
Rasyid duduk ditempat tidur dengan gugup dan tidak sabar menunggu istrinya datang saat itu Titi masih di kamar anak nya untuk memastikan apakah Pekerjaan rumah dari sekolah mereka sudah dikerjakan atau belum
CEKKLEK
Suara pintu terbuka dan munculah Titi dengan wajah datar nya, sebenarnya Titi merasa enggan memasuki kamar itu karena ada Rasyid di dalamnya
Rasyid langsung tersenyum dan mengangkat tangannya sebagai isyarat agar Titi mendekat, tapi Titi mengabaikannya dan malah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan tidak lupa membawa piyama agar bisa sekalian mengganti baju di dalam sana, Rasyid hanya bisa bersabar dan menungu ''apa yang akan terjadi apabila Titi sudah mendengar semua pengakuan jujurku, hahh.. tapi aki harus bisa menerima apapun itu, karena kebodohanku lah yang membuat ku berada di posisi seperti ini" bathin Rasyid sembari berulang kali menghela nafas berat
Saat keluar dari kamar mandi Titi langsung naik ke tempat tidur dengan sikap tenang dan tidak terpengaruh dengan sikap Rasyid yanh terus saja memperhatikan nya sambil tersenyum
"Sini de.. deket deket sama mas" ucap Rasyid" kamu capek ya? mau mas pijat ngga? tambah Rasyid lagi
"Ngga usah mas! sudah jangan terlalu banyak basa basi deh, cepetan cerita!"seru Titi
"iya deh aku cerita, kamu tapi tenang dulu ya, apapun yang kamu dengar nanti tolong jangan membuat keributan, dan apapun keputusan kamu setelahnya aku tetap tidak akan menyerah, aku akan terus menebus kesalahan ku, dengan cara apapun yang kamu mau"
"iya iya, lama banget sih"ucap Titi sambil cemberut
Lalu kemudian Rasyid pun menceritakan awal sampai akhir bagaimana dia mulai berhubungan lewat chat wa lalu sampai dimana dia meninggalkan wanita itu di kamar hotel dalam keadaan marah karena percintaan mereka yang gagal
Titi terdiam mendengarnya, matanya memandang dengar nanar ke arah lain, dia tidak mau melihat wajah suaminya, seperti apapun bentuk perselingkuhan itu walau hanya saling bergandengan tangan sekalipun tapi tetap saja hal itu membuat pihak yang dikhianati merasa sakitnya tuh disana, di dalam hati!
"Apa ini? kenapa rasanya sakit sekali mendengar kejujuran mas Rasyid! apa yang harus aku lakukan sekarang ya tuhan, apa aku harus memaafkan dia? Pada dasarnya manusia adalah tempatnya salah dan khilaf, tidak menutup kemungkinan aku pun bisa melakukan sebuah kesalahan nantinya, akan egois kalau aku hanya memikirkan rasa sakit hatiku saja, bagaimana dengan anak anak? bagaimana masa depan mereka kalau aku memilih untuk tidak mau kembali bersama ayah mereka?
Titi menatap wajah Rasyid kembali, melihat ke kedua matanya, Titi mencoba untuk menyelami hati pria itu, mungkinkah ada kebohongan disana? tapi ternyata Titi tidak menemukan gelagat bahwa Rasyid telah berbohong.
"Mas aku harus bagaimana? tolong katakan mas aku harus bagaimana? hiks...hiks.. coba bayangkan jika saja keadaannya hiks.. yang terjadi berbalik padamu, akulah yang berbuat seperti yang sudah kau buat hiks.. aa.. apa yang akan kamu lakukan mas?" tangis Titi pecah dia benar benar merasa dihadapkan pada dua pilihan sulit, hatinya berperang disatu sisi dia benciiii sekali dikhianati dan enggan memaafkan, tapi disisi lain dia memikirkan akan nasib anak anaknya.
Rasyid sudah menduga akan jadi seperti ini reaksi istrinya, melihat tangisan istrinya hatinya serasa dicabik cabik, dan sialnya tangisan itu karena ulahnya
__ADS_1
"Maaf maaf maaf" hanya itu yang keluar lagi dari mulut Rasyid, karena sejujurnya dia berpikir pasti dia tidak akan mampu memaafkan Titi apabila Titi lah yang berkelakuan seperti yang dia lakukan manusia memang egois bukan???
