
Suana pagi di hari senin sangatlah sibuk, persiapan kakak berangkat sekolah ayah ke ladang dan adik kecil yang kepo dan selalu menjadi ekor sang mama menjadikan pagi yang hangat dan penuh perhatian serta limpahan kasih sayang
Untung saja Titi mempunyai suami yang mau membantu kerepotan sang istri, dia membantu memandikan anak anak dan memakaikan mereka baju, bagi Putra sebenarnya sang ayah hanya perlu memperhatikannya saja, anak laki laki berumur 8 tahun itu sudah pandai mengurus diri sendiri, tapi Titi dan Rasyid masih memperhatikan dia agar tidak kehilangan moment tumbuh kembang anak mereka
Setelah kedua bocil itu selesai dengan pakain mereka lalu mereka menuju meja makan untuk sarapan bersama
Karena sekolahan Putra agak jauh dari rumah maka Rasyid akan mengantarnya ke sekolah sebelum dia pergi ke ladang dan pulangnya akan dijemput oleh Titi nanti
Sarapan ala orang desa ya tidak lepas dari nasi dan lauk pauk juga sayur, perut mereka memang terbiasa seperti itu, mereka akan mengatakan belum sarapan kalau belum makan nasi walau sudah makan Roti dan minum kopi, atau makan pisang goreng dan lainnya *othor mah enggak loh, minum kopi dan makan roti udah termasuk sarapan ¤siapa yang nanya elu Thor? *ahh iya cuma buat info aja wkwkwk
Rasyid sudah berangkat sembari mengantar Putra, Putri sedang bermain dengan mainannya, Titi sedang berkutat dengan pembukuannya, biasa lah kalau habis belanja maka Titi akan sekertaris dadakan yang membuat pembukuan pengeluaran
Jam menunjukan pukul 09.00 WIB, ada suara motor berhenti di depan rumah dan terdengar langkah terburu buru memasuki rumah, siapa ya?
''Assalamualaikum ma.. ma.. mama di mana''seru Rasyid,lah kok sudah pulang jam segini katanya mau ke ladang nih si ayah
''Wa'alaikuum sallam yah, ibu di sini''Titi menjawab seruan suaminya dari arah ruang kerja
''Ada apa sih yah? kok nggak jadi ke ladang? malah teriak teriak gitu'' seru Titi sambil memperhatikan wajah panik suaminya, hah.. panik? kenapa sih?
''Itu mah.. tadi ayah dengar katanya Emm.. itu Dena meninggal di puskesmas semalam mah''Rasyid menjelaskan dengan muka kalut, entah kenapa?
''Innalilahi wa'inna illaihi rojiun, tuh kannn Yahhh, itu karena kemarin kali, jangan jangan dia di bunuh sama laki laki yang kita lihat di pasar karang gendont itu Yah''
''Masa sih mah? kamu mau ngelayat nggak mah?'' tanya Rasyid sangsi
''Ya ayok lah, masa nggak ngelayad, kita kan kenal, Rumah duka nya yang di rumah mantan mertua kamu kah mas?''
