
Pagi yang cerah setelah malam syahdu ku terdengar suara cicitan burung pipit,
uppss aku bangun kesiangan, eh kok putra belum bangun, biasanya dia bangun lebih awal, sungguh anak yang pengertian.
aku segera keluar menuju dapur, aku lihat Desi sudah bangun dan sedang memasak,dia melirik ku dan berdehem
Ehem ehem...
''iss apaan sih de?"
''kaya manten aja bangung kesiangan'' celetuk Desi sambil tersenyum smirk mengejek ku
''Aku cuma kecapean aja de, kamu pikir apa?'' aku malu di godain adikku berasa ketangkap basah, ''kamu masak apa de?" perlu di bantu apaan nih?'' aku mengalihkan pembicaraan karena malu di godain terus
''sudah selesai nih masaknya aku, nasi di ricecooker juga sudah matang'' dia menunjuk masakan nya yang sudah di tata di meja makan
''ya sudah kaka mandi dulu aja, sebelum putra bangun''aku masuk ke kamar mandi, kebetulan tadi sudah membawa baju ganti sekalian pas keluar kamar.
Saat selesai mandi kulihat suami dan putraku pas sekali sedang membuka pintu kamar dan keluar
''Ehh Putra sudah bangun, sini mandi sama mama''
''Biar putra mandi sama ayah aja ma, kamu siapin baju kita aja''mas Rasyid membawa putra ke kamar mandi sekalian mandi bersama dengannya
''Iya baiklah, mandiin yang bersih ya ayah putranya''
__ADS_1
''iya dong ma, masa mandi ngga bersih''
setelah semua orang mandi kami berkumpul di meja makan untuk sarapan, dan putra masih berada di gendongan ayahnya sembari makan, seperti nya suamiku sedang ingin memanjakan putra nya
''Nanti siang kita pulang ke rumah kita ya ma'' mas Rasyid membujukku untuk pulang, sebenarnya aku juga sudah berniat akan pulang siang ini, karena niatku ke sini cuma mau menghindari dia karena kesalahpahaman itu, tapi sekarang sudah tidak ada masalah itu lagi jadi aku mau pulang juga''iya mas''jawabku
''Loh kok udah mau pulang aja sih,katanya kaka mau belajar naik motor''sela Desi
''Oh iya mas, aku pengen bisa mengendarai motor sendiri,Desi mau ajarin aku naik motor gimana dong?'' aku jadi bingung antara pulang atau belajar mengendarai motor
''Ayah juga bisa ajarin mama naik motor, atau kalau kamu maunya di ajarin Desi ya tinggal nanti Desi yang nyamperin kamu terus berangkat belajar deh, emang mau belajar di mana?"
''di lapangan aja deh belajarnya dulu, biar lebih aman,nanti kalau sudah bisa tinggal belajar langsung di jalan''sahutku
''ya sudah besok aku samper kaka buat belajar, tapi nanti putra sama siapa kalau pas kaka belajar naik motornya, kan kita nggak mungkin ngajak putra, bahaya'' seru Desi
''Biar putra sama ayah dulu sewaktu kamu belajar, sebaiknya belajarnya pagi pagi biar ngga panas di lapangan nya, dan setelah itu baru ayah pergi ke ladang''
''oke baik kalau gitu'' kami sepakat.
...****************...
besoknya aku benar belajar naik motor, dan adikku mengajariku dengan telaten, memang badan adikku lebih tinggi dan lebih berisi dariku walau aku yang kakaknya tapi badannya lebih pantas kalau dia yang kakakku wkwkwk, dan juga umur kami cuma beda 3 tahun.
selesai belajar motor aku di antar pulang oleh adikku dan akan melanjutkan lagi besok belajarnya.
__ADS_1
Seminggu kemudian aku sudah benad benar mahir mengendarai sepeda motor, dari motor matic milik Desi bahkan sampai motor mas Rasyid yang menggunakan persneling atau kadang di sebut juga gigi, ini bukan gigi manusia ya, tapi gigi motor, biasanya terdiri dari empat gigi, gigi yang berkekuatan besar terletak pada gigi satu dan dua biasanya di pake untuk jalan yang memanjat dan gigi tiga dan empat digunakan untuk jalan datar dan melaju sangat cepat.