Rasyid memeluk Titi erat, Titi hanya diam, sebenarnya jauh didalam hatinya dia merasa kesal dan jijik setelah mendengar cerita bagaimana hampir saja suaminya itu bercinta dengan wanita lain
Tapi Titi sudah merasa capek menghindar terus dari Rasyid, berbulan bulan sudah dia tidak membiarkan suaminya menyentuhnya,dan kini dia harus bisa menahan diri untuk meneriman pelukan itu, hanya pelukan, kalau Rasyid mencoba memaksakan kehendaknya, pasti dia akan kecewa sendiri pada akhirnya karena sudah bisa dipastikan Titi tidak akan mau untuk disentuh lebih jauh.
Saat ini hanya lelah yang Titi rasakan, hanya ingin berbaring kemudian tertidur, Titi berharap ini semua hanya mimpi dan besok dia akan melupakannya sebagai bunga tidur, Titi membungkam hati dan pikirannya mengajaknya untuk segera tidur saja, beristirahat.
Terbaringlah sudah tubuh Titi dengan selimut yang dia pakai sampai batas lehernya, sedangkan Rasyid juga mencoba Tidur dan berusaha untuk memeluk Titi dari belakang karena Titi membalik tubuhnya ke arah lain sengaja membelakangi Rasyid
Rasyid merasakan tubuh Titi yang lemas, pasrah, menerima pelukan darinya, walau Rasyid melihat dengan jelas bahwa kedua tangan Titi mengepal sempurna seolah Titi menyimpan isi hatinya disana
♡♥♡♥♡♥
Sebulan kemudian,masih dengan runitinas yang sama, Tiba tiba Hendra datang tanpa Robi, dia hanya seorang diri, dengan cukuran rambut model baru dia muncul di depan pintu dengan senyum lebar saat melihat Titi
''Enggak.. aku sendiri aja, habis nganterin rombongan satu keluarga hijrah kembali ke desa''jawab Hendra sambil ngeloyor masuk keruang keluarga dan duduk disalah satu sofa depan tv
''Ti Rasyid mana?''tanya Hendra lagi
''Lagi ke ladang lah kalau jam segini, bentar lagi panen, jadi harus teliti takutnya tanaman diserang hama nggak ketahuan''Titi menjelaskan sambil ngeloyor ke dapur''mau di buatin minum apa A?"
''Kopi dong Ti, ngantuk nih, berangkat dari sana habis isya, baru sampai jam segini,ternyata tempat tujuan pulang kampung mereka ke pelosok desa, untung aja masih bisa dilewati Mobil, walau harus hati hati banget, dan kalau kita ketemu mobil yang berlawanan arah,kita harus mepet banget ke pinggir, mana pinggirannya curam lagi, ada sawah dan kebun pinus gitu''
''Ohh, gitu, sudah sarapan belum kamu A''
''Hehe, tadi aku makan gorengan doang yang aku beli di warung desa sana, emang kamu masak apa Ti?''
''Aku juga menggoreng tempe mendoan sih tadi pagi, tapi masih ada sambal terasi kemarin, aku bikin banyak, ohh iya aku lupa sama oseng kangkung juga, masih ada kayaknya''
__ADS_1
''Wah aku makan ya.. masakan kamu enak sih biasanya''ucap Hendra nyengir
''Makan aja sana, noh dimeja makan, tapi aku ngga temenin ya,aku lagi nyuci baju tuh, dimesin udah berhenti daritadi belum sempet ngejemurnya''
''Iya iya, aku ambil sendiri, begini nasib duda mah, makan juga sendiri'' rajuk Hendra yang memancing rasa penasaran Titi dengan nasib hubungan Hendra dan perempuan sundel itu ehh.. maksudnya Cicih guys.
Jadi Titi urungkan niatnya menghampiri mesin cuci dan kembali ke ruang makan, Hendra mengangkat sebelah alisnya melihat itu
''Emang gimana hubungan kamu sama si kuaci itu A?''
Hhmmpptt.. hahaha.. ''kuaci???, maksud kamu cicih?
''Iya iya, ngga usah di perjelas! is geli aku denger nama dia, kayak ngeliat uler gede menggeliat gitu, hiyyy''
''Aku udah ngga lanjutin hubungan tanpa status kami, waktu aku tanya soal Rasyid dia bilang, itu mah bukan masalah besar, Rasyid kasih dia uang, dia layani Rasyid dan masalah selesai, dia bilang gitu,''
''AAPPPPAAA, mas Rasyid kasih dia uang? kok dia ngga cerita ya? kasih uang berapa katanya A?''
Hendra mengangkat bahunya, dan berkata
''Tanya aja sendiri sama suamimu, aku mah ngga nanya dia dikasih uang berapa! namanya orang jualan, habis pake ya dibayar, masalah selesai''
''Maksud Aa si Kuaci itu tukang jualan Tempe begitu???''
''Tempe???''
♡♥bersambung
¤kok jadi tempe ya guys? tempe apa nih?
__ADS_1