ApakahKau Bahagia?

ApakahKau Bahagia?
Pengalihan tanggung jawab


__ADS_3

"Dan kemarin Robi aku desak untuk bercerita! kenapa dia sampai nekad kabur dari rumah kalian, dan dia bilanggg... kamu terlalu sering mengabaikan dia dan meninggalkan anak yang masih remaja itu SENDIRIAN di rumah! dan kadang dia sampai kekurangan makanan dan harus menahan lapar, ketakutan saat hujan petir dan saat mati lampu, kamu kemana aja sih A?"Titi mencecar Hendra dengan pertanyaan, dengan tatapan mata penuh kemarahan walau Titi masih bisa mengontrol suaranya agar tidak berteriak teriak


Hendra terdiam dan wajahnya memucat dia sadar bahwa dia sudah ketahuan salah, tapi dia merasa dia tidak sepenuhnya bersalah


"Aku kan juga harus kerja Ti, kan kamu tau kalau aku sopir trevel, hidup aku itu sebagian besar di jalan, kalau masalah Robi ketakutan karena kondisi hujan atau mati lampu aku minta maaf, karena ya aku tidak bisa selalu menemani dia! terus kalau masalah makanan, aku ngga tau kalau dia sampai kelaparan.. dia nggak pernah bilang! padahal aku sudah isi lemari es penuh kalau aku mau pergi lama dan kasih dia uang juga'' Hendra melakukan pembelaan terhadap diri sendiri


Kasih uang tuh yang banyak Hendra, jadinya ngga kehabisan kalau mau ditinggal lama


Titi yang mendengar pembelaan diri dari Hendra pun seketika terdiam untuk berpikir, tapi matanya tidak lepas dari wajah Hendra, karena Titi ingin melihat gelagat Hendra apa dia sedang berbohong atau tidak, tapi sayangnya Titi tidaklah bisa mendapatkan petunjuk apapun selain sikap Grogi Hendra


Kenapa Hendra grogi pun Titi tidak tau alasannya, karena Titi bukan cenayang


''Iya kah? apa yang kau katakan itu benar? atau cuma alasanmu membela diri A? Oke! kita cari solusi saja untuk permasalahan ini! Dan aku ingin agar Robi tinggal disini saja sama kami,di desa! aku janji akan merawat dia sebaik mungkin dan tidak membedakan dia dengan dua adiknya, kalau kamu dengan sukarela memberikan hak asuh Robi padaku dan ayahnya.. kita harus buat surat adopsi hitam diatas putih agar kelak tidak ada perselisihan ataupun gugatan yang tidak perlu, bagaimana A?'' Titi memang seorang gadis desa, tapi dia tidak bisa disepelekan apalagi kalau menyangkut masalah anak anak yang dia sayangi


Hendra terdiam dan tampak sedang berpikir, menimbang nimbang keputusan apa yang akan dia ambil


Jujur saja ada rasa tidak rela kalau dia harus merelakan hak asuk anak kandung semata wayangnya, jangan ditanya betapa dia menyayangi dan mencintai anak biologisnya tersebut, tapiii.. Hendra juga sadar akan ketidakmampuannya mengurus Robi dengan baik, dia tidak punya istri dan kalaupun dia punya istri nantinya dia juga tidak bisa menjamin bahwa istrinya bisa bersikap seperti Titi yang menyayangi Robi dengan Tulus


apakah aku harus menyerahkan anak kandung semata wayangku pada mereka? apakah aku tidak akan kehilangan kasih sayang dari anak itu kelak? memang benar aku tidak boleh egois dan hanya memikirkan apa yang kuinginkan, nyatanya aku kurang begitu mampu untuk merawat Robi dengan baik, bahkan anak itu sampai melarikan diri dari rumah!


''Gini Ti.. bisa ngga aku ketemu dulu sama Robi, dan nanti kita tanya sama sama apa yang diinginkan oleh dia, apa dia mau tinggal sama kalian atau dia mau balik lagi ke Jakarta sama aku? bagaimana?''


''OKE.. aku sih ngga masalah, tanya tanya aja! memang seharusnya kamu banyak bicara sama dia, jangan terlalu mengabaikannya, anak juga perlu ditemani sepersekian menit atau jam dalam sehari! menghabiskan waktu bersama untuk mendengarkan ceritanya! apa kamu sudah seperti itu sama Robi?''

