
Ternyata Rasyid memilih untuk bungkam dan tidak jujur, dia tidak mengatakan apa pun tentang Dena dan anaknya.
Titi masuk ke dalam rumah menyimpan piring bekas makan Putra dan lalu membawa anak semata wayang nya masuk ke kamar, menutup pintu dan DIAM.
Hatinya tidak karuan,prasangka buruk dan baik berputar di kepala nya saling bertarung,seakan tidak ada yang mau menang,apakah sikap Rasyid yang sudah hampir sebulan tidak menyentuhnya ada hubungannya dengan hal ini? apakah keluhan Rasyid yang mengtakan dia sangat lelah juga karena ini? apa yang sebenarnya terjadi? kepala Titi mendadak sakit, terasa berat dan berdenyut, dia jadi tidak berhasrat untuk melakukan apa pun, dia membaringkan tubuhnya di samping tubuh anaknya yang sedang bermain dan berceloteh khas bayi sendirian, sesekali Putra melihat wajah ibunya dan mengusap atau mencium wajah ibunya dan Titi kemudian memaksakan untuk tersenyum terhadap anaknya.
Rasyid masuk ke kamar setelah mandi terbukti dia masih memakai handuk yang melingkar di pinggangnya dan badannya yang masih meneteskan beberapa tetes air, Titi tetap diam, dia tidak mengambilkan baju seperti biasanya, dia seperti patung hidup sekarang, hanya diam dan diam.
''Ma baju ayah mana ma? ''Rasyid mendekat dan bertanya, dia menghampiri putranya dan duduk di samping bayi kecil berumur setahun itu.
Titi tetap diam bahkan enggan untuk sekedar membuka mulut, Rasyid mendesah lalu bangkit mengambil bajunya sendiri.
Rasyid membuka lemari dan mengambil baju dari dalam sana, dia ambil sembarangan dan baju yang lain sampai terburai acak acakan,dia sengaja, Rasyid melirik ke arah Titi ingin tau reaksinya biasanya Titi akan bawel dan ngomel kalau tau hal ini, tapi sekarang Titi hanya DIAM.
Rasyid mendesah, dia seperti bingung harus bagaimana padahal hanya tinggal jujur saja kok susah ya,dia seperti menyembunyikan sesuatu hal yang besar.
Malam sudah jam 9, Putra sudah tertidur dengan imut sambil mengemut jempol tangannya,Titi duduk bersandar ke kepala tempat tidur dengan mata terbuka dan terus menatap wajah anaknya, matanya merah menahan air bah yang memaksa untuk keluar, Rasyid sedang duduk di depan televisi yang menyala tapi pikirannya tidak fokus ke apa yang ada di dalam acara televisi itu, pikirannya sedang menimbang nimbang segala sesuatu yang menjadi bebannya, dia mendesah berat, tidak menemukan solusi apapun, dia mematikan televisi dan lampu lalu beranjak masuk ke kamar
Di dalam kamat di lihatnya istrinya duduk bersandar sambil termenung dengan bibir mengatup rapat,Rasyid mendekat duduk di samping Titi ditepian tempat tidur, tapi mereka berdua hanya diam tidak terucap satu katapun dari mulut mereka sampai hampir setengah jam.
__ADS_1
Rasyid akhir nya berinisiatif menyentuh tangan istrinya dan Titi tetap DIAM.
''Ma kok kamu diam aja sih, kamu kenapa? kalau kamu mau ke pasar besok ayah ajak ke pasar mau ya?'' bujukan di lancarkan, Rasyid menggenggam tangan Titi perlahan dia mendekatkan diri mengikis jarak di antara mereka, berniat menyentuhkan bibir nya ke bibir istri nya tapi Titi memalingkan wajahnya mengelak,Rasyid terdiam kaget.
EHH KOK
''kamu kenapa kamu capek ya? sini mas pijitin, badannya pada sakit ya'' Rasyid mengulurkan tangannya ke pundak Titi berniat memijat Titi karena biasanya kalau istrinya itu kecapean akan diam seperti ini, tapi tidak sediam intu juga sih, tapi tanganya di tepis oleh Titi.
''kamu kenapa dih de? ngomong dong kalau ada apa apa tuh, mau nya gimana? ''Rasyid akhirnya mengeraskan suaranya kesal, dia pikir dia sudah sangat sabar terhadap Titi tapi istrinya mendadak menjadi seperti patung.
Tapi bentakan Rasyid mengakibatkan tangisan Titi, di awali dengan satu dua tetesnya air mata di lanjut dengan tumpah ruahnya airmata seperti hujan deras disertai sesenggukan seperti guruh yang membuat orang merinding.
