
Titi pov
Aku berjalan sangat cepat sambil mengepalkan tangannya, dia berpikir 'awas kamu mas, ketangkap basah sekarang, mau ngeles apa lagi kamu Gerrrrr..... badanku terasa panas dan melayang seakan sangat ringan, aku menitipkan Putra kepada adikku Desi dan berpesan agar jangan di bawa masuk, aku tidak mau anakku melihat apa yang akan terjadi nanti di dalam.
Aku menarik baju laki laki kurang ajar itu, dia sangat kaget bajunya di tarik orang tiba tiba dan di berpaling padaku, aku yang sudah gelap mata langsung menamparnya
PLAKKKK... suara telapak tangan bertemu dengan pipi laki laki itu sampai wajahnya berpaling ke samping karena terdorong telapak tanganku, aku sangat geram sekali bisa bisa nya dia berani membohongiku terus menerus, ''SIAPA KAMU KOK TIBA TIBA NAMPAR AKU, APA SALAHKU PADAMU''
EHHH...
''Kamu buka mas Rasyid, maaf aku salah orang aku kira kamu suamiku yang sedang selingkuh sama mantan nya''aku terkesiap ternyata dia bukan suamiku, sekilas memang mirip tapi dia bukan..
''Kamu tuh apa apaan sih Titi, dasar wanita be*o main tampar aja, emang ada urusan apa kamu sama mas Hendra,? kamu kenal dia mas?'' Dena yang pada awalnya bengong karena kaget melihat orang yang bersama nya aku tampar, akhirnya dia bertanya sambil melotot dan menghardikku dengan suara yang menggelegar seperti terompet klakson mobil truk besar yang biasa di gunakan untuk mengangkut pasir dan batu bahan bangunan, dia menghampiri lelaki itu dan memgusap bekas tamparanku dengan telapak tangannya, dia melihat kearahku dengan tatapan yang seakan ingin menelanku hidup hidup, iiiihh suerem' tapi aku ngga takut,
Aku hanya malu dan kaget karena sudah salah sasaran,''Saya minta maaf Mas.. ehh kang ehh... kaka saya sudah salah orang'' sekali lagi aku menjelaskan sekaligus minta maaf pada orang itu sambil menunduk dan meremas tanganku, aku takut ini akan berbuntut panjang, aku takut kalau sampai di laporkan ke polisi karena tindakan kekerasan, pada orang tidak di kenal.
''Titi Rashawi kan?, benar ini kamu? kamu ingat aku ngga Ti, aku Hendra''
Loh orang itu malah kenal aku, aku menengadah dan melihat wajahnya, tapi aku tetap tidak ingat siapa dia, aku memang merasa pernah bertemu dengan orang yang mirip dengan dia tapi dimanaaaaa yaa...
''Siapa ya? ''
''aku kakak kelas kamu waktu dulu kita di Mts loh, yang orang Limbangan itu loh,''jelas nya
''ahh iya A hendra, aduhh... maaf ya A aku salah mengenali orang''aku minta maaf sekali lagi,benar benar malu.
__ADS_1
''Aku maafin tapi aku minta nomer telepon kamu ''loh kok malah minta nomer telepon,mana aku punya.
''Ngga punya A''aku meringis malu,dia malah menatapku dan kemudian dia merogoh sakunya mengeluarkan sebuah kartu
''Ini kartu nama aku,nanti kalau kamu sempat tolong telepon aku''dia kok maksa nyuruh aku nelpon,maksudnya apa coba? lebih baik aku terima saja dulu,terserah nanti mau di telpon apa tidak.
''ya sudah sini aku simpan,makasih loh A, aku permisi dulu ya''aku berpamitan dan segera pergi dari sana,sebenarnya aku penasaran siapa sih dia itu,maksudnya statusnya, kok dia bisa sama Dena, dia siapanya Dena ya? mesra banget lagi, tapi kok dia ngasih aku kartu nama suruh nelpon lagi, aku nggan nggerti, aku melirik sama si uler keket yang tampaknya dia lagi emosi jiwa, mukanya memerah, dan aku masih sempat dengar dia ngomong'' ngapain sih A ngasih dia kartu nama Aa, maksud Aa apa sih?'' tapi aku tidak perduli, bodo amat yang penting dia tidak sedang bersama suamiku, wleeee...
aku heran kok bisa badan nya A Hendra terlihat hampir sama dengan badannya Mas Rasyid di lihat dari arah belakang.
aku menghampiri adikku Desi dan segera meminta kembali anakku dan mengajaknya pulang,Desi menatapku heran dan aku bilang''nanti aku ceritakan di rumah''Desi mengangguk kami menghampiri motor yang kami titipkan dan segera pulang.
sampai di rumah aku menjelaskan pada Desi, di tertawa terbahak bahak setelah mengetahui aku salah orang, tapi dia juga merasa heran sama A Hendra yang ngasih aku kartu nama, gaya sekali dia bilang orang desa pakai punya kartu nama,dan aku pun berpikiran begitu.