''Iyya kata orang orang sih di sana, tapi tadi katanya mayatnya baru lagi perjalanan pulang dari puskesmas''
''ya sudah mama siap siap dulu''
Satu jam kemudian mereka tiba di rumah duka, disana sudah ramai sama orang orang yang melayat, saat Rasyid datang banyak dari orang orang itu yang mengenali Rasyid dan mengajaknya bersalaman, mereka menampakan wajah yang seakan penuh penyesalan, mereka tau dulu Rasyid diperlakukan tidak adil oleh almarhumah tapi Rasyid masih mau berbela sungkawa atas meninggalnya almarhumah Dena
__ADS_1
Ada beberapa orang yang saling berbisik sambil melihat kearah Rasyid dan Titi tapi mereka mengabaikannya, mereka masuk ke rumah duka dengan mengucap salam dan di balas sallam oleh orang orang yang ada di dalam, terlihat ada sesosok tubuh yang di tutupi kain dibaringkan di atas meja panjang di sisi ruang tamu di rumah itu
Rasyid bersalaman dengan mantan mertua nya dan beberapa kerabat mereka, terlihat ada Hendra dan juga Robi yang memandang ke arah mereka, tatapan Hendra yang biasa saja dan pandangan Robi yang penuh luka, dan kesedihan, anak laki laki kecil itu terlihat sangat rapuh dan hancur
Titi menghampiri mereka bersalaman dengan Hendra dan Robi, kali ini Robi mau bersalaman dengan Titi tanpa di minta siapapun dan bahkan mencium tangannya, dia bahkan memanggil Titi masih dengan sebutan mama
''Mah, Robi kangen mamah''anak laki laki itu mengucapkan kata kata itu dengan mata berkaca kaca,dulu Robi memang sudah mulai dekat dengan Titi karena Titi benar benar sayang padanya, Titi serta merta memeluk anak laki laki itu walau dia sedang menggendong Putri, Titi mengelus kepala anak lelaki yang sempat dia rawat dalam beberapa saat dulu
''Mah ini adik cewe ku ya mah, Putra mana mah kok nggak ikut kesini''tanya Robi sesaat setelah pelukan mereka lepas, matanya memperhatikan Putri lekat lekat
''Putra sekolah, kamu apa kabar nak? kok ngga pernah main ke rumah mama Titi, mama Titi kangen loh sama kamu, mama kira kamu sudah ngga mau lagi berhubungan sama kami''
''Nggak gitu mah, Robi sibuk sekolah sama ngaji kalau sore, sekarang Robi kan ikut sama papa Hendra, dan kita sekarang tinggal di kota Jakarta mah, kan kerjaannya papa disana''
''Ohh gitu, tapi kan kamu bisa dong telepon mama, kan papa mu juga punya nomornya mama''sahut Titi sembari melirik ke arah Hendra yang masih diam saja dari tadi, dia tidak menunjukan ekspresi apapun
Rasyid terlihat berkaca kaca melihat interaksi Robi dan Istrinya, entah perasaan seperti apa yang ada di hatinya, sesak, sedih, masih ada kecewa, dan bahkan kemarahan, dengan kenyataan yang terjadi pada masa lalu mereka, dia menatap Robi lalu kemudian mendekat dan bertanya kabar pada anak itu, Robi bangun dari duduknya menghampiri pria yang dulu dia kira ayah kandungnya
Setelah kejadian itu Robi tidak pernah di ijinkan bertemu dengan Rasyid, walau sebenarnya antara mereka merasakan kerinduan yang sangat besar, sekarang anak kecil yang dulu faseh memanggilnya ayah sekarang dia seakan bingung dan ragu untuk memanggil namanya
Rasyid mengelus kepala anak lelaki yang sekarang sudah jadi murid SMP kelas 8 anak yang sedang beranjak remaja itu
''Nak kamu kalau rindu sama ayah sama mama Titi kamu main aja kerumah kita, pintu rumah kami terbuka lebar untuk kamu,kamu masih ingat kan di mana rumah kita, kan ngga pindah masih di situ''Robi melihat wajah Rasyid *othor bingung mau sebutnya apa, masa iya mantan ayah...
