
''Mas hari ini katanya Robi mau datang berkunjung sama A Hendra mas,tadi Robi telpon ke mama''Titi ngasih tau suaminya yang saat itu sedang minum kopinya di pagi hari setelah sarapan, Rasyid menengok ke arah istrinya dan berkata
''Jam berapa mah? ayah nanti mau ke ladang, cuma mau ngecek sih, besok lagi juga bisa kalau hari ini Robi mau kesini'' Timbang Rasyid karena dia juga sebenarnya merindukan anak yang dia urus dari bayi sampai besar, sebelum dia tau kalau anak itu bukan darah dagingnya, walau begitu kasih sayangnya kepada anak itu tidak berkurang hanya saja tidak jadi prioritas lagi karena sudah ada yang lebih berhak bertanggung jawab menggantikan dirinya
'' Jam sembilanan katanya yah, bentar lagi tuh,sekarang aja sudah jam delapan lebih tiga puluh''Titi menjelaskan sembari mengotak atik handphonenya
''aku kebelakang dulu ya mas mau cek mesin cuci sudah selesai menjalankan tugasnya apa belum,kalau sudahkan bisa mama jemur pakaiannya biar cepat kering, abis ini mama mau ke warung juga mau belanja bahan masakan kesukaan Robi, ohh ya nanti kalau mama belum selesai Robi sidah keburu datang ayah suruh dia sarapan dulu, Nasi gorengnya sudah mama siapkan buat dia di meja makan, A Hendra tawarin juga siapa tau mau, kalau nggak ya ngga papa'' setelah mengoceh panjang kali lebar akhirnya Titi bergegas ke belakang untuk melakukan apa yang dikatakannya tadi
Putri sedang duduk manis di depan tv nonton kartun kesayangannya, dan dari tempat Rasyid duduk dia bisa mengawasi anak perempuannya itu, setelah selesai dengan kopinya Rasyid menghampiri Putri dan duduk di dekatnya
Putri yang sadar ayahnya mendekat hanya melirik sebentar kemudian fokus ke televisi lagi, Rasyid tersenyum dan mengelus rambut di kepala anaknya
Tidak lama kemudian terdengar ketukan di pintu rumah
Tok tok tok
Dan suara seruan salam
''Assalamualaikum, mah.. dedek Putri hallo pada dimana nih''suara khas anak laki laki remaja yang baru akil baligh
''Wa'alaikum sallam, kami di sini nak'' seru Rasyid menjawab salam dari Robi'' Sini masuk aja, pintunya nggak di kunci''
Terlihat Robi masuk di ikuti Hendra di belakangnya mereka membawa bingkisan yang tidak tau apa isinya
__ADS_1
Rasyid beranjak menyalami keduanya, dan mempersilahkan mereka duduk, Rasyid bergerak ke belakang hendak memanggil istrinya, sedangkan Robi langsung duduk dan menoel noel adik kecilnya yang terlihat sangat serius dengan tontonannya
Rasyid keluar lagi dengan tiga cangkir teh manis panas,dan seroples camilan, menaruhnya di meja dan mempersilahkan tamunya minum
''Rob kamu sudah sarapan belum nak? tadi mama Titi masak nasi goreng yang dulu kamu sukai itu loh, katanya special buat kamu,sana makan tuh di meja makan, ambil sendiri sana sudah gede ini'' Rasyid berkata dengan lembut kepada anak remaja itu, dan Robi langsung bangkit dengan antusias menuju meja makan, bahkan dia tidak sempat menjawab pertanyaan dari sang mantan ayah, (ada gitu mantan ayah?)