Jam makan siang sudah lewat, motor yang di beli Desi sudah di antar sampai depan rumah, Desi membawa nya masuk ke rumah dan dengan bangga nya dia bilang'' hehe.. motor aku sudah datang kak'' sambil meringis lebar,aku mengelus pundaknya dan bilang'' iya ih kamu hebat, bisa dapat uang dan membeli barang sendiri,bangga kaka sama kamu''aku kemudian memeluknya, adikku satu satunya, kalau dia berhasil aku juga turut bahagia
Desi menatapku dan dia berkata,'' kita susul aja yuk ke ladang, biar kita tau sedang apa dia kok ngga tepat janji''seru Desi
aku balik menatap nya dan menyahut'' ayo kalau kamu mau antar kaka, sekalian mengetes motor baru, sebentar kaka bikin kopi di termos kecil dulu biar punya alasan kita nyamperin dia buat antar kopi'' aku bergegas ke dapur.
''eee hek hek hek ma ma'' kudengar suara putraku menangis setelah bangun tidur, biasa nya memang begitu, kalau dia bangun dan tidak ada aku di sampingnya maka dia akan menangis, aku meminta tolong Desi untuk mengambilnya karena aku sedang menyiapkan kopi
''Des,... tolong ambil Putra dulu sekalian ganti bajunya biar kita bisa cepat berangkat'' seru ku
''iya kak ini sudah aku ambil lagi aku gantiin baju'' seru Desi balik, aku selesai dengan se termos kecil kopi dan sekalian ambil selendang yang biasa buat menggendong bayi,
__ADS_1
''sini Putra biar kaka yang gendong ayo kita berangkat'' aku mengambil putraku menggendongnya dan keluar bersama menutup pintu dan menguncinya.
Desi sudah siap dengan motornya dan kita lanjut berangkat, kurang lebih lima belas menit perjalanan aku sampai di ladang milik suamiku, motor tidak bisa di bawa karena letak ladangnya agak ke dalam jadi kita memarkirkannya di gubuk pinggir jalan, ada beberapa motor yang terparkir di sana dan motor mas Rasyid juga ada.
aku berjalan bersama adikku dengan perasaan was was, dari jauh aku melihat suamiku sedang membersihkan ladang kami dari sisa sisa pohon singkok yang berserakan yang sepertinya baru habis panen, keringat nya mengucur deras di badannya dan di dahinya, wajahnya memerah karena lelah dan kepanasan, tiba tiba hatiku seperti di remas, aku merasa iba pada suamiku,
Suami yang aku kira mungkin sedang bersenang senang dengan mantannya ternyata dia sedang bekerja keras disini, dan aku tau mungkin yang bi Darmi kira itu mas Rasyid adalah orang lain yaitu A Hendra yang mirip sekali dengan mas Rasyid, tapi rasa egoisku masih saja menguasai ku, karena mas Rasyid sempat bilang juga pernah lima kali pergi sama mereka yaitu mantan istri dan anaknya.
kami menghampiri nya, aku memanggilnya
''Maass... istirahat dulu... ini aku bawakan kopi''dia terlonjak kaget dan seketika wajahnya sumringah, senyumnya merekah dan segera mencuci tangannya lalu menghampiri kami.
''Ahh alhamdulillah di bawain kopi ayahnya, makasih ya mah, adek juga ikut ya, sayangnya ayah ikut'' Mas Rasyid terlihat sangat gembira melihat kedatangan ku yang mengantarkan kopi, dia memerima termosnya lalu mengajak kami ke gubuk tempat biasanya dia istirahat, dia terlihat lelah sekali, untung aku juga sempat membawa roti tadi, untuk teman minum kopi nya, dia memakan rotinya dengan lahap lalu menuangkan kopi ke tutup termosnya lalu meminumnya sambil
meniup niupnya terlebih dahulu
''Kok tumben mama sama putra nganterin ayah kopi''dia bertanya sambil tersenyum sembari menatapku, dia mengambil alih putra untuk di gendong setelah meletakan kopinya yang masih panas.
''Itu karena ada Desi mas, dia mau mencoba motor baru yang dia beli tadi pagi, dia ngajak aku jalan jalan dan aku berpikir untuk sekalian melihat ehhh mengantar kopi untukmu'' sahutku setengah bohong.
''Ohh begitu, hemmm itu ma, maaf ayah ngga jadi pulang jam makan siang tadi, soalnya tanggung kerjaan nya harus segera di bereskan biar bisa cepet di tanami lagi''dia menatapku dan aku memalingkan wajahku, kalau ini yang dia kerjakan tiap hari kenapa nggak jujur aja sih pake acara minta maaf lagi
''Ya sudah mas aku dan Putra pulang dulu ya, mas sudah mau pulang atau belum'' aku melirik Desi dan memberi kode padanya agar kita cepat pulang saja, kasian putra kalau kelamaan di ladang, dia masih kecil.
''Mas pulang nya sebentar lagi, ini mau nyelesain itu dulu''dia menunjuk ke batang batang pohon singkong yang berserakan.
__ADS_1
''ya sudah aku pulang duluan, ayo nak kita pulang duluan biar bisa sempat masak buat makan malam'' seruku sambil mengambil alih putra ku dari gendongan ayahnya dan kami beranjak pulang.