Robi mengangukan kepalanya dan berkata
''Robi nanti minta nomer hape nya mama Titi ya yah, biar bisa video call an sama Putra sama dede Putri''kata Robi antusias Rasyid mengiyakannya
Titi menitipkan Putri kepada Robi karena dia mau melihat wajah jenazah untuk yang terakhir kalinya, Titi dan Rasyid menghampiri meja tempat jenazah dibaringkan, membuka penutup wajah nya dan mereka terhenyak melihat pemandangan yang ada didepan mata mereka
Jenazah wanita itu banyak memiliki luka lebam kebiruan,mereka lalu menutup kembali penutup kain itu dan kembali duduk ditempat semula, mereka penuh dengan pikiran pikiran yang berlalu lalang, mereka mengingat kejadian kemarin itu
kalau iya Dena menjadi korban pembunuhan kenapa keluarganya hanya diam dan tidak melaporkannya ke polisi, Rasyid dan Titi memerhatikan wajah dari keluarganya Dena dan di wajah mereka terlihat biasa biasa saja, tidak ada kesedihan ataupun tangisan, Titi dan Rasyid saling berpandangan merasa heran, tapi mereka tidak punya hak untuk ikut campur di dalam masalah keluarga itu, karena Rasyid cuma menjadi mantan anggota keluarga itu sekarang
__ADS_1
Dan mereka juga heran karena tidak menemukan laki laki yang menganiaya Dena kemarin, siapa sebenarnya laki laki itu?
prosesi pengurusan jenazah sedang dilakukan, dari mulai memandikan mengkafani dan mensholatkan, selama proses terlihat Robi mengikuti semua proses dengan baik sepertinya anak itu sudah berubah sekarang,dari anak manja menjadi anak mandiri dan pengertian
Ketika jenazah di bawa ke TPU untuk di makamkan, Rasyid dan Titi berpamitan untuk pulang, ini waktunya menjemput Putra di sekolah, Titi sudah memberikan nomer ponselnya kepada Robi dan meminta anak itu untuk mengunjungi rumah mereka nanti
Hendra tetap diam seribu bahasa bahkan ketika Rasyid dan Titi berpamitan, dia hanya menganggukan kepalanya sembari bersalaman
Hari sudah beranjak malam sekarang, keluarga Rasyid sedang makan bersama ada beberapa pekerja yang ikut makan dengan mereka karena mereka mau mengemas sayur hasil panen untuk dikirim ke para pembeli tetap mereka
Usai makan mereka beristirahat sebentar lalu kemudian melanjutkan pekerjaan mereka
Setelah menidurkan Putri, lalu kemudian mengecek pekerjaan rumah sekolahnya Putra lalu kemudian menuruh Putra tidur karena waktu sudah menunjukan jam 9 malam, lalu Titi masuk ke kamarnya sendiri, sekarang Putra dan Putri tidur di satu kamar dengan ranjang yang berbeda di sisi kamar yang di batasi meja
Titi membersihkan diri dan bersiap untuk tidur, dia merasa sangat lelah sekali, baru saja dia ingin memejamkan mata ada suara seperti pintu terbuka, saat Titi membuka mata dan melihatnya ternyata itu suaminya
''Mas.. ada apa? ada yang kamu perlukan?'' Titi bergerak ingin beranjak duduk tapi Rasyid segera mendekat dan menahannya
Rasyid mengelus pipi istrinya dan menatap lekat matanya, perlahan menyentuhkan bibirnya ke bibir istrinya dengan sangat lembut, melepaskannya dan berkata
''De, mas sayang banget sama kamu, mas bersyukur sekali karena mas bisa bersama sam kamu''Rasyid berkata dengan pelan penuh penghayatan sembari menatap mata istrinya dalam
''Ada apa sih mas kamu kok tiba tiba begini? hemm bukannya kamu pagi nge pack sayuran yang mau dianter ke restoran M&M ya, emang udah selesai?''
''Sudah mau selesi kok, tinggal dikit lagi, sama deden juga selesai, aku kangen sama istriku yang cantik dan menggemaskan ini, hemm kamu kangen nggak sayang?''
Wajah Titi menunduk malu malu tapi Rasyid tidak membiarkan itu, dia menarik wajah istrinya mendapatkan bibir mungil istrinya dan melahapnya pelan pelan tapi kemudian menuntut balasan, dan penyatuan kasih sayang dalam ikatan suci oun terjadi
*Halu'in sendiri aja ya adegan nya,
othor mah masih belum faseh sama yang begituan mah, tapi bo'ong wkwkwk
''
__ADS_1