Desi sudah kembali ke kota Bandung untuk bekerja lagi, sedangkan motornya dia titipkan di rumahku, dia memintaku untuk sesekali memanaskan motornya kalau tidak di pakai dan memperbolehkan aku memakainya kalau aku mau dan butuh kapan pun, tapi aku membatasi diri dari memakai barang adikku aku takut merusaknya dengan tidak sengaja nanti
Jadi aku memakainya hanya sesekali kalau pergi ke warung yang agak jauh, tapi aku rajin untuk menghangatkan mesin nya setiap pagi,
Desi bilang dia akan pulang setiap tiga bulan sekali walau hanya bisa cuti seminggu di rumah, dia bilang majikannya adalah orang korea yang tinggal di indonesia karena pekerjaan, jadi setiap tiga bulan sekali majikannya akan pulang ke korea menemui keluarganya, dan pada saat itu aku bisa pulang kampung, gaji yang di berikan majikannya memang lumayan besar tapi setimpal dengan tugasnya yang sangat banyak dan semua harus sempurna dan minim kesalahan, kalau tidak sengaja melakukan kesalahan maka akan di beri sangsi atau potong gaji, tapi pada dasarnya mereka majikan yang baik, dan aku merasa bersyukur karena itu.
...****************...
Dua bulan sudah berlalu
Malam hari selalu menjadi saat saat quality time buat aku dan suamiku saat dimana kami duduk bersama sambil makan cemilan dan nonton tv, sambil bercanda bersama
setelah kejadian tidak mengenakan waktu itu sekarang mas Rasyid lebih terbuka padaku, segala pengeluaran dia diskusikan dulu denganku, berapa dan apa yang akan dia berikan pada anak pertamanya juga selalu dia rembugkan denganku, tidak ada celah untuk si uler keket basi itu untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk mendapatkan keuntungan untuk dirinya sendiri, dan terakhir kabar yang aku dengar dia sudah bercerai dengan suami keduanya dan sedang dekat dengan seseorang yang mirip dengan mantan suami pertamanya dan mungkin itu a Hendra, kenapa si A Hendra ini bisa terjerat sama janda uler keket itu? aku heran dan sedikit menyesalkan kenapa a Hendra tidak mencari wanita lain saja, walau bagaimana pun dulu waktu aku sekolah Mts a Hendra selalu baik padaku jadi aku tidak mau dia terluka karena si uler keket tapi apa dayaku.. aku tidak punya hak apapun jadi aku membiarkan saja mereka
aku juga sampai lupa tidak menceritakan kejadian di pasar karang gendot waktu itu, biarlah mas Rasyid tidak tau tidak jadi masalah
aku nikmati saja saat saat damai ini, dengan Dena yang sibuk dengan pria barunya dan dengan sikap mas Rasyid yang tambah perhatian dan sayang sama aku dan putraku.
seminggu yang lalu mas Rasyid membawa kami jalan jalan ke pasar, membelikan baju baru buat Putra dan untukku juga, sendal dab tas baru untukku, aku bahagia sampai aku tersenyum sepanjang perjalan kami, mas Rasyid bahkan menggandengku mesra tanpa malu di pasar, walau aku sempat mendengar celetukan orang yang mengatakan apa nggak malu mesra di pasar, tapi seolah mas Rasyid tidak perduli dan dia berbisik padaku, ''mesra sama istri sendiri ini ya, emang siapa yang larang?'' dan aku tersipu malu mendengarnya
kemudian aku melihat sesuatu yang sudah lama aku inginkan dan aku menarik tangan suamiku dan berbisik mesra, ''Masss.. aku mau itu'' ditelinganya
''Apa ma? yang itu ya? ayok kita ke sana beli'' sambut Mas Rasyid tidak keberatan dan aku berlonjak kegirangan sembari berkata
__ADS_1
''Asyeekk sate kambing kesukaan ku, mas beli dua kodi ya mas'' rengekku lagi
''oke.. ayo kita beli sate''