
♡ada yang nungguin up nya nggak?♥
*kasih tau author ya kalau suka*
☆tulis dikolom komentar★
$sseett jangan lupa tekan like juga ya ya othor maksa nih.. wkwkwk...
...****************...
BACK TO STORY
Setelah Rasyid pergi Titi kemudian duduk di kursi dekat anaknya yang sedang bermain boneka beruang,boneka beruang seukuran bayi yang hampir sama besarnya dengan Putra, boneka itu adalah boneka yang di belikan Rasyid untuk Putra sebulan yang lalu.
''Ka kaka nih lagi ada masalah apa sih sama kaka ipar?'' tanya Desi
''Ehh.. masalah apa sih de?" Titi mengelak agak ragu untuk menceritakan masalah rumah tangganya kepada adiknya.
''Kakak jangan pura pura ngga tau deh, sudah jelas terlihat dari interaksi kalian kalau lagi ada masalah di antara kalian'' sungut Desi kesal karena kakak nya tidak langsung bilang aja,ada apa sebenarnya.
''Sebenarnya kakak sendiri juga ngga tau ada masalah aa sebenarnya, Mas Rasyid tiba tiba berubah selama kurang lebih sebulan ini,dia kalau pergi ke ladang gasik sekali jam 6 udah berangkat bahkan tanpa sarapan,dia bilang gampang nanti beli di warung,terus pulangnya menjelang maghrib banget sampai rumah mandi pasti setelah itu tidak lama terdengar Adzan maghrib, terus kalau di mintain tolong jagain Putra dia bilang capek banget, puncaknya aku malah denger dari bi Darmi katanya dia sering lihat mas Rasyid pergi pergi sama si uler keket Dena''
''ulet keket Dena? mantan istrinya kakak ipar?
__ADS_1
''iya si uler keket itu''
''terus sudah kakak tanyain ke kakak ipar? jawabannya apa?
''Sudah kakak tanyain tapi dia jawabnya ngga jelas banget malahan dia minta maaf sama kakak''
''Kok minta maaf? minta maaf karena apa katanya ka?''
''Kaka juga ngga tau minta maaf untuk apa de, makanya mba kesel, mba mau nginep di sinj sementara biar kakak iparmu bisa merenungkan apa yang terjadi dan entahlah kakak sendiri juga bingung''
''jangan jangan minta maaf karena beneran CLBK an lagi sama mantannya itu ka?'' sahut Desi dengan mata membola seperti kaget dengan dugaannya sediri
''Entahlah de, kakak juga berpikir nya kesitu, tapi nggak tau juga sih''
''Ya udah deh iya. tapi kita naik apa? apa kita akan jalan kaki, kasian putra nanti kepanasan dan ke capean kalau harus jalan kaki kita nya''Titi merasa malas untuk berjalan kaki sejauh itu jarak dari rumah mereka ke pasar karang gendot biasanya ditempuh dalam jangka waktu satu jam kalau berjalan kaki, apalagi selama lebih daru satu tahun dia hanya tinggal di rumah dan di rumah, pergi palingan ke warung dekat rumah saja.
''Kakak tenang aja, ku sekarang bisa naik motor,entar aku pinjam motornya mang imam tetangga sebelah, kemarin aku sudah ijin pinjam motor mau ke pasar, kebetulan kakak sekalian disini jadi bisa ikut''
''wahhh keren kamu de sudah bisa naik motor'' mata Titi berbinar kagum, sempat terbesit di pikiran Titi untuk belajar naik motor, pernah ijin ke Rasyid minta di ajarin naik motor tapi Rasyid malah melarang, katanya takut Titi jatuh dan terluka.
''wah cuma naik motor aja keren si kakak nih, yang keren itu kalau bisa beli motor baru bagus, baru keren tuh'' sahut Desi
''Ya sok atuh beli de, kamu kan baru pulang kerja, duit kamu banyak dong?'' sindir Titi, dia ingin adiknya hidup lebih baik kedepannya,dengan punya kendaraan bermotor akan mempermudah transportasi.
__ADS_1
''Iya atuh ini juga mau beli kan sekalian ke pasar sekalian traktir kakak makan bakso sekalian ke deller motor di karang gendot sana, yang deller nya deket Bank BRI itu lah ka''sambar Desi dengan bangga nya menjawab sindiran sang kakak.
