
Banyak hal yang terjadi di dunia ini, tapi kita tidak sedang membicarakan dunia, ini cuma tentang keluarga kecil yang dibangun oleh Rasyid beserta istri dan anak tercinta, Rasyid tetap memberikan hak putra sulungnya Robi berupa materi dengan jumlah yang disepakati dengan istri kecilnya, sedikit perhatian.. kenapa sedikit? karena Robi memilih tinggal bersama ibunya yang Titi bilang si uler keket upps..
kalau Robi tinggal bersama ayahnya tentunya perhatian yang akan di berikan padanya akan lebih besar,tapi semua hal ada konsekuensi nya, Robi memilih tinggal dengan ibunya dan harus rela mendapatkan hanya sedikit waktu dan perhatian ayahnya
sekarang Robi sudah kelas satu SD dan putra sudah berumur hampir 2 tahun, Titi yang tambah sibuk dengan tugas baru nya membawakan makan siang ke ladang dengan jumlah yang lumayan banyak karena sekarang Rasyid mempekerjakan dua kadang tiga orang tetangga untuk mengolah tanah, penanaman, perawatan dan pemanenan, kalau tidak minta orang lain bantu... pekerjaan itu pasti akan menyita hampir seluruh waktu Rasyid di sepanjang tahun
Ladang pun bertambah dengan kebun luas dan di tanami beragam tanaman, tidak cuma singkong seperti dulu, sekarang Rasyid menanam pohon cengkeh, pohon karet dan pohon alkasia. laban, dan waru
Rasyid memisahkan ladang ladang dengan memberi pembatas terbuat dari pagar bambu, blok yang di tanami pohon alkasia, laban dan waru berada di sebelah barat terluar dari ladang milik Rasyid yang terus bertambah luas, karena berkurangnya minat pada pertanian, orang berbondong bondong menjual lahan dan memilih mendapatkan uang hasil penjualan lahan untuk berdagang di kota besar, atau untuk modal jualan online.
sedangkan blok yang di tanami pohon cengkeh berada di bagian tengah kemudian disebelahnya lagi tanaman singkong ubi rambat dan ada juga tanaman labu terus di sisi yang tersekat dengan jalan raya akan di tanamai cabai rawit,cabai keriting dan kangkung darat
semua proses diatur oleh Titi dan di catat di pembukuan besar yang Titi siapkan, proses tanam, dimulai pemilihan dan pembelian benih serta penanaman, mengatur orang kerja, konsumsi dan pembayaran juga menjadi tanggung jawab Titi, walaupun Titi hanya sekolah sampai lulus SD tapi alhamdulillah dia mampu mengatur semuanya.
Rasyid semakin cinta dan tidak bisa jauh jauh dari istri kecilnya itu, karena ide dan bantuan dari Titi sekarang Rasyid punya waktu banyak bersama anak dan istrinya, dirumah juga Titi dibantu satu orang tetangga wanita untuk memasak, mencuci dan membersihkan rumah, wahh.. mereka sudah jadi horang kaya..
...****************...
Desi telah menjelma menjadi gadis cantik yang tidak terlihat seperti orang desa, dia sangat beruntung karena selain tinggi badan yang lebih tinggi dari kakanya Titi, Desi juga hidungnya lebih mancung wkwkwk..
keuangan yang bagus dengan tabungan yang lumayan banyak karena dia berhemat dengan membeli hal hal yang penting saja, walau sesekali jajan tapi kalau jajan lebih sering di traktir oleh Harun dan Iman secara tidak sengaja bergantian
Dan beruntung nya lagi karena gajinya juga besar dan sering mendapat bonus dari majikannya
__ADS_1
Setelah pulang sewaktu cuti untuk memberikan handphone untuk kakaknya, dia menahan diri untuk tidak mengambil cuti lagi sampai lebaran, dia berharap uangnya akan terkumpul banyak agar hidupnya lebih mapan dan untuk di investasikan agar punya bekal di masa depan.
Sekarang Desi lebih sering berkomunikasi lewat telpon dengan kakaknya, handphone yang dia berikan sangat membantu untuk itu
Setiap hari libur Desi selalu di ajak keluar oleh Iman tapi kadang Desi menolak dengan halus karena merasa capek atau dia sedang ingin menulis novel di aplikasi baca novel gratis,Desi tau Iman kecewa dari raut wajahnya dan dari perubahan sorot matanya tapi biarlah Desi lebih suka diam di kamar dan menulis, iya sekarang Desi sudah menemukan wadah untuk dia menuangkan hobi menulisnya dengan menjadi salah satu author di aplikasi tersebut, memang belum banyak yang mengenal karyanya tapi Desi tidak masalah, yang penting dia tidak akan menyerah, karena semua hal berawal dari kecil sampai besar, berawal dari rendah sampai tinggi dan dari yang tidak di kenal sampai terkenal,
kadang keinginan menulis novel pun jadi tertunda karena Harun mengajaknya ngobrol sambil minum kopi bersama, ya Harun juga bukan tipe orang yang suka keluar terus tiap waktu tiap ada kesempatan, hanya sesekali dia keluar, dan entah kenapa Desi akan dengan senang hati menerima ajakan Harun untuk hanya sekedar ngobrol
...****************...