''Apakabar mas Hendra, lama tidak terdengar kabarnya, saya kira kalian sudah melupakan kami'' Rasyid mengajak Hendra berbincang
''Ahh nggak gitu Sid.. kami tinggal di Jakarta, aku merintis lagi bisnis trevel aku disana, Robi aku bawa kesana, karena almarhumah terlalu sibuk dengan urusannya sendiri, alhamdulillahnya Robi mau ya sudah, kami di sana aja, Robi sekolah, aku kerja, sampai berita duka itu datang aku dan Robi barulah kembali ke desa, dan ini juga nggak bisa lama, kami harus segera kembali ke sana, rencananya besok kami berangkat lagi
Dan obrolan pun berlanjut sampai Titi datang dari tempat bertempurnya di belakang, Titi Terharu saat melihat Robi sedang memakan nasi goreng yang dia buatkan special dengan sangat lahap sampai tidak menyadari kehadirannya, Titi mendekat mengelus kepala anak laki laki yang langsung terhenyak kaget sampai tersedak
Titi tertawa sembari mengambilkannya minum dan berkata'' pelan pelan dong makannya, mama nggak bakalan minta jatah kamu'' Robi meneguk air yang diberiakan Titi
''Apa iya sih segitu enaknya''
''iya suueer mah, aku nggak bo'ong''
''Ya sudah habisin sono nasi gorengnya, mama ke depan dulu nyapa papa kamu''
Titi berjalan ke ruang keluarga dimana ada suami dan anaknya serta Hendra
''A Hendra sudah sarapan belum, itu ada nasi goreng A'' Titi mendekat kemudian menjabat tangan Hendra dan duduk di dekat Putri yang langsung naik ke pangkuan mamanya
__ADS_1
''Aku udah sarapan tadi di rumah Ti, sebenarnya Robi juga udah, tapi dia kangen sama masakan kamu, dia udah nggak sabar ngajakin ke sini mulu dari kemarin, tapi aku kan ngga enak kalau ngga ikut Tahlil barang semalam mah, ikut ngedo'ain mamanya Robi dulu sebelum besok kembali ke Jakarta''
Rasyid membenarkan apa yang dikatakan Hendra, tapi dianya sendiri tidak hadir di acara Tahlilan mantan istrinya tersebut, karena jarak yang lumayan jauh, dan karena mendoakan tidak perlu datang ke rumah duka juga, dari rumah masing masing setelah sholat pun bisa untuk mendo'akan sesama.
Setelah Robi selesai makan dia mengambil alih Putri, dia mengajak adik kecilnya bermain, dan kebetulan Titi akan pergi ke warung untuk belanja persiapan makan siang
Jam makan siang sudah tiba, Putra juga sudah kembali dari sekolah di jemput sama Rasyid sebentar tadi
Jadi mereka semua sekarang sedang makan siang bersama, sedangkan Putri sedang tertidur di depan televisi setelah capek bermain bersama Robi
Hari menjelang sore mereka masih saja terlibat obrolan tentang bisnis dan tentang tumbuh kembang anak mereka, Hendra juga bercerita bahwa dia sudah menemukan seorang wanita yang akan dia nikahi sebulan yang akan datang, wanita itu janda tanpa anak yang dia adalah korban perjodohan orang tuanya
Titi dan Rasyid mengucapkan selamat tapi Hendra belum mau menerima ucapan selamat itu, dia bilang ucapan selamatnya nanti aja di acara resepsi, Hendra berjanji akan mengundang mereka, walau acaranya dia adakan di Jakarta, Hendra bilang dia bersedia membayarkan ongkos trevel bahkan ongkos mobil carteran agar keluarga Rasyid bisa hadi di pernikahannya sebulan yang akan datang itu
Dan Rasyid berkata tidak perlu seperti itu, Rasyid akan dengan senang hati pergi ke Jakarta untuk menghadiri Resepsi pernikahan Hendra walau tanpa embel embel apapun
Jam 3 sore Hendra dan Robi berpamitan untuk kembali ke Jakarta saat itu juga, Hendra memberikan bingkisan yang tadi dia bawa membuat Titi sungkan untuk menerimanya, tapi karena Hendra memaksa akhirnya mereka menerimanya juga, sayang hari itu ladang mereka sedang tidak menghasilkan apapun karena tanaman sayuran baru berbunga dan akan panen satu bulan kemudian sehingga Titi dan Rasyid tidak bisa memberikan oleh oleh hasil panen kebun mereka, dan Titi meminta maaf untuk hal itu
Hendra hanya tertawa menanggapi hal itu, dia berkata bahwa dia jarang masak juga, mereka lebih sering beli makanan matang karena tidak ada anggota keluarga wanita di rumah mereka, belum ada.
Sebelum pergi Robi meminta pada Titi dan Rasyid untuk tidak melupakannya, dan dia juga berjanji akan berbakti pada Rasyid nanti kalau dia sudah besar dan dewasa, dia tidak akan melupakan Rasyid dan tetap akan menganggapnya sebagai ayahnya, ya walau dia sekarang punya seorang Hendra yang dia Panggil papa
Rasyid dan Titi sangat terharu, mereka juga berjanji akan selalu menerima kedatangan Robi dengan kedua tangan terbuka, dan menganggap Robi adalah putra sulung mereka
__ADS_1
Di dalam bathin Rasyid 2 anak cukup, 3 anak malah lebih bagus