiri undangan pernikahan Hendra dan Dena, acara itu di gelar di rumah Dena secara sederhana karena itu adalah pernikahan Dena yang ketiga.


Sampai ditempat acara ijab kabul sedang dilangsungkan dan kata Sah terdengar sangat membahana sebelum Rasyid dan Titu sempat menemukan tempat duduk


Terlihat Dena yang bahagia dengan senyum yang menghiasi wajah cantiknya,tapi kenapa wajah mempelai prianya terlihat tertekan dan tanpa senyum?


Rasyid melihat Robi duduk di kursi dekat mempelai pengantin baru itu, dia menengok ke arah Rasyid dan langsung tersenyum senang melihat ayahnya,anak laki laki itu bangkit dan langsung berlari menyongsong pria dewasa yang dia tunggu tunggu kedatangannya


''Ayah..''seru Robi, dia berlari dengan riang dan tidak memperhatikan sekirar, lalu kemudian tiba tiba


BRUKK.. ARGHH..


''Robi'' teriak Rasyid


''Robi'' teriak Dena dan semua orang kaget dan serentak berdiri melihat seorang anak kecil jatuh tengkurap di jalan berbatu depan rumah, Hendra sampai terlebih dahulu dia kemudian membalik tubuh Robi yang lunglai,dan semua orang terhenyak karena dari kepala anak itu mengalir darah segar


Hendra panik dan segera berlari membawa tubuh anak itu ke arah depan dan dengan berteriak meminta tolong seseorang,


''Tolong.. siapa pun tolong bantu saya membawa Robi ke Puskesmas


Dan Titi segera meminta Rasyid membantu Hendra, Rasyid yang syok malah diam terpaku dengan mata membulat dan mata terbuka lebar


''Mas.. cepat iti bantu A Hendra''Seru Titi sembari mengguncangkan bahu suaminya, Rasyid segera tersadar dan lari mengikuti langkah kaki Hendra, mereka menaiki sepeda motor dan menuju puskesmas terdekat.


Titi segera mengambil motor dan segera mengikuti mereka,Dena juga melakukan hal yang sama.


Di puskesmas saat Titi tiba di sana Robi sedang di tangani oleh Mantri yang bertugas


Suara derap langkah kaki tergesa terdengar nyaring dilorong Puskesmas yang sedang sepi karena suasana pandemi yang menyebabkan para penderita sakit menghindari Puskesmas dan lebih memilih berobat ke para medis Mandiri sekitar rumah.


Saat Titi menengok untuk melihat siapa yang datang dan itu adalah si cantik Dena, dan yang membuat Titi mengangkat sebelah alis karena dalam keadaan darurat pun si cantik tetap menjaga keanggunan saat berjalan, oh my... sungguh harus di acungi jempol.


Saat mantri keluar dari ruangan gawat darurat semua orang langsung mendekat dan bertanya tentang keadaan Robi


''Bagaimana keadaan Robi pak Mantri?''seru Dena,sedangkan Rasyid dan Hendra diam menunggu jawaban dari sang Mantri


''Keadaan Robi sebenarnya tidak terlalu mengkhawatirkan, lukanya tidak terlalu dalam dan tidak melukai otak,tapi karena dia kehilangan banyak darah,jadi kita harus menyiapkan kantong darah untuk transfusi darah atau kalau ada dari keluarga yang mau mendonorkan darahnya akan lebih baik dan lebih efektif, bagaimana? siapa ini walinya?'' mendengar penjelasan pak mantri, semua orang auto berpikir jalan keluar


''Saya ayahnya pak mantri'' sahut Rasyid


''Tolong periksa saya apa saya bisa mendonorkan darah saya, saya rasa saya sehat,dan semoga bisa di pakai''lanjut Rasyid

__ADS_1


''Baik mari saya ikut keruangan saya untuk prosedurnya''


Kemudian Rasyid mengikuti sang Mantri


Sekitar setengah jam kemudian Rasyid keluar dengan wajah penuh tanya dan seakan kehilangan arah,Titi segera mendekati suaminya dan bertanya


''Bagaimana mas?, bisa kan?''


''Aku nggak tau mah''kata Rasyid terduduk di kursi tunggu depan ruangan UGD


Titi mengernyitkan dahinya tampak berpikir keras''Maksud ayah apa sih yah? kok nggak tau''


Dena dan Hendra juga ikut menyimak dan seperti kebingungan


''Gini mah, pak Mantri bilang golongan darah Robi itu A, sedangkan golongan darah aku B, aku nggak ngerti kok nggak sama'' sahut Rasyid masih dengan mimik wajah bingung


''Mungkin golongan darahnya Robi ngikut Dena kali yan, kan bisa aja begitu''sahut Titu sambil melirik sang wanita cantik yang sekarang wajahnya berubah tegang dan seperti maling ketahuan


''Aku tau golongan darah Dena O, bukan A atau pun B'' sahut Rasyid lirih, dibenak Rasyid sudah berputar berbagai prasangka yang membuat dadanya terasa sesak


''Golongan darah aku A''celetuk Hendra yang membuat pandangan mata semua orang berpusat padanya


''Emang apa hubungannya darah kamu yang sama dengan golongan darahnya Robi A?''Tanya Titi


Dan pandangan mata semua orang beralih ke Dena


''Maksudnya apa? aku ngga ngerti!'' seru Dena panik dengan bola mata yang bergerak gerak seakan mencari jalan untuk lari


''Maksudnya ya kenapa golongan darah Robi tidak sama dengan Rasyid dan kamu'' seru Titi, ''jangan berlagak pilon deh, biasanya kamu cepat tanggap dalam hal apapun'' Seru Titi gedek, entahlah.. si cantik itu seperti menyembunyikan sesuatu.


