
Author pov
Rasyid adalah seorang pria dengan satu orang adik perempuan yang bernama Risya sebenarnya Rasyid punya kakak laki laki tapi dia sudah meninggal sewaktu masih balita dan hal itu yang menjadikan dia sebagai anak sulung
Mempunyai seorang adik perempuan bagi Rasyid menjadi sebuah kebahagiaan, Rasyid selalu menemani adiknya bermain di saat Rasyid masih berumur di bawah 10 tahun, tapi setelah umurnya lebih dari itu dia sudah di ajak ayahnya ke kebun dan membantu mengambil rumput untuk pakan kerbau yang mereka pelihara
Kadang Rasyid merasakan badannya capek luar biasa saat pagi sekolah dan sepulang sekolah di suruh ibunya mengantar makan siang untuk ayahnya dan Rasyid juga di minta untuk membantu ayahnya sampai sore, tapi setiap Rasyid mengeluh ibunya akan memarahinya bahkan dia diancam tidak akan diberi makan
Jadilah Rasyid sosok yang berhati keras, jarang tertawa dan suka menyendiri, tapi kasih sayangnya kepada adiknya sangatlah besar, semua permintaan adiknya selalu dia usahakan untuk terpenuhi dan itu yang membuat Risya tumbuh menjadi sosok yang manja, selalu mau menang sendiri, dan malas
Risya adalah gadis yang lumayan cantik (cantik mah relatif) dan disukai banyak pemuda di desanya tapi dari semua pemuda yang ada di desanya tidak ada satu pun yang dilirik oleh Risya
Suatu saat ada seorang pemuda yang datang dari kota,dia seorang petugas dari dinas sosial yang di tugaskan untuk mendata rakyat miskin, konon katanya data tersebut akan di gunakan untuk penyaringan yang mana saja keluarga yang tidak mampu yang kemudian akan di beri bantuan lewat program PHS (Program Harapan Sejahtera)
Keluarga Risya bukanlah calon penerima bantuan, karena kelurga mereka masuk dalam kategori mampu, mereka punya sawah dan kebun yan luas.
Suatu pagi saat Risya menyapu halaman dia dikejutkan oleh sapaan salam dari dua orang pengendara motor yang berhenti di depan Rumah mereka
''Assalamualaikum... permisi mbak mau tanya nih, rumahnya pak Tohirin/ibu Mastari di mana ya mba?''
Risya terpaku sejenak memandang pemuda yang melontarkan salam dan pertanyaan, Risya terpesona oleh wajah, suara, dan sikap dari pemuda berkaca mata tersebut
''Mba mba hei, maaf mba, mba tau nggak rumah orang yang saya bilang tadi'' pemuda itu merasa heran pada gadis cantik yang ada di depannya, apa gadis itu tuli, atau bisu?
Seorang pemuda berkaca mata yang bernama Dirham Dauzi, sebenarnya dia juga merasa terpesona saat melihat wajah gadis yang sedang di tanyai nya itu, tapi dia bisa mengendalikan perasaannya, tidak seperti si gadis itu yang terpaku padanya
__ADS_1
''Ohh rumah pak Tohirin itu di ujung sebelah barat sana mas, di depan rumahnya ada pohon jambu dan kolam ikan''jawab Risya sesaat setelah dia sadar dari keterpakuannya terhadap pesona pemuda itu
Singkat cerita mereka berdua Irham dan Risya sering bertemu walau tidak sengaja di jalan atau di warung, lama kelamaan mereka betukar nomer handphone dan ya berlanjut chating di sosial media
RISYA POV
Aku tidak menyangka bahwa aku akan bisa merasakan yang namanya jatuh cinta, pria berkaca mata dari kota itu membuat jantungku berdegup kencang meski pertama kali aku melihatnya
Aku selalu mengingat wajahnya bahkan ketika menutup mata, di kala tidurpun entah kenapa dia selalu mampir di mimpiku
Pemuda yang yang kemudian ku ketahui bernama Dirham Dauzi, kami akhirnya semakin dekat karena entah kebetulan atau di sengaja kami jadi sering bertemu
Dia sering meminta tolong untuk mengantarnya mencari alamat,dan aku dengan senang hati mengantarnya, dia pria yang lembut dan baik hati kepada setiap orang yang ditemuinya, hormat kepada orang tua dan santun dalam berbicara dan dia juga menyukai anak anak