Iman pov
Aku tau Desi seperti tidak menyukaiku, dia seperti menyukai Harun, tapi aku akan mencoba untuk menaklukan hatinya, semalam aku menemuinya dan mengajak dia keluar untuk jalan jalan seperti biasanya kami lakukan, tapi kalau kita hanya jalan berdua pasti Desi akan menolaknya dan beralasan akan menulis novelnya dia, padahal aku tau sehari yang lalu dia sudah update tiga bab sekaligus dan bilang hari minggu dia tidak akan up Karena ada kesibukan real life, kesibukan apa kalau dia tidak mau aku ajak jalan?
Memang Desi tidak tau kalau aku diam diam menjadikan novel karyanya sebagai favourite dan selalu membaca setiap up yang dia tulis, tapi aku memakai akun dengan nama samaran yaitu Desman.
terus terang aku menyukainya, dia gadis yang tidak neko neko cenderung manis tapi kadang terlalu menutup diri, sehingga sulit untuk mendekatinya, aku gombalin dia ngga ge-er aku kasih hadiah dia biasa aja walau dia timbal balik kasih hadiah lagi, dan yang paling menyebalkan kalau dia sedang mengobrol sama si Harun dunia seperti milik mereka berdua, mereka tertawa bersama dan membahas apa saja tentang novel atau bacaan ilmu pengetahuan yang pernah mereka baca, ini tidak boleh di biarkan
saat aku kembali dan memasuki ruang pekerja aku melihatnya lagi, mereka tertawa berdua duduk di bangku berhadapan walau terhalang meja, ohh mereka minum kopi bersama.. hatiku tiba tiba mencelos.. mereka akrab sekali, tapi aku tidak akan menyerah terlalu awal, aku menghampiri mereka
''Hai Desi.. Harun.. wah kalian lagi ngopi aku nggak di ajak'' seruku sambil meletakan kresek berisi martabak telor di atas meja di hadapan Desi
''Des nih martabak kesukaan kamu''aku menunjuk martabak itu dan seketika matanya Desi berbinar tanda senang dan menyambut kresek martabak dengan antusias
''wah martabak telor... ahh aku suka ini,, kak Iman kok tau aku suka ini?''
__ADS_1
''Aku tau semua tentang kamu''ceplos Iman yang langsung di tanggapi dengan tatapan mata Desi yang membulat heran seakan bertanya 'masa sih? tapi tanggapan Desi adalah
''haha kak Iman bisa aja, aku jadi takut malah kalau kakak tau semua tentang aku''kelakar Desi
''kok takut? takut apa aku nggak bakal nyakitin kamu, aku tuh sayang sama kamu'' aku mengatakan itu dengan menatap matanya dan kemudian aku mengalihkan mataku pada Harun dan ternyata Harun sedang menatapku dengan tajam, iss.. apa maksudnya? aku kan serius, kok Harun mendelik tapi dia tidak mengatakan apa pun, dia memang irit bicara.
''Bhuahaha.. kak Iman mabok ya? atau lagi ketempelan seta* gombal?'' Desi malah ngaco ngira aku mabok,aku jawab aja
''iya aku mabok cinta sama kamu Des'' sahutku pelan tapi penuh penghayatan.
''Udah ahh kak iman gombal nya, aku jadi geli, hihi..''sahut Desi lagi sambil menutup mulutnya
''ya udah dimakan gih itu martabaknya, keburu dingin entar ngga enak lagi'' aku memperingatkan dia takut nasib si martabak jadi buruk karena tidak jadi di makan Si Desi cem cemanku
''Ayyoo atuh kakak juga duduk sini makan bareng'' Desi mengajak ku dan aku senang, ini kesempatan dekat sama dia, dan penasaran sama reaksi Harun, aku melirik ke arahnya tapi ternyata dia sedang meminum kopinya seakan acuh tak acuh pada interaksi ku dan Desi
Iman pov end
*
*
*
besok pov nya Harun dan Desi ya Reader, adakah yang penasaran sama pov mereka?
__ADS_1
mohon tinggalkan like dan komentar.
kalau sudi kasih hadiah bunga bunga yang cantik aku bakal terima kasih banget, apalagi kalu secangkir kopi..