''Ti.. itu mungkin karena Robi sebenarnya adalah Putraku''sahut Hendra tapi dengan mimik wajah yang sedikit tidak percaya diri atau ragu, ''apakah benar begitu Dena?''


Dena yang ditodong oleh semua orang jadi salah tingkah dan tetap diam walau eksperinya seperti cacing kepanasan


''Apa apaan ini? kenapa bisa kamu yang jadi ayahnya Robi? omong kosong macam apa ini?Seru Rasyid dengan suara yang sudah naik satu oktaf,bagaimana tidak, semuanya seperti jalan cerita sinetron televisi cap ikan paus.


Titi mendekat pada Rasyid dan mengelus punggung suaminya tersebut,


''Sabar mas, kita bicarakan baik baik, kita butuh duduk bersama''


Rasyid melihat ke arah istrinya yang berdiri sembari menggendong buah hati mereka yang tertidur


''Dena jelaskan sekarang juga!'' ucap Rasyid dengan suara yang ditekan karena takut mengganggu anaknya

__ADS_1


''I iya mas, mungkin Robi bukan anak kamu''jawab Dena dengan gugup


''Bagaimana bisa..' BAGAIMANA BISA.. DENA! sergah Rasyid dengan tatapan tajam dan tangan terkepal


''Maaf mas, sebelum sama kamu aku sebenarnya berhubungan dengan Mas Hendra,tapi karena Mas Hendra pergi merantau untuk merintis karirnya dia maka kami terpaksa berpisah, tapi sebelum kami berpisah kami sudah melakuk...'' jawaban Dena terhenti karena Rasyid mengangkat tangannya dengan posisi telapak tangan terbuka dan di hadapkan ke arah Dena yang berarti ''Cukup''


Cukup sudah.. Rasyid sudah mengerti semuanya sekarang,mengerti kenapa dulu Dena seperti menerimanya setengah hati, mengerti kenapa Dena seperti sedang menunggu seseorang setiap harinya dan mengerti kenapa dia bisa mudah melakukannya saat malam pertama mereka, padahal menurut cerita orang lain saat pengalaman pertama melakukan itu akan sedikit susah, bahkan kemungkinan akan mendapati bercak darah yang disebut darah Per***n,tapi Rasyid bisa dengan mudah menjelajah sesuka hatinya dulu, sekarang Rasyid jadi membandingkan MP nya dengan Dena dan MP nya dengan Titi


Dengan Titi dia harus berjuang keras, dan bodohnya dia malah kesal akan hal tersebut, kenapa susah sekali, padahal dulu sama Dena sangat cepat dan mudah, sekarang dia merasa bo**h dan terhina karena dia merasa di curangi oleh mantan istri pertamanya tersebut


Dan merasa bangga dengan istri keduanya yang ternyata dialah orang pertama bagi Titi, dan sebuah pukulan yang sangat dasyat karena anak yang dia sayangi selama ini, adalah bukan anak kandungnya, anak yang selama ini dia limpahi kasih sayang adalah anak orang lain.


Rasyid segera mengajak istri dan anaknya untuk kembali ke rumah mereka, walau sebenarnya dia masih mengkhawatirkan keadaan Robi, tapi dia sadar tidak ada gunanya dia ada di sana, dia sempat bicara pada Hendra untuk berpamitan dan menyerahkan tanggung jawab Robi pada yang berhak bertanggung jawab sepenuhnya


Dalam kasus seperti ini, tidak diperlukan adanya test DNA karena semua sudah jelas, dan karena Harga sebuah test DNA sangat besar, dan akan menguras pundi pundi tabungan Rasyid, lebih baik Rasyid mengikhlaskan semua ini, walau dia masih akan menyayangi Robi tapi mungkin tidak seperti dulu,porsi sayangnya akan berubah.


Jangan katakan Rasyid orang tidak baik hati, karena siapa orangnya yang masih akan tetap mempunyai perasaan yang sama dengan keadaan yang berbeda


FLASHBACK OF


□□□□□□□□□□


Hari ini adalah hari di mana Rasyid dan Titi akan pergi ke dealer mobil untuk membeli mobil pick up baru mereka


Sampai di dealer mereka di sambut dengan ramah oleh pemilik showroom dan para sales


Pilihan jatuh pada mobil type SS bak belakang terbuka yang sering di sebut mobil pick up


Setelah menyelesaikan Urusan surat menyurat mereka pulang kerumah dengan hati lega karena mereka kini tidak harus menyewa mobil orang lain lagi untuk mengangkut hasil panen dari ladang milik mereka.


Rasyid kadang masih merasa ada yang hilang dari hidupnya karena kenyataan tentang Robi, tapi dia tidak boleh terpuruk terlalu lama pada satu hal dan mengorbankan banyak hal lain yang kenyataannya lebih membutuhkan perhatiannya, yaitu istrinya, anak kandungnya dan juga perkebunannya.


*Cathor (catatan author)


My reader my hero


Tolong bantu do'anya ya biar novel ini bisa kontrak..


Terima kasih untuk like dan comments nya


Salam sayang dari author cap kampung untuk kalian semua.


Tunggu next nya ya

__ADS_1


aku usahakan up tiap hari, (semoga bisa)


__ADS_2