__ADS_1


''Iya Ti seharusnya gitu, tapi dulu aku nggak kepikiran, maaf..'' Hendra tertohok sekali dengan ucapan Titi, dia benar benar tidak sadar kalau dia ternyata sudah mengabaikan anaknya yang membuat anaknya kecewa padanya


''Ya sudah, yang penting Aa sudah tau apa yang harus Aa lakukan, dan menyadari kesalahan di masa lalu, tapii aku tetap bersikeras agar Robi bisa diasuh sama kami saja, karena aku melihat kelakuan kamu yanggg... Begitu.. dan aku benar benar tidak mau dan tidak rela kalau Robi meniru kelakuanmu kelak, Naudzubilah!!!, maaf maaf nih ya A, bukannya aku sok paling benar atau bagaimana menurut pandanganmu tapi aku cuma berpikir yang terbaik untuk masa depan anak kita itu"


"Iya Ti aku ngerti"Hendra dari dulu mana bisa menang dari Titi kalau berdebat, entah apa yang Titi punya sehingga bisa menaklukkan Hendra dengan mudah,bahkan semenjak dari jaman mereka sekolah satu Mts pun


Satu catatan yang mungkin Titi tidak sadari, Hendra selalu memandang Titi dengan tatapan penuh cinta, tapi sayangnya takdir tidak pernah mempertemukan mereka berdua dalam ikatan cinta sepasang manusia


Saat masa sekolah Mts dulu, bahkan Hendra pernah mengorbankan diri menerima bulian kakak kelas demi membela gadis kecil mungil yang selalu membuat Hendra tersenyum walau hanya dengan mendengar suara tanpa melihat wujud tubuhnya yang selalu dia rindukan, tapi si gadis kecil itu tidak menyadarinya bahkan sampai sekarang.


Titi akhirnya berpamitan pada Hendra untuk pulang terlebih dahulu ke rumah agar Robi tidak curiga, dan Hendra akan menyusul pada jam makan siang


Titi menyempatkan mampir ke ladang dan mengambil beberapa sayuran untuk membuat alibi pada Robi agar dia percaya bahwa mereka memang sehabis dari ladang


Rasyid hanya menggelengkan kepala mendengar dan melihat kelakuan istrinya, Rasyid tau kalau Titi mencoba menetralkan rasa yang berkecamuk dihatinya tentang masalah Robi putra sulung mereka


''Wa,alaikum sallam'' seruan jawaban dari para penghuni rumah, Robi, Putra, dan Putri langsung berlari menyambut ibu mereka yang sudah kembali dari ladang


''Hai.. kalian lagi pada ngapain? Puca sama Puci sudah pulang dari sekolah nih, ehh inikan belum jam pulang sekolah nih, baru jam 10.00!'' Titi melihat kearah jam dinding yang benar masih menujukan jam 10.00 pagi


''Pak guru sama ibu gurunya lagi pergi Rapat ke kecamatan mah.. jadi kita suruh pulang dan belajar di rumah, tadi dikasih PR banyak banget tuh mah''Putra menjelaskan sambil cemberut mengingat PR nya yang sangat banyak


''Ya ngga papa lah kak Puca,nanti mama bantuin ngerjain PR nya, atau minta bantu ajarin sama kak Robi juga bisa.. iyakan kan kak?'' Titi mengalihkan pandangan dari satu anak ke anak yang lain saat berbicara, dan selalu mengajak semua anaknya berinteraksi satu sama lain

__ADS_1


''Iya kalau Puca mau.. nanti kakak bantu ngerjain PR nya''Sahut Robi dengan senyum dibibirnya


''Yesss.. asyeek dibantu kak Obi'' Putra berjingkrak kegirangan disambut tawa dari yang lain


''De Puci punya PR juga nggak nih?'' tanya Robi pada Putri, yang dijawab anggukan ''Puci mau dibantu kakak nggak ngerjain PR nya?''Robi mengelus kepala adik perempuannya


''Iyya.. Puci mau! terima kasih ya kak Obi'' ucap Putri malu malu


''Iyaa.. kakak senang kok kalau kalian mau dibantu sama kakak, dari pada kakak ngga ngapa-ngapain, kan boring!" sahut Robi sembari terus tersenyum


Rasyid yang melihat interaksi istri dan ketiga anaknya saat dia masuk merasa senang, dia tadi masuk jeda 5 menit dari Titi karena harus memarkirkan motor ke garasi agar tidak terkena panas matahari langsung


''Ya sudah, mama mandi dulu, abis dari ladamg nih, badan mama lengket''Putri yang sedang bergelayut manja pada badan mamanya seketika melepaskan pelukannya


''Iiihh mama.. mama abis dari ladang ya, bepum mandi, pantesan bau aceemm''goda Putri sembari menutup hidungnya


Titi terbelalak dan auto mencium bau badannya sendiri


''Ahh enggak kok.. ngga asem.. idihh Puci godain mama nih, mau dicubit ya? ayo sini cubit!''Titi mengejar Putri yang langsung berlari bersembunyi dibelakang Robi, karena Robi sudah Remaja dan badannya juga tinggi besar seperti papanya Hendra makanya Titi kesulitan untuk menjangkau Putri


♡♥♡♥♡♥


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like ya.. thanks..


__ADS_2