Rasyid kembali mendekat ke arah istrinya mencoba untuk memeluknya lagi walau tetap mendapat penolakan
''De udah nanti Putra terbangun kaget dan sedih lihat kamu kayak gini, sini ayok kita bicara di kursi situ'' Rasyid menarik tangan Titi dan bawa istrinya untuk duduk di kursi yang ada di dalam kamar mereka, Titi menurut karena tidak mau mengganggu putranya yang sedang tidur,Titi takut dia akan rewel nantinya
Rasyid duduk di kedua lutut nya di depan Titi, dia menatap istrinya kemudian berkata ''Maaf aku nggak bilang sama kamu kalau aku ke pasar sama Dena dan Robi, ini semua karena kewajibanku terhadap Robi saja De, kamu harus percaya''Rasyid mengenggam tangan Titi tapi lagi lagi di tepiskan.
Titi berkata '' Mas kan bisa bilang ke aku, aku nggak akan larang, kenapa selalu nya kalau berhubungan sama mereka kamu jadi lupa untuk hanya bilang ke aku dulu mas, INI SUDAH YANG KEDUA KALINYA MAS, apa mas ingat waktu itu kamu juga pergi tanpa pamit demi mengantarkan mereka mas, apa susah nya ngomong dulu MASS, AKU KESELLL BANGET SAMA KAMU MASS, KAMU MENGULANG LAGI KESALAHAN YANG SAMA''
__ADS_1
Titi menarik nafas nya karena sesak juga karena hidungnya yang tersumbat, ''kenapa kamu membiarkan aku mendengar hal ini dari orang lain mas? dan jujur sekarang kamu.. ini bukan yang pertama kali kan? karena orang lain bilang ke aku dia sering liat kalian pergi bersama, kalian janjian di pertelon ciembek sana kan? iya kan mas? udah berapa kali? udah berapa banyak uang kamu habiskan untuk mereka mas? apa aja yang kamu belikan untuk mereka?'' Titi memberondong Rasyid dengan banyak pertanyaan yang tadi bercokol di pikirannya.
''Iiya ini yang ke lima kali nya'' sahut Rasyid sambil menundukan wajahnya dia seperti maling yang ketahuan saat sedang beraksi mencuri.''aku belikan Robi kebutuhan sekolahnya,beberapa baju dan sepeda baru''
''Terus baju gamis cantik warna biru kesukaan mu untuk Dena juga kan''sembur Titi,iya Bi Darmi sempat bilang melihat Dena membeli baju tersebut di pasar saat bersama Rasyid suaminya.
Rasyid gelagapan lagi dan berkata ''Iyaa......... habisnya dia minta gitu makanya aku belikan juga sekalian.
''Sekalian gelang kalung juga dong mas, kan kalian lama di toko mas Berkah yang ada di karang gendot itu, senang kan akhirnya kamu dapat ciuman dari mantan istrimu itu'' iya itu semua yang di ceritakan bi Darmi saat kemarin dia bilang dia percaya sama suaminya, tapi ternyata yang di bilang bi Darmi semuanya benar, Titi bisa melihat Rasyid yang salah tingkah dan sesekali mengusap tengkuknya yang basah karena keringat.
Rasyid terduduk dalam diam, seperti dia mengakui semua yang di tuduhkan istrinya dan Titi kembali berkata'' Mampir di rumah mantan istri di suguhin apa mas? teh manis? kopi susu? atau gula gula yang manis? Titi semakin berani bertanya wajah dan matanya merah menggambarkan amarah yang tidak terbendung lagi, tangannya mengepal kuat, gigi nya bergemletak, Titi benar benar tidak habis pikir sama kelakuan suaminya yang tega tega nya berbuat seperti itu
Dulu Rasyid berkata dia telah memilih Titi dan tidak mungkin akan kembali pada Dena rupa rupanya racun dari uler keket sedikit berhasil menggoyahkan hati suaminya.
Rasyid tetap duduk terdiam seperti sedang merenungkan atau sedang memikirkan mau memilih siapa atau entahlah apa yang sedang dia pikirkan.
''Kalau kamu mau melilih Dena dan anaknya silahkan mas, biarkan besok aku pergi, aku akan tinggal di rumah peninggalan ibuku'' Titi tidak perlu jawaban apa dan bagaimana dari mulut Rasyid, dia yakin kalau ada sesuatu yang terjadi dengan mereka entah sudah berapa lama, yang aku ingat mas Rasyid jadi super sibuk bahkan jarang mengajak Putra bermain sebulan belakangan ini sejalan dengan dia yang tidak pernah lagi menyentuh istrinya.
Rasyid masih diam tidak bergeming, posisi seperti terbalik sekarang Titi yang berbicara terus dan Rasyid yang DIAM terus.
__ADS_1