Titi bengong mendengarnya, sampai melongo tidak menyangka jawaban telak Desi atas sindiran nya, lalu berkata ''beneran de? , wah kamu benar benar keren, sini kakak peluk dulu, ih kakak bangga deh sama kamu'' seru Titi antusias lalu beranjak dari duduknya dan menghampiri adik semata wayangnya ingin memberikan pelukan, Desi menyambut pelukan sang kaka dan sempat terharu sampai matanya terasa panas, tapi Titi lantas berseru'' sudah janan nangis, ayo buruan kita pergi mumpung masih pagi'' dan mereka bertiga pun segera bersiap untuk pergi.
kini mereka sudah berada di atas motor berjalah dengan kecepatan sedang karena mereka membawa Putra, takut nya Putra bisa masuk angin kalau terlalu ngebut.
sampai di pasar pertama tama mereka menitipkan motor yang dapat di pinjam dari mang imam untuk dititipkan di tukang parkir, lalu pergi ke dealer motornya, di sana Desi memilih satu buah motor matic berwarna merah dengan membagar cash, Titi sampai kembali melongo karena tidak menyangka Desi punya uang sebanyak itu.
Setelah membayar motor kemudian mereka beranjak ke warung bakso langganan mereka, motor nya Desi nanti akan di antar sampai rumah oleh mobil pentaris toko.
Menikmati bakso dengan kuah panas yang masih mengepul di tambah sedikit sambal membuat peluh Titi berjatuhan dia menikmati sekali makan bakso pertama kali nya setelah bertahun tahun, dulu dia sering makan bakso di ajak sama a Yudi mantan pacarnya Titi semasa remaja yang kini sudah meninggal, Titi segera menggelengkan kepala mengusir ingatan tentang almarhum Yudi yang sangat manis dan romantis memperlakukan dirinya dahulu kala, Titi sudah selesai memakan bakso nya sembari tetap menggendong Putra, inilah manis dan pahitnya seorang ibu, makan bakso panas sambil menggendong anak pun tetap terasa nikmat, walau kadang sulit untuk menghindari tangan Putra yang penasaran dengan apa yang di makan ibunya tanpa tau itu makanan panas, andai mereka makan bersama Rasyid sang ayah dari anaknya pasti lebih membahagiakan karena bisa saja makannya bergantian biar lebih menikmati makanan yang di telan, tapi Rasyid bahkan tidak pernah membelikan bakso atau pun makanan yang bersifat beli di luar atau jajan karena Rasyid bilang harus berhemat biar bisa beli ladang atau sawah baru agar garapan mereka lebih luas dan lebih bisa menghasilkan banyak uang.
Titi merasa bersyukur Desi bisa menghasilkan banyak uang dari hasil bekerja sebagai Art di kota besar, sehingga bisa membeli kendaraan untuknya sendiri dan bahkan bisa mengtraktir kakak nya makan bakso dan juga membelikan beberapa potong pakaian untuk kakak dan keponakan nya tersayang.
Titi sangat gembira hari ini, dia merasa sangat bangga pada adiknya.
''Kak hari sudah semakin siang, mana panas banget lagi nih, yuk kita pulang sekarang, kan semua nya sudah kita beli''Desi mengajak pulang sambil menenteng beberapa kantong kresek besar berisi belanjaan, bukan hanya baju tapi juga bahan makanan yaitu sayur mayur dan daging ayam negeri.''ayo kak''Ehh kok Kak Titi diem aja.
''kak ayo ih malah ngelamun''Desi menyenggol lengan kakaknya dengan tas kresek.
''De kamu lihat itu... itu siapa ya kok kakak seperti kenal di lihat dari belakang, bentuk punggungnya seperti punggung kakak iparmu de'' Titi berkata sambil menunjuk ke warung es buah di seberang jalan,wajah Titi sudah berubah merah karena cemas kalau itu benar suaminya, marah kalau memang benar itu suami nya dan prasangka prasangka lain yang memenuhi otaknya, maranya sudah memerah dan terlihat siap mengeluarkan air mata.
''Ehh.. yang bener kak? apa kakak yakin? kan tadi kakak ipar bilangnya mau ke ladang kan ya tadi''Desi merasa tidak percaya kalau yajg yang di sangkakan oleh kakaknya bisa saja keliru, bisa saja iyu orang lain yang punggungnya mirip.
__ADS_1
''Ayo kita samperin..'' seru Titi sambil bergegas berjalan kearah seberang jalan dengan melihat ke kiri dan ke kanan terlebih dahulu,sampai di seberang jalan orang yang di maksud oleh Titi ternyata sedang makan es buah bersama seorang anak laki laki dan seorang wanita, dan si wanita nya sedang menyuapi si laki laki makan es buah dengan mesranya, sampai mengelap mulut si laki laki dengan tisu apabila ada tetesan es buah mengotori sekitar mulut si laki laki