''Kenapa mendadak A ada apa sebenarnya? dan kemarin Aa ngga bilang apa apa ke Ica''aku bertanya dengan mata berkaca kaca, aku merasa sedih karena pemuda yang berhasil mencuri hatiku ini akan pergi dan mungkin kami tidak akan bisa berjumpa lagi
''Iya memang mendadak, seharusnya saya masih disini 2 minggu lagi, tapi karena ada keluarga saya yang sakit, maka saya meminta ijin untuk kembali lebih cepat kepada atasan saya dan syukurlah bisa dapat ijin''sahut Dirham dengan menatap lekat wajahku yang berada dihadapannya, aku melihat ada suatu hal yang sepertinya pria itu simpan terlihat dari tatapan matanya
''Tapi kita masih bisa chatingan kan A? Aa masih bisa kasih aku kabar tentang Aa kan," tanyaku dengan wajah yang mengerut menahan airmata
''Tentu saja, kamu nggak usah nanya gitu, kita masih bisa contact an, meski aku tidak disini lagi, nanti kalau keadaan di kotaku sudah kembali tenang, aku akan kesini, mengunjungimu, jika ibu mengijinkan'' Dirham melihat ke arah ibuku''dan ibuku menjawab
''Kalau nak Dirham berkenan berkunjung kenapa ibu harus melarang? silakan saja, kami akan menerima kehadiranmu dengan senang hati''sahut ibuku
''Baiklah saya harus pergi sekarang, takut keburu kemalaman di jalan''A Dirham bangkit berdiri lalu menyalami ibu dan aku mengantarnya keluar
__ADS_1
Dia naik di motornya dan berkata
''Jaga diri kamu baik baik, aku akan merindukanmu''apaaaa... apa tidak salah yang kudengar, dia bilang akan merindukanku,akau kaget sehingga hanya bengong tidak menjawab perkataannya
''Hei, kok malah bengong?, ya sudah aku pergi ya, dadah..'' dia menstater motornya kemudian melambaikan tangannya dan dia pergi, aku membalas lambaian tangannya dengan perasaan yang bercampur aduk
Akankah aku bisa bertemu dengannya lagi? bagaimana kalau aku merindukannya? dia sudah tidak terlihat lagi walau hanya punggungnya,dia sudah pergi
Sebenarnya kota tempat tinggalnya tidaklah terlalu jauh hanya Dua jam perjalanan menggunakan sepeda motor, tapi aku bahkan tidak pernah pergi jauh kemanapun, aku hanya selalu berada di rumah bersama ibuku, pergi hanya kepasar pasar terdekat yang ada di sekitar desa kami
Inilah yang sedikit banyak aku sesali,saat orang lain pergi ke kota untuk bekerja aku tetap harus di desa menjaga ibuku, karena ibuku akan jadi seorang diri kalau aku pergi, kakakku terlalu sibuk dengan pekerjaan dan keluarganya, dan aku tidak menyukai kakak iparku
Kakak ipar yang sama sekali tidak membuatku bangga ketika memilikinya, dia hanya perempuan dari keluarga miskin yang ibuku bantu terus dulunya, ketika ibu dari kakak iparku masih hidup, bisa dikatakan mereka itu seperti benalu
walau aku tidak menyukai kakak iparku tapi aku tidak membuli atau mengatakan apapun padanya, tapi maaf aku tidak bisa ramah, atau akrab dengannya, berkata yang seperlunya saja, terserah dia mau berpikir seperti apa.
kakak iparku dan aku sebenarnya punya satu kesamaan yaitu tidak pernah tau apa dan bagaimana kehidupan kota, bekerja disana atau hanya sekedar jalan jalan, tapi justru kesamaan itulah yang membuatku semakin tidak respect padanya
♡♡♡
Malam hari didesa sangatlah sepi, itulah yang kurasakan walau terdengar suara burung hantu bersahutan atau suara lolongan anjing yang terdengar nyaring
Aku berada di dalam kamarku duduk di atas tempat tidur, mataku berkali kali melirik ke arah handphone yang kuletakan diatas meja, menunggu kabar dari seorang pria yang mempunyai senyuman manis dan tatapan hangat, tapi tidak ada satupun pesan atau panggilan yang masuk ke handphone ku
Ini sudah jam sepuluh malam tapi aku masih menunggu, dari tadi aku berpikir berkali kali haruskah aku yang menghubunginya terlebih dahulu? tapi kemudian aku tetap hanya menunggu, ini sudah malam ketiga aku begini, duduk diam menunggu.